MEMBEDAH SYUBHAT-SYUBHAT HIZBIYYAH

MEMBEDAH SYUBHAT-SYUBHAT HIZBIYYAH
Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Telah banyak pembahasan yang menjelaskan tentang penyakit hizbiyyah yang telah menggerogoti persatuan umat, sejarahnya, madharat-madharatnya, nash-nash yang menyatakan keharamannya dan jalan keselamatan darinya.Tetapi realitanya masih ada yang bersuara lantang membela hizbiyyah ini dengan menebarkan syubhat-syubhat untuk melegalkannya.Karena itulah Insya Alloh di dalam bahasan kali ini akan kami paparkan paparkan jawaban-jawaban terhadap syubhat-syubhat yang banyak dilontarkan oleh hizbiyyin untuk melegalkan hizbiyyah mereka dengan banyak mengambil faidah dari kitab-kitab para ulama seperti kitab Hukmul Intima’ Ilal Firaq wal Ahzab wal Jama’at Islamiyyah oleh Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid terbitan Darul Haramain Kairo cetakan pertama 1426 H, kitab Jama’ah Wahidah La Jama’at wa Shirath Wahid La ‘Asyarat oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali terbitan Maktabah Al-Ghuraba’ Al-Atsariyyah Madinah cetakan pertama 1416 H, dan kitab Ad-Da’wah Ilalloh Bainat Tajjammu’ al-Hizbi wat Ta’awun asy-Syar’i oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari terbitan Maktabah Shohabat Jeddah cetakan kedua 1413 H.

MELARANG HIZBIYYAH BERARTI MELARANG AMAL JAMA’I ?
Sebagian orang memahami larangan para ulama Salafiyyin terhadap hizbiyyah bahwa para ulama Salafiyyin melarang amal jama’i secara mutlak ( Lihat Ushul ‘Amal Jama’i hal. 6-7 ).Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali menjawab syubhat ini dengan mengatakan : ” Sesungguhnya saya hingga hari ini tidak mengetahui seorang pun dari Salafiyyin yang mengharamkan amal jama’i yang syar’i  , dalil yang paling jelas atas hal ini adalah realita Salafiyyin di seluruh penjuru, mereka memiliki madrasah-madrasah dan perguruan-perguruan tinggi yang memiliki pengorganisasian, para penanggung jawab, para pengajar, dan akuntansi pembiayaan. Mereka memiliki jam’iyyah ( perkumpulan )  jam’iyyah di India, Pakistan, Bangladesh, dan yang lainnya.Mereka memiliki masjid-masjid dan proyek-proyek yang semua dikerjakan secara jama’i, di Saudi Arabia mereka memiliki kementrian-kementrian yang banyak seperti Kementrian Kehakiman yang membawahi puluhan mahkamah-mahkamah, Kementrian Pendidikan Umum dan Pendidikan Tinggi yang membawahi universitas-universitas dan semua itu ditegakkan di atas tata usaha, organisasi ilmiyyah, dan akuntansi pembiayaan, demikian juga Kementrian Waqaf dan Urusan-urusan agama, Kementrian Haji, dan kementrian-kementrian yang lainnya.Didirikan juga markaz-markaz dan kantor-kantor untuk mendukung jihad, membantu orang-orang yang membutuhkan, membantu fuqara’ dan masakin, dan yang lainnya dari amal-amal jama’i yang terorganisir.Jama’ah Anshorus Sunnah di Mesir dan Sudan memiliki madrasah-madrasah, masjid-masjid, dan aktivitas-aktivitas yang ditegakkan atas amal jama’i, salafiyyin di Yaman memiliki madrasah-madrasah, dan masjid-masjid yang ditegakkan atas amal jama’i, kami tidak pernah mendengar seorang ulama atau penuntut ilmu salafi yang memerangi amal jama’i yang disyari’atkan, mengharamkan, dan membid’ahkan para pelakunya ” ( Jama’ah Wahidah hal. 52-53 ).Beliau juga berkata : ” Sesungguhnya Salafiyyin Ahli Sunnah yang hakiki tidak melarang berdirinya jam’iyyah-jam’iyyah dan yayasan-yayasan untuk kebajikan dan kebaikan jika jam’iyyah-jam’iyyah ini memiliki aqidah yang satu aqidah yang haq aqidah para nabi, dan memiliki manhaj yang satu yaitu manhaj yang haq mahaj para nabi, serta memiliki dakwah yang satu yaitu Dakwah Ilalah dan dakwah Islam yang haq.Adapun jika jama’ah-jama’ah dan jam’iyyah-jam’iyyah ini ditegakkan di atas aqidah-aqidah yang rusak, manhaj-manhaj yang sesat, merampas harta-harta kaum muslimin untuk kepentingan-kepentingan mereka dan tujuan-tujuan mereka, saling berbenturan manhaj-manhaj mereka dan program-program mereka, aqidah-aqidah mereka dan manhaj-manhaj mereka menyelisihi Kitabullah dan Sunnah NabiNya ( , saling menyebarkan tuduhan-tuduhan dan isyu-isyu yang dusta, terjadi pertikaian berdarah di antara mereka … maka jam’iyyah-jam’iyyah dan yayasan-yayasan seperti ini sungguh diingkari oleh Salafiyyun berdasarkan dalil-dalil yang jelas dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ( dan manhaj Salafush Shalih ” ( Jama’ah Wahidah hal. 101-102 ).Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata : ” Jam’iyah-jam’iyyah jika menjadi banyak jumlahnya di negeri Islam mana saja dengan tujuan kebaikan, bantuan-bantuan, bekerjasama atas kebajikan dan taqwa di antara kaum muslimin tanpa berselisih kemauan-kemauan para pemiliknya maka dia adalah kebaikan dan berkah dan memiliki faidah-faidah yang agung.Adapun jika masing-masing saling menyesatkan yang lain dan mengkritik aktivitas-aktivitasnya maka madharat dengan adanya jam’iyyah-jam’iyyah ini adalah besar dan akibatnya sangat buruk. Maka wajib atas kaum muslimin menjelaskan hakikat dan mengkritik setiap jama’ah atau jam’iyyah dan menasehati semua agar berjalan di atas garis yang Alloh gariskan bagi para hambaNya dan yang dierukan oleh Nabi kita Muhammad ( , barangsiapa yang melanggar hal ini atau bersikukuh di dalam kesalahannya untuk kepentingan-kepentingan pribadi atau untuk tujuan-tujuan yang tidak ada yang tahu kecuali Alloh  maka yang wajib adalah menunjukkannya kepada manusia dan mentahdzirnya darinya bagi yang mengetahui hakikatnya, hingga manusia menjauhi jalan mereka dan hingga tidak masuk bersama mereka orang yang tidak mengetahui hakikat mereka, hingga mereka sesatkan dan mereka palingkan dari jalan yang lurus yang Alloh perintahkan kita untuk mengikutinya di dalam firmanNya : (  (((((( (((((( (((((((( (((((((((((( ((((((((((((( ( (((( ((((((((((( ((((((((( (((((((((( (((((( ((( (((((((((( ( ((((((((( (((((((( ((((( (((((((((( ((((((((( (((((      ( “ Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. ( Al-An’am : 153 ) ” ( Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah 5/202 ).

MENGQIYASKAN JAMA’AH-JAMA’AH DENGAN MADZHAB EMPAT
Sebagian orang menyamakan jama’ah-jama’ah yang ada pada hari ini dengan madzhab empat sebagaimana dikatakan oleh penulis kitab Ushul ‘Amal Jama’i hal. 29-32. Dan telah datang jawaban dari seorang ulama yang mulia atas syubhat ini sebagaimana dinukil oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali di dalam kitabnya Jama’ah Wahidah hal. 145 :” Mengqiyaskan jama’ah-jama’ah dengan madzhab empat adalah qiyas yang memiliki perbedaan antara dua hal yang diqiyaskan, maka dia tidak shahih dari beberapa segi :Para pemilik madzhab empat adalah para ulama yang agung yang memiliki kedudukan di dalam umat, sedangkan para pemiliki jama’ah-jama’ah pada umumnya adalh orang-orang yang jahil yang tidak memiliki pengetahuan tentang ilmu syar’i.Bahasan madzhab empat adalah : Ijtihad di dalam hukum-hukum far’i yang merupakan bidang ijtihad, sedangkan bahasan jama’ah-jama’ah adalah bahasan pemikiran politik yang tidak memiliki hubungan dengan ijtihad fiqih.Para pemilik madzhab empat mengakui bahwa ijtihad-ijtihad mereka bisa benar dan salah, mereka melarang taqlid terhadap kesalahan-kesalahan mereka, sedangkan para pemilik-pemilik jama’ah-jama’ah fanatik terhadap pemikiran-pemikiran mereka, menuduh orang-orang  yang menyalahkan mereka dengan tuduhan-tuduhan yang banyak, bahkan dengan kepercayaan mereka yang besar terhadap diri-diri mereka dan manhaj-manhaj mereka mereka meminta para pengikut mereka berbaiat terhadap jama’ah-jama’ah mereka “.

JAMA’AH MUSLIMIN DAN KELOMPOK SEMPALAN
Di antara argumen yang dipakai oleh para da’i hizbiyyah adalah menerapkan nash-nash yang ditujukan pada imamah kubra atas jama’ah-jama’ah dakwah dan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama. Di antara nash-nash tersebut adalah : 1. Hadits Harits Al-Asy’ari bahwasanya Rasulullah e bersabda:آمركم بخمس الله أمرني بهن السمع والطاعة والجهاد والهجرة والجماعة فإن من فارق الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه ” Aku memerintahkan kalian lima perkara yang Alloh perintahkan kepadaku : mendengar dan taat, jihad, hijrah, dan jama’ah, karena sesungguhnya barangsiapa yang melepaskan dir dari jama’ah sejengkal maka sungguh telah melepaskan tali Islam dari lehernya   ( Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Jami’nya 5/148 dan Ahmad dalam Musnadnya 4/130 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Dhilalul Jannah 2/232 dan Syu’aib Al-Arnauth di dalam takhrij Musnad 4/130  Qurthubah Kairo – ).2. Hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah e bersabda:مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ” Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jama’ah kemudian mati maka matinya mati jahiliyyah “ ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 3/1476 ). 3. Hadits Hudzaifah bahwasanya Rasulullah e bersabda:يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس قال قلت كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك قال تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك  وأخذ مالك ” Akan datang sesudahku para imam yang tidak memakai petunjukku dan tidak memakai sunnahku, di antara mereka ada para manusia hati mereka hati syaithan di dalam tubuh manusia ” Hudzaifah berkata : “ Bagaimana yang aku perbuat wahai Rasulullah jika aku menjumpai hal itu ? ,Rasulullah e bersabda:  Hendaknya Engkau mendengar dan taat kepada amir, walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu  ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 6/20 ).” Apakah yang dimaksud dengan ” jama’ah ” yang seorang muslim berdosa jika meninggalkannya ?Apakah yang dimaksud adalah ” tandhim-tandhim ” pada zaman sekarang ini, yang terbagi-bagi di seluruh penjuru bumi ?!Ataukah yang dimaksud adalah ” jama’ah muslimin ” yang berkumpul di atas seorang penguasa muslim ?Dan nampak dari nash-nash bahwa makna yang benar bagi ” jama’ah ” yang seorang muslim berdosa ketika meningglkannya adalah ” jama’ah kaum muslimin ” yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang muslim.Menunjukkan makna ini adalah sangat diperlukan pada hari-hari ini, karena pandangan bahwa ” tandhim ” lah yang dimaksud dengan ” jama’ah ” yang ada dalam nash-nash, adalah yang menguasai  secara praktek atas sikap-sikap dan perasaan-perasaan jumlah mayoritas orang-orang yang bergerak di bawah lingkup tandhim-tandhim atau ” jaraingan-jaringan ” Islam saat ini …Pemahaman yang keliru ini nampak sekali di dalam gambaran yang paling nampak ketika salah seorang atau sekelompok anggota salah satu dari tandhim-tandhim yang ada meninggalkan tandhim … dan hal ini membawa kepada tragedi kejiwaan dan moral yang bobrok …Karena itulah maka kami menegaskan bahwa setiap tandhim dari tandhim-tandhim yang ada, atau gerakan dari gerakan-gerakan yang ada, atau jama’ah dari jama’ah-jama’ah yang ada, sesungguhnya dia adalah kelompok dari kaum muslimin, dan bukanlah mereka  dalam keadaan berpisah atau berkumpul  sebagai ” jama’ah muslimin “, sebagaimana juga orang-orang yang tidak berafiliasi kepada sebuah tandhim Islam atau gerakan Islam, maka bukanlah dikatakan memisahkan diri dari jama’ah, dan jika mati tidaklah mati jahiliyyah ” ( Dari perkataan Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman yang dinukil oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi di dalam kitab beliau Ad-Da’wah Ilalloh Bainat Tajjammu’ al-Hizbi wat Ta’awun asy-Syar’i hal. 92-93 ).

BAIAT SUNNAH DAN BAIAT BID’AH
Sebagian orang berusaha melegalkan hizbiyyah mereka dengan berdalil tentang hadits-hadits yang menerangkan masalah baiat, di antaranya hadits Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah e bersabda :من مات و ليس في عنقه بيعة فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه” Barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada baiat, maka sungguh dia telah melepas ikatan Islam dari lehernya” ( Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya ). Dan hadits Abdullah bin Amr bin Ash bahwasanya Rasulullah e bersabda :من بايع إماما فأعطاه صفقة يده وثمرة قلبه فليطعه إن استطاع فإن جاء آخر ينازعه فاضربوا عنق الآخر” Barangsiapa berjanji setia kepada seorang imam dan menyerahkan tangan dan yang disukai hatinya, maka hendaknya dia menaati imam tersebut menurut kemampuannya. Maka jika datang orang lain untuk menentangnya, maka penggallah leher yang lain tersebut” ( Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya 3/1472 ).Mereka berkata : setiap muslim selama belum baiat mengangkat seorang imam di dalam sebuah tandhim atau jama’ah atau gerakan Islam, maka statusnya sama dengan orang kafir dan Islamnya tidak sah, termasuk syahadat, shalat, zakat, puasa, dan ibadah hajinya tidak sah.Jawaban terhadap syubhat di atas bahwa baiat tidak diberikan kecuali kepada imam yang syari sebagaimana sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ahmad : “Tahukah kamu, apakah imam itu ? Yaitu kaum muslimin berkumpul atasnya, dan semuanya mengatakan : “Inilah imam” ( Masa’il al-Imam Ahmad 2/185 riwayat Ibnu Hani’ ).Al-Imam Hasan bin Ali Al-Barbahary berkata :  Barangsiapa yang menjadi khalifah dengan kesepakatan manusia dan keridhaan mereka, maka dia adalah amirul mukminin, tidak dihalalkan atas siapapun untuk menginap satu malam dalam keadaan tidak memandang bahwa dia memiliki imam  ( Syarhus Sunnah hal. 69-70  ).Adapun baiat yang diberikan kepada kepada kelompok-kelompok Islam ,  jaringan-jaringan  rahasia , dan gerakan-gerakan Islam  bawah tanah  maka dia adalah baiat yang bidah.Syaikh Abdus Salam bin Barjas berkata :  Maka barangsiapa yang mengangkat dirinya pada kedudukan waliyyul amr yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk memerintah manusia, dia seru suatu jamaah untuk mendengar dan taat kepadanya, atau jamaah tersebut memberikan baiat kepadanya yang mengharuskan mendengar taat kepadanya, dalam keadaan waliyyul amr yang sesungguhnya ada dan nampak ; maka sungguh orang seperti ini telah menyelisihi Alloh dan RasulNya, dan menyeleweng dari nash-nash syari.Tidak wajib ketaatan kepadanya, bahkan haram taat kepadanya, karena dia tidak punya wewenang dan kemampuan samasekali…Inilah yang dilakukan oleh banyak jamaah-jamaah Islam saat ini, mereka angkat salah seorang dari kalangan mereka sebagai amir  dengan sembunyi-sembunyi- mereka wajibkan atas para pengikut mereka untuk mendengar dan taat kepadanya. Baiat seperti ini adalah merupakan pembodohan kepada jiwa-jiwa manusia dan mempermainkan syariat … ( Muamalatul Hukkam hal. 30-31 ).Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata :  Ketahuilah bahwasanya di dalam Islam hanya ada satu baiat saja yaitu pada imamah uzhma, yaitu baiat secara menyeluruh, yang terjadi dengan kesepakatan ahli Syaukah ( kekuatan ) wal Hill wal Aqd dalam umat.Sama saja apakah baiat tersebut terjadi dengan cara yang diridhoi oleh Alloh dan RasulNya, seperti baiat terhadap Khulafaur Rasyidin atau dengan jalan ghalabah ( seseorang menguasai negara dengan merebut kekuasaan dan dia bisa menguasai keadaan ).Baiat inilah yang dengannya seorang imam pemegang urusan kaum muslimin bisa melaksanakan maksud-maksud wilayah,yaitu : kemampuan, kekuasaan, kekuatan militer, dan pertahanan. Sehingga dia bisa menegakkan hukum-hukum Islam seperti hudud, pembagian kekayaan, memilih pegawai-pegawai, jihad melawan musuh, menegakkan haji , sholat ied, jumat dan jamaah, dan yang selainnya dari maksud-maksud wilayah sesuai dengan batasan syari.Tidak henti-hentinya urusan umat berjalan seperti ini, tidak mengenal baiat bagi siapa saja yang peringkatnya di bawah imamah kubra.Kemudian datanglah generasi berikutnya, yang kemudian terseret ke dalam bidah dan ahwa, datang bidah-bidah thariqah yang disebut dengan baiat ridhaiyyah, disebut juga dengan baiat istitsnaiyyah, atau ahdul masyayikh, atau aqdu thariq, atau mitsaqu thariq, ini semua adalah baiat-baiat yang bidah, tidak berlandaskan dalil dari Kitab dan Sunnah, maupun amalan sahabat.Baiat ini telah diingkari oleh para ulama, mereka sangat mengingkarinya dan menjelaskan bahwa semua itu tidak ada landasannya.Kemudian model baiat-baiat bidah ini berpindah dengan baju baru ke sebagian jamaah-jamaah Islam kontemporer, sampai terjadi banyak jamaah-jamaah di dalam satu negeri yang memiliki berbagai macam baiat yang diwajibkan atas para pengikutnya.Masing-masing menyeru agar semua mengikuti jamaah mereka, sehingga hilanglah dari mereka perjanjian yang diwajibkan oleh Rasulullah e kepada jamaah kaum muslimin, yaitu hendaknya mereka selalu mengikuti apa yang ditempuh oleh Rasulullah e dan para sahabatnya.Demikianlah tubuh umat Islam tercabik-cabik dengan adanya baiat-baiat kelompok-kelompok thariqah di satu sisi dan baiat-baiat hizbiyyah di sisi lain. Jadilah para pemuda Islam dalam kebingungan ke kelompok mana dia harus bergabung, dan kepada pimpinan gerakan mana dia harus berbaiat  ( Hukmul Intima ilal Firaq wal Ahzab wal Jamaah Islamiyyah hal. 161-163 ).  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :  Tidak diperbolehkan bagi seorangpun untuk mengambil suatu perjanjian atas seseorang agar dia selalu menyetujui apa yang dia kehendaki, memberikan loyalitas kepada siapa saja disukai oleh yang dia baiat, memusuhi siapa saja yang memusuhi orang yang dia baiat, bahkan orang yang berbuat seperti ini adalah seperti model Jenghis Khan yang menjadikan siapa saja yang cocok dengan mereka adalah teman yang loyal, dan siapa saja yang menyelisihinya adalah musuh yang harus dibenci  ( Majmu Fatawa 28/16 ) ( Lihat tulisan kami Baiat antara Sunnah dan Bidah dalam Majalah Al-Furqon Tahun 4 Edisi 10 Rubrik Manhaj ).

BERKELOMPOK-KELOMPOK DALAM MENUNAIKAN AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNKAR
Sebagian orang berusaha melegalkan hizbiyyah dengan firman Alloh ( : ( ((((((((( (((((((( (((((( ((((((((( ((((( (((((((((( ((((((((((((( ((((((((((((((( (((((((((((( (((( ((((((((((( (     ( ” Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar;  ” ( Ali Imran : 104 ). Mereka berkata : Ini adalah perintah kepada sebagian umat agar berdakwah mengajak kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, dan sebagian ” ummat ” ini tidaklah ada kecuali dalam bentuk berjama’ah ( berkelompok ), maka berjama’ah ini adalah ” kewajiban syar’i dan dharurat insani “, dan ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب” apa yang kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya maka dia adalah wajib ” ( Lihat Madzahib dan Afkar Mu’ashirah Fit Tahshowwur Islami hal. 6 oleh Muhammad Al-Hasan ! dan Baina Da’wah Fardiyyah wal ‘Amal Jama’i hal. 81 oleh Abdullah ‘Ulwan ! ).Jawaban terhadap syubhat ini adalah :Pertama : Pembatasan makna kata ” Ummat ” dengan makna di atas saja adalah tidak benar, karena dia adalah ” kata yang disebutkan oleh ulama bahasa memiliki 15 makna, dan sungguh aku telah melihat oranng yang membawakan 40 makna ; di antaranya adalah : bahwa ummat bermakna jama’ah, dan bahwa umat bermakna satu orang yang mengajak kepada al-haq ” ( Lihat Ahkamul Qur’an 1/292 oleh Al-Qadhi Ibnul ‘Arabi Al-Maliki ).Kedua : Ada dua pendapat ulama tentang tafsir ayat di atas :       1. Bahwa ( من ) dari kalimat ( منكم ) adalah untuk menjelaskan jenis ; yakni : Jadilah kalian semua demikian , dan bukan orang tertentu, dan yang sama persis dengan ayat ini adalah firman Alloh ( : ( ((((( (((((((( (((( (((((((((( ( ((((( (((((( ((((((( ((((((( ((((((((( ((((  (     ( ” Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.  ” ( Maryam : 71 ). Maka ayat ini tidak membedakan person-person tertentu dengan yang lainnya, dan dia adalah ditujukan bagi umat semuanya, masing-masing sesuai dengan kemampuannya.2. Bahwa ( من ) dari kalimat ( منكم ) adalah للتبعيض : menunjukkan sebagian, yang maknanya : bahwa yang memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar hendaknya para ulama, dan tidaklah seluruh manusia merupakan ulama.Inilah yang dirajihkan oleh Al-Imam Al-Qrthubi di dalam Al-Jami’ Liahkamil Qur’an 4/165.Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata : ” Umat di dalam ayat ini adalah umat ulama, yang Alloh memperbaiki umumnya umat dengan mereka, merekalah ahlul halli wal ‘aqdi di dalam ummat ” ( Hukmul Intima’ Ilal Firaq wal Ahzab wal Jama’at Islamiyyah hal. 65 ).Ketiga : Tatkala Alloh Azza wa Jalla menyebutkan ayat ini maka langsung disebutkan sesudahnya firmanNya :  ( (((( (((((((((( ((((((((((( ((((((((((( ((((((((((((((( (((( (((((( ((( (((((((((( (((((((((((((( ( (((((((((((((( (((((( ((((((( ((((((( (((((    ( ” Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat, ” ( Ali Imran : 105 ).” Di dalam hal ini terdapt isyarat yang lembut dan ikatan yang kuat antara kewajiban amar ma’ruf nahi munkar dan perpecahan, seakan-akan kedua ayat ini mengisyaratkan bahwa tidak mungkin bagi umat melakukan kewajiban ini kecuali jika bersatu dan saling membantu : umat yang satu dan tubuh yang saling menguatkan.Adapun jika umat bercerai berai, diporak porandakan oleh pemikiran-pemikiran, bid’ah-bida’h, dan friqah-firqah, maka dia tidak akan mampu, tidak mungkin baginya melaksanakan kewajibannya atas yang lainnya ” ( Hukmul Intima’ Ilal Firaq wal Ahzab wal Jama’at Islamiyyah hal. 132 ). Keempat : Hal lain yang lebih mempertegas hal ini dan lebih menjelaskannya adalah ayat yang mendahuluinya, yaitu firman Alloh ( : ( ((((((((((((((( (((((((( (((( (((((((( (((( ((((((((((( (      ( ”  Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, ” ( Ali Imran : 103 )  Karena ayat ini seruan kepada persatuan umat dan mengokohkan jama’ah dan bukan sarana untuk menggolong-golongkan umat dan memecah belah jama’ah.Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata : ” Setiap orang yang mengajak manusia kepada kepada kebagikan secara umum atau secara khusus atau melakukan nasehat secara umum atau secara khusus ; maka dia termasuk di dalam ayat yang mulia ini.Kemudian Alloh melarang kaum muslimin dari menempuh jalan orang-orang yang bercerai berai, yang telah datang agama dan penjelasan-penjelasan kepada mereka, yang merupakan penyebab tegaknya mereka dan berkumpulnya mereka, maka bercerai berailah mereka, berselisih, dan menjadi kelompok-kelompok ” ( Taisir Al-Karimir Rohman 1/195 ).Maka kesimpulannya : Bahwa aktvitas seluruh kaum muslimin baik sebagai ulama, da’i, ataupun para penuntut ilmu, semuanya memiliki nilai dan kadarnya, dan ” tidak boleh bagi seorang muslim siapapun dia untuk samapi kepada pembukaan dakwah dengan hal yang merobohkannya, maka tidak boleh mengubah, mentahrif, mencampuradukkan, dan tidak juga mundur dari apapun agama Allo dan syariatnya ” ( Hukmul Intima’ Ilal Firaq wal Ahzab wal Jama’at Islamiyyah hal. 159 ). Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi berkata : ” Maka amal Islami bukanlah sebuah perusahaan atau yayasan yang orang-orang masuk ke dalamnya harus dengan meminta izin kepadanya atau lisensi untuk mereka adalah dari para pengguna perusahaan atau yayasan tersebut ” ( Ad-Da’wah Ilalloh Bainat Tajjammu’ al-Hizbi wat Ta’awun asy-Syar’i hal. 118 ).
Adapun istidlal mereka dengan kaidah (  ( ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب maka ini adalah istidlal yang batil, karena kedua perkara wajib ini selayaknya adalah disyariatkan pada dzatnya atu tidak menyelisihi sama sekali nash-nash yang lainnya.Jika saja berhizb dan menegakkan ” jama’ah-jama’ah ” adalah wajib maka ” Sungguh wajib dia dijelaskan oleh Rasulullah e dengan penjelasan yang umum yang menghilangkan udzur ” ( Manhajul Anbiya’ Fid Da’wah Ilalloh hal. 114 oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali ) ! bukan dijadikan sasaran pemikiran-pemikirandan hawa-hawa nafsu, medan perselisihan dan pertengkaran, dan gudang perpecahan dan pertikaian !.Bahkan yang telah dijelaska oleh Alloh di dalam Kitabnya dan Rasulullah e di dalam Sunnahnya, adalah berpegang teguh dengan persatuan Islam, dan persatuan jama’ah muslimin … bukan bercerai berai darinya ke kanan atau ke kiri.Kemudian bahwa kewajiban yang dituntut ini  sesuai dengan sangkaan mereka  ke manakah rujukannya ?! apakah akal atau syari’at ?! apakah hawa nafsu atau nash ?! Di tambah lagi bahwa disyaratkan untuk keshahihan penerapan kaidah ini dua perkara :Hendaknya pelaksanaan kewajiban yang asal adalah tergantung kepada kewajiban yang cabang, tidak ada jalan selainnya.Hendaknya kewajiban yang asal benar-benar diyakini didapatkannya dengan adanya kewajiban yang cabang, bukan sekedar persangkaan belaka.Dan dua syarat ini tidak terwujud di sini ( Lihat Ad-Da’wah Ilalloh Bainat Tajjammu’ al-Hizbi wat Ta’awun asy-Syar’i hal. 114-119 ).

PENUTUP
Inilah jawaban-jawaban tentang sebagian syubhat-syubhat yang berhubungan dengan masalah hizbiyyah yang banyak dilontarkan oleh hizbiyyun. Dan kami akhiri bahasan ini dengan kalimat yang agung dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz : ” Sesungguhnya bersatunya kaum muslimin atas Islam, berpegang teguhnya mereka dengan tali Alloh, berhukumya mereka dengan syariat Alloh, berpisahnya mereka dari musuh-musuh mereka, dan pernyataan jelas memusuhi dan membenci mereka, adalah sebab pertolongan Alloh bagi kaum muslimin dan penjagaan Alloh kepada mereka dari rongrongan musuh-musuh mereka ” ( Naqd Qoumiyyah ‘Arabiyyah hal. 47 ).Semoga Alloh selalu menunjukkan kita ke jalan yang lurus dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan nasehat dan mengikutinya. Amin.
والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.