Syarah Matan Abu Syuja’ (22): Zat-zat Najis

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islamweb.net
Part :twenty two

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

ZAT-ZAT NAJIS DAN SESUATU YANG BISA DIGUNAKAN UNTUK BERSUCI DARINYA
zat yang terlihat itu terdiri dari: 1)zat yang suci dan 2) zat yang najis, dan zat yang najis itu (terbagi dua) yaitu: 1)zat yang najis (pada asalnya) dan 2)zat yang (tadinya suci) lalu terkena najis (lalu menjadi najis/mutanajis).
Dan zat yang najis pada zatnya adalah: anjing, babi, sedangkan sesuatu yang mutanajis (yang terkena najis misalnya): najis yang jatuh pada baju, minyak goreng dan yang semisalnya.
Dan termasuk (salah satu) cara mensucikan (barang najis) adalah: 1) DISAMAK (الدباغ( hal (ini) khusus untuk kulit. Dan para ulama’ berbeda pendapat tentang kulit yang disamak:
-apakah dia menjadi suci (setelah disamak)?
– Dan (setelah disamak) apakah diperbolehkan untuk diperjual belikan (atau) dimakan?
Dan jawabannya terdapat pada pelajaran kali ini.

HUKUM ZAT YANG NAJIS
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} [آل عمران:102].
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا} [النساء:1].
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا} [الأحزاب:70 – 71].
أما بعد.
فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.
ثم أما بعد:
Penulis (Abu Syuja’ rohimahullah) berkata: PASAL ZAT-ZAT NAJIS DAN SESUATU YANG BISA DIGUNAKAN UNTUK BERSUCI DARINYA
Dan kulit bangkai bisa menjadi suci dengan disamak, terkecuali kulit anjing, kulit babi dan kulit binatang yang terlahir dari anjing dan babi (atau salah satu dari keduanya), sedangkan tulang dan rambut bangkai hukumnya najis kecuali tulang dan rambut mayat (manusia)

MACAM-MACAM ZAT
Zat itu terbagi menjadi tiga:
1)zat yang suci seperti binatang ternak dan manusia, dan
2)zat yang najis, hal ini terbagi dua:
-zat najis karena zatnya sendiri, dan
–zat yang mutanajis yaitu zat yang (awalnya suci) lalu terkena najis (zat mutanajis),
dan (contoh) zat yang najis pada zatnya seperti khomer, babi dan anjing (walaupun) terdapat perbedaan pendapat para ulama’, dan di sana ada perbedaan pendapat yang sengit diantara para ulama’ tentang (najis atu sucinya) khomer dan anjing, walaupun mereka bersepakat akan najisnya bangkai dan babi.

2)dan bagian yang kedua (adalah) zat yang mutanajis (yang terkena najis), hal ini terbagi dua:
-zat yang terkena najis yang bisa untuk disucikan, dan
–zat yang terkena najis yang tidak bisa disucikan.

Adapun jenis yang pertama:mutanajis yang bisa untuk kita sucikan: seperti najis yang menempel pada pakaian, atau najis yang jatuh pada minyak goreng (yang membeku). Kalau misalnya seekor tikus jatuh pada minyak goreng yang beku maka kita bisa mensucikannya yaitu dengan mengambil bangkai tikus tersebut dan membuang minyak yang ada di sekitarnya dan sisanya tetap suci bifadhlillah.

Dan sebagian mereka (para ulama’) memasukkan kulit bangkai (kedalam bagian zat mutanajis yang bisa disucikan) apabila disamak, yaitu: pembolehan (mensucikan berarti) bahwa (kulit) ini adalah awalnya bangkai, dan masuk kategori najis yang bisa disucikan karena kulit bangkai adalah najis karena sebab kematiannya, sehingga bisa disucikan dengan disamak, seperti yang akan kita jelaskan.

Dan yang kedua 2) zat najis yang tidak mungkin untuk disucikan seperti jatuhnya najis pada susu cair, atau minyak cair, atau (najis pada zat) alkhol maka kita tidak bisa memisahkan antara (najis dengan cairan-cairan tadi), dan ini adalah zat-zat yang terkena najis tak terkecuali (dia menjadi najis) dan kita tidak mampu untuk menjadikannya suci kembali

HUKUM MENGGUNAKAN DAN MEMANFAATKAN KULIT BANGKAI MENURUT PENDAPAT PARA ULAMA’ SYAFI’IYYAH

Dan zat yang kita khususkan untuk kita bahas adalah zat mutanajis yang mungkin untuk disucikan, dan yang akan kita bicarakan secara khusus (dalam pembahasan ini) adalah tentang JASAD BANGKAI, seseorang yang berada di gurun yang luas dia mimiliki minuman (ketika meminumnya) membutuhkan wadah untuk minum madu, atau minum air, atau minum susu, dan meminum suatu minuman (tertentu), dan tempat yang digunakan unuk minum ini dikenal dari berbagai macam jenis, misalnya terbuat dari besi, akan tetapi orang-orang arab (pada zaman nabi shallallahu’alaihi wasallam) mereka (minum) MENGGUNAKAN KULIT yang mereka buat tempat minum (yang disebut) QURBAH yang mana mereka minum darinya.

Dan qurbah atau tempat minum apakah boleh terbuat dari kulit hewan apa saja (maksudnya) dari hewan yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan? (apakah boleh terbuat dari kulit) bangkai, atau hewan yang disembelih atau yang lainnya? Dan ini adalah pembahasan yang akan kita dalami sekarang.
Yaitu pembahasan tentang kulit-kulit yang (bisa) dibuat dan dimanfaatkan untuk perabot seperti qurbin dan atau gelas untuk minum, lalu apakah mungkin (apakah diperbolehkan) bagi kita untuk memanfaatkan kulit bangkai tersebut?
Saya katakan: madzhab asy-syafi’I rohimahullah (dalam persoalan ini) membangun sebuah kaidah yang sangat penting sekali yaitu:
الحياة لازمها الطهارة في المأكول وفي غير المأكول، ويقصدون بالمأكول: بهيمة الأنعام، كالماعز والضأن والبعير والبقر، وغير المأكول: كالأسد والذئب والنمر.
Binatang yang hidup kelazimannya adalah tanda kalau dia suci baik itu yang hewan yang halal dimakan (dagingnya) ataupun yang tidak halal dimakan, dan yang dimaksud dengan hewan yang halal dimakan adalah: binatang ternak (bahimatul an’am) seperti: kambing kacang, domba, unta dan sapi, dan yang tidak boleh dimakan seperti:harimau, serigala dan macan tutul.

وهل الضبع مأكول أم غير مأكول؟ من العلماء من جعله غير مأكول بدليل: أنه ذو ناب،والنبي نهى عن كل ذي ناب.
Hewan sejenis serigala padang pasir (الضبع) apakah termasuk (hewan) yang boleh dimakan atau yang tidak boleh dimakan?
1)Sebagian ulama’ ada yang menggolongkan ke dalam hewan yang tidak boleh dimakan dengan dalil: sesungguhnya dia mempunyai taring dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang dari setiap (hewan darat) yang bertaring.

2)Dan sebagian mereka (para ulama’) ada yang menggolongkan ke dalam hewan yang boleh dimakan dengan dalil: addob’ ketika (itu) diburu pada musim haji, ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam memburunya dan menjadikannya sebagai sembelihan (kabsy), maka ketika dikenal sebagai hewan buruan (dari sini) kita mengetahui bahwa binatang tersebut adalah boleh dimakan,
imam asy-syafi’I rohimahullah berkata:
ما زال الناس يأكلونه بين الصفا والمروة، ولا ينكر أحد عليهم، فهو كإجماع السكوت،
Tidak henti-hentinya para sahabat rodliallahu’anhum memakannya (addob’) diantara sofa dan marwa, dan tidak ada satupun dari mereka yang mengingkarinya, maka ini menunjukkan (kehalalannya) seperti kesepakatan yang disepakati dengan diam (ijma’sukuti)

(mengingat sinyal di daerah saya sulit untuk searching, saya hindra minta tolong salah seorang untuk search di google tentang gambar Addob’ dengan key word: الضبع nanti kalau udah dapat bisa dikirim lewat japri ke saya).

Dan (ulama yang menggolongkan addob’ sebagai hewan yang boleh dimakan mereka memabantah ulama’ yang mengharamkan) dengan mengatakan: yang dimaksud dengan taring di dalam hadits adalah: hewan YANG MENYERANG MANUSIA dengan taringnya.
Oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda
(خمس فواسق يقتلن في الحل والحرم، وذكر منها الكلب العقور)
Hewan yang fasik (yang mengganggu manusia) yang boleh dibunuh baik di tanah harom (makkah madinah) maupun di luarnya itu ada lima dan didalamnya disebutkan anjing rabies,
Dan yang disebut dengan anjing rabies adalah yang MENYERANG manusia dengan taringnya.
PONDASI DASAR ULAMA’ SYAFI’IYYAH TENTANG SUCINYA KULIT BANGKAI DENGAN DISAMAK
Kita kataka bahwa para ulama’ syafi’iyyah membuatkan sebuah kaidah bagi kami yaitu
الحياة لازمة للطهارة في المأكول وغير المأكول، والموت لازم للنجاسة في المأكول وغير المأكول:
Binatang yang hidup itu adalah tanda suci baik itu yang halal dimakan ataupun yang tidak halal dimakan, dan bangkai pada umumnya adalah najis baik itu hewan yang halal dimakan maupun yang tidak halal dimakan,
Oleh karena itu mereka mengatakan: jika hewan hidup itu adalah suci maka KEMATIANLAH yang menjadi penyebab dia menjadi najis
فإننا نقول: بأن الدباغ -وهذه تكملة القاعدة- ينزل منزلة الحياة بالنسبة للجلد، وعليه فالجلد يطهر، كما كانت الحياة لازمة للطهارة فإذاً الدباغ لازم للطهارة، وقالوا: وهذا ليس من بنات أفكارنا ولا من كيسنا بل هو من الأثر والنظر.
Maka sesungguhnya kita (penulis) katakan: (dan ini adalah penyempurna kaidah di atas) sesungguhnya proses menyamak( الدباغ ) menempati kedudukan (hewan) hidup bagi kulit , dan dengannya maka kulit (bangkai) MENJADI SUCI sebagaimana kehidupan adalah tanda suci maka demikian pula proses menyamak adalah tanda suci,
Dan mereka mengatakan: (kaidah kami) ini BUKAN dari buah pikiran kami dan bukan pula dari hasil renungan kami akan tetapi berdasarkan dari atsar dan nadzor.

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin
Insya Allah Tobe continue part twenty three

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.