Syarah Matan Abu Syuja’ (26): Zat-zat Najis

Bismillahirrohmanirrohim
Kesimpulan pelajaran selasa yang lalu (penulis berkata):

“Kita menyimpulkan dari hal tersebut bahwa: bangkai tidak boleh dimanfaatkan dengan dimakan atau diminum, KECUALI KULIT, maka boleh untuk memanfaatkan kulit bangkai sapi dan kulit bangkai kambing dan kulit bangkai macan, hal tersebut DENGAN MENYAMAKNYA maka menjadi suci maka boleh dijadikan sebagai sajadah dalam shalat atau dibuat tempat minum, yaitu: dibuat qurbah (tempat minum) yang kita bisa minum darinya, atau BOLEH kita memperjual-belikan kulit bangkai. Dan ini adalah hukum (baik dari bangkai hewan) yang halal dimakan (dagingnya) maupun yang tidak halal dimakan KECUALI anjing dan babi”.(selesai)

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islamweb.net
Part :twenty six

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

ZAT-ZAT NAJIS DAN SESUATU YANG BISA MENSUCIKANNYA
Sesuatu yang najis itu bisa disucikan dengan air jika (dia) bisa dibersihkan dengannya, atau dengan disamak, jika dia termasuk jenis kulit dan semisalnya, dan bagian dari bangkai berupa: rambut, otot, tulang adalah najis menurut jumhur ulama’, terkecuali rambutnya, sesungguhya dia suci menurut madzhab malikiyyah dan (sebagian) hambali. Lain halnya para ulama’ Hanabillah/hambali mereka berpendapat sucinya bagian bangkai berupa:kulit, otot dan tulangnya, dan yang Rojih dari pendapat tersebut adalah pendapat para ulama’ syafi’iyyah: bahawa bangkai adalah najis secara umum: baik rambutnya, tulangnya ototnya, dan para ulama’ berbeda pendapat tentang najisnya sesuatu yang basah dari farji perempuan (berupa mani) dan yang rojih adalah sucinya wallahua’lam.

HUKUM ZAT-ZAT YANG NAJIS
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} [آل عمران:102]، {يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا} [النساء:1].
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا} [الأحزاب:70 – 71].
أما بعد: فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.

Penulis (Abus Syuja’ rohimahullah) berkata: pasal zat-zat najis dan sesuatu yang bisa mensucikannya

Dan kulit bangkai bisa disucikan dengan cara disamak kecuali kulit anjing dan babi dan kulit hewan yang terlahir dari keduanya atau dari salah satu dari keduanya, tulang dan rambut bangkai adalah najis kecuali (tulang dan rambutnya) mayat manusia. Kita telah membicarakan tentang bolehnya memanfaatkan kulit bangkai (yang disamak), dan kita telah menjelaskan perbedaan pendapat dikalangan para ulama’ tentangnya, dan kita tutup bab (toharoh ini) dengan membicarakan tentang tulang bangkai, kemudian (setelah itu) kita akan membahas tentang perabot yang terbuat dari emas dan perak, menyimpannya atau menggunakannya untuk makan dan minum dan yang lainnya.

PENDAPAT ULAMA’ SYAFI’IYYAH TENTANG HUKUM RAMBUT, TULANG DAN OTOT BANGKAI

(abu syuja’ rohimahullah) berkata: “dan tulang dan rambut bangkai adalah najis kecuali tulang dan rambutnya mayat manusia” bagi para ulama’ madzhab syafi’I tentang hukum tulang, rambut dan otot bangkai terbagi menjadi tiga qoul:
1)yang pertama: umum yaitu najisnya tulang, rambut dan otot bangkai mereka berdalil dengan keumuman firman Allah ta’ala
{حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ} [المائدة:3]
Diharamkan atas kalian bangkai, darah dan daging babi
Pengharaman sesuatu yang tidak mempunyai kehormatan padanya menunjukkan hal tersebut adalah hukumnya NAJIS,
kita (penulis) katakan: mayit manusia dia juga mempunyai kehormatan, mereka menjawab: dan keumuman firman Allah Ta’ala:
{إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ} [البقرة:173]
Sesungguhnya diharamkan atas kalian bangkai, darah dan daging babi
Dan mayit manusia juga disebut bangkai (maitah) maka masuk dalam KEUMUMAN ayat, dan mereka berdalil dengan Hadits Jabir rodliallahu’anhu:
Sesungguhnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang menjual berhala, khomer dan bangkai
Mereka mengatakan:
والعلة في نهيه عن البيع: النجاسة.
dan letak masalah pelarangan penjualan (bangkai adalah karena sebab) dia itu Najis

2)Pendapat yang kedua mereka berkata: semua tulang, rambut dan otot (bangkai) adalah najis keculi (tulang, rambut dan otot) mayit manusia,mereka berdalil dengan keumuman dalil yang digunakan oleh pemilik pendapat pertama (yaitu firman Allah Ta’ala: Diharamkan atas kalian bangkai, darah dan daging babi. QS.Al-Maidah;3)
, dan mereka mengkhususkan bangkai/mayit manusia dengan firman Allah Ta’ala:
{وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ} [الإسراء:70]
Dan sungguh kami telah memuliakan anak adam dan kami membawa mereka di daratan dan lautan, dan kami beri rizki mereka dari (makanan dan minuman) yang baik-baik
Mereka mengatakan:
التكريم دلالة على عدم النجاسة؛ لأن النجس غير مكرم.
pemuliaan menunjukkan tidak adanya najis, karena sesuatu yang najis itu tidak dimuliakan jadi: Pemuliaan/penghormatan menunjukkan kesuciannya

Dan mereka juga berdalil dengan hadits Abu Huroiroh rodliallahu’anhu wa ardlohu:
Dia berpapasan terhadap Nabi shallallahu’alaihi wasallam sedangkan dia dalam keadaan junub, dan dia berjalan minggir (menjauh dari diri nabi), dan setelah pergi dan mandi dia kembali mendatangi nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan nabi shallallahu’alaihi wasallam menanyainya: Darimana kamu wahai abu huroiroh? Abu Huroiroh menjawab: tadi saya junub dan saya malu untuk duduk bersamamu dalam keadaan junub, maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
سبحان الله! إن المؤمن لا ينجس)
Suhbanallah, sesungguhnya orang yang beriman itu tidaklah Najis

Dan sisi pendalilannya adalah: keumuman lafal sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam: sesungguhnya orang yang beriman itu tidaklah Najis

Dan Ibnu Hazm rohimahullah dia berdalil dengan mafhum (mukholafah/makna antonym tersirat) dari hadits ini bahwa: ahlul kitab atau orang kafir semuanya najis baik tubuhnya (hissi) maupun keyakinannya (maknawi).

Dan sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam: orang yang beriman itu tidaklah Najis
berarti: orang beriman hidup ataupun mati (tidaklah najis), dan mereka berdalil dengan hadits ini bahwa mayit manusia itu tidak najis baik tulangnya, rambutnya,kulitnya dagingnya dan segala sesuatunya.

3)Pendapat ke tiga: sesungguhnya tulang, rambut, dan otot bangkai adalah suci semuanya,
Mereka berdalil dengan dalil-dalil yang akan kita sebutkan, akan tetapi yang sohih dan rojih dalam madzhab (imam Asy-Syafi’I adalah): bahwa tulang, rambut dan otot bangkai adalah najis dan tidak suci kecuali mayit manusia (beriman) karena firman Allah Ta’ala:
{وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ} [الإسراء:70]
Dan sungguh kami telah memuliakan anak adam
Dan termasuk sempurnanya pemuliaan adalah dia suci ketika hidup dan matinya, dan juga sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(سبحان الله! إن المؤمن لا ينجس)
Subhanallah, sesungguhnya orang beriman itu tidaklah najis
، فهذا فيه دلالة أنه طاهر ميتاً كان أو حياً.
Dan ini adalah dalil bahwa dia suci baik telah jadi mayat maupun ketika hidupnya.

Dan buah dari masalah ini adalah: jika engkau mendapatkan bangkai dan menemukan ada bulunya (rambutnya) maka (menurut pendapat ketiga) engkau boleh menggunakan bulu tersebut untuk hiasan pakaian atau (penghangat) pada jaket, ini jika didasarkan pada pendapat (ketiga) bahwa rambut bangkai adalah suci, (tetapi di sini) kita tegaskan (bahwa): bulu (bangkai) tidak boleh dimanfaatkan karena keumuman dalil najisnya bangkai, adapun kulit tidak boleh dimanfaatkan kecuali setelah disamak.

PENDAPAT PARA ULAMA’ MALIKIYAH DAN HANABILAH ROHIMAHUMULLAH DALAM MASALAH BANGKAI
(Adapun jumhur ulama’) dari tiga Imam: imam malik, imam ahmad dan imam abu Hanifah berlainan pendapat (dengan pendapat syafi’iyyah di atas).
Adapun ulama’ hamabli dan malikiyah rohimahumullah: mereka sepakat bahwa tulang, dan otot adalah najis (dan ini sama dengan syafi’iyyah) yang berbeda adalah pada masalah bulu (rambut bangkai) mereka mengatakan:
الشعر طاهر وليس بنجس
bahwa bulu bangkai adalah suci tidak najis,
mereka berdalil dengan atsar dan nadzor dan sebelum kita masuk pada dalil mereka, kita katakana (bahwa):
: أدلة الشافعية على أن النجاسة في الشعر هي قوله تعالى
Bahwa dalil para ulama’ syafi’iyyah tentang najisnya rambut adalah firman Allah Ta’ala
{حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ} [المائدة:3]
Diharamkan bagi kalian bangkai
Dan point pendalilan (wajhuddilalah) adalah UMUMNYA LAFAL, maka masuk di dalamnya tulang, kulit, otot dan rambut (bulu)
1)Adapun dalil (ulama’ syafi’iyyah) dari nadzor mereka mengatakan: tulang, dan rambut ketika hidupnya halal (dengan disembelih), dan ketika hidupnya halal, maka kematiannya (tanpa disembelih syar’i) menjadikannya Najis karena dia adalah BANGKAI

Dan para ulama’ malikiyah dan hanabilah berbeda pendapat dengannya, mereka mengatakan: kami sepakat dengan syafi’iyyah dalam masalah (najisnya) tulang dan otot dalam pendalilan mereka seluruhnya, dan kami tidak sependapat dengan mereka dalam masalah rambut/bulu, dan mereka berdalil dengan atsar dan nadzor:

1)adapun dalil dari atsar adalah firman Allah Ta’ala:
{وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ} [النحل:80]
(Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) ) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).

Sisi pendalilannya adalah: bahwa dibolehkan bagi mereka memanfaatkan rambut/bulu untuk dijadikan alat-alat rumah tangga dan perhiasan ketika perjalanan dan ketika bermukim. Maka ketika diperbolehkan untuk memanfaatkan dan besenang dengannya, hal ini menunjukkan sucinya. Karena tidak memungkinkan dimanfaatkan sedangkan hal tersebut adalah najis, ini adalah dalil dari alkitab.

2)Adapun dari Assunnah adalah hadits Ummu Sulaim rodliallahu’anha wa ardloha yang disebutkan dalam kitab Assunan, beliau berkata:
Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(لا بأس أن تنتفعوا من إهاب الميتة بالدبغ، ومن الشعر بالغسل)
tiak mengapa kalian memanfaatkan kulit bangkai yang telah disamak, dan dari rambut/bulu yang telah dicuci.
Maksudnya: manfaatkanlah kulit bangkai tapi setelah disamak, dan manfaatkanlah rambut bangkai setelah dicuci, maka sebagaimana pensucian kulit bangkai dengan disamak, pensucian rambut dengan dicuci

3)Dalil yang ketiga juga dari atsar bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam melewati bangkai kambing milik Maimunah dan bersabda:
: ألا انتفعتم بإهابها؟
Mengapa tidak kalian manfaatkan kulitnya?
Mereka menjawab: ya rosulallah sesungguhnya itu adalah bangkai beliau bersabda:
إنما حرم أكلها)
Sesungguhnya yang diharamkan adalah memakannya
Dan sisi pendalilannya adalah: sesungguhnya yang diharamkan adalah memakannya
Maka ini menunjukkan bolehnya dimanfaatkan untuk apa saja selain dimakan dan pendalilan ini disebut dengan mafhum mukholafah (pemahaman antonym dari makna tersirat), dan ini dalil yang dari hadits.

4) Adapun dalil dari annadzor mereka mengatakan: rambut/bulu tidak teraliri oleh kehidupan (tidak berkaitan dengan rasa sakit ketika dipotong), mereka berdalil dengan (berkata): jika engaku memotong rambut anak kecil perempuan, dan engkau mencukurnya di tengah, maka anak kecil tersebut tidak akan merasakan sakit dan (tidak pula) mengaduh, ini adalah dalil bahwa tidak ada kehidupan pada rambut, makaTIDAK BISA kita terapkan kaidah:
أن ما حلت فيه الحياة فبالموت يكون نجساً
bahwa yang dihalalakn ketika hidupnya (dengan disembelih) maka kematiannya (tanpa disembelih syar’i) adalah menjadi najis. Ini dalil (kami dari nadzor).

PENDAPAT PARA ULAMA’ MADZHAB HANAFI ROHIMAHUMULLAH TENTANG BANGKAI
Adapun para ulama’ madzhab hanafi rohimahumullah mereka mengatakan: tulang, kulit, otot dan rambut bangkai adalah suci, mereka berdalil dengan atsar dan nadzor:

1)adapun dalil dari atsar sungguh disebutkan dalam hadits:
(أن النبي صلى الله عليه وسلم امتشط بمشط من عاج)
bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam menyisir rambutnya dengan sisir yang terbuat dari gading.
Dan gading adalah termasuk tulang, dan juga berdalil dengan hadits,
(أمر النبي صلى الله عليه وسلم ثوبان مولاه أن يشتري لـ فاطمة سوارين من عاج)
Nabi shallallahu’alaihi wasallam memerintah bekas budaknya (yang bernama) Tsauban untuk membelikan Fatimah perhiasan gelang dari gading,
dan sisi pendalilan kedua hadits ini adalah: sesunggunya beliau kalau beliau menyentuh najis, maka tangan beliau pun terpengaruh najis, dan ketika tidak ada keterangan lanjutan bahawa beliau mencuci tangan beliau (setelah menyentuh sisir dan gelang itu) dan beliau (tidak ada keterangan pula) mencuci kepalanya setelah mengenakannya maka ini menunjukkan bahwa rambut (beliau setelah disisir) adalah suci.

2) Arah pendalilan yang kedua: penggunaan gelang perhiasan (dari gading) Oleh Fatimah rodliallahu’anha, dan keduanya didapat dari jual beli, maka kalau kita mengatakan najisnya maka tidak boleh menjualbelikan barang najis.
Dan ini adalah perbedaan pendapat di kalangan para ulama’, dan demikian pula keadaan Fatimah rodliallahu’anha beliau shalat dengan keduanya (gelang tersebut)
Dan terhadap pendapat yang mengatakan najisnya pada asalnya adalah tidak boleh mengenakan barang najis pada saat shalat, karena shalat bisa batal dengan hal tersebut, maka ketika benar beliau menggunakan perhiasan gelang (dari gading) ini menunjukkan sucinya, dan ini adalah pendapat para ulama’ hanafi yang dari atsar.

3)Adapun yang dari nadzor: sesungguhnya tulang, rambut dan otot, kehidupan tidak menjadikan sebab halalnya, sehingga kita tidak menerapkan padanya kaidah:
أن ما حلت فيه الحياة فبالموت يكون نجساً
bahwa yang dihalalakn ketika hidupnya (dengan disembelih) maka kematiannya (tanpa disembelih syar’i) adalah menjadi najis.
Karena kehidupan lazimnya adalah suci dan kematian lazimnya adalah najis.

Dan para ulama’ madzhab hanafi mengatakan: kami berbeda dengan kalian (syafi’iyyah) pada seluruh pendapat kalian (tentang bangkai), bagian tubuh dari mayit manusia adalah suci
Jadi dalam masalah ini ada tiga pendapat: pendapat sayfi’iyyah dan ini adalah pendapat madzhab: sesungguhnya rambut, tulang dan otot bangkai adalah najis kecuali mayit manusia, dan ulama’ hanabilah dan malikiyyah berbeda dengannya dengan mengatakan: Kita setuju (dengan kalian syafi’iyyah) dalam mengecualikan bagian dari mayit manusia, dan kami setuju dengan kalian tentang (najisnya) tulang dan otot, tetapi kami tidak setuju dalam masalah rambut (bangkai yang kalian anggap najis , Rambut, tulang dan otot bangkai dari semua hewan adalah suci semuanya

PENDAPAT YANG ROJIH DARI MADZHAB SYAFI’I TENTANG RAMBUT, TULANG DAN OTOT BANGKAI DAN BANTAHAN KEPADA ULAMA’ YANG MENENTANGNYA
Yang rojih dari berbagai pendapat di atas adalah: pendapat imam Asy-syafi’I rohimahullah yaitu bahwa: rambut, tulang dan otot bangkai adalah najis karena dalil pemutus (qoti’ah)

1)diantaranya KEUMUMAN firman Allah ta’ala:
{إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ} [البقرة:173]
Sesungguhnya (Allah) mengharamkan atas kalian bangkai, darah dan daging babi

2) Dan juga hadits: Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengharamkan penjualan bangkai, dan letak masalah pengharaman padanya adalah kesepakatan para ahli fikih yaitu: karena sebab NAJIS, dan dikecualikan mayit manusia (dia tidak najis) berdasarkan dalil yang telah kami kemukakan di atas.

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin
Insya Allah Tobe continue part twenty seven

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.