Syarah Matan Abu Syuja’ (23): Sucinya Kulit yang Disamak

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islamweb.net
Part :twenty three

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

DALIL YANG MENYEBUTKAN SUCINYA KULIT DENGAN DISAMAK
adapun dalil dari atsar adalah hadits dalam kitab Assunan dari nabi shallallahu’alaihi wasallam dari sahabat Ibnu Abbas rodliallahu’anhuma waardlohuma,bahwa beliau lewat pada mereka, dan (ditemukan) bangkai seekor kambing milik maimunah rodliallahu’anha waardloha, dan beliau bersabda:mengapa tidak kalian manfaatkan (kulit) nya? Mereka menjawab: ya Rosulallah sesungguhnya kambing itu adalah bangkai-yaitu bangkai yang tidak bermanfaat- kemudian rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
إنما يحرم من الميتة أكلها -ثم قال- إيما إهاب دبغ فقد طهر
sesungguhnya yang haram dari bangkai adalah memakannya-kemudian bersabda-segala jenis IHAB yang disamak maka menjadi SUCI,

dan makna IHAB adalah kulit yang belum disamak, (sabda beliau Ayyuma ihabin) berarti kulit apa saja sebelum disamak, apabila disamak maka berubah sifat dari najis menjadi suci, dan sabda beliau: segala jenis IHAB yang disamak maka menjadi SUCI, ini adalah dalil yang UMUM terhadap sucinya jenis kulit baik yang boleh dimakan (dagingnya) maupun yang tidak boleh dimakan, karena nama Al-Bahimah menunjukkan sifat UMUM, sama saja yang boleh dimakan dagingnya atau yang tidak boleh dimakan, dan dikecualikan dari hal tersebut adalah: anjing dan babi ( dan keturunannya, keduanya) tidak bisa menjadi suci dengan disamak dengan dalil yang akan kita bahas nanti (pada kesempatan yang akan datang).
SEAKAN-AKAN nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
Dan kulit Addob’ (sejenis hyena), kulit serigala, kulit macan, kulit binatang ternak, kulit domba, kulit kambing kacang, jika merupakan bangkai dan disamak maka menjadi suci.

Dan perumpamaan yang paling mirip dalam hal ini adalah: Himar (keledai) yang liar (seperti zebra dan kuda liar) dan himar rumahan (kuda beghol), 1)adapun KELEDAI RUMAHAN seluruh ulama’ sepakat HARAM dimakan (dagingnya), dan demikian pula KELEDAI LIAR seluruh ulama’ sepakat HALAL dimakan (dagingnya), jadi kalau ada bangkai Himar liar dan himar rumahan dan (keduanya) menjadi bangkai, maka kita katakan: apakah (kulitnya) bisa menjadi suci dengan disamak dan apakah mungkin (apakah boleh) penggunaannya apa tidak?. Dan menurut ulama’ syafi’iyyah mereka berkata: dengan (ke) umum (man) sabda nabi (maka menjadi suci) mengapa (demikian)? (karena) Mereka berkata: karena nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda “apa saja” (dari kulit). Dan kata “ayyuma/apa saja” ini maknanya UMUM, yang berarti: hewan yang boleh dimakan (dagingnya) dan yang tidak boleh dimakan (dagingnya). Dan juga sabda nabi shallallahu’alaihiwasallam:
: (طهور جلد الميتة دباغه)
Cara mensucikan kulit bangkai adalah dengan disamak, atau bersabda
(طهور الميتة دباغه)
Sucinya (kulit) bangkai itu dengan disamak,
dan (beliau) menjadikan proses menyamak sebagai pensuci (kulit yang najis), dan ini adalah dalil dari atsar.
Adalapu dari Nadzor: kita katakan: jika hewan yang hidup itu menunjukkan (bahwa hewan tersebut) adalah suci, misalnya tidak seorangpun meletakkan tangannya pada tubuh keledai Liar, atau meletakkan tangannya pada onta, dan tidak dikatakan padanya: basuhlah tanganmu hingga sah shalatmu, karena hewan tersebut tidaklah najis akan tetapi dia adalah suci, mereka berkata:
فكما أن الحياة لازمة للطهارة وأن الموت لازم للنجاسة فإن الدباغ يساوي الحياة في هذه المسألة
Maka sebagaimana hewan yang hidup itu lazimnya adalah suci dan hewan yang mati (tanpa disembelih syar’I yang disebut bangkai) lazimnya adalah najis, dan dalam masalah ini menyamak mempunyai kedudukan sama dengan ketika hidup ( yaitu suci).

Dan proses penyamakan (hukumnya) mengikuti hewan yang hidup, karena dia melakukan apa yang dilakukan (hewan yang hidup), dan kehidupan menunjukkan sucinya onta, dan penyamakan setelah mati berupa bangkai menunjukkan sucinya kulit (bangkai tersebut): mereka mengatakan: bangkai itu (sucinya) bila diikuti denga penyamakan
HUKUM MEMANFAATKAN KULIT BANGKAI YANG SUDAH DISAMAK UNTUK DIPERJUALBELIKAN

Jadi para ulama’ syafi’iyyah berpendapat bahwa kulit seluruhnya terkecuali anjing dan babi (dan yang terlahir dari keduanya), adalah mungkin untuk dimanfaatkan akan tetapi dengan syarat dibatasi dengan PENYAMAKAN, dan penyamakan ini adalah pembersih, yaitu: pembersih kulit,
1)maka engkau bisa mengambil kulit dan membersihkan dari sisa-sisa daging dan yang lainnya, setelah engkau bersihkan
2)kemudian engkau alirkan air padanya dan kamu beri garam dapur atau sejenis lumut (asynan) atau yang lainnya,
3)kemudian engkau jemur (dibawah sinar matahari) selama beberapa hari dengan tujuan mengeraskan (nya) dibawah teriknya matahari sehingga hilanglah bau yang tidak enak, sehingga kulit di sini menjadi suci secara luar dan dalamnya,
maka jika suci berarti boleh untuk digunakan sebagai sajadah dalam shalat, dan boleh untuk tempat minum seperti dibuat menjadi qurbah untuk tempat minum, dan boleh (pula) untuk alas (tidur) dan boleh digunakan untuk segala keperluan KECUALI jual beli, dan inilah titik permasalahan (yang perlu dicermati)

PERBEDAAN PENDAPAT PARA ULAMA’ SYAFI’IYYAH DALAM PEMANFAATAN KULIT (BANGKAI YANG DISAMAK) UNTUK DIJUAL
Dalam masalah ini ada dua pendapat dalam madzhab (asysyafi’i): yaitu qoul qodim dan qoul jadid , qoul qodim (ketiaka beliau berada) di Irak, dan qoul jadid (ketika beliau berada) di mesir.

QOUL QODIM: LARANGAN MEMANFAATKAN KULIT BANGKAI YANG DISAMAK UNTUK DIJUAL
Adapun dalam qoul qodim mereka mengatakan: tidak boleh memanfaatkan (kulit) bangkai untuk diperjual belikan, dan berdalil dengan keumuman firman Allah Ta’ala:
{حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ} [المائدة:3]
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi…
Sampai akhir ayat, dan firman Allah Ta’ala: Diharamkan bagimu Bangkai: maksudnya haram bagimu memakannya, meminumnya, beralas dengannya, kulitnya, otot-ototnya, tulangnya, rambutnya dan segala sesuatu. Dan bangkai itu الميتة adalah nama jenis yang di dalamnya ada alif dan lam, ini berarti UMUM bagi semua bagian tubuh bangkai. Dan kita mempunyai dalil KHUSUS dalam masalah ini, sungguh telah datang riwayat dari hadits sohih dari Jabir rodliallahu’anhu waardlohu,
bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang menjual khomer, patung dan babi, dan berkata: dan (juga melarang) bangkai, sehingga haram (hukumnya) menjual bangkai.
Dan ini adalah dalil berdasarkan keumumannya, yaitu diharamkan segala sesuatu yang terkait dengan bangkai, maka dilarang menjual dagingnya, lemaknya, tulangnya, ototnya, rambutnya dan kulitnya meskipun disamak, karena dalil YANG MENGKHUSUSKAN TIDAK DATANG sampai sekarang, dan ini keterangan dari atsar.

Adapun dari Annadhor: mereka mengatakan: sampai sekiranya engkau mengatakan kepada kami: bolehnya menjual disebabkan bolehnya memanfaatkan, karena kaidah yang ada pada kami dan kalian adalah:
أنه لا يستلزم جواز الانتفاع جواز البيع، ولا يلزم من إجازة الشرع للانتفاع جواز البيع،
Sesungguhnya bolehnya memanfaatkan (sesuatu) tidak (secara otomatis) menjadikan bolehnya menjual ( sesuatu tersebut ), dan pembolehan syareat untuk memanfaatkan (sesuatu) tidak menjadi keharusan bolehnya menjual (sesuatu tersebut).
وبالنظر، قالوا: حتى لو قلتم لنا: يجوز البيع لأنه يجوز الانتفاع، فإن القاعدة عندنا وعندكم: أنه لا يستلزم جواز الانتفاع جواز البيع، ولا يلزم من إجازة الشرع للانتفاع جواز البيع، وهناك أمثلة من الشرع على ذلك: فالكلاب حرم الشرع بيعها بعد أن أجاز الانتفاع بها، فأجاز الانتفاع بالكلاب في الحراسة، وهذه مسألة خلافية أيضاً، فبعض العلماء قال: إن كلب الحراسة يجوز بيعه، وأنا لا أرجح هذا، والصحيح الراجح: أنه لا يجوز بيع الكلاب بحال من الأحوال، لكن يجوز الانتفاع بها.
Di sini ada contoh dari syareat atas hal tersebut: anjing adalah hewan yang haram penjualannya (padahal) dibolehkan memanfaatkannya, dan boleh memanfaatkan anjing untuk menjaga (hewan ternak, dan tanaman), dan masalah ini juga terjadi perbedaan pendapat, sebagian ulama’ berkata: sesungguhnya anjing penjaga dibolehkan penjualannya, dan saya (penulis) tidak merojihkan pendapat ini, SEDANGKAN YANG ROJIH dan sohih adalah TIDAK BOLEHNYA menjual anjing dalam keadaan apapun, akan tetapi boleh memanfaatkannya (dalam beberapa keadaan seperti:berburu, menjaga ternak, menjaga tanaman).
Contoh yang lain (tidak boleh mengambil upah dari mani) ternak jantan (yang dikawinkan), sungguh nabi shallallahu’alaihi wasallam telah melarang darinya padahal beliau membolehkan memanfaatkannya (tanpa mengambil upah).
Jadi (kesimpulannya pendapat dalam) qoul qodim: tidak boleh memperjual-belikan, dan mereka berdalil dengan dalil-dalil yang kami sampaikan tersebut.

QOUL QODIM: BOLEHNYA MEMANFAATKAN KULIT BANGKAI YANG DISAMAK UNTUK DIJUAL DAN DALIL-DALILNYA
ثانياً: القول الجديد: وكثير في أقوال الشافعية القول القديم والجديد، فالجديد هو الراجح إلا في حوالي ثمانية عشر مسألة أو أكثر أو أقل، قالوا: يجوز البيع والشراء، واستدلوا على ذلك بعموم الأدلة مع خصوص النظر.
أما عموم الأدلة: فقول الله تعالى: {وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا} [البقرة:275]، فالربا هو المحرم فقط وهذا حلال البيع، فيدخل تحت العموم.
Yang kedua qoul jadid: dan kebanyakan dari pendapat ulama’ syafi’iyyah adalah qoul qodim dan jadid, dan qoul jadid adalah yang rojih, kecuali sekitar 18 masalah (saja), adapun keumuman dalil adalah firman Allah ta’ala:
{وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا} [البقرة:275]
Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba
Mereka mengatakan: dan pandangan secara khusus adalah: sesungguhnya ketika Allah mengharamkan jual beli bangkai, pengharaman itu disebabkan karena najisnya, dan inti masalahnya adalah Najis, dan hukum pada kami adalah seputar pada inti masalah (illat) yang terkadang muncul dan hilang, maka jika najis maka haram penjualannya, dan jika najisnya telah hilang maka boleh penjualannya dan sah (jual belinya). Mereka mengatakan: dan kulit ini najis disebabkan karena kematian yang TELAH MENJADI SUCI SEBAB DISAMAK. Dan inti masalahnya sudah terangkat, maka hukum KEMBALI PADA DALIL UMUM yaitu firman Allah ta’ala
{وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ} [البقرة:275]
Dan Allah menghalalkan jual beli
Dan kita menjual barang suci bukan barang najis, dan jual belinya SAH atau bolehnya muamalah jual beli tersebut, dan qoul jadid inilah yang ROJIH DAN SOHIH.
allahummanfa’na ma ‘allamtana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma warzuqna fahma. amin.
washallallah ‘ala nabiyyina muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.