Syarah Matan Abu Syuja’ (29): Perabot yang Boleh dan Tidak

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part :twenty nine

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

PERABOT YANG BOLEH DAN YANG TIDAK BOLEH DIGUNAKAN
Menggunakan perabot yang terbuat dari emas dan perak untuk makan dan minum hukumnya haram, dan boleh menggunakan selain dari keduanya, dan para ulama’ berbeda pendapat dalam penggunaan perabot emas dan perak dalam penggunaan selain makan dan minum sebagaimana perbedaan pendapat dalam penggunaan perabot dicampur dengan emas atau dialpisi dengannya.

HUKUM MENGGUNAKAN PERABOT DARI EMAS DAN PERAK
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} [آل عمران:102].
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا} [النساء:1].
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا} [الأحزاب:70 – 71].
أما بعد: فإن أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.
ثم أما بعد:
Penulis (Abu Syuja’ rohimahullah) berkata: Pasal Tidak Diperbolehkan Penggunaan perabot emas dan perak dan diperbolehkan (penggunaan perabot yang terbuat dari) selain keduanya.

Setelah penulis menjelaskan tentang penggunaan kulit untuk qurbah untuk minum, kemudian beliau membahas tentang perabot yang sering digunakan orang dan membaginya menjadi dua: yang pertama dilarang, dan yang kedua diperbolehkan.
Dan perabot emas dan perak ada tiga keadaan,
1)keadaan yang pertama: khusus digunakan untuk makan dan minum
2)keadaan kedua penggunaan secara mutlak untuk selain makan dan minum seperti kunci, rantai, dan perabot hiasan di dalam rumah.
3)Keadaan ketiga: penggunaannya untuk qunyah /kanzun/tabungan yaitu: digunakan ketika diperlukan (dengan) menjual dan memanfaatkan hasil penjualannya.

HUKUM MENGGUNAKAN (PERABOT EMAS DAN PERAK) UNTUK MAKAN DAN MINUM
Yang pertama penggunaan untuk makan dan minum, dalam madzhab (imam Asy-Syafi’i) ada dua qoul, dan yang dimaksud dalam madzhab ada dua qoul adalah qoul qodim dan qoul jadid, maka jika dikatakan: pada suatu masalah ada dua wajah, maka maksudnya bahwa para sahabat kibar (teman/murid imam Asy-syafi’I rohimahullah) mereka keluar (tidak sependapat) dengan pendapat imam Asy-Syafi’I rohimahullah, maksudnya: mereka menilai dengan usul/dasar imam asy-syafi’I dan keluar dari kesimpulan beliau dalam suatu wajah/masalah.
Jadi (intinya) terdapat dua qoul dalam madzhab imam Asy-syafi’I, dalam penggunaan perabot emas dan perak untuk makan dan minum,
1)Qoul yang pertama: hukumnya makruh, padahal imam Asy-Syafi’I dalam kitab ushul fikihnya “Arrisalah” mengatakan bahwa:
أن الأصل في النهي التحريم
Sesungguhnya hukum asal sebuah larangan (dalam Al-Quran dan Al-Hadits) adalah menunjukkan keharamannya
Mereka menjawab: kami berpendapat hukumnya makruh karena ada dalil yang memalingkan larangan tersebut dari haram menjadi makruh, dan ini adalah illatnya (penyebab masalahnya)
Karena sesungguhnya illatnya adalah: berlebihan dan bermegahan atau menyerupai orang ‘ajam (non arab). (penulis berkata) dan perkataan ini tidak wajih (tidak benar).

2)Dan qoul yang kedua dalam madzhab imam As-syafi’I dan ini adalah yang rojih yang dirojihkan oleh para peneliti bahwa: dilarang menggunakan perabot dari emas dan perak untuk makan dan minum dan mereka berdalil dengan dalil-dalil yang banyak dari atsar dan nadzhor.

1)Adapun dalil dari atsar dalam sohih bukhori muslim dari sohabat Abu khudzaifah rodliallahu’anhu waardlohu berkata Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(لا تشربوا في آنية الذهب والفضة، ولا تأكلوا في صحافها؛ فإنها لهم في الدنيا، ولكم في الآخرة).
Jangan kalian minum munggunakan perabot dari emas dan perak dan jangan kalian makan menggunakan piring (besar yang tebuat dari kedua)nya karena sesungguhnya hal tersebut diperuntukkan bagi mereka (orang-orang kafir) di dunia, dan bagi kalin (orang beriman) di akherat.

2)Dan mereka juga berdalil dengan hadits riwayat imam Muslim dari sohabiyyah Ummu Salamah rodliallahu’anha waardloha berkata Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(الذي يشرب في آنية الذهب والفضة إنما يجرجر في بطنه نار جهنم)
Orang yang minum menggunakan gelas yang terbuat dari emas dan perak (di dunia) sesungguhnya mereka memasukkan api neraka jahannam pada perut mereka (pada hari kiamat)
Dan ini adalah ancaman yang tegas dan keras dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bahwa perbuatan tersebut merupakan salah satu dari dosa-dosa besar.
3)Adapun dalil dari Annadzor mereka berkata: padanya terdapat berlebih-lebihan dan bermegah-megahan, dia diharamkan secara umum dan ini juga menyebabkan hati orang fakir tersayat-sayat dan dasar dari syareat melarang hal tersebut.

Dan imam yang 4 telah sepakat akan keharaman makan atau minum menggunakan perabot emas dan perak, dan barangsiapa melakukannya maka berdosa dan diancam mendapatkan dosa besar.
Dan orang yang makan menggunakan cendok dari emas maka sungguh dia telah berdosa besar, dan dengan perbuatan dosa besar ini menjadi GUGURLAH sifat adilnya, dan dia menjadi orang yang FASIQ.
Mereka mengelompokan hal tersebut ke dalam dosa besar, dengan dalil sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam
(كأنما يجرجر في بطنه نار جهنم)
Seperti halnya mereka memasukkan api neraka jahannam pada perut mereka (pada hari kiamat)
Dan point dalilnya adalah ancaman keras ini bahwa dia berhak mendapatkan api yang berkobar ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Karena para ulama’ menyebutkan ciri-ciri dosa besar diantaranya adalah: 1)penolakan keimanan (pada dirinya) atau dengsan 2)ancaman siksa, 3)neraka atau 4)pelaksanaan hukuman di dunia (had).

Dan jumhur ahlu dzohir berbeda pendapat dalam keharaman makan menggunakan keduanya (emas dan perak), dan mereka sependapat dengan jumhur ulama’ (yang empat) pada keharaman minum menggunakan perabot emas dan perak. Karena mereka (ahlu dzohir) hanya mengambil dari (dzohir) Nas semata, dan belum sampai kepada mereka hadits Hudzaifah rodliallahu’anhu yang terdapat padanya lafal:
(ولا تأكلوا من صحافها)
Dan janganlah kalian makan menggunakan (piring besar yang terbuat) dari keduanya
Sehingga mereka hanya menggunakan dzohirnya hadits Ummu salamah rodlilallahu’anha yang tidak menyebutkan kata “janganlah kalian makan” akan tetapi hanya disebutkan kata “janganlah kalian minum” oleh karena itu mereka berpendapat: bolehnya makan menggunakan (piring dari) keduanya (emas dan perak) lain halnya minum (mereka tidak memperbolehkannya).

Dan mereka berdalil dengan atsar dan nadzor,
1)adapun dengan atsar adalah hadits Hudzaifah bin alyaman rodliallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Dan janganlah kalian makan menggunakan piring (besar yang terbuat dari )keduanya,
dan dari hadits kita bantah: jika minum (memakai keduanya) saja dilarang maka makan dengan keduanya lebih patut (untuk dilarang), kecuali jika terdapat dalil yang mengkhususkannya, (karena) makan itu lebih berat daripada minum, kecuali ada (dalil lain) yang mengkhususkan dalil seperti hadits:
(رأى النبي صلى الله عليه وسلم رجلاً يشرب قائماً فقال: أتحب أن يشرب معك الهر؟ قال: لا، قال: قد شرب معك من هو شر منه الشيطان)
Nabi shallallahu’alaihi wasallam melihat seorang laki-laki minum sambil berdiri, dan beliau bersabda: apakah engkau suka kalau engkau minum (satu gelas) bersama kucing? Dia menjawab tidak (wahai Rosulullah), beliau bersabda: sungguh telah ikut minum bersamamu makhluk yang lebih buruk daripada kucing dia adalah setan.
(bersama larangan minum sambil berdiri) terdapat dalil yang mengkhususkan yaitu bolehnya makan sambil berdiri, oleh karena itu sohabat Abdullah Ibnu Umar rodliallahu’anhuma berkata:
كنا نأكل ونحن نمشي
dulu kita pernah makan sambil berjalan,
dan sahabat Anas (bin Malik) berpegangan dengan dasar (qiyas), maka ketika mereka bertanya kepadanya tentang makan sambil berdiri beliau berkata:
الطعام أشد منه، فـ أنس أخذ على التأصيل العام
makanan itu lebih berat darinya (dari minum), maka Anas bin malik berpendapat pada dasarnya yang umum (yaitu dilarang makan sambil berdiri)
akan tetapi Abdullah ibnu Umar rodliallahu’anhuma menukil dari para sahabat rodliallahu’anhum bahwa mereka dulu pernah makan sambil berjalan, dan nabi shallallahu’alaihi wasallam membiarkannya.

HUKUM MENGGUNAKANNYA (PERABOT EMAS DAN PERAK) PADA SELAIN MAKAN DAN MINUM
Yang kedua penggunaan perabot emas dan perak pada selain makan dan minum, misalnya seseorang mempunyai tropi dari emas yang dia dapatkan dari memenangkan perlombaan, dan tertulis namanya di sana, dan tertulis nilainya, dan dia berbangga dengannya degan menaruhnya di dinding, atau contoh lain: seseorang yang menjadikan hiasan dari emas dan menggantungkannya pada rak atau menghiasai kamar dengan rantai dari perak, atau membuat kunci dari emas atau perak atau tropi/medali yang dikaitkan pada kunci (dan yang lainnya seperti jam tangan).

Dan semua ini masuk dalam kriteria memanfaatkan, apakah kita boleh mengatakan keharaman terhadap penggunaan hal tersebut, dan mempersempit atasnya, dan kita katakan ini tidak boleh, ataukah ini boleh?
Dalam madzhab imam Asy-Syafi’I: pengharaman penggunaan emas dan perak berkaitan dengan minum dan makan, dan menunjukkan KEHARAMAN SECARA MUTLAK dalam menggunakan emas dan perak sebagai kunci, medali, rantai seperti hiasan pada pintu, atau hiasan pada dinding, kalau seseorang menggunakan perabot dari emas atau perak seperti ini seperti perhiasan, maka sungguh dia telah terjatuh dalam dosa, bahkan jatuh dalam dosa besar yang bisa menggugurkan sifat keadilannya.

Adapun dalil mereka dalam hal tersebut adalah hadits yang sama yang mereka gunakan untuk keharaman minum dan makan dengan perabot dari emas dan perak, akan tetapi (dalam memahami) dari arah penalaran/nadzoriyah mereka berkata:
1)wajah yang pertama:
(لا تشربوا في آنية الذهب والفضة، ولا تأكلوا في صحافها، فإنها لهم في الدنيا ولكم في الآخرة)
Janganlah kalian minum menggunakan perabot dari emas dan perak, dan janganlah kalian makan menggunakan piring (besar yang terbuat) dari keduanya
karena dia (emas dan perak) itu diperuntukkan bagi mereka (orang-orang kafir) di dunia, dan untuk kalian (orang beriman) di akherat (kelak).

Dan sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam, sesungguhnya emas dan perak itu untuk mereka di dunia, maksudnya yaitu: umumnya hal tersebut adalah untuk orang-orang kafir di dunia, dan mereka mengartikan menggunakan dengan penggunaan secara mutlak (semua hal seperti): makan dan minum, berpakaian dan yang lainnya dan (diakui) pengambilan hukum ini teliti sekali/cermata sekali.

Dan pada akhir hadits beliau bersabda:
(ولكم في الآخرة)
(emas dan perak itu) diperuntukkan untuk kalian (orang beriman) di akherat kelak.
Dan pendalilan ini berarti umum dalam segala penggunaan. Allah Ta’ala berfirman:
{وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنثُورًا * وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا * عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِنْ فِضَّةٍ} [الإنسان:19 – 21]،
Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan.
Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam keni’matan dan kerajaan yang besar.
Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak…

Dan Allah Ta’ala berfiman:
{يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ} [الحج:23].
Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.
Jadi sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam: untuk kalian di akherat kelak
ini berarti: sebagaimana emas dan perak itu diperuntukkan bagi mereka orang kafir secara umum, maka keduanya untuk kalian di akherat kelak juga secara umum, dan ini berarti keharaman penggunaan dalam segala sesuatu, sebagai tanda bahwa persoalannya berlaku umum bukan khusus larangan dalam makan dan minum saja.
2)Sisi yang kedua: nabi shallallahu’alaihi wasallam mengharamkan makan dan minum dengan perabot dari emas dan perak sedangkan mereka sangat membutuhkan makanan dan minuman, lalu beliau melarang menggunakan perabot yang sangat mereka butuhkan
Sisi yang ketiga- ini yang perlu sedikit diluruskan- mereka berkata: inti persoalan/illat dari larangan penggunaan perabot emas dan perak dalam minum dan makan adalah berlebih-lebihan dan kesombongan, Akan tetapi inti persoalan (yang lain dalam hal) ini (adalah) terdapat pula dalam penggunaan untuk berhias, diletakkan di rumah, hiasan di pintu, dan hiasan di kendaraan.
Sedangkan kaidah menurut para ulama’ adalah bahwa hukum itu berkisar pada ada atau tidaknya inti persoalan, sedangkan asal dari perhiasan ini adalah mubah dan boleh.
Ketiga hal ini adalah yang digunakan oleh para ulama’ syafi’iyyah untuk berdalil untuk pengharaman penggunaan emas dan perak secara MUTLAK, dan kebanyakan dari para ulama madzhab maliki dan hambali menyetujuinya,

lain halnya para ulama dari madzhab dzohiriyyah (yang diikuti oleh) sebagian ulama’ madzhab hanafi dan sebagian hambali yang tidak sepakat (dengan pendapat syafi’iyyah ini), dan mereka (yang tidak sepakat tersebut) berdalil dengan beberapa dalil diantaranya:
1)yang pertama: dasar dari segala sesuatu adalah diperbolehkan berdasarkan firman Allah Ta’ala:,
{هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا} [البقرة:29]
Dialah yang telah menciptakan segala yang ada di bumi seluruhnya untuk kalian

Mereka berkata: jadi dasarnya dalam penggunaan perabot emas dan perak adalah diperbolehkan kecuali jika dikhususkan dengan dalil (tersendiri), dan sungguh telah ada dalil atas pengharamannya dalam penggunaan untuk minum dan makan saja, dan kita berhenti sebagaimana (yang disebutkan) oleh dalil.

2)Dalil yang kedua mereka berkata: sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam sangat jelas, sedangkan beliau itu dikaruniai jawami’ kalim (kata ringkas syarat makna), dan kebolehan (menggunakan emas dan perak) tersebut dikhususkan (dikecualikan) pada penggunaan minum dan makan, andaikata pelarangan juga mencakup yang lainnya niscaya Nabi shallallahu’alaihi wasallam akan menjelaskannya (dan disebutkan dalam kaidah):
وتأخير البيان عن وقت الحاجة لا يجوز.
Tidak diperbolehkan Mengakhirkan penjelasan pada saat dibutuhkan

3)Dalil yang ketiga mereka berkata: Ummu Salamah yang meriwayatkan hadits tersebut (menjelaskan) bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengharamkan minum dengan perabot dari emas ketika itu pada nya jaljal-sepertinya sejenis bejana kecil (yang nyaring kalau dipukul)- yang tebuat dari perak yang padanya diletakkan beberapa helai dari rambut Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang dia gunakan untuk mengambil berkah/tabarruk* dengannya.

*(penerjemah: mengambil berkah dari jasad nabi termasuk rambut, keringat dan bekas air wudlu nabi shallallahu’alaihi wasallam ini diperbolehkan karena seluruh jasad nabi mengandung berkah, dan para sahabat melakukannya dan nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak melarangnya, dan ini adalah kekhususuan beliau. Dan tabarruk dengan jasad tidak dilakukan kepada selain beliau karena para sahabat rodliallahu’ahum tidak saling mengambil berkah dari sesama mereka).

Mereka berkata: orang yang meriwayatkan hadits dia lebih mengerti tentang yang diriwayatkan (tentang dirinya sendiri), andaikata menggunakannya (untuk selain minum dan makan) dilarang niscaya ummu salamah tidak akan melakukan hal tersebut, dan ini mempunyai kekuatan dalam satu sisi, karena ummu salamah dialah periwayat hadits (sekaligus obyek orang kedua),

dan yang paling selamat adalah KELUAR DARI PERBEDAAN PENDAPAT, karena kaidah menurut para ulama’ berbunyi:
الخروج من الخلاف مستحب
Keluar dari perbedaan pendapat itu disukai
Akan tetapi aku lebih condong kepada pendapat jumhur ulama’ karena hal tersebut adalah lebih selamat dan dalilnya sangat jelas, tak terkecuali sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam:
: (إنها لهم في الدنيا)
Sesungguhnya dia (perabot emas dan perak) itu untuk mereka (orang kafir) di dunia
Dan ini adalah dalil yang bersifat umum (dan sabda beliau):
(ولكم في الآخرة)
Dan untuk kalian di akherat kelak
Dan kalimat ini juga umum
Karena di dalam penggunaan keduanya terdapat berlebihan dan kemegahan,
1)sedangkan bantahan bagi para ulama’ yang menyelisihi (dengan berdalil): bahwa segala sesuatu pada dasarnya diperbolehkan terkecuali jika adanya dalil yang memalingkan dari dasar kepada yang lainnya, dan sungguh terdapat dalil yang memalingkan dari kebolehan kepada larangan yaitu qiyas jali, dan dalil tersebut dalam memalingkannya sangat kuat sekali. Karena para ulama berpandangan bahwa qiyas jali itu (hampir) sebanding dengan Nas, seakan-akan beliau bersabda: ini adalah yang qiyas aula (qiyas lebih utama) lain halnya dengan pendapat dzohiriyyah yang mana mereka tidak mengatakan: (dalam penetapan bolehnya menggunakan perabot emas untuk selain minum) lebih utama dengan qiyas dan juga tidak menggunakan qiyas apapun, oleh karena itu Ibnu Hazm rohimahullah berkata:
: لا يجوز للمرء أن يقول لأمه: أف، أما ضربها فإنه لا يدخل عنده في نص الآية:
Seseorang tidak boleh mengatakan kepada ibunya perkataan “AH” adapun memukulnya menurutnya tidak masuk dalam Nas ayat:
{فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا} [الإسراء:23]
Maka janganlah kalian katakan kepada keduanya perkataan “AH” dan janganlah kalian membentak keduanya.
(penerjemah: inilah yang menjadikan lemahnya madzhab dzohiri yang tidak memakai qiyas dalam penetapan hukum)
Dan ini adalah kejumudan (kemandekan dalam berfikir) terhadap dalil dan tidak seyogyanya bagi ulama’ yang bisa menggali berbagai makna (dan hikmah dalam dalil untuk membiarkannya tanpa digali )

Jadi kesimpulannya: qiyas aula memalingkan bolehnya memanfaatkan segala sesuatu termasuk emas dan perak (menjadi tidak boleh), sehingga mereka tidak mempunyai dalil dalam masalah ini.

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin
Insya Allah Tobe continue part thirty

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.