Syarah Matan Abu Syuja’ (30): Perabot yang Boleh dan Tidak Boleh (Bantahan)

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part :thirty

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.
Bismillahirrohmanirrohim

Sebelum kita lanjutkan pelajaran marilah kita baca terlebih dahulu kesimpulan pelajaran selasa yang lalu:
a)Penggunaan perabot emas dan perak ada tiga keadaan,
1)keadaan yang pertama: khusus digunakan untuk makan dan minum
2)keadaan kedua penggunaan secara mutlak untuk selain makan dan minum seperti kunci, rantai, dan perabot hiasan di dalam rumah.
3)Keadaan ketiga: penggunaannya untuk qunyah /kanzun/tabungan yaitu: digunakan ketika diperlukan (dengan) menjual dan memanfaatkan hasil penjualannya.

b) penggunaan perabot emas dan perak untuk makan dan minum
1)qoul qodim madzhab imam Asy-syafi’i: hukumnya makruh
2)qoul jadid madzhab imam Asy-syafi’i: hukumnya haram (dan ini yang dirojihkan penulis)

c)penggunaan perabot emas dan perak pada selain makan dan minum
Dalam madzhab imam Asy-Syafi’I: HARAM SECARA MUTLAK karena dia (emas dan perak) itu diperuntukkan bagi mereka (orang-orang kafir) di dunia, dan untuk kalian (orang beriman) di akherat (kelak).
Jadi kesimpulannya: qiyas aula memalingkan bolehnya memanfaatkan segala sesuatu termasuk emas dan perak (menjadi tidak boleh).
PERABOT YANG BOLEH DAN YANG TIDAK BOLEH DIGUNAKAN
….
….

(berbagai bantahan penulis terhadap pendapat yang tidak mengharamkan emas dan perak bagi laki-laki secara mutlak)

Adapun dalil mereka (dzohiriyyah dan yang lainnya) yang kedua bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam sekiranya hendak mengharamkan semua penggunaan (emas dan perak) untuk kalangan laki-laki dari manusia, maka kita katakan: kita mempunyai dasar yang umum, dan membuat sebuah kaedah yang mencakup (luas) yang menjelaskan pada kita bahwa syareat (Allah Ta’ala) tidak membedakan diantara dua hal yang sama. Dan nabi shallallahu’alaihi wasallam membiarkan (dengan tidak) menjelaskan beberapa hukum (dengan maksud wallahu’alam) agar para ahli ijtihad (berusaha mencarinya) sehingga sampai kepadanya kebenaran sehingga dia mendapatkan dua pahala Allah ta’ala berfirman:
{وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ} [النساء:83
Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka,
Ulil amri (bisa diterjemahkan pula dengan) maksud: ulul ilmi (yang mempunyai ilmu agama) sehingga:
{لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ} [النساء:83]
tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri *

*pengertian ulil amri itu ada dua yaitu ulama’ dan umaro’ (ahli ilmu agama dan pemerintah)

Dan nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(إذا اجتهد الحاكم فأصاب فله أجران)
Jika seorang hakim berijtihad dan ternyata benar maka dia mendapatkan dua pahala

Dan nabi shallallahu’alihi wasallam meninggalkan penjelasan (hal tersebut) adalah untuk (PR) bagi para ulama’ ahli ijtihad rohimahumullah, sehingga (dapat dikatakan yang dipahami dari sesuatu) yang umum bahwa dua hal yang serupa itu tidaklah dibedakan, dan juga nabi shallallahu’alaihi wasallam menggantungkan hukum dengan sifat (yang dihukumi tersebut, dan dalam kaidah disebutkan:)
وتعليق الحكم بوصف يشير إلى أنه إذا وجد هذا الوصف فلا بد أن يوجد الحكم
Menggantungkan hukum dengan sifat itu menunjukkan bahwa jika terdapat (suatu) sifat (tertentu) maka tidak boleh tidak (pasti) di dalam nya terdapat hukum (yang sesuai dengan sifat itu).

Dan beliau bersabda:
(إنها لهم في الدنيا، ولكم في الآخرة)
Sesungguhnya (emas dan perak itu) untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian (orang mukmin) di akherat kelak

Dan juga hukum (menggunakan emas dan perak yang dilarang ini karena) akar masalahnya adalah: berlebih-lebihan dan kesombongan.

Adapun dalil yang ketiga (yang mereka gunakan adalah hadits ummu salamah rodliallahu’anha) dalil ini mempunyai (sisi pendalilan) yang kuat pada satu poin karena ummu salamah rodliallahu’anha lebih memahami apa yang dia riwayatkan, akan tetapi (dalil ini) MUNGKIN UNTUK DIBANTAH dari tiga sisi:
1)yang pertama: (kemungkinan terjadi kesalahan) lafal oleh periwayat (nya) dari asal lafalnya (من قصة) menjadi (من فضة)
“dari suatu kisah” menjadi “dari perak” akan tetapi pendapat ini tidak bisa diterima, karena (yang mengatakannya) harus menunjukkan bukti.

2) yang kedua: mereka mengatakan: (kemungkinan) ini (menggunakan jaljal dari perak) adalah ijtihad dari ummu salamah rodliallahu’anha, (akan tetapi pendapat ini aneh karena kalau demikian) sungguh telah berlawanan dengan dengan keumuman sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam: Sesungguhnya (emas dan perak itu) untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian (orang mukmin) di akherat kelak
(sedangkan sikap kita kalau terjadi pertentangan antara perkataan manusia dengan sabda nabi) maka yang kita ambil adalah keumuman sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan bantahan ini tidak (cukup) kuat karena ummu salamah belau rodliallahu’anha mengkhususkan kemumuman sabda nabi tersebut dengan perbuatan nya tersebut, dan (juga sekaligus) beliau lebih paham dengan apa yang di sabdakan nabi shallallahu’alaihi wasallam.
3) yang ketiga: dan ini adalah BANTAHAN YANG PALING MASUK AKAL: bahwa jaljal* (yang digunakan meletakkan rambut nabi untuk tabarruk) tersebut hanya tambalan dari perak (bukan terbuat dari perak pada asalnya) dan dia bukanlah perak, dan (di dalam pendapat ini) terdapat persangka yang baik terhadap ummu salamah rodliallahu’anha wa ardloha, karena beliaulah yang meriwayatkan hadits, dan yang berkata bahwa jaljal tersebut terbuat dari perak adalah periwayat hadits, dan bukan ummu salamah yang mengatakannya, dan (mungkin) terjadi (berbagai kemungkinan keliru) pada para perawi, dan ummu salamah rodlilallahu’anha TIDAK BERKATA: menggunakan (jaljal) yang terbuat dari perak, akan tetapi perawilah yang mengatakannya: ketika itu dia menggunakan jaljal dari perak.
Dan (terjadi kekeliruan) sehingga yang seharusnya: (jal-jal tersebut) tertambal dari perak, dan (perawi keliru dengan mengatakan) (jaljal tersebut) terbuat dari perak.

*jaljal-sepertinya sejenis bejana kecil (yang nyaring kalau dipukul)- yang tebuat dari perak

Jika ada yang protes: apakah gerangan yang menjadikan kalian bisa berpendapat dengan kemungkinan tersebut? Maka kita jawab: dalil yang sangat kuat dan sorih bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya (emas dan perak itu) untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia
Dan ini adalah umum
dan untuk kalian (orang mukmin) di akherat kelak
(juga umum)
Dan juga hadits ummu salamah rodliallahu’anha waardloha.

Dan yang benar bahwa perbedaan pendapat ini ada beberapa yang harus dikritisi, dan pendapat jumhur ulama’ lebih cermat (lebih tepat) yang tampak dari dzohirnya dalil adalah HARAMNYA penggunaan emas dan perak SECARA MUTLAK, maka kita tidak boleh memanfaatkannya dalam keadaan apapun kecuali jika terdapat dalil yang mengkhususkannya, (termasuk diantara dalil yang mengkususkan adalah) dibolehkannya penggunaan emas dan perak oleh WANITA SECARA MUTLAK.

Sedangkan laki-laki boleh mengenakan perak khusus untuk CINCIN SAJA, maka laki-laki tidak boleh memakai ikat pinggang dari perak atau ,gelang (jam tangan)* dari perak karena dalil yang membolehkannya hanya untuk cincin saja dan kaedah para ulama’ berbunyi:
أن ما خرج عن القياس فغيره عليه لا ينقاس
Adapun sesuatu (masalah) yang keluar dari qiyas maka (dalil tersebut) merubahnya (menjadi) tidak (masuk hukum ) qiyas padanya (dengan tidak diqiyaskan).

*please guys look your watch, is it made from gold or silver or not.

Maka hukum asalnya yang umum adalah HARAMNYA menggunakan perabot emas dan perak secara mutlak sebagaimana yang kami rojihkan, dan keluar (dari keumuman tersebut) adalah hukum penggunaan CINCIN PERAK bagi laki-laki (khusus perak bukan emas, dan khusus cincin bukan yang lain). maka kita MENCUKUPKAN hukum sebagaimana yang DITETAPKAN nabi shallallahu’alaihi wasallam.
Dan juga (keterangan) berhiasnya laki-laki dengan perak secara mutlak (pada selain cincin) adalah masuk kategori MENYERUPAI PEREMPUAN dan Allah ta’ala melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan.
***
HUKUM MENGGUNAKANNYA (EMAS DAN PERAK) UNTUK TABUNGAN (SIMPANAN)
Yang ketiga: (hukum) penggunaan emas dan perak untuk simpanan dan jika dia membutuhkan harta maka dia menjualnya: maka ini BOLEH DENGAN SYARAT dan batasan yaitu apa yang dia simpan tersebut adalah sesuatu yang mubah bukan yang haram, dan apabila telah mencapi nisob dan telah lewat masa setahun wajib dikeluarkan zakatnya.
***

HUKUM MENAMBAL PERABOT (YANG BUKAN DARI PERAK) DENGAN EMAS DAN PERAK

Dan (apakah) diperbolehkan menambal (atau meyambung) perabot dengan tambalan dari emas dan perak misalnya: perabot yang terbuat dari logam
Kuningan atau tembaga rusak (berlubang atau retak) dan kita menambalnya dengan emas atau perak (yang dilelehkan) maksudnya: Menjadikan pada perabot tersebut ada sesuatu bagian dari emas atau perak untuk memperbaiki kerusakan,
-jika (tambalan tersebut) dari emas maka tidak boleh menurut kesepakatan madzhab syafi’i
-jika (tambalan tersebut) dari perak maka boleh (dengan syarat)
dan hukum asalnya adalah larangan pada emas dan perak, akan tetapi yang terdapat dalil ya mngenkhususkannya hanya perak saja, yaitu hadits anas (bin malik) rodlilallhu’anhu waardlohu berkata:
(انكسر قدح النبي صلى الله عليه وسلم فجعل فيه سلسلة من فضة)
Telah retak bejana nabi shallallahu’alaihi wasallam dan diperbaiki dengan tambalan (cairan) dari perak.
Hal ini menunjukkan bahwa menambal perabot dengan perak diperbolehkan.

Sedangkan menambalnya dengan emas maka tidak terdapat dalil (yang membolehkannya), maka kita BERHENTI PADA HUKUM ASAL yaitu TIDAK BOLEH.
Jadi (kesimpulannya) kita katakan: menambal bejana yang retak/berlubang dengan emas adalah tidak boleh (hal ini adalah kesepakatan jumhur ulama’) dan jika menambalnya dengan perak maka ada beberapa keadaan:
yang pertama menambalnya tidak karena membutuhkannya
Yang kedua menambalnya karena membutuhkannya dan perak yang digunakan untuk menambal itu sedikit sekali
Yang ketiga menambalnya karena membutuhkannya dan perak yang digunakan untuk menambal banyak.
Maka hukum keadaan yang pertama dalam madzhab imam syafi’I ada dua qoul:
Makruh dan Haram, dan (haram ) inilah yang rojih karena ada kemungkinan dia menjadikan perabot dari perak dan menerjang larangan nabi shallallahu’alaihi wasallam yaitu hadits Orang yang minum menggunakan gelas yang terbuat dari emas dan perak (di dunia) sesungguhnya mereka memasukkan api neraka jahannam pada perut mereka (pada hari kiamat)

Keadaan yang kedua: karena membutuhkannya dan peraknya itu sedikit maka BOLEH kerena adanya kebutuhan, dan maksud dari butuh di sini BAHWA TIDAK BISA DITAMBAL KECUALI DENGAN PERAK TERSEBUT, dan perabot dari kaca dia tidak mungkin ditambal dengan nya, akan tetapi manusia membutuhkannya, maka syareat membolehkan dalam rangkan butuhnya manusia untuk menambalnya dengan perak.
Jadi: jika perak (yang digunakan untuk menambal) itu sedikit dan orang membutuhkannya maka boleh, dan dalilnya adalah hadits Anas (bin malik) rodlilallahu’anhu awaardlohu Telah retak bejana nabi shallallahu’alaihi wasallam dan diperbaiki dengan tambalan (cairan) dari perak.
Keadaan yang ketiga: dia membutuhkannya akan tetapi peraknya banyak (karena lubang atau retaknya lebar) maka hal ini tidak diperbolehkan, dan sebagian ulama’ syafi’iyyah memakruhkannya dan yang benar adalah TIDAK DIPERBOLEHKAN.

Jadi yang diperbolehkan untuk menambal perabot hanya (cairan) perak saja dan itu saja jika ada kebutuhan, adapun dalam keadaan TERPAKSA (dhorurot) maka DIPERBOLEHKAN menambal dengan emas dan perak, dan dalilnya adalah hadits ARFAJAH bin ASAD rodliallahu’anhu waardlohu ketiak hidungnya terpotong (na’udzubillah mindzalik) dalam suatu peperangan maka dibutkan baginya hidung buatan dari perak lalu ternyata keluar bau busuk, maka nabi shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan para sahabantnya untuk membuatkan hidung buatan yang terbuat dari emas, maka dibuatkanlah hidung buatan dari emas untuknya.
(dalam kaidah disebutkan):

فالضرورات تبيح المحظورات
keadaan terpaksa membolehkan (seseorang) melakukan yang (asalnya) dilarang

Akan tetapi jika terdapat sesuatu pengganti lain maka dia tidak boleh dipakai, misalnya GIGI palsu terbuat dari emas dan perak maka TIDAK DIPERBOLEHKAN memasang gigi palsu dari dua emas ini (emas dan perak) karena mungkinnya dia untuk bebas darinya (dengan menggunakan bahan lain) dengan mubah.
Jadi bolehnya menggunakan perak hanya ketika membutuhkan dan kadarnya sedikit, dan penggunaan emas dan perak (untuk menambal ) itu jika terpaksa, DAN DHORUROT ITU TERBATASI DENGAN BATAS-BATASNYA.
***

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thanks for your attention, Insya Allah Tobe continue part threty one

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.