Syarah Matan Abu Syuja’ (20): Najis yang Berbekas dan Tidak

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islamweb.net
Part :twenty

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

NAJIS YANG BERBEKAS DAN TIDAK
Najis itu ada dua macam: yang berbekas dan yang tidak berbekas, contoh najis yang tidak berbekas adalah: najis yang tidak kelihatan karena terlalu kecil,maka najis yang seperti ini dima’fu (ditolerir).dan pendapat yang mewajibkan untuk membasuhnya di dalamnya terdapat masalah, (sedangkan) kaidah syareat berbunyi:
أن المشقة تجلب التيسير
Bahwa di mana ada kesulitan maka di situ ada kemudahan.

MADZHAB SYAFI’IYYAH DALAM MASALAH AIR
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا, من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له, وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} [آل عمران:102].
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا} [النساء:1].
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا} [الأحزاب:70 – 71].
أما بعد: فإن أصدق الحديث كتاب الله, وأحسن الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم, وشر الأمور محدثاتها, وكل محدثة بدعة, وكل بدعة ضلالة, وكل ضلالة في النار.
ثم أما بعد:
Telah kami sebutkan bahwa air itu ada tiga macam:1) tohur suci pada dirinya dan mensucikan yang lainnya 2)tohir suci pada dirinya dan tidak bisa mensucikan yang lainnya 3)najis

Dan kita telah menyebutkan bahwa madzhab (imam Asy-syafi’I rohimahullah) membagi air menjadi sedikit dan banyak, dan batas sedikit dan banyak menurut syafi’iyyah adalah dua qullah.

Dan madzhab syafi’iyyah mengatakan: jika air sedikit terkena najis maka menjadi najis, sama saja baik berubah ataupun tidak, (jika air sedikit mereka tidak melihat pada perubahan sifat) akan tetapi melihat pada sedikit dan banyaknya, dan jika air dua qullah atau lebih (dan kemasukan najis) maka (yang) dilihat (adalah) perubahannya, jika berubah salah satu sifat rasa, warna dan bau maka najis, jika tidak (berubah), maka tidak.

NAJIS YANG BERPENGARUH DAN YANG TIDAK BERPENGARUH
Segala macam najis yang mengenai air yang banyak dan mempu merubah rasa, warna dan bau maka sungguh (najis tersebut) telah menjadikannya najis, akan tetapi air sedikit (terkena najis) walaupun tidak berubah maka telah menjadi najis.kecuali najis yang sangat kecil yang ditolerir, (misalnya) jika seekor lalat hinggap pada najis lalu pindah ke baju, lalat ini mau tidak mau pasti membawa najis yang diletakkan pada pakaian, maka jika seseorang memeperhatikan dia tidak akan melihat tanda najis, dan najis ini tidak terlihat

Karena sebab najis tersebut apakah baju tadi wajib dicuci? Juga air yang kurang dari dua qullah dan dihinggapi lalat yang membawa najis apakah airnya menjadi najis atau tidak?

(dalam hal ini) dalam madzhab imam asy-syafi’I rohimahullah ada enam qoul: 1)diantara mereka ada yang membedakan antara air dan pakaian, 2)diantara mereka ada yang mengatakan najis secara mutlak 3) dan diantara mereka ada yang mengatakan suci secara mutlak

Dan qoul yang rojih adalah: jika lalat jatuh pada air atau hinggap pada pakaian maka pakaian TETAP SUCI dan airnya TETAP TOHUR, dan dalil dari hal ini yaitu dalil-dalil Nadzoriyyah yang bersumber dari dalil-dalil atsariyyah diantaranya:
Kaidah (fikih yang pertama):
اليسير يعفى عنه,
Sesuatu yang sedikit/ringan maka dimaafkan
Dan ini diambil dari maksud diturunkannya syariat.

Kalau kita memerintahkan untuk mencuci pakaian yang dihinggapi lalat, maka kita telah menerapkan suatu kesulitan, adalah hal yang tidak bisa dihindari bahwa lalat akan hinggap setiap saat, dan Allah ‘azza wajallah berfirman:
{لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا} [البقرة:286].
Allah tidak membebani seorang hambapun kecuali dengan kadar kemampuannya

(Kaidah yang kedua) (yang lain berbunyi):

المشقة تجلب التيسير، وإذا ضاق الأمر اتسع،
Dimana ada kesulitan maka disitu menuntut adanya kemudahan, dimana ada kesempitan maka disitu terdapat hukum yang luas
Kalau kita perintahkan setiap mukallaf untuk menumpahkan setiap air yang dihinggapi lalat kita akan menyia-nyiakan air, jika kita perintahkan untuk membasuh pakaian (yang dihinggapi lalat) maka akan memberatkan sedangkan Allah jalla wa’ala berfirman:
: {وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ) [الحج:78]
Dan Allah tidak menjadikan kesulitan bagi kalian dalam agama ini

Dan ini termasuk persoalan yang dipahami hampir setiap orang, dan persoalannya semua berkisar pada menghilangkan kesulitan, dan bahwa bila terjadi suatu kesulitan maka mengharuskan kemudahan oleh karena itu para ulama berkata:
يغتفر في الفرع ما لا يغتفر في الأصل، واليسير يغتفر،
(persoalan) cabang (yang ringan)hukumnya ditolerir, berbeda dengan persoalan Usul (pokok) yang tidak ditolerir dan sesuatu yang ringan itu ditolerir.

Misalnya dalam minyak wangi terdapat satu persen (1%) bubuk celak dan sisanya (99%) semuanya adalah minyak wangi, maka kita katakan: celak yang satu persen ini tenggelam (larut) dalam minyak wangi yang banyak bahkan terpecah (menjadi bagian minyakwangi) yang banyak prosentasenya (tersebut).

Jadi yang benar dan rojih kita katakan: najis (yang dibawa lalat) itu adalah najis yang ringan yang ditolerir dan pendapat ini yang dipilih oleh imam An-Nawawi rohimahullah dan yang lainnya, (kesimpulannya) najis yang ringan yang tidak terlihat mata ditolerir dan seseorang tidak terbebani untuk mencucinya.

HUKUM HEWAN YANG DARAHNYA TIDAK MENGALIR APABILA JATUH PADA AIR

Hewan itu ada dua jenis: 1)yang pertama hewan yang darahnya mengalir seperti bahimatul an’am (onta, sapi dan kambing) (DLL), dan 2) hewan yang darahnya tidak mengalir seperti: kutu, tawon, semut, lalat (dll), hewan-hewan seperti ini darahnya tidak mengalir,(maksudnya bila dilukai) berarati tidak mengalirkan darah:
Dan (pendapat) yang rojih menurut syafi’iyyah adalah:

Jika lalat jatuh pada wadah air, maka tenggelamkan (lalau dibuang) karena dia tidak merubah air menjadi najis. Karena (suatu kaidah fikih) di mana ada kesulitan di situ ada kemudahan, dan kita katakan: lalat bukan binatang najis, dan dalil tentang hal ini adalah yang ada dalam kitab sohih bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(إذا وقع الذباب في إناء أحدكم فليغمسه)
Jika lalat jatuh ke tempat air kalian maka celupkanlah
Dan dalam sunan abu daud dengan tambahan:
(فإن في أحد جناحيه داء، وفي الآخر دواء، وإنه يتقي بجناحه الذي فيه الداء)
Karena pada salah satu dari kedua sayapnya ada penyakit, dan yang satunya terdapat obatnya, Karen sayap (yang ada obatnya) menetralkan pada sayap yang ada penyakitnya

(dalam lafal hadits tersebut) Berarti: mendahulukan sayap yang ada penyakitnya, dan pembahasan dari sisi medis mendahulukan sayap yang ada penyakitnya, maka (jika lalat jatu pada minuman) hukumnya WAJIB bagimu untuk mencelupkannya, dan barang siapa yang tidak melakukannya maka dia BERDOSA, kalau dia meninggal karena sakit yang disebabkan (karena meminum minuman yang dihinggapi lalat yang tidak dia celupkan lalatnya) maka hukumnya adalah mati bunuh diri, karena dia menyelisihi syareat Allah ta’ala, nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda
(فليغمسه فإن في أحد جناحيه الداء وفي الآخر الدواء وإنه يتقي بالداء)
Maka celupkanlah Karena pada salah satu dari kedua sayapnya ada penyakit, dan yang satunya terdapat obatnya, Karena sayap (yang ada obatnya) menetralkan pada sayap yang ada penyakitnya
Dan ketika lalat dicelupkan maka mau tidak mau dia akan mati, imam Asy-syafi’I berkata: (lalat yang mati tersebut) dia adalah bangkai,
dan Allah ta’ala berfirman:

{قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ} [الأنعام:145]،
Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – …

Dan barang kotor kembali kepada setiap yang disebutkan, maka bangkai itu adalah NAJIS.

Akan tetapi kita berpendapat: pendapat ini KELIRU, karena bertentangan secara nyata dengan kebolehan (perintah) dari nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk mencelupkan lalat ke wadah (tempat dia jatuh) dan nabi shallallahu’alaihi wasallam mengetahui bahwa lalat kalau ditenggelamkan maka dia akan mati, dan air ini tidaklah menjadi najis, karena nabi shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan bolehnya (minuman atau) makanan tadi untuk dimakan atau minuman tadi untuk diminum.

Hal ini menunjukkan bahwa bangkai ini tidak menjadikan najis air tersebut, karena dia tidak najis, (pertanyaannya) apakah diperbolehkan memakan lalat (nya)? Jawabannya TIDAK BOLEH, karena dia menjijikkan,

Dan sebagian ulama’ memisahkan dengan mengatakan:

Hewan yang darahnya tidak mengalir ada dua, 1)yang berada di luar makanan dan minuman seperti: lalat, tawon dan semut, dan 2)yang berada di dalam makananan seperti ulat (buah) kurma, maka ketika (ulat) ikut termakan bersama makanan (buahnya) maka tidak mengapa karena dia tidak lah najis, akan tetapi kalau semut, tawon dan sejenisnya

Kita katakan: (hewan-hewan) ini MENJIJIKKAN tidak boleh dimakan, tapi yang kuat (hewan-hewan tersebut) TIDAK NAJIS karena sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam: jika lalat jatuh pada wadah (berisi makanan atau minuman) salah seorang kalian, dan beliau memperbolehkan untuk mencelupkannya dan beliau mengetahui bahwa lalat tersebut akan mati.
If you want to read the last lessons please go to this site
www.hiida.blogspot.com

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin
Insya Allah Tobe continue part twenty one

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.