Syarah Matan Abu Syuja’ (5): Kaidah-kaidah dalam Fikih Imam Asy-Syafi’i

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Ayyuhal ikhwah in syaa Allah setiap hari selasa admin akan menayangkan lanjutan pembahasan kitab matan abu Syuja’ yg diterjemahkan oleh ustadz Hindra Kurniawan hafidzhohullah
Namun mohon maaf untuk materi ini tidak ada pertanyaan

? Syarah matan abu syuja’

?Kategori :
Kitab fikih madzhab imam syafi’i rohimahullah
?Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar
?Penerjemah : Hindra Kurniawan
?Situs asli : www.islamweb.net
?Part : five

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala Muhammadin wa alihi wa ashhabihi ajma’in amma ba’du.

KAIDAH-KAIDAH DALAM FIQIH IMAM ASY-SYAFI’I

Ada kaidah-kaidah di dalam madzhab imam Asy-Syafi’I rohimahullah, yang harus di camkan oleh setiap penuntut ilmu yaitu:
kaidah pertama: dalam dua permasalahan: (maksudnya) bagi setiap pengikut madzhab Asy-Syafi’I ada dua Qoul: yaitu Qoul Qodim dan Qoul Jadid.
Qoul Qodim adalah pendapat beliau yang lama yang beliau tulis di Irak
Dan Qoul jadid adalah pendapat beliau yang baru yang ditulis di Mesir. Dan para pakar peneliti (dari para ulama madzhab) Asy-Syafi’I beranggapan bahwa madzhab Jadid (yang baru/yang terakhir) adalah menghapus madzhab yang lama. Dan menurut mereka semua fatwa itu (harus berdasarkan) madzhab yang baru terkecuali dalam 20 masalah saja, yang masih (mereka pertahankan) dengan madzhab yang Qodim/lama.
Kaidah yang kedua: dalam dua wajah, dan maksud dari Al-wajhu adalah: (pendapat yang dikeluarkan) oleh ulama Asy-Syafi’iyyah berdasarkan pondasi madzhab Asy-Syafi’I, dan orang yang paling (banyak) mengeluarkan pendapat berdasarkan pondasi dasar Asy-syafi’I adalah imam Al-Qoffal dan Tobaqotnya (tingkatannya).(mungkin anda bertanya) bagaimana (bisa mereka) mengeluarkan pendapat berdasarkan pondasi Asy-Syafi’i?,

suatu cobtoh misalnya: terdapat suatu masalah yang tidak ada riwayat di dalamnya perkataan imam Asy-Syafi’I rohimahullah, maka imam Al-Qoffal rohimahullah membahasnya dengan pondasi (dasar) madzhab imam Asy-Syafi’I rohimahullah yang dasarnya dalam kitabnya Arrisalah (umpamanya), yang mana imam Asy-Syafi’I rohimahullah dulu menempuh nya, maka kemudian (imam Al-Qoffal rohimahullah) berpendapat dengan satu perkataan dalam masalah tersebut berdasarkan pondasi madzhab Asy-Syafi’I rohimahullah. maka pendapat seperti ini di dalam madzhab disebut: alwajhu/wajah

وجهاً ولا يسمى قولاً،
“Al-Wajhu/wajah” bukan yang disebut perkataan.

Adapun qoul/perkataan adalah sesuatu yang disandarkan kepada imam Asy-Syafi’I dengan lisan beliau rohimahullah, sedangkan Alwajhu/wajah adalah apa yang disandarkan  kepada mujtahid madzhab, dan wajah ini disandarkan kepada (madzhab) imam Asy-Syafi’I  walaupun imam Asy-Syafi’I tidak mengucapanya.

3)kaidah yang ketiga: Assohih
(jika ada beberapa perkataan kemudian satu dari perkataan tersebut disebut assohih) berarti (perkataan) tersebut adalah perkataan imam Asy-Syafi’I rohimahullah, dan yang lainnya bukan perkataan imam Asy-Syafi’I rohimahullah, suatu contoh: imam Nawawi rohimahullah berkata dalam kitabnya AL-Majmu’: Assohih, maka yang dimaksud bahwa ini adalah perkataan imam Asy-syafi’I dan yang lainnya bukan perkataan imam Asy-Syafi’I rohimahullah.

4)kaidah yang keempat: Al-Adzhar
Maknanya adalah bahwa dalam suatu masalah terdapat suatu pertentangan yang sangat kuat, dalil perkataan pertama kuat , dalil perkataan kedua juga kuat, dan keduanya mempunyai derajat yang kuat, akan tetapi yang pertama lebih kuat dengan sesuatu yang tampak (oleh) mujtahid fatwa.
Suatu contoh: imam Arrofi’I dan imam An-Nawawi rohimahumallah, adapun imam Al-Qoffal rohimahullah dan (tingkatannya/tobaqotnya)  mereka adalah para mujtahid dalam At-takhrij (penjelasan periwayatan suatu hadits), dan imam Al-Qoffal lebih kuat kedudukannya dari pada imam Nawawi rohimahumallah,
Dan perkataan mereka Al-Adzhar adalah: tarjih (penguatan dari)  para ulama madzhab (syafi’i) bukan tarjih (langsung) dari imam Asy-Syafi’I , karena (apabila) terdapat dua perkataan imam Asy-syafi’I rohimahullah (yang sama-sama kuat) dan mujtahid melihat bahwa perkataan yang satu Adzhar di dalam madzhab ini, maka dia mengatakan:

هذا هو الأظهر الذي يدل عليه الدليل، وهو أشبه بقول الشافعي.
Ini adalah yang adzhar (lebih kuat dari dua dalil yang hampir sama kuatnya) yang ditunjukkan atasnya dalil, dan ini lebih mirip dengan perkataan imam Asy-Syafi’I rohimahullah.

5) Kaidah yang ke lima: Al-Masyhur
Kaidah ini menunjukkan bahwa dalam suatu masalah (terdapat) pertentangan dengan yang doif/lemah, dan di dalam masalah ada dua perkataan, akan tetapi perkataan kedua ditinggalkan, dan tidaklah sesuatu itu ditinggalkan seseorang kecuali karena dhoifnya.

6) kaidah yang ke enam : Al-Asoh
Kata ini menunjukkan bahwa (perkataan) ini adalah yang lebih sohih dari perkataan imam Asy-Syafi’I rohimahullah, dan kadang terjadi diriwayatkan  beberapa perkataan, akan tetapi yang Asoh/ yang paling sohih adalah perkataan ini yang dirojihkan/dikuatkan oleh mufti Al-Muhadzdzab, dan kadang-kadang ini adalah yang lebih sohih/asoh dari berbagai wajah.

7) kaidah yang ke tujuh: asohul aujah
Wajah yang paling sohih. Dan ini diucapkan oleh ulama madzhab Asy-Syafi’I, dan datang seorang mujtahid fatwa dan memperhatikan dalam kitab-kitab takhrij (penjelasan periwayatan suatu hadits) misalnya: imam Abu Hamid Al-Isfiroyini rohimahullah mengeluarkan sebuah perkataan, dan Imam Al-Qoffal rohimahullah juga mengeluarkan sebuah perkataan, dan datang imam An-Nawawi atau imam ArRofi’I rohimahumallah Menilai keduanya dan merojihkan/menguatkan yang satu atas yang lainnya, maka yang dirojihkan itu menjadi Asoh (asohul aujah).

8) kaidah yang ke delapan: Al-Asybah
Adalah yang paling mirip dengan perkataan imam Asy-Syafi’I rohimahullah dan kadang-kadang diriwayatkan (beberapa) perkataan yang berbeda-beda disandarkan kepada imam Asy-Syafi’I rohimahullah dan mereka melihat  dan bersandar dan menggunakan (meotde) Asy-Syafi’I dan mengatakan dan perkataan ini yang paling mirip dengan perkataan imam Asy-Syafi’I rohimahullah.

(Kitab) Ringkasan Al-Muzani dalam fiqih imam Asy-Syafi’I rohimahullah
(kitab) Ringkasan Al-Muzani satu jilid adalah besar, imam Mawardi rohimahullah mensyarahnya menjadi 24 jilid, sebagian dari mereka (para ulama) mengatakan di dalam (kitab) Ringkasan Al-Muzani: saya belum pernah melihat dan belum pernah mendengar yang lebih utama dari Ringkasan Al-Muzani dan dia adalah kilat (cepat dalam menghafal).
Imam Asy-Syafi’I bertkata ( kepada imam Al-Muzani rohimahullah) tentangnya ketika akan meninggal:
لو خاصمك الشيطان لخصمته
Kalau setan menekan kepadamu maka sungguh aku yang akan menekannya

Karena kuatnya pendalilannya, oleh karena itu para ulama menjadikan (kitab Ringkasan AlMuzani) dalam tobaqot/tingkatan yang pertama dari tingkatan madzhab syafi’iyyah. Dialah (imam AL-Muzani rohimahullah adalah seorang) mujtahid MUTLAK yang muntasib, dan beda antara mujtahid mutlak muntasib dan mujtahid mutlak yang tidak muntasib adalah, bahwa yang kedua  dia tidak mempunyai madzhab tertentu, seperti imam AsySyaukani, dan imam Ashon’ani rohimahumallah.
Adapun imam Ibnu Hazm beliau teguh dalam madzhab dzohiriyyah, dan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah mujatahid mutlak almuntasib dalam madzhab imam Ahmad bin Hanbal rohimahullah, dan kadang-kadang beliau condong kepada madzhab Syafi’iyyah.

Dan imam Al-Muzani rohimahullah kadang-kadang mengeluarkan qoul dan mengatakan:

هذا أشبه بقول الشافعي عندي
(Dalam pendapatku masalah) Ini mirip dengan perkataan imam Asy-syafi’i

Dan perkataan seperti ini banyak (kita dapatkan) dalam mukhtasornya.

seyogyanya bagi penuntut ilmu untuk naik (tingkatan ilmiah) setelah (membaca Ringkasan Al-Muzani) itu dan membaca kitab Mughnil Muhtaj karangan imam Asy-Syarbini rohimahullah, atau membaca kitab Roudlotut Tholibin karangan imam An-Nawawi rohimahullah, atau membaca kitab syarah mukhtasor almuzani karangan imam al-Mawardi rohimahullah atau membaca kitab Al-Majmu’ karangan imam An-Nawawi rohimahullah.

If you want to read the part four please go to this website…http://hiida.blogspot.co.id/2015/09/pertanyaanmatan-abu-syuja-part-three.html?m=1.

Allahummanfa’na ma ‘allamtana, wa’allimna ma yanfa’una, wala taj’alid dunya akbaro hammina, amin.
Washallallah ‘ala Muhammad, walhamdulillahirobbil ‘alamin
Tobe Continue part six insya Allah… PERKATAAN PARA ULAMA TENTANG IMAM ASY-SYAFI’I ROHIMAHULLAH

(petunjuk memahami: baca empat sampai lima kali atau lebih, catat kata-kata yang asing dan aneh, tanyakan yang belum faham, sahhalallahu lakum).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.