Syarah Matan Abu Syuja’ (31): Hukum Melapisi Sesuatu dengan Cairan Emas

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part :threty one

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.
Bismillahirrohmanirrohim

HUKUM MELAPISI (SESUATU) DENGAN CAIRAN EMAS
Beberapa perabot terkadang disepuh (dilapisi) dengan cairan emas oleh seseorang (pengrajin), seperti: macam-macam kaca mata, berbagaimacam jam, lalu bagaimanakah hukum melapisi dengan cairan emas tersebut?. Melapisi dengan cairan emas ada dua keadaan:
1)Keadaan pertama: jika kita melelehkannya pada api maka terpisah bagian emasnya dan kentara, maka hal ini dilarang walaupun sedikit.
2)Keadaan kedua: jika kita melelahkannya pada api ternyata tidak terpisah dengannya sesuatu (emasnya tidak memisah), maka hal ini diperbolehkan, karena (emas tersebut) dia bukan suatu hal yang tersendiri akan tetapi dia adalah tabi’/suatu zat yang mengikuti zat lain, dan kaidah menurut para ulama’(berbunyi):
يغتفر في التابع ما لا يغتفر في الأصل
sesuatu zat yang mengikuti ditolerir (hukumnya) tidak seperti halnya zat pada asalnya (yang tidak ditolerir).

Oleh karena itu sesungguhnya menjual Sesuatu yang tidak terlihat adalah ghoror yang tidak diperbolehkan, AKAN TETAPI hal ini (adalah ghoror yang) ditolerir pada zat yang mengikuti (bukan zat asal) walaupun pembeli tidak melihatnya. Contohnya:
1)anda membeli jaket yang di dalamnya berisi (potongan kain) katun, dan (potongan kain) katun tersebut anda tidak melihatnya (saat membeli), akan tetapi dia adalah zat yang ikut(pada jaket) maka (pembeli) boleh membelinya,
2)contoh yang lain: bolehnya membeli rumah tanpa harus mengetahui pondasinya (seperti apa), karena pondasi adalah zat yang mengikuti (pada rumah).

Jadi melapisi (perabot) dengan cairan emas hukumnya ada perincian:
1)jika setelah dilelehkan dengan api tidak ada sesuatupun yang terpisah (dari emas tersebut) maka boleh memakainya, karena zat yang mengikuti itu ditolerir tidak sebagaimana zat asal yang tidak ditolerir,
2)dan (sebaliknya) apabila Sesuatu (berupa emas tadi) terpisah dengannya (dengan dipanaskan) maka tidak boleh mengunakannya.
***

AKAR MASALAH (ILLAT) LARANGAN MAKAN DAN MINUM MENGGUNAKAN PERABOT DARI EMAS DAN PERAK
Para ulama’ berbeda pendapat dalam menetapkan akar masalah (illat) pengharaman penggunaan perabot emas dan perak (dalam makan dan minum dan yang lainnya), dan yang rojih adalah bahwa akar masalahnya adalah: KEMEWAHAN DAN KESOMBONGAN.

Dan buah yang bisa kita ambil faedahnya dari mengetahui akar masalah berupa kemewahan dan kesombongan adalah:
MUNGKINNYA UNTUK DIQIYASKAN/DIBANDINGKAN,kalau emas dan perak dilapisi (bagian luarnya) dengan Ter (qotron), (atau dengan) kuningan atau (dengan) logam yang lain, maka orang yang melihat dia akan mengira (si pemakai itu memakai perhiasan) Ter atau kuningan (bukan emas). Dan dia tidak akan berkata: orang ini bermewah-mewahan atau sombong. Dan dia tidak menyakiti hati orang-orang fakir dengannya.
Maka jika akar masalah adalah kemewahan dan kesombongan kalau misalnya (emas tersebut dilapisi pada bagian luarnya) dengan logam lain maka DIPERBOLEHKAN penggunaannya karena akar masalah pada kesombongan dan bermegah-megahan (yang tidak didapatkan di sini).

(Akan tetapi) kalau akar masalahnya adalah emas dan perak itu sendiri, walaupun diubah (luarnya) dengan tanah, tanah liat ataupun kuningan, maka tidak boleh memakainya. Karena pada hakekatnya dia tetaplah emas dan perak. Dan yang lebih utama kita berpendapat: jika kebanyakan hukum (sesuatu) adalah (dilihat karena) ada akar masalahnya, dan akar masalah di sini adalah kemewahan dan kesombongan, maka JIKA TIDAK TERDETEKSI (TIDAK TERLIHAT DARI LUAR) ada kemewahan dan tidak terdeteksi ada keseombongan maka hukum (keharaman) nya pun terangkat.

HUKUM BERWUDLU MENGGUNAKAN PERABOT DARI EMAS
Para ulama’ berbeda pendapat tentang hukum sholat (nya seseorang yang) berwudlu dengan perabot dari emas.
1)Para ulama’ madzhab hambali rohimahumullah berpendapat bahwa shalatnya batal, dan
2)jumhur ulama’ rohimahumullah berpendapat: shalatnya tetap sah, dan penggunaan perabot tersebut diharamkan, akan tetapi penggunaan ini tidak berpengaruh pada ibadah (karena dalam kaidah berbunyi):
والنهي لا يقتضي الفساد إلا أن يكون النهي منصباً على ذات الفعل، أو منصباً على وصف ملازم للفعل
Larangan (terhadap sesuatu) itu tidak (secara otomatis) merusak suatu ibadah (yang ada kaitan dengannya) terkecuali jika larangan tersebut berkaitan dengan zatnya perbuatan (ibadah tadi) atau (larangan tersebut) berkaitan dengan sifat yang harus pada suatu perbuatan (ibadah tadi).
Dan larangan (menggunakan perabot dengan emas) di sini kembali pada maksud yang tersendiri, karena berwudlu tidak disyareatkan padanya ketentuan tentang perabot (tempat airnya yang digunakan) maka kita berpendapat: orang yang (berwudlu) menggunakan perabot dari emas dia telah melakukan hal yang diharamkan dan BERDOSA, AKAN TETAPI WUDLUNYA SAH, dan shalatnya (pun) SAH.

Sedangkan kebanyakan dari para ulama madzhab hambali rohimahumullah berpendapat: Wudlunya batal dan sholatnya batal, mereka berkata:
لأنه استعمل إناء الذهب استعمالاً محرماً، ومطلق النهي يقتضي الفساد،
Karena dia telah menggunakan perabot dari emas (ketika berwudlu) dengan melakukan hal yang dilarang, dan kemutlakan larangan itu menunjukkan rusaknya ibadah (yang berkaitan dengannya).

Maka kita jawab:
هذا النهي لا يقتضي الفساد؛ لأن النهي هنا ليس عن ذات الشيء، ولا عن وصف ملازم للشيء.

larangan ini tidak secara otomatis merusak ibadah (yang lain yang berkaitan dengannya), karena larangan di sini bukan pada zat nya (ibadah) dan juga bukan pada sifat harus pada sesuatu (ibadah tadi).

Aku berkata dengan perkataanku ini dan aku minta ampun kepada Allah untukku dan kalian (amin).

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thanks for your attention, Insya Allah Tobe continue part threty two

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.