Syarah Matan Abu Syuja’ (21): Hukum Air yang Berubah disebabkan Lalat yang Hinggap Padanya

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islamweb.net
Part :twenty one

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

HUKUM AIR YANG BERUBAH DISEBABKAN LALAT YANG HINGGAP PADANYA

Jika lalat yang membawa najis hinggap pada air kemudian dicelupkan dan merubah sifat air lalu bagaimana hukum air tersebut? Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda
(إذا وقع الذباب في إناء أحدكم فليغمسه)
jika lalat jatuh pada wadah (berisi makanan atau minuman) kalian maka celupkanlah dia
dan kita telah merojihkan (pendapat) bahwa lalat itu akan mati dan dia tidak najis, dan (demikian pula hewan) yang semisalnya seperti ulat yang berada pada keju atau kurma, ini adalah TIDAK NAJIS bahkan boleh untuk dimakan bersamanya (karena sebab ikut termakan).

Al imam An-Nawawi rohimahullah dan yang lainnya berpendapat dalam masalah ini: bangkai yang darahnya tidak mengalir adalah najis, jika dia berubah karena sebab barang najis maka dia menjadi najis sehingga tidak boleh untuk digunakan, dan kita merojihkan bahwa (bangkai) hewan yang darahnya tidak mengalir adalah suci, sehingga air tersebut berubah karena sebab barang suci sehingga air tersebut adalah suci, dan jatuhnya najis dari lalat ke wadah tersebut ada tiga keadaan:
1)keadaan pertama: lalat hinggap pada najis, dan najis (yang dibawa lalat) adalah najis yang ringan, lalu dia hinggap pada air dan hampir mati tapi (qodarullah dia selamat) dan terbang dan seorang melihatnya dan air telah berubah. Ini adalah keadaan pertama.
2)keadaan kedua: lalat (sebelumnya) tidak hinggap pada najis lalu jatuh pada air dan mati di dalamnya dan merubahnya.
3)keadaan ketiga: (lalat) hinggap pada najis lalu hinggap pada air lalu mati di sana dan tidak merubah airnya.

Hukum keadaan pertama: membuat air menjadi najis karena dia berubah disebabkan barang najis dan ini adalah kesepakatan (para ulama’) karena nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda:
(الماء طهور لا ينجسه شيء إلا ما غير طعمه أو لونه أو رائحته)
Air mutlak itu suci mensucikan dan tidak ada sesuatupun yang bisa membuatnya najis kecuali yang berubah rasa warna dan baunya.

Hukum keadaan kedua: jika air tidak berubah maka pendapat yang menang (rojih) dari madzhab (asy-syafi’i) adalah air tersebut (tetap) tohur, dan boleh digunakan, karena najis (lalat) ini tidak kelihatan jelas karena sedikit, dan sesuatu yang sedikit itu DITOLERIR, lain halnya jika airnya berubah maka masalahnya terbagai menjadi dua qoul:
1)Qoul yang pertama: bahwa (bangkai) hewan yang darahnya tidak mengalir itu hukumnya NAJIS maka ketika merubah air, airnya pun menjadi najis. 2)(qoul yang kedua dan sekaligus) yang rojih adalah bahwa bangkai lalat itu SUCI TIDAK NAJIS karena nabi shallallahu’alaihi wasallam membolehkan untuk mencelupkan lalat pada air dan (membolehkan) untuk meminumnya dengan demikian dia adalah suci dan tidak najis, sehingga air berubah disebabkan barang yang suci (jadi hukumnya) berubah dari TOHUR MENJADI TOHIR maka hukumnya air menjadi suci pada dirinya tetapi tidak boleh digunakan untuk bersuci atau untuk menghilangkan najis, akan tetapi boleh digunakan untuk keperluan yang lain seperti: mandi dalam rangkan menghilangkan rasa panas, atau untuk diminum dan inilah yang ROJIH

3)hukum keadaan ketiga: jika (lalat) mati dan tidak merubah air maka kondisi air tersebut adalah tetap seperti keadaan ketika diciptakan maka hukumnya adalah TOHUR

DALIL-DALIL ULAMA’ SYAFI’IYYAH TENTANG NAJISNYA (BANGKAI) HEWAN YANG TIDAK MENGALIR DARAHNYA DAN BANTAHAN (PENULIS) ATASNYA
Dalam madzhab (imam asy-syafi’I rohimahullah) bahwa binatang yang darahnya tidak mengalir hukumnya NAJIS karena firman Allah ta’ala:
قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [الأنعام:145]
Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu BANGKAI, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Dan juga hadits nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(أحلت لنا ميتتان الجراد والحوت)
Telah dihalalkan bagi kita dua bangkai yaitu bangkai belalang dan bangkai ikan
Dan tidak menyebutkan hewan yang darahnya tidak mengalir.

Dan bantahan (penulis) terhadap dalil (mereka) tentang firman Allah ta’ala:
{قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً} [الأنعام:145]:
Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai,
Bahwa: bangkai ini adalah BANGKAI YANG DARAHNYA MENGALIR.
Dan bantahan (Penulis terhadap dalil syafi’iyyah tentang dalil) hadits:
(أحلت لنا ميتتان الجراد والحوت)
Telah dihalalkan bagi kita dua bangkai yaitu bangkai belalang dan bangkai ikan
Bahwa makna: dihalalkan bagi kami dua bangkai di dalam memakan BANGKAI BINATANG YANG MENGALIR DARAHNYA bukan binatang yang tidak mengalir darahnya.

AIR YANG TERKENA NAJIS BISA BERUBAH MENJADI SUCI KARENA SEBAB MENJADI BANYAK (MUKATSAROH)
Air itu akan berubah menjadi suci karena sebab bertambah banyak, dan masalah ini (tentang) berubah menjadi sucinya air. Dan air itu digolongkan menjadi dua yaitu: 1) air sedikit dan 2) air banyak, dan batas sedikit dan banyak menurut madzhab kita (syafi’iyyah) adalah dua qullah:
Jika najis jatuh pada air yang kurang dari dua qullah maka air tersebut menjadi najis, dan jika kita ingin mengubah air tersebut menjadi suci maka kita bisa mensucikannya dengan MENAMBAHNYA MENJADI BANYAK, dengan jalan kita tambah dengan air sampai mencapai tingginya mencapai satu dziro’ seperempat (60 cm), panjang satu dziro’ seperempat (60 cm), dan lebar satu dziro’ seperempat (60 cm)
Maka ketika (air mutanajis tadi ditambah terus dengan air tohur) sehingga mencapai dua qullah sehingga dia menjadi murni tidak terlihat perubahan maka hukumnya (menjadi) TOHUR, Karena air tersebut TIDAK BERUBAH salah satu dari sifat-sifatnya, dan apabila (setelah ditambah) mencapai dua qullah (akan tetapi ternyata) kita mendapatkan airnya tetap (masih) berubah (salah satu dari sifatnya) maka air tersebut masih dihukumi NAJIS, maka kita tambah terus (dengan air tohur) sampai hilang perubahan sifat tadi, sehingga menjadi TOHUR.
قال الماوردي في الحاوي: والفارق بين الماء والمائع: أن الماء يطهر بالمكاثرة، والمائع لا يطهر بالمكاثرة.

Imam Al-Mawardi rohimahullah dalam kitabnya Al-Hawi berkata: perbedaan antara air dengan cairan (sesuatu) lain adalah: kalau air (yang mutanajis) itu bisa menjadi suci dengan sebab bertambah banyak, sedangkan (cairan sesuatu) TIDAK BISA menjadi suci dengan sebab bertambah banyak.
Adapun syaikhul islam (Ibnu Taimiyyah) dan yang lainnya rohimahumullah mereka tidak membedakan antara air dengan cairan, misalnya najis jatuh pada minyak goreng atau minyak zaitun, maka boleh bagi pemiliknya untuk menambah dengan minyak goreng atau minyak zaitun yang sejenis sehingga hilang bekas perubahannya sehingga menjadi suci.

Dan yang benar adalah: bahwa cairan (sesuatu) itu BERBEDA dengan air, adapun air dia mempunyai kekuatan untuk menolak najis dari dirinya berdasarkan sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam:
: (إذا بلغ الماء قلتين لم يحمل الخبث)
Jika air mencapai dua qullah maka kotoran tidak bisa mempengaruhinya
(maksudnya air) tersebut (mampu) menolak kotoran dari dirinya.
Dan juga (sifat yang lain) bahwa: air itu BISA MENSUCIKAN yang lainnya, dan cairan (sesuatu) tidak bisa seperti itu,

Maka air dia bisa mensucikan yang lainnya dan dia bisa mensucikan dirinya (dari najis) dengan sebab bertambah banyak, dan air yang banyak jika kejatuhan najis yang tidak merubah (sifat) maka hukumnya (tetap) TOHUR boleh untuk menghilangkan hadats dan najis.

(yang kedua) air (mutanajis) bisa menjadi suci dengan cara DIKURANGI, dan dikurangi terus sehingga hilang bekas najisnya misalnya: barang najis jatuh ke sumur dan mempengaruhi airnya, dan di kurangilah air sumur seember demi seember sampai air dalam sumur tersebut tidak terlihat perubahan sifatnya, maka hukum air tersebut menjadi suci apabila air tersebut mencapai dua qullah, dan dia suci mensucikan (tohur) tetapi kalau kurang dari dua qullah maka tidak bisa menjadi suci.

(yang ketiga) air (mutanajis) bisa menjadi suci karena sebab MENGALIR JAUH, karena dia mempunyai kekuatan pada dirinya untuk menolak najis

HUKUM AIR DIAM YANG KEJATUHAN NAJIS
Air yang diam itu ada kalanya kurang dari dua qullah ada kalanya (dua) qullah atau lebih, jika kurang dari dua qullah dan kejatuhan najis maka menjadi NAJIS, sama saja berubah (sifat) ataupun tidak, dia tidak boleh digunakan, akan tetapi jika lebih dari dua qullah dan jatuh padanya najis maka kita perhatikan: jika berubah salah satu dari tiga sifat maka NAJIS, dan jika tidak berubah maka dia TOHUR boleh digunakan.

Jika air diam yang lebih dari dua qullah kejatuhan najis, dan ternyata separuhnya berubah (salah satu sifatnya) dan yang separuhnya tidak berubah maka bagaimana hukumnya?
Masalah ini perlu diperinci:
kita perhatikan bagian yang berubah dan bagian yang tidak berubah,
1)jika bagian yang berubah dan yang tidak berubah itu (masing-masing) dua qullah atau dia sendiri (yang tidak berubah) itu dua qullah, maka kita katakan: jika dia tidak berubah maka dia tetap tohur, karena air jika mencapai dua qullah tidak bida terpengaruh kotoran,
2)akan tetapi jika (bagian yang tidak terpengaruh itu) kurang dari dua qullah maka kita tidak memakai standar perubahan (sifat) pada air yang kurang dari dua qullah, jika jatuh padanya barang najis (maka secara otomatis) airnya menjadi najis semuanya.

HUKUM AIR MENGALIR YANG JATUH PADANYA NAJIS
Air yang mengalir itu terkadang lebih dari dua qullah terkadang kurang dari dua qullah, dan air yang sedikit (kurang dari dua qullah) jika jatuh padanya barang najis, baik berubah maupun tidak maka hukumnya NAJIS, sedangkan air yang banyak jika tidak berubah oleh barang najis maka hukumnya seperti pada asal penciptaannya yaitu tohur, dan HAL INI JUGA BERLAKU PADA AIR YANG MENGALIR, (air mengalir) pada dirinya (yang) mencapai dua qullah (bisa dilihat dari) panjang dan lebarnya (tempat yang dialiri).

If you want to read the last lessons please go to this site
www.hiida.blogspot.com

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin
Insya Allah Tobe continue part twenty two

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.