Syarah Matan Abu Syuja’ (28): Hukum Air Seni dan Tinja

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part :twenty eight

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

(penerjemah: sebelum kita masuk pada pelajaran kali ini maka terlebih dahulu mari kita membaca firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Ahzab ayat 53 yang intinya bahwa Allah itu tidak malu terhadap kebenaran:
وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ
…dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar… (QS. Al-Ahzab:53)

HUKUM AIR SENI DAN TINJA
Penulis menyebutkan masalah lain yaitu menyentuh (bagian mayit dari) anak adam, dia berkata: jika kita berpendapat bahwa rambut manusia, kulitnya tulangnya dan ototnya (semua hukumnya) suci, maka hukum tidak bergeser kepada sesuatu yang lain, adapun (hukum) air seni, tinjanya dan darahnya adalah najis, adapun mani (manusia) menurut para ulama’ madzhab hanafi adalah najis, sedangkan menurut para ulama’ syafi’iyyah adalah suci, (sedangkan) dalil bahwa air seni manusia adalah najis adalah
1)(dalil yang pertama)Hadits Al-A’robi yang buang air seni di sudut masjid, maka para sahabat rodliallahu’anhum berdiri ingin menghardiknya dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(لا تزرموه، لا تقطعوا عليه بوله، أهريقوا على بوله دلواً من ماء)
Jangan kalian menghardiknya, jangan kalian hentikan buang air seninya, guyurlah air seninya dengan seember air
Sisi pendalilannya adalah: ketika beliau shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan untuk mengguyurkan air ini adalah tanda akan najisnya air seni.

2)(Dalil yang kedua) adalah bahwa Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam: memercikkan air pada (pakaian beliau) yang terkena ompol ghulam (bayi laki-laki yang kurang dari dua tahun dan belum makan makanan selain asi).
Dan memercikkan ini adalah tanda akan najisnya, akan tetapi ini adalah najis yang ringan (mukhofafah), sedangkan air seni jariyah (bayi perempuan) maka beliau memerintahkan untuk mencucinya, karena termasuk najis mugholadzoh (berat)

3)Di sini ada dalil yang ketiga, yaitu hadits bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam melewati dua makam dan bersabda:
إنهما ليعذبان وما يعذبان في كبير أما أحدهما فكان لا يستنزه من بوله)
Sesungguhnya keduanya benar-benar diadzab (dengan siksa kubur), dan mereka berdua tidaklah disiksa karena sebab dosa besar (yang mereka lakukan akan tetapi sebab dosa kecil) adapun salah satunya (disiksa karena sebab) dia tidak beristinja’ setelah buang air seni.

4)(dalil yang ke empat)Dan di sana juga ada riwayat yang lain dalam kitab Sunan Abu Daud rohimahullah dengan sanad yang sohih (Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda):
(لم يستتر من بوله)
(dia di siksa di dalam kubur karena sebab) dia tidak menutup (auratnya) ketika dia buang air seni
Maka siksa kubur adakalanya disebabkan karena tidak menutup aurat (saat buang air), sedangkan Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepada seseorang:
(استر عورتك قال: أرأيت أحدنا يكون وحده، قال: الله أحق أن تستحي منه)
Tutuplah auratmu!, seseorang tadi menjawab: bagaimana kalau salah seorang dari kita ini sendirian (tidak ada yang melihat, apakah tetap wajib menutup aurat juga)?, beliau bersabda: Allah lebih berhak untuk engkau malu kepada-Nya

Dan tidak ada yang menghalangi hal tersebut (dari kedua dalil tersebut) untuk menjadi penyebab disiksa di kubur (yaitu dia disiksa karena) dia tidak beristinja’/tidak cebok atau tidak menutup aurat ketika buang air seni. Dan tidak ada yang menghalangi adanya siksa tadi karena disebabkan dua hal yang berurutan (dua illat).

Dan dalil akan hal tersebut adalah al-qiyasul jali atau al-qiyasul aula*: maka jika telah ditetapkan dalam hadits akan najisnya air seni, maka akan najisnya tinja adalah lebih ditekankan, karena dia lebih berat najisnya.
(*penerjemah:qiyas jali adalah: qiyas yang permasalahannya/illatnya adalah dari nash dan ijma’ atau ditetapkan penegatifan dari pembeda antara yang asal dan cabang, qiyas aula adalah:qiyas yang lebih utama terhadap permasalahan yang memang harus diutamakan/dikedepankan)

4)Dalil yang kedua (maksudnya yang ke empat tentang najisnya air seni dan tinja adalah) hadits bahwa:
(نهى أن يستنجي أحدنا بأقل من ثلاثة أحجار إلا بثلاث).
Nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang kita untuk bersuci (dengan batu/istijmar) kurang dari tiga buah batu
(bersuci itu tidak sah) kecuali (minimal) dengan tiga buah batu.

Dan yang lebih jelas dari hal tersebut adalah hadits Ibnu Mas’ud rodlilallahu’anhu bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam memerintahnya untuk mendatangkan tiga buah batu, maka dia membawa dua buah batu dan satu butiran kotoran hewan (yang tidak halal dagingnya seperti himar rumahan), maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam menggunakan dua batu (tersebut) dan melemparkan kotoran hewan tadi dan bersabda:
هي رجس
ini adalah najis
Dan kesimpulannya: bahwa air seni orang dan tinjanya hukumnya adalah najis.

Tersisa ( masalah yang belum dijelaskan) bagi kita adalah tentang hukum darah, mani, pembahasan akan kita ulangi tentang masalah darah dan mani karena pada hukum keduanya terdapat syubhat yang sangat kuat (sehingga terjadi perbedaan pendapat).

Dan saya akan memisah keduanya pada bab tersendiri sehingga persoalan bisa dijelaskan dengan tuntas sebagaimana yang telah kita lakukan dalam membahas setiap masalah, oleh karena itu kita akan menyebutkan pendapat yang selaras dan pendapat yang menyimpang/keliru, dan (kita juga akan menyebutkan) bantahan atas orang yang keliru dan penjelasan masalahnya
Tak terkecuali bahwa para penentang (ulama’ yang berpendapat najisnya darah dan mani) sesungguhnya mereka tidak mempunyai dalil yang menggambarkan dan menjelaskan (akan kebenaran) pendapat mereka dan akan tampak (nanti di sini bahwa pendapat mereka tidak berdasarkan dalil yang kuat) kecuali (dalil) ijma’, dan kita akan jelaskan bahwa (dalam masalah ini) tidak (boleh ada dalil) ijma’ (karena ada dalil yang lebih sorih dari hadits).

HUKUM WADI DAN MADZI
Madzi dan Wadi: adapun madzi hukumnya najis menurut kesepakatan para ulama’, dalilnya adalah hadits ‘Ali bin abi tholib rodliallahu’anhu waardlohu berkata:
(كنت رجلاً مذاء فاستحييت أن أسأل النبي صلى الله عليه وسلم عن المذي)
Saya ini laki-laki yang sering mengeluarkan madzi, sedangkan saya malu untuk bertanya kepada nabi shallallahu’alaihi wasallam tentang hukum madzi
Dan dalam riwayat yang lain (beliau berkata):
(كنت رجلاً مذاء فجعلت أغتسل حتى تشقق ظهري)
Saya ini laki-laki yang sering mengeluarkan madzi yang aku lakukan adalah mandi sehingga (air mengalir pada) punggungku
maksudnya: beliau bersungguh-sungguh mandi sehingga (air sampai) membasahi punggungnya, dan dalam riwayat ini bahwa Ali bin abi tolib dialah yang bertanya kepada nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan dalam riwayat yang (sebelumnya) dia merasa malu (untuk bertanya)Dan memerintahkan Almiqdad untuk bertanya, dan dia datang membawa jawaban. Dan di sini ada riwayat yang ketiga bahwa selain dari keduanya telah bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan bila dikumpulkan dua pertanyaan (yang pertama) pertanyaan Ali rodliallahu’anhu dengan memerintah Almiqdad, dan (setelah itu) dia ingin lebih yakin dengan bertanya sendiri, dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam menjawabnya.
Dan kesimpulannya bahwa Rosul shallallahu’alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya:
(اغسل ذكرك أو مذاكيرك)
Basuhlan kemaluanmu atau sekitar kemaluanmu (yang terkena madzi)

Dan akan kita perinci masalahnya: apakah membasuh sekitar kemaluan (yang terkena madzi itu) wajib (dibasuh) atau tidak?
Akan tetapi saat ini kita sedang membahas tentang dalil akan najisnya (madzi) yaitu dengan sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam:
Basuhlan kemaluanmu atau sekitar kemaluanmu (yang terkena madzi)
Dan bersabda:
(منه الوضوء)
(apabila kamu mengeluarkan madzi) maka kamu wajib berwudlu (karenanya)
Maka (perintah nabi untuk membasuh kemaluan yang terkena madzi dan berwudlu) ini menunjukkan bahwa (mengeluarkan madzi) adalah termasuk perkara yang memabtalkan wudlu dan dia termasuk cairan yang najis.

-Sedangkan madzi adalah cairan putih/bening halus/lembut (dan lekat, keluar tidak memuncrat dan badannya tidak lemas setelah mengeluarkannya) yang keluar dari kemaluan laki-laki yang kuat syahwatnya atau ketika berguarau dan bercanda bersama istrinya,
-sedangkan wadi adalah cairan kental dan keruh tidak putih/tidak bening, yang keluar setelah buang air seni atau setelah kelelahan bekerja, dan dia juga najis,
1)karena tempat keluarnya adalah tempat yang sama dengan keluarnya air seni, dan ini dalil dari annadzor

2)Adapun dalil dari atsar: sungguh telah ada hadits dengan sanad yang sohih dari ibnu umar dan ibnu ‘abbas rodliallahu’anhum bahwa mereka berdua berkata:
الودي نجس.
wadi adalah najis.

HUKUM CAIRAN YANG KELUAR DARI KEMALUAN PEREMPUAN
Adapun masalah cairan yang keluar dari kemaluan perempuan, telah diketahui bahwa seorang perempuan ketika terjadi hubungan suami istri, dia akan mengeluarkan cairan, dan pada sebagian mereka keluar dalam jumlah yang banyak, dan cairan yang keluar tersebut tidak setiap perempuan (mau) membicarakannya.

Para ulama’ telah berbeda pendapat dalam masalah ini (setidaknya) terbagai menjadi dua:
Pendapat yang pertama:
pendapat jumhur ahlul ilmi mereka berpendapat NAJISNYA cairan yang keluar dari kemaluan perempuan, dan mereka berdalil dengan:
1)Bahwa tempat keluar yang sama dengan tempat keluar barang najis, dan ini dalil dari annadzor.
2)Adapun dalil dari atsar tentang najisnya cairan yang keluar dari kemaluan perempuan, bahwa para sahabat rodliallahu’anhum ketika AWAL KEISLAMAN mereka, mereka ketika berhubungan dengan istrinya mereka melakukan AKSAL (azl) yaitu tidak sampai turun/keluar mani/ereksi
Dengan demikian dia tidak wajib mandi, dan dia hanya berkewajiban berwudlu saja karena sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(إنما الماء من الماء)
Sesungguhnya air itu adalah dari air
Maksudnya:
Sesungguhnya (mandi besar dengan) air itu (adalah disebabkan karena keluarnya) dari air (mani ketika berhubungan). Akan tetapi Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(فاغسل ما أصابك منها)
Cucilah apa yang mengenaimu darinya karena jarang terjadi laki-laki menggauli istrinya dan tidak mengeluarkan cairan: dan ini adalah dalil yang kuat dan nyata akan najisnya cairan yang keluar dari kemaluan perempuan.

Pendapat yang kedua:
Sucinya cairan yang keluar dari kemaluan perempuan (saat berhubungan): yaitu cairan yang keluar dari kemaluan perempuan, dan dalilnya adalah: hadits yang Ibnu Abdil bar berdalil dengannya, sebagaimana dinukil oleh Alhafidz (ibnu Hajar) dalam (kitabnya) Alfath (hul bari) yaitu hadits ‘Aisyar rodliallahu’anha bahwa beliau berkata:
(يصيب المني ثوب النبي صلى الله عليه وسلم فإن كان يابساً أفركه وإن كان رطباً أنضحه)،
Cairan mani mengenai pakaian Nabi shallallahu’alaihi wasallam, maka ketika sudah kering beliau mengeriknya, dan ketika basah beliau mencipratinya (dengan air dan tidak membasuhnya)

Ini adalah dalil bahwa cairan yang keluar dari kemaluan perempuan (ketika berhubungan) hukumnya adalah SUCI TIDAK NAJIS, dan sisi pendalilan dengan hadits ini dari dua hal:
yang pertama: bahwa sulit bagi seseorang yang menggauli istrinya (tidak terkena cairan tersebut) dan pakaiannya (hampir dapat dipastikan) terkena mani ( tak ter) kecuali pakaiannya juga terkena cairan yang keluar dari kemaluan istrinya, dan ini disepakati dari suami istri, dan pakaian Rosul shallallahu’alaihi wasallam telah terkena mani dan terkenaa cairan yang keluar dari kemaluan perempuan, maka ketika mani terebut (Cuma) dikerik, dan dikerik pula apa yang menimpa pakaian tadi dari cairan (tersebut), sedangkan kerikan bukanlah sesuatu yang menjadikan sebab suci, (karena bersuci) itu harus dengan air, dan ini adalah dalil akan sucinya air mani dan cairan yang keluar dari kemaluan perempuan.

Dan ini adalah dalil yang sangat jelas sekali, tak terkecuali bahwa asal dari masalah ini adalah suci selama tidak adanya dalil yang menyatakannya najis, dan kita katakan: sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam
(اغسل ما أصابك منها)
Basuhlah apa yang mengenaimu darinya
Maknanya: Basuhlah apa yang mengenaimu darinya membasuh (yang hukumnya) sunnah bukan wajib. Karena A’isyah rodliallahu’anha mengeriknya dan tidak mencucinya, dan asal nya adalah suci dan tidak ada dalil pemutus (yang menetapkan akan najisnya) bahkan (tidak ada pula) walaupun dalil dzonni (sebatas prasangka) atas najisnya cairan yang keluar dari kemaluan perempuan.
Jadi yang sohih dan rojih: bahwa cairan yang keluar dari kemaluan perempuan hukumnya adalah SUCI TIDAK NAJIS, akan tetapi disana ada perkara yang sangat penting bagi perempuan yaitu: jika kita bertanya: sesungguhnya dia adalah suci, lalu apakah dia wajib berwudlu apa tidak (apabila mengeluarkannya)? Yang benar adalah dia HARUS BERWUDLU dengannya. Karena tidak disaratkan pembatal wudlu itu adalah (keluar sesuatu) yang najis (saja) jika tidak maka angin (kentut) adalah suci. Oleh karena itu: dengan keluarnya angin tersebut dia harus berwudlu Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(لا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ،
Allah Ta’ala tidak menerima shalat salah seorang kalian jika berhadats sehingga dia berwudlu (terlebih dahulu),
para sahabat bertanya kepada Abu Huroiroh, wahai abu Huroiroh apakah hadats tersebut? Dia menjawab: buang angin yang tidak bersuara (fusa’) dan buang anging yang bersuara (durot)

Jadi kesimpulannya: cairan yang keluar dari kemaluan perempuan (ketika berhubungan itu) membatalkan wudlunya akan tetapi dia tidak najis, dan buah dari kesimpulan ini adalah: bahwa dia tidak dibebankan untuk mencuci tempatnya jika dia merasakan ada yang keluar dari kemaluannya, akan tetapi dia cukup untuk berwudlu saja.
Aku berkata dengan perkataanku ini dan aku minta ampun kepada Allah ta’ala untuk ku dan kalian.

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin
Insya Allah Tobe continue part twenty nine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.