Syarah Matan Abu Syuja’ (27): Bantahan terhadap Malikiyah dan Hambaliyah

Bismillahirrohmanirrohim
Ringkasan pelajaran selasa yang lalu:
PENDAPAT TENTANG RAMBUT/BULU, TULANG DAN OTOT BANGKAI:
1)Hanafiyyah: rambut/bulu, tulang dan otot bangkai semuanya adalah suci
2)sayfi’iyyah: rambut/bulu, tulang dan otot bangkai adalah najis kecuali mayit manusia,
3)hambali dan malikiyyah tulang dan otot bangkai adalah najis akan tetapi rambut/bulunya adalah suci
Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part :twenty seven

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

BANTAHAN KEPADA PARA ULAMA’ MADZHAB HAMBALI DAN MALIKI
Adapun bantahan kepada para ulama’ hambali dan maliki rohimahumullah terhadap dalil yang mereka kemukakan, mereka berdalil dengan atsar yaitu firman Allah ta’ala:
{وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ} [النحل:80]
…(dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).
Dan mereka mengatakan: dalil ini adalah umum dalam pemanfaatan rambut bangkai, maka kita bantah: dalil ini adalah mengenai BARANG SUCI BUKAN BARANG NAJIS, dan mereka menyanggah syafi’iyyah dengan mengatakan: kalian (syafi’iyyah) berdalil dengan firman Allah Ta’ala:
{إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ} [البقرة:173]،
Sesungguhnya (Allah) mengharamkan atas kalian bangkai
Dan sisi pendalilan di sini adalah umum, sedangkan kita berdalil dengan firman Allah Ta’ala:
وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا
…(dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing,
Sedangkan AYAT TERSEBUT ADALAH KHUSUS menjelaskan tentang rambut, maka jika terjadi pertentangan antara yang umum dengan yang khusus, maka harus DIDAHULUKAN YANG KHUSUS daripada yang umum.

Ulama’ syafi’iyyah menjawab: ayat tersebut BUKANLAH UMUM SECARA MUTLAK, akan tetapi umum dalam satu sisi dan khusus pada sisi yang lain dan demikian pula ayat (yang kalian sebutkan) itu juga umum dalam satu sisi dan khusus pada sisi yang lain. dan
1)Mengapa kami harus membawa dalil (ayat) khusus yang kalian kemukakan dengan keumuman ayat yang kami kemukakan?.
2)Dan mengapa pula kami harus membawa khususnya (ayat yang kami kemukakan) dengan keumuman (ayat yang kalian) kemukakan?

Dan mereka berdalil dengan keumuman firman Allah Ta’ala:
{وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا } [النحل:80]
…(dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai)….
Kita katakan: ayat ini adalah umum, dan dia dikhususkan dengan dalil yang lain
Termasuk dari (dalil yang mengkhususkannya) adalah hadits Jabir rodliallahu’anhu:
(حرم النبي صلى الله عليه وسلم بيع الأصنام والخمر والميتة)
Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengharamkan penjualan berhala, khomer dan bangkai
Dengan kesepakatan para ulama’ bahwa dalil tersebut mengkhusukan (ayat di atas) secara terpisah, bunyi ayatnya adalah:
{وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا } [النحل:80]
…(dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, …
Dan termasuk dari kemungkinan yang dimaksud (Allah dalam ayat) adalah:
1)dalam rangka permulaan (ibtida’) atau
2) dalam rangka (yang dimaksud) sebagian (tab’id), dan kita merojihkan yang ini: bahwa ayat tersebut adalah untuk (maksud sebagian) tab’id dengan tanda/qorinah almuhtafah dengan dalil yang terpisah yang telah kami kemukakan tadi.
Jadi (maksud ayat) adalah: …(dijadikan-Nya pula) dari bulu domba (dalam keadaan domba tersebut masih hidup bukan setelah menjadi bangkai, dan kita menolak kalau dia sudah menjadi bangkai, maka kami MENGKHUSUSKAN KEUMUMAN ayat dengan hidupnya (hewan tersebut) Sedangkan kalian menginginkan keumuman ayat dengan HIDUPNYA (hewan tersebut) dan ketika TELAH MENJADI BANGKAI.

Jadi ayat (yang kalian kemukakan) itu dikhususkan (dengan dalil) khusus: dalil pengkhusus secara bersambung (mukhossis muttasil) dan dalil pengkhusus secara terpissah (mukhossis munfasil).
1)Adapun dalil yang mengkhususkan secara terpisah adalah hadits: “Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengharamkan penjualan bangkai” dan letak masalahnya (illatnya) adalah Najisnya dengan kesepakatan para ulama’, dan juga firman Allah Ta’ala “diharamkan atas kalian bangkai” (QS. Al-maidah:3) ini juga dalil pengkhusus secara terpisah
2)Adapun dalil pengkhusus yang bersambung adalah firman Allah ta’alah:
((وَمِنْ أصوافها))،
…(dijadikan-Nya pula) dari bulu domba
Kata: من di sini menunjukkan SEBAGIAN (tab’id) dan kita mengartikan ayat tersebut dengan arti: dari bulu domba yang dalam keadaan HIDUP BUKAN (yang) TELAH MENJADI BANGKAI.
Jadi ayat (yang kalian kemukakan) bukan lah (ayat yang tepat) dalam perdebatan (kali ini).

Dan dalil dari atsar yang kedua yang mereka gunakan untuk berdalil adalah: hadits ummu salamah rodliallahu’anha waardloha berkata: Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(لا بأس أن تنتفعوا بإهاب الميتة إذا دبغ وبالشعر إذا غسل)
Tidak mengapa kalian memanfaatkan kulit bangkai tersebut dengan syarat disamak (terlebih dahulu) dan (tidak mengapa memanfaatkan) rambutnya (dengan syarat) dicuci (terlebih dahulu)

Bantahan atas kalian dalam hadits ini dari dua sisi:
1)yang pertama:hadits ini adalah doif padanya ada dua riwayat yang majhul (tidak dikenal perawinya), sedangkan kaidah berbunyi:
الأحكام فرع على التصحيح
Hukum-hukum itu cabang dari hadits-hadits sohih,
sedangkan hadits tersebut adalah doif (yang tidak boleh digunakan untuk berdalil).

2)Sisi yang kedua: anggap saja hadits tersebut adalah sohih, jawabannya pun dari dua sisi: yang pertama: sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(انتفعوا بالجلد بعد الدبغ وبالشعر بعد الغسل)
Manfaatkanlah kulit bangkai setelah disamak dan rambut bangkai setelah dicuci
Menunjukkan pada (makna bahwa rambut adalah najis dan bisa disucikan dengan dicuci, maka dengan begitu dalil tersebut adalah mendukung pendapat kami bukan menentang pendapat kami, akan tetapi memungkinkan untuk disucikan dengan dicuci

Dan ini adalah asal/dasar, kecuali ada dalil yang menyelisihinya, bukankah rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “cucilah perabot yang dijilat anjing” ? dan bersabda “guyurlah bekas kencing arab badui itu”?. maka ketika beliau memerintahkan untuk mencuci hal ini menunjukkan hal tersebut adalah NAJIS.

Sisi kedua dalam membantah mereka adalah: kita katakan: jika engkau berdalil dengan hadits: “manfaatkanlah rambutnya dengan dicuci” maka kalian secara otomatis membatalkan pendalilan kalian (sendiri dengan hadits tersebut) terhadap keumuman ayat:
((وَأَشْعَارِهَا))
…(dijadikan-Nya pula) dari …bulu kambing, ..

Pada ayat ini bersifat UMUM baik yang dicuci maupun yang tidak dicuci, dengan keumuman ayat mungkin untuk dimanfaatkan rambutnya bangkai tanpa dicuci, maka (silahkan kalian pilih) antara: berdalil dengan ayat (bahwa rambut bangkai adalah suci (QS.Annahl:80)) atau berdalil dengan hadits (bahwa rambut bangkai adalah najis/ Manfaatkanlah…rambut bangkai setelah dicuci)?

dan mungkin bagi mereka (masih bisa berkelit) untuk membantah kami dengan bantahan kedua: mereka mengatakan:

Kami berdalil dengan (keduanya dari) ayat dan hadits, kita ambil dhohirnya ayat yaitu (ayat ini) memalingkan makna perintah dalam hadits (agar mencuci sebelum dimanfaatkan) dari (hukum nya) wajib menjadi sunnah (maksudnya:dalam pemanfaatan rambut bangkai kalau dicuci itu sunnah/utama dan kalau tidak dicuci juga tidak apa-apa tidak wajib).

Jika perintah tersebut diartikan sebagai sunnah (tidak wajib) maka masalahnya kembali kepada bahwa rambut tersebut hukumnya adalah suci, akan tetapi kita katakan kepada mereka: hadits tersebut adalah DHOIF dan kalian tidak boleh bedalil dengannya
Dan masalah yang kedua, pencucian itu menunjukkan sesuatu yang dicuci itu hukumnya adalah najis.

3)Adapun bantahan terhadap hadits ketiga yang mereka berdalil dengannya bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(إنما حرم أكلها)
Sesungguhnya yang diharamkan (dari bangkai itu) adalah memakannya
Maka kita jawab: bantahan kepada kalian dalam hadits ini dari beberapa sisi:

1)yang pertama:pendalilan kalian pada mafhum mukholafah dalam kehalalan pemanfaatan pada tulang dan otot kecuali pemanfaatan dalam memakannya, maka kita jawab: mafhum (makna tersirat) (di sini) adalah bertentangan degan mantuq (makna tersurat) yaitu Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam mengharamkan jual beli barang najis Allah Ta’ala berfirman:
{إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ} [البقرة:173].
Sesungguhnya (Allah) mengharamkan bagi kalian bangkai , darah dan daging babi
maka jika dalil mafhum bertentangan dengan dalil yang mantuq, maka DIDAHULUKAN YANG MANTUQ daripada yang mafhum (hal ini) adalah kesepakatan para ulama’ ahli ushul fikih.

2)Sisi yang kedua dalam membantahnya: bahwa sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(إنما حرم أكلها)
Sesungguhnya yang diharamkan (dari bangkai itu) adalah memakannya
Adalah assyiyaq, sedangkan assiyaq (dalam dalil) adalah menjadi penjelas dan pembatas, para ulama’ kita berkata:
السياق محكم
Assiyaq bisa dijadikan hukum ,
maksudnya assiyaq itulah yang menjelaskan kepada kita maksud Nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits (tersebut).
Nabi shallallahu’alaihi wasallam melewati sebuah bangkai (kambing) dan bersabda: manfaatkanlah (kulit)nya, mereka menjawab: ini (sudah menjadi) bangkai, dan bersabda kepada mereka: sesungguhnya yang diharamkan (dari bangkai) adalah memakannya, kemudian setelah itu menjelaskan:
Kenapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya?, maksudnya setelah disamak?
Dan besabda: penyamakannya (ketiak sudah jadi bangkai) mempunyai kedudukan seperti penyembelihannya (ketika masih hidup).

Jadi dalil ini dari nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam maksud (assiyaq) padanya bahwa beliau berbicara SUCINYA KULIT DENGAN DISAMAK. Dan assiyaq disini adalah hukum, dan assiyaq hadits ibnu abbas rodliallahu’anhuma, dalam (menjelaskan proses menyamak) tidak membicarakan tulang, rambut ataupun otot, oleh karena itu memakan barang haram adalah umum pada kulit, dan yang selainnya seakan-akan beliau bersabda: kulit itu tidak dimakan, Akan tetapi mungkin untuk dimanfaatkan setelah disucikan dengan disamak.
Jadi hadits tersebut pada siyaqnya membicarakan tentang penyamakan kulit bukan membicarakan isyarat dan tanda (tentang hukum) rambut dan otot bangkai,
Jadi kesimpulannya: kita katakan: hadits ini bukanlah Nas dalam masalah yang diperdebatkan (kali ini) dan kalian tidak ada alasan untuk berdalil dengannya (dalam masalah ini).

Dan termasuk dalil yang mereka gunakan adalah mereka berkata: rambut adalah bagian dari bangkai, dan kalian setuju bahwa bangkai adalah najis, sedangkan bagian (dari sesuatu) itu hukumnya mengikuti seluruh (bagian sesuatu tersebut), mereka berkata: ya kita setuju dengan kalian tentang (dasar kaidah) bahwa rambut adalah bagian dari keseluruhan bangkai, dan bagian (dari sesuatu) hukumnya diambil secara umum, akan tetapi kita batasi dengan kaidah:
إلا ما دل الدليل النظري على التفريق
Kecuali jika terdapat dalil nadzori yang menunjukkan pembedaan (juz/sebagian dengan kull/keseluruhan)

Ketahuilah dia adalah rambut yang tidak ada kehidupan padanya (padanya tidak disentuh kehidupan), karena ketika dipotong tidak terasa sakit, kita bantah: sesungguhnya kehidupan itu diketahui dengan dua hal
Yang pertama: indra perasa, dan kedua:tidak bergerak, dan rambut tidak bisa bergerak, dan gerak adalah tanda kehidupan.

Maka ketika mereka mendengar hal ini mereka diam, kita katakan: ini adalah bantahan kepada kalian, jadi rambut yang menjadi penghalalnya adalah hidupnya (dengan disembelih syar’i), dan keterangannya adalah tidak bergerak, maka jika kehidupan menjadi sebab halalnya maka kematian akan menjadikannya najis, karena kehidupan lazimnya adalah suci dan kematian lazimnya adalah najis
Dan inilah bantahan kepada para ulama’ hambali dan maliki

Ibnu Rusd rohimahullah berkata dalam kitabnya: bidayatul mujatid: adapun bangkai dia tidak diharamkan kecuali karena sebab darah, dan perkataan ini tertolak, kalau darah ini adalah diam, dan bangkai dibersihkan (darahnya) apakah mungkin untuk dimakan? Sedangkan tulang (nya bangkai) jika dibersihkan dari darahnya apakah mungkin untuk digunakan apa tidak? Dan (perkataan ibnu rusd) ini keliru tidak benar! Karena semua dalil-dalil yang telah kami sebutkan.***

BANTAHAN KEPADA PARA ULAMA’ HANAFI ROHIMAHUMULLAH
Adapun para ulama’ madzhab hanafi rohimahumullah mereka berdalil dengan atsar dan nadzor:
1)adapun dari atsar sesungguhnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam menggunakan(sisir) dari tanduk maka ketika beliau menggunakannya hal ini menunjukkan kesuciannya,kita bantah: bantahan kepada kalian dari dua sisi: yang pertama:hadits tersebut seluruhnya adalah doif
(امتشط النبي صلى الله عليه وسلم بمشط من عاج)،
Nabi shallallahu’alaihi wasallam merapikan rambutnya dengan sisir dari tanduk

Hadits (diatas) adalah doif karena sanadnya gelap/tidak dikenal
(أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر ثوبان أن يأتي لـ فاطمة بسوارين من عاج)
Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasalla memerintahkan Tsauban untuk mendatangkan kepada Fatimah rodliallahu’anha perhiasan dari tanduk
Hadits kedua (ini) juga doif, sedangkan berdalil itu adalah dengan hadits sohih bukan hadits doif.

Adapun bantahan terhadap dalil nadzori: bahwa tulang itu kehalalannya bukan karena sebab hidupnya,
maka pendapat kami,kami katakan: (bahkan) kejadian yang ada adalah mendustakan (pendapat kalian) maka tulang itu kehalalannya adalah karena sebab hidupnya, tulang itu mempunyai indra perasa dan bisa bergerak, bisa tumbuh dari kecil menjadi besar, dan tumbuh besarnya (seseorang) bersama tulangnya.

Jadi: tulang kehalalannya adalah karena sebab hidupnya itu dari dua sisi:
Yang pertama bahwa tulang itu bergerak, kedua manusia bisa merasakan dan berbekas padanya, dan ini adalah keterangan yang sangat jelas bahwa tulang itu berkaitan dengan kehidupan, dan ini adalah bantahan kepada para ulama’ hanafi, dan kita katakan: bahwa pendapat syafi’iyyah dalam masalah tulang rambut dan otot (bangkai hewan) semua itu adalah NAJIS, dan pendapat inilah yang rojih dan sohih karena dalil-dalil di atas.

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin
Insya Allah Tobe continue part twenty eight

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.