Syarah Matan Abu Syuja’ (24): Bantahan Larangan Menjual Kulit Bangkai yang Disamak

Ringkasan pelajaran selasa yang lalu:
Qoul qodim: kulit bangkai yang telah disamak tidak boleh dijual
Qoul Jadid:kulit bangkai yang telah disamak boleh dijual
Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islamweb.net
Part :twenty four

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

BANTAHAN TERHADAP QOUL QODIM (YANG MELARANG MENJUAL KULIT BANGKAI YANG TELAH DISAMAK)

Dan bantahan atas dalil-dalil dari qoul qodim adalah sebagai berikut:
1)dalil yang pertama: firman Allah ta’ala:
{حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ} [المائدة:3]
Diharamkan bagi kalian bangkai dan darah…
Kita katakan:ayat ini adalah UMUM tentang pengharaman bangkai dalam segala sesuatu, (adapun) ketika Nabi shallallahu’alaihi wasallam membolehkan kulitnya setelah disamak maka ini sungguh telah mengkhususkan (ayat) tersebut. Dan kaidah dikalangan para ulama’ berbunyi:
لا يتعارض عام مع خاص، بل يقدم الخاص على العام وأن الخاص قطعي في الدلالة والدليل العام ظني الدلالة،
Tidak ada pertentangan antara yang umum dengan yang khusus, akan tetapi dahulukan yang khusus atas yang umum, dan dalil khusus adalah dalil penentu (qot’i) dalam pendalilan, sedangkan dalil umum itu masih bersifat prasangka dalam pendalilan (kerna mungkinnya dikhususkan).

Dan juga kaidah:
إعمال الدليلين أولى من إهمال أحدهما.
Mengamalkan dua dalil bersamaan itu lebih utama daripada menelantarkan (salah satu) nya

Jadi ayat tadi adalah umum, dan dalil kami (hadits menyamak) adalah khusus, dan tidak bertentangan antara yang umum dengan yang khusus, akan tetapi DAHULUKAN YANG KHUSUS daripada yang umum.

2)Persoalan kedua: ketika mereka berkata kepada kami: sesungguhnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengharamkan penjualan khomer, berhala, dan BANGKAI, kita jawab: (terhadap tiga hal tersebut) kita sepakat denganmu dalam keumuman dalil, yaitu diharomkan jual beli bangkai( seluruhnya) akan tetapi letak masalah (illat) nya adalah karena NAJIS, jadi semua bangkai adalah najis, sedangkan kulit jika telah menjadi suci sebab disamak maka AKAR MASALAHNYA TELAH TERANGKAT.

Dan hadits ini umum untuk semua (bagian) bangkai (adalah najis): pada kulit, otot-otot, rambut, tulang, kemudian DIKHUSUSKAN untuk kulit yang disamak dia berubah dari najis MENJADI SUCI dengan disamak sehingga DIPERBOLEHKAN PENJUALANNYA.

JADI, yang SOHIH DAN ROJIH dalam hal ini adalah BOLEHNYA memanfaatkan secara mutlak, (sebagaimana) dasar madzhab mengatakan
: الحياة لازمة للطهارة، والموت لازم للنجاسة، والدباغ لجلد الميتة التي هي نجسة يجعلها طاهرة،
(binatang) yang hidup kelazimannya adalah suci, dan (binatang) yang mati (tanpa disembelih secara syar’I atau bangkai) kelazimannya adalah najis, dan menyamak kulit bangkai yang tadinya najis, (proses menyamak ini) menjadikannya menjadi suci.

Maka (hukumnya) menurut madzhab (Asy-Syaafi’I rohimahullah) berubah menjadi BOLEH dimanfaatkan SECARA MUTLAK, boleh digunakan untuk sajadah dalam shalat, tikar alas tidur dan barang dagangan, sama saja (kulit tersebut dari bangkai) hewan yang boleh dimakan dagingnya ataupun yang tidak boleh dimakan terkecuali (binatang) yang diperkecualikan (yaitu anjing dan babi).

HUKUM MEMANFAATKAN (KULIT BANGKAI) MENURUT PARA ULAMA’ MADZHAB HAMBALI ROHIMAHUMULLAH DAN DALIL-DALIL MEREKA

Para ulama’ madzhab Hambali rohimahumullah berkata: tidak boleh memanfaatkan segala bagian tubuh dari bangkai, baik kulit, otot, tulang, rambut, walaupun kulit tersebut telah disamak, adapun dalil akan hal ini adalah firman Allah Ta’ala:
{حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ} [المائدة:3]
Diharamkan bagi kalian bangkai, darah, dan daging babi

Dan firman Allah Ta’ala: diharamkan bagi kalian bangkai (الميتة) pada kata tersebut alif dan lamnya adalah berfaidah menenggelamkan (istighroqiyaah) maka masuk kedalamnya:
1)semua (jenis bangkai dan semua bagian-bagian) bangkai (mulai dari) kulit, otot, tulang, daging, lemak dan segala sesuatu yang ada padanya,
2)dan pengharaman di sini umum untuk segala sesuatu yaitu: haram memanfaatkan, mejual-belikan, atau memakannya dan yang lainnya,
dan ini adalah pengharaman segala sesuatu (dari bangkai tersebut) karena dalil ini adalah UMUM

(kemudian) mereka mengatakan: dan dalil khususnya adalah: hadis assunan dari nabi shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
(لا تنتفعوا من الميتة بإهاب ولا عصب)
Jangan kalian memanfaatkan bagian dari bangkai (baik itu) kulitnya( ataupun)ototnya,

Mereka mengatakan: (hadits) ini adalah (hakim) pemutus perselisihan (fasilunniza’), dan juga dalil ini di dalamnya menunjukkan adanya LARANGAN, dan semua dalil-dalil yang ada pada kalian (semua) menunjukkan adanya KEBOLEHAN, dan (dalam kaidah disebutkan bahwa) LARANGAN ITU DIDAHULUKAN DARIPADA KEBOLEHAN (MUBAH), Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: jangan kalian memanfaatkan ) (لا تنتفعوا) dan huruf لا di sini menunjukkan LARANGAN, dan (dalam kaidah disebutkan bahwa) pada dasarnya larangan itu menunjukkan KEHARAMANNYA, jadi maknanya: diharamkan bagi kalian memanfaatkan segala sesuatu (dari bangkai) baik yang disamak maupun yang tidak disamak,
mereka mengatakan: ini adalah dalil-dalil (kami), dan riwayat-riwayat ini dari imam Ahmad rohimahullah dan juga dari sebagian ulama’ madzhab maliki rohimahumullah.

HUKUM MEMANFAATKAN (KULIT BANGKAI) MENURUT PARA ULAMA’ MADZHAB MALIKI ROHIMAHUMULLAH DAN DALIL-DALIL MEREKA

Para ulama’ madzhab maliki rohimahumullah berkata: kita berpendapat bolehnya memanfaatkan segala sesuatu (dari bangkai) sama saja apakah itu kulit anjing, kulit babi atau selain dari keduanya.

Kemudian para ulama’ syafi’iyyah menjawab: sesungguhnya dikecualikan anjing dan babi karena terdapat dalil-dalil, adapun (dalil tentang haramnya babi) adalah dengan Nas dari kitabullah, Allah Ta’ala berfirman:
{قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ} [الأنعام:145]
Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor –

Dan berkata (syafi’iyyah): (firman Allah ta’ala) فإنه dhomir (kata ganti hu) tersebut kembalinya kepada (kata) YANG TERDEKAT yang disebut yaitu BABI, jadi babi itu diharamkan dengan Nas (Al-Quran), dan kita samakan (hukumnya) anjing dengan babi dengan dalil dari assunnah, yaitu dalil dari bukhori muslim

Dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda:
(إذا ولغ الكب في إناء أحدكم فليغسله سبعاً)
Jika seekor anjing menjilat perabot (tempat air) salah seorang kalian maka cucilah tujuh kali, dan dalam riwayat yang lain
(ليرق هذا الماء وليغسله سبعاً)
Hendaklah menumpahkan airnya dan mencucinya tujuh kali

Demikianlah karena jilatannya adalah Najis, mereka (ulama’ syafi’iyyah) berkata: dan jilatan (dari lidah anjing) adalah sesuatu yang paling mulia dari (bagian tubuh) anjing, jika sesuatu yang paling mulia dari bagian anjing saja najis, maka bagian (tubuh) yang lainnya hukumnya diambil darinya (sama dengan jilatan yaitu najis), sehingga kulit dan rambut (anjing) adalah najis, dan SEGALA YANG ADA PADANYA ADALAH NAJIS dan ini adalah dalil dari atsar.

Adapun dalil dari Annadzor sungguh mereka telah mengatakan (suatu kaidah):
إن كانت الحياة فيهما لا تقوى على الطهارة لهما فمن باب أولى أن يضعف الدباغ عن تطهيره
Jika ketika (babi dan anjing) hidup saja (air) tidak mampu mensucikan keduanya terlebih lagi proses menyamak adalah LEBIH TIDAK MAMPU lagi mensucikannya
Karena KEHIDPAN ADALAH DASAR, dan kita katakan: sesungguhnya menyamak adalah mengikuti (dasar)nya

Jika para ulama’ Malikiyyah bertanya: (lalu) kulit apa yang bisa dimanfaatkan? Akan tetapi (bolehnya memanfaatkan daging anjing dan babi adalah) dengan batasan dan syarat yaitu dimanfaatkan luarnya bukan dalamnya, karena bagian dalamnya menempel dengan kulit, dan kulit menempel dengan daging, dan hukum ini (terjadi) karena sebab berdekatan.

Demikian pula para ulama’ madzhab hambali dalam pendalilan mereka dengan annadzor mereka mengatakan: hukumya (terjadi karena sebab) berdekatan, karena bagian dalam bangkai (berupa daging) mempengaruhi bagian luar ( berupa kulit) bangkai, adapun dagingnya, semua ulama’ sepakat (kalau dagingnya) adalah najis, maka sesuatau yang dipengaruhi itu diambil hukum (dari) yang mempengaruhi.

Adapun para ulama malikiyyah membedakan dengan pembedaan yang samar, lebih samar daripada pendapat para ulama’ hambali, mereka mengatakan: (bagian kulit anjing dan babi) yang luar tidak terpengaruhi, tetapi bagian yang dalam terpengaruhi, maka yang mempengaruhi diambil hukumnya dari yang dipengaruhi, dan mereka mengatakan: (kulit) yang dalam tidak boleh dimanfaatkan karena sebab najis.
Jadi para ulama’ madzhab maliki mengatakan: semua (kulit yang telah disamak) bisa dimanfaatkan termasuk anjing dan babi, akan tetapi dibatasi syarat yaitu: boleh dimanfaatkan luarnya bukan yang dalamnya.

HUKUM MEMANFAATKAN (KULIT BANGKAI) MENURUT PARA ULAMA’ MADZHAB HANAFI ROHIMAHUMULLAH

Adapun para ulama’ madzhab hanafi mereka berpendapat dengan pendapat para ulama’ syafi’iyyah, kecuali pada (masalah) anjing dan babi, menurut mereka boleh memanfaatkan kulitnya, mereka mengatakan: karena Nas yang sampai pada kita adalah babi yang terdapat dalam Ayat, dan Nas yang lain pada masalah anjing tidak sampai kepada kita (tidak ada dalam Al-Quran).

HUKUM MEMANFAATKAN (KULIT BANGKAI) MENURUT PARA ULAMA’ MADZHAB IMAM AL-AUZA’I DAN IBNU TAIMIYYAH ROHIMAHUMALLAH DAN DALIL-DALIL DARI MEREKA

Imam Al-Auza’I rohimahullah berpendapat: kulit bangkai yang boleh dimanfaatkan (setelah disamak) adalah (pada) hewan yang boleh dimakan (dagingnya) bukan yang tidak boleh dimakan. Dan syaikh islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah merojihkan pendapat ini.
Mereka berkata: dalil kami dalam membedakan itu berdasarkan atsar dan nadzor, adapun dalil dari atsar: ada dari hadits yang diriwayatkan Ibnu abbas rodlillahu’anhuma: bahwa beliau shallallahu’alaihi wasallam melewati sebuah bangkai kambing dan bersabda:
mengapa kalian tidak memanfaatkannya?.
Mereka mengatakan:
العبرة بخصوص السبب؛
Sisi pengambilan dalil adalah dari KHUSUSNYA SEBAB
Karena ketika beliau shallallahu’alaihi wasallam melewati bangkai kambing, dan kambing ADALAH HEWAN YANG HALAL dimakan dan tetap pada keadaannya. Sedangkan bangkai kamnbing tersebut sebelumnya halal dimakan, maka boleh memakannya dengan dibersihkan, dan beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
manfaatkanlah dia,
karena mungkinnya memanfaatkan adalah pada saat hidupnya dengan memakannya setelah disembelih, dan mereka mengatakan ini khusus hanya pada hewan yang boleh dimakan (dagingnya), ini adalah nyata terjadi dalam suatu keadaan, dan nyata terjadi tidaklah dikiaskan padanya kecuali masalah yang serupa.

Mereka mengatakan: dan (ada) juga dalil lain bagi kami tentang membedakan (antara hewan yang boleh dimakan dengan yang tidak dalam pemanfaatan kulitnya), sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam sebagian riwayat:
: (دباغه ذكاته)
penyamakannya (bangkai itu) adalah merupakan penyembelihannya,
hal ini berarti : penyamakan kulit merupakan sembelihannya, mereka mengatakan:
kita berdalil dengan hadits ini bahwa tidak diperbolehkan memanfaatkan kulit bangkai kecuali (bangkai) hewan yang boleh dimakan.
Dan sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam penyamakannya (kulit bangkai itu) adalah merupakan penyembelihannya , dan penyembelihan TIDAKLAH TERJADI KECUALI pada hewan yang BOLEH DIMAKAN, dan nabi shallallahu’alaihi wasallam MENGAITKAN penyamakan dengan penyembelihan, maka hukumnya adalah hukum penyembelihan, yaitu tidak terjadi (pemanfaatan kulit bangkai) kecuali pada hewan yang boleh dimakan.
Dan ini adalah poin pendalilan mereka (wajhud dilalah) dan ini yang dari atsar.

Adapun dalil dari nadhor adalah hadits:
(نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن افتراش جلود النمر
Nabi shallallahu’alaihi wasallam melaran tidur beralaskan kulit macan tutul.
Mereka mengatakan: pelarangan ini bagi nabi shallallahu’alaihi wasallam, andai saja… dipisahkan maka tentu akan dipisahkan. Maka ketika beliau bersabda (secara makna): aku melarang kalian dari tidur beralaskan kulit macan tutul, beliau tidak bersabda: aku melarang kalian dari tidur beralaskan kulit macan tutul yang belum disamak, maka apabila sudah disamak silahkan kalian kalau mau tidur beralaskannya.
Dan nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak membedakan, maka ketika tidak dipisahkan maka dikembalikan pada yang umum, dan akar masalah (illat) adalah: Najis, dan najis adalah sesuatu yang umum sama saja baik telah disamak maupun belum disamak.

Dan yang tersisa (dari keterangan) pendalilan ini adalah bahwa secara HUKUM hewan yang boleh dimakan dagingnya berbeda dengan hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya.
Jika mereka mengatakan: kami memiliki dalil yang banyak yang menguatkan kami dalam membedakan hukum antara hewan yang boleh dimakan dagingnya dengan yang tidak boleh dimakan dagingnya baik (dalil) dari atsar maupun nadzor, adapun dari atsar adalah hadits Maimunah yang berada di dekat bangkai kambing, sedangkan kambing adalah hewan yang boleh daimakan, jadi hukum hewan yang boleh dimakan dagingnya berbeda dengan yang tidak boleh dimakan dagingnya,
Mereka mengatakan: dan pemisahan masalah yang diperdebatkan adalah: hadits nabi shallallahu’alaihi wasallam penyamakan kulit bangkai itu adalah merupakan sembelihannya, dan sembelihan tidak mungkin terjadi kecuali pada hewan yang boleh dimakan, dan penyamakan itu (juga sama) tidak dilakukan kecuali pada hewan yang boleh dimakan dagingnya.

Dan mereka mengatakan: dan dalil dari nadzor adalah nabi shallallau’alaihi wasallam melarang seseorang untuk tidur beralaskan kulit macan tutul, dan beliau tidak membedakan, sama saja yang disamak ataupun belum, dan titik persoalannya adalah pada najisnya, (kulit bangkai hewan yang tidak boleh dimakan itu) disamak najis, tidak disamak dia (juga) najis)

PENDAPAT YANG ROJIH TENTANG HUKUM MEMANFAATKAN (KULIT BANGKAI)
Jadi inilah beberapa pendapat yang berbeda (dengan pendapat kami), maka aku katakan: pendapat imam Al-Auza’I dan syaikhul islam Ibnu taimiyyah rohimahumallah mempunyai kekuatan pada suatu tempat, akan tetapi yang ROJIH DAN SOHIH adalah pendapat para ulama’ syafi’iyyah, bahwa (bolehnya pemanfaatan kulit bangkai) itu adalah umum pada kulit hewan yang dimakan atau yang tidak boleh dimakan. Dan boleh memanfaatkannya setelah disamak, dan menjadi suci karena beberapa dalil yang akan kami kemukakan untuk membantah pendapat mereka.

BANTAHAN KEPADA PARA ULAMA’ MADZHAB HAMBALI TERHADAP DALIL-DALIL YANG MEREKA KEMUKAKAN (TENTANG BOLEHNYA PEMANFAATAN KULIT BANGKAI YANG DISAMAK)
1)yang pertama: bantahan kepada para ulama’ madzhab hambali, karena ini adalah pendapat yang PALING LEMAH, mereka berpendapat: tidak boleh dimanfaatkan (kulit bangkai binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya walaupun disamak) dan mereka berdalil dengan keumuman firman Allat Ta’ala: “DIHARAMKAN”. Kita katakan: ini (memang) umum (akan tetapi) TELAH DIKHUSUSKAN (dengan hadits tentang menyamak), dan mereka juga berdalil dengan hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam: “janganlah kalian memanfaatkan kulitnya juga ototnya” dan ini adalah para ulama’ madzhab Hambali dan sebagian madzhab maliki.

Kita katakan: bantahan kepada mereka dari dua wajah:
1)sisi yang pertama: bahwa hadits ini MUDHTHORIB (mudhthorib adalah hadits yang datang dari beberapa riwayat yang saling bertentangan yang sama-sama kuat dan tidak bisa di amalkan secara bersama, juga tidak mungkin bisa ditarjih, hadits mudhtorib ini termsuk kategori hadits doif karena adanya tuduhan tidak kokohnya hafalan/tidak dhobtnya periwayat hadits tersebut). (sehingga hadits yang mereka kemukakan tersebut) padanya ada CACAT, sebagaimana Imam Baihaqi dan kebanyakan para ahli hadits rohimahumullah menganggap ada masalah (pada hadits tersebut).
Sedangkan kaidah yang ada pada kami dan kalian:
أن الأحكام فرع على التصحيح، فإذا ضعف الدليل فلا استدلال لكم، ولا حجة معكم.
Sesungguhnya hukum-hukum itu (terbangun dari) hadits-hadits sohih, maka apabila dalil (ternyata) doif maka kalian tidak boleh berdalil (dengannya), (sehingga) kalian tidak mempunyai hujjah (tentang masalah ini).

andaikata kami harus bersifat longgar dalam perdebatan, maka kita katakan: (anggap saja hadits tersebut adalah sohih),
2)maka kami bantah mereka dari sisi yang lain: yaitu bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(لا تنتفعوا من الميتة بإهاب ولا بعصب)
“janganlah kalian memanfaatkan bagian dari bangkai itu baik kulitnya ataupun ototnya”
dan hadits ini bukan tempat perdebatan, karena IHAB adalah kulit sebelum disamak, dan kita dan kalian dalam hal ini sepakat (dengan definisi ihab). Sedangkan perselisihannya adalah pada kulit setelah disamak (bukan ihab).

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin
Insya Allah Tobe continue part twenty five

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.