Syarah Matan Abu Syuja’ (25): Bantahan Dalil Larangan Menjual Kulit Bangkai yang Disamak

bismillahirrohmanirrohim
Ringkasan pelajaran selasa yang lalu:
HUKUM MEMANFAATKAN (KULIT BANGKAI) MENURUT PARA ULAMA’:
1)madzhab Hambali:kulit bangkai tidak boleh dimanfaatkan secara mutlak (walaupun telah disamak)
2)madzhab Maliki : kulit bangkai boleh dimanfaatkan secara mutlak termasuk kulit anjing dan babi
3)madzhab Hanafi seperti pendapat syafi’iyyah: kecuali dalam masalah anjing dan babi mereka membolehkan memanfaatkan kulit keduanya.
4)Madzhab Al-Auza’I yang dirojihkan syaikhul Islam:kulit bangkai yang boleh dimanfaatkan hanya dari hewan yang dagingnya halal dimakan.
5)Madzhab syafi’I yang dirojihkan penulis dan yang lebih menentramkan hati: kulit bangkai yang boleh dimanfaatkan adalah semua kulit binatang baik yang halal dimakan maupun yang tidak halal dimakan, kecuali anjing dan babi.

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islamweb.net
Part :twenty five

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

BANTAHAN KEPADA PARA ULAMA’ MALIKIYYAH ROHIMAHUMULLAH TERHADAP DALIL-DALIL YANG MEREKA KEMUKAKAN

Yang kedua: bantahan kepada para ulama’ Malikiyyah rohimahumullah, mereka berkata: (bolehnya) memanfaatkan (kulit bangkai) dengan segala sesuatu yang luarnya bukan yang dalamnya,
1)(bantahan dari sisi yang pertama) maka kita bantah mereka: kita katakan: sungguh Allah ta’ala telah menyebutkan SECARA NAS ATAS NAJISNYA BABI, dan keumuman najisnya setelah disamak dan sebelum disamak, dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan: najisnya (anjing dijelaskan terletak pada) sesuatu yang paling mulia dari (diri) anjing yaitu jilatan (nya), dan dia najis maka apakah kalian tidak akan memasukkannya (kulit anjing sebagai barang najis, sedangkan kulit tidak lebih mulia daripada lidah)?dan ini adalah bantahan mereka dari satu sisi.

2)Sisi yang kedua: kita katakan kepada mereka: kalian membedakan antara kulit luar dan kulit dalam (daging) tanpa (suatu) pembeda (yang jelas),
jika mereka menjawab: kita mempunyai pembeda, yaitu qiyas (suatu benda yang) berdekatan (mujawaroh) dan kita membedakan antara kulit dengan daging karena (keduanya) saling berdekatan,
akan tetapi kita (penulis) katakan: ini adalah perumpamaan degan sesuatu yang berbeda (qiyas ma’al fariq) yang pertama, (dan yang kedua) (qiyas tersebut) adalah rusak (tidak sah), karena bertentangan dengan Nas yaitu sabda nabi shallallahu’alaihi wasallam
“(أيما إهاب دبغ فقد طهر
kulit bangkai apa saja yang telah disamak maka telah menjadi suci,
dan qiyas ini
1)pertamanya adalah ma’al fariq, karena kulit berbeda dengan daging, kulit tidak dimakan sedangkan daging dimakan, dan ini adalah perbedaan yang jauh antara kulit dengan daging.
2) Yang kedua: bahwa qiyas ini adalah qiyas yang rusak, karena bertentangan dengan Nas yang membedakan antara daging dengan kulit, nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda
: (أيما إهاب دبغ فقد طهر)
kulit bangkai apa saja yang disamak maka telah menjadi suci,
dan pembedaan (antara kulit dan bangkai) ini adalah dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan kalian sekarang menyamakan (menqiyaskan) sesuatu yang dibedakan oleh syareat, dan ini adalah kesalahan yang buruk (khoto’ fakhisy).

BANTAHAN KEPADA PARA ULAMA’ HANAFIYAH ROHIMAHUMULLAH TERHADAP DALIL-DALIL YANG MEREKA KEMUKAKAN

Bantahan terhadap pendapat yang ketiga yaitu para ulama’ Hanafi rohimahumullah, adapun para ulama’ hanafi rohimahumullah berkata: (dalam pembolehan pemanfaatan kulit bangkai) kita kecualikan babi saja sedangkan anjing tidak kita kecualikan. Karena ayat yang disebutkan secara Nas hanya Babi,
Kita jawab: (adapun mengenai) anjing sungguh ada dalil tentang kenajisannya, yaitu hadits tentan “jilatan anjing” dan jilatan anjing adalah najis sedangkan dia (jilatan/lidah) adalah bagian yang paling mulia darinya,oleh karena itu kulit, tulang dan ototnya tentu lebih ditekankan (kenajisannya).

BANTAHAN KEPADA SYAIKHUL ISLAM DAN IMAM AL’AUZA’I ROHIMAHUMALLAH

Bantahan kepada pendapat syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah ada dari atsar, (karena) jika (langsung) membantah mereka dari nadzor (agak sedikit) sulit, dan kita akan jelaskan hal ini, bantahan dari atsar:
1) adapun pendapat mereka bahwa lewatnya nabi shallallahu’alaihi wasallam pada bangkai kambing, dan kambing adalah hewan yang boleh dimakan,
maka kita bantah: kaidah yang kita sepakat atasnya berbunyi:
أن العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب،
Sisi pengambilan dalil itu adalah dengan keumuman dalil bukan dengan khususnya sebab
Dan ini adalah bantahan yang telak (skak mat).

2)Adapun dalil yang mereka berdalil dengannya yaitu sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam:
(دباغه ذكاته)
Penyamakannya merupakan sembelihannya
Kita bantah: kita sepakat dengan kalian TENTANG LAFAL TERSEBUT, maka penyamakannya adalah merupakan sembelihannya, (akan tetapi) kami tidak sepakat dengan kalian pada KAITAN MAKNA YANG DIMAKSUD Akan tetapi kita katakan: sesungguhnya kaitan di sini adalah kaitan untuk PEMANFAATAN bukan kaitan hukum, dan makna hadits tersebut adalah:
كما أنكم تنتفعون بالشاة في ذكاتها -وهذه الشاة كانت حية، فهذه الشاة إن ماتت فلكم أن تنتفعوا أيضاً بجلدها بالدباغ،
Sebagaimana halnya kalian memanfaatkan kambing dengan cara menyembelihnya ketika hidupnya, maka jika mati (menjadi bangkai) kalian (tetap) boleh memanfaatkan kulitnya dengan cara disamak.
Dan hukum di sini (kaitannya) adalah (pada) hukum pemanfaatannya bukan hukum berkaitan dengan pembedaan antara (hewan) yang halal dimakan atau yang tidak halal dimakan.

Maka (kesimpulannya) kaitan (pada hadits) ini adalah kaitan dalam pemanfaatan saja, yaitu: diperbolehkan memanfaatkan kulit kambing yang sudah jadi bangkai dengan cara menyamak, sebagaimana kalian boleh memanfaatkan kambing ketika hidup dengan jalan disembelih, dan (hadits ini) tidak ada kaitan sama sekali dengan (keterangan) hewan yang halal dimakan dan yang tidak halal dimakan. Dan pembicaraan di sini kaitannya adalah pada PEMANFAATAN, dan haditsnya berkisar pada pemanfaatan saja, dan inilah assiyaqu (makna dari) hubungan kalimat yang dimaksud (assiyaqu),
Dan kaidah (usul mengatakan):
: السياق والسباق من المفسرات والموضحات والمقيدات
Hubungan kalimat yang dimaksud (Assiyaaqu) dan (pendahuluan antar kalimat) assibaaqu adalah termasuk dari penafsiran-penafsiran dan penjelas-penjelas dan pembatas-pembatas (dalil).

Dan dalam hadits ibnu Abbas rodliallahu’anhuma: (Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:)
(هلا انتفعتم)
Kenapa tidak kalian manfaatkan (kulitnya)
Berarti:
إذا انتفعتم بالذكاة فلكم أن تنتفعوا بالدباغ
jika kalian dapat memanfaatkan dagingnya (ketika hidup) dengan cara disembelih, maka kalian bisa memanfaatkan kulitnya (meskipun sudah jadi bangkai) yaitu dengan cara disamak.

2)Adapun bantahan dari Nadzor: maka mereka mengatakan: kalian sepakat dengan kami bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang dari duduk/ tidur beralaskan kulit macan tutul karena Najis, dan kami tidak sepakat dengan kalian dengan yang pertama,
akan tetapi kita (penulis) katakan: larangan pada masalah yang terakhir (pemanfaatan kulit bangkai macan tutul) BUKAN KARENA SEBAB NAJIS, dan larangan (di sini) tidak berhubungan dengan najisnya (kulit macan tutul) akan tetapi karena urusan yang lain, karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam JUGA MELARANG dari duduk/tidur beralaskan kain sutra (bagi laki-laki)

Hal ini bukan karena najis, akan tetapi karena sebab KESOMBONGAN DAN BERMEGAH-MEGAHAN,
Maka kita berpendapat: sesungguhnya duduk/tidur beralaskan kulit macan tutul yang Nabi shallallahu’alaihi wasallam melarangnya adalah karena KESOMBONGAN DAN BERMEGAH-MEGAHAN bukan karena kulit tersebut Najis.
وما دامت المقدمة خاطئة، فالنتيجة خاطئة.
Dan demikianlah selama (fatwa hukum) diambil dari permulaan PREMIS YANG KELIRU MAKA KESIMPULAN AKHIRNYA PUN KELIRU.

Kita menyimpulkan dari hal tersebut bahwa: bangkai tidak boleh dimanfaatkan dengan dimakan atau diminum, KECUALI KULIT, maka boleh untuk memanfaatkan kulit bangkai sapi dan kulit bangkai kambing dan kulit bangkai macan, hal tersebut DENGAN MENYAMAKNYA maka menjadi suci maka boleh dijadikan sebagai sajadah dalam shalat atau dibuat tempat minum, yaitu: dibuat qurbah (tempat minum) yang kita bisa minum darinya, atau BOLEH kita memperjual-belikan kulit bangkai. Dan ini adalah hukum (baik dari bangkai hewan) yang halal dimakan (dagingnya) maupun yang tidak halal dimakan KECUALI anjing dan babi.(selesai)

Dan di sini ada masalah yang lain yang juga terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama’ yaitu masalah: KULIT BANGKAI YANG TELAH DISAMAK (SELAIN ANJING DAN BABI) ITU APAKAH BOLEH DIMAKAN ATAUKAH TIDAK? Di dalamya terdapat perbedaan yang sangat tajam dikalangan para ulama’ syafi’iyyah sendiri.

Andai ada seseorang penentang yang menentang bantahan kami terhadap syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah dengan mengatakan: kenapa kita dilarang untuk duduk/tidaur beralaskan kulit anjing?
Maka kita jawab: karena dia Najis, akan tetapi tidak ada dalil yang menyatakan bahwa kulit harimau, macan tutul adalah najis, dan jilatan harimau hukumnya suci, dan pada masalah ini terjadi perbedaan pendapat yang sangat keras, maksud saya: bekas minum binatang, apakah suci ataukah najis? Dan yang sohih adalah yang Allah tetapkan sebagaimana yang para ulama’ syafi’iyyah tetapkan: bahwa bekas minumnya binatang ternak semuanya adalah suci kecuali yang ada keterangan dalil akan kenajisannya (yaitu anjing dan babi),
Aku berkata dengan perkataanku ini dan aku minta Ampun kepada Allah bagiku dan bagi kalian.(amin)

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin
Insya Allah Tobe continue part twenty six

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.