Syarah Matan Abi Syuja’ (33): Menggosok Gigi (Bersiwak) – bagian 2


Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part :thirty three

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

Bismillahirrohmanirrohim

MENGGUNAKAN ALAT GOSOK GIGI


Penulis (abu syuja’) rohimahullah berkata: pasal bergosok gigi itu dicintai/mustahab dalam setiap keadaan kecuali ketika setelah zawal/masuk waktu dzuhur bagi orang yang berpuasa, dan dia sangat ditekankan pada tiga keadaan:
1)yang pertama: ketika berubahnya bau mulut dari ‘azm (lama tidak minum) atau sejenisnya,
2)kedua ketika bagun dari tidur,
3)dan ketiga ketika akan melakukan shalat.
Gosok gigi/siwak secara bahasa berkaitan makna alat (menggosok gigi) atau perbuatan (menggosok gigi), dan assiwak berarti addulku yaitu: menggerak-gerakkan alat pada mulut dan gigi dan sekitarnya.
Dan (siwak) juga berkaitan makna akan alat seperti akar kayu arok, sapu tangan, atau jari, menurut sebagian ulama’ yang mensohihkan hadits tentangnya, (padahal) dia adalah doif sebagaimana yang akan kita jelaskan (insya Allah)
Adapun (pengertian gosok gigi) secara syareat adalah:menggosok gigi dan yang sekitarnya dengan akar kayu arok atau yang sejenisnya.

Dan siwak adalah termasuk sunnah fitroh, sungguh telah diriwayatkan secara sohih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dalam sabda beliau:
(ما زال جبريل يوصيني بالسواك حتى خشيت أن تسقط أسناني) أو كما قال صلى الله عليه وسلم
Jibril (‘alaihissalam) tidak henti-hentinya berwasiat kepadaku agar (rajin) menggosok gigi sehingga aku khawatir gigi-gigiku pada jatuh (maksudnya saking seringnya), atau sebagaimana diriwayatkan beliau.

(ketika seorang menyebutkan “au kama qola” di akhir hadits ini berarti orang tersebut meriwayatkan hadits secara makna yang mungkin lafalnya tidak tepat seperti yang disebutkan, sebagaimana yang telah kita ketahui meriwayatkah hadits boleh secara makna, akan tetapi kalau meriwayatkan Al-Quran tidak boleh secara makna tapi harus leterlek lafalnya dan benar maknanya).

Dan ‘aisyah rodliallahu’anha berkata:
(دخل عبد الرحمن بن أبي بكر على رسول الله في مرض موته وهو على حجري، وفي يده سواك يستن به، فأبد النبي صلى الله عليه وسلم بصره إلى السواك)
Abdurrahman putra Abu Bakar rodliallahu’anhuma masuk menemui rosulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam peristiwa sakaratul maut nya (nabi) dan dia (nabi) rabahan pada pangkuanku, dan pada tangan dia (Abdurrahman) ada siwak yang (sering) dia gunakan, maka nabi shallallahu’alaihi wasallam mengarahkan pandangannya pada siwak (tersebut).

(mengarahkan pandangan pada siwak ini berarti) Beliau hendak menggosok gigi padahal beliau berada di pembaringan sakaratul maut, ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar dari bergosok gigi,: karena nabi shallallahu’alaihi wasallam mengarahkan pandangan kepada siwak maka ‘Aisyah rodliallahu’anha wa ardloha memahami dan tanggap bahwa nabi shallallahu’alaihi wasallam menginginkan untuk bergosok gigi, (‘aisyah rodilallahu’anha) berkata: maka aku ambil (siwak tersebut) dari tangan Abdurrahman bin Abu Bakar, kemudian aku berikan kepada rosulullah shallallahu’alaihi wasallam dan beliau minta dibantu untuk menggunakanya, kemudian demi bapakku, dia dan ibuku ruh beliau tercabut (meninggal dunia, innalillahi wa inna ilaihi roji’un).

Bergosok gigi mempunyai keutamaan yang besar, dan imam Al-Bukhori rohimahullah telah meriwayatkan secara mu’allaq*1 hadits dari ‘Aisyar rodlilallahu’anha wa ardloha bahwa beliau berkata:Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(السواك مرضاة للرب مطهرة للفم)
Bergosok gigi itu menjadi sebab keridlaan Allah dan mensucikan mulut
Dan imam Ahmad rohimahullah meriwayatkan (hadits serupa) dengan bersambung (riwayat) nya (bukan mu’allaq) dengan sanad yang sohih.
***
HUKUM BERGOSOK GIGI
Hukum bergosok gigi dalam madzhab (imam Asy-syafi’i) adalah disukai (mustahab/sunnah), dan pengertian mustahab menurut para ulama’ ahli fikih (berarti): suatu perbuatan yang pelakunya diberi pahala dan orang yang meninggalkannya tidak berdosa, dan Daud Adz-Dzohiri rohimahullah berpendapat akan wajibnya bergosok gigi dan (pendapatnya ini) dinisbatkan pada pendapatnya Ishaq bin rohuyah rohimahullah.

Jadi: para ulama’ syafi’iyyah berpandangan kesunnahan akan hukum bergosok gigi, dan dalil mereka dari atsar adalah: hadits sohih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
(لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك مع كل صلاة)
Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya aku akan memerintahkan mereka bergosok gigi setiap kali (berwudlu) hendak melakukan shalat.

Hal yang mencegah Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk menjadikannya wajib bagi umat adalah adanya kesulitan, dengan demikian para ulama’ syafi’iyyah berdalil dengan hadits ini bahwa SISI LUAR dari perintah adalah menunjukkan hukumnya WAJIB dengan berkata:
لو كان واجباً لأمرهم به سواء شق أم لم يشق.
Andaikata (bergosok gigi) hukumnya wajib niscaya (beliau akan ) memerintahkan mereka (bergosok gigi setiap kali wudlu akan shalat) sama saja baik adanya kesulitan maupun tidak adanya kesulitan.
Dan adanya perintah (menggosok gigi) dalam beberapa hadits mursal*2 yang sanadnya doif, akan tetapi dia mempunyai syawahid*3 yang menguatkannya seperti hadits
(تسوكوا فإن السواك مطهرة للفم)
Bergosok gigilah kalian karena bergosok gigi itu menjadi sebab bersihnya mulut.

Dan juga imam Al-Bukhori rohimahullah menganggap hadits ini adalah mu’allaq, sebagaimana kami jelaskan (hadits) dari ‘Aisyar rodliallahu’anha wa ardloha bahwa beliau berkata: Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(السواك مطهرة للفم مرضاة للرب)
Bergosok gigi itu menjadi sebab keridlaan Allah dan mensucikan mulut
Dan ini adalah dalil (syafi’iyyah) yang dari atsar yang bersifat perkataan, adapun atsar yang bersifat perbuatan. (selama hidup) Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam selalu melakukannya, dan menurut para ahli ushul fikih, hukum asal dari suatu perbuatan (Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam) menunjukkan bahwa perbuatan tersebut menunjukkan HUKUMNYA SUNNAH bukan wajib, dan dalil mereka, adalah ketika (Nabi shallallahu’alaihi wasallam) mengimami mereka shalat tarawih (pada dua malam pertama) kemudian meninggalkannya (pada malam ketiga) sambil bersabda:
(خشيت أن تفرض عليكم)
(kalau aku mengimami kalian pada malam ketiga dan seterusnya) aku khawatir (kalau shalat tarawih menjadi) diwajibkan atas kalian (sehingga kalian keberatan melakukannya).
Dan hal ini menunjukkan (suatu kaidah dasar) bahwa dilakukannya sebuah perbuatan (oleh nabi shallallahu’alaihi wasallam) menunjukkan bahwa (perbuatan tersebut) hukum nya adalah SUNNAH

Dan (semasa hidup) nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan bergosok gigi, sampai-sampai pada saat sakit menjelang wafatnya, beliau sempat (berisyarat) ingin bergosok gigi.
Adapun (dalil dari ulama’ syafi’iyyah) dari annadzor (akan sunnahnya bergosok gigi) adalah: sesungguhnya orang yang mempunyai cita-cita yang tinggi, dia menyukai kalau dia mencapai kesempurnaan (ketika meninggal) dalam keadaan yang terbaik, dan pada kedudukan yang terbaik, dan ketika seseorang menghadap penguasa atau raja, atau dia akan menghadap orang yang dicintai, atau akan menghadap orang yang dihormati, dia ingin (tampil) dalam keadaan yang paling baik, dan (keadaan terbaik ini) terjadi dengan bergosok gigi, dan bergosok gigi bisa mensucikan mulut dan mengundang keridloan Allah yang maha perkasa dalam ketinggian-Nya.

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin

Thanks for your attention, Insya Allah Tobe continue part threty four

————-
End note:

(*1 HADITS MU’ALLAQ adalah hadits yang perowinya dibuang/tidak disebutkan dari awal sanadnya baik satu orang atau lebih secara berturut-turut, hadits mu’allaq adalah hadits yang tertolak karena hilang salah satu syarat diterimanya hadits yaitu bersambungnya sanad dengan membuang seorang perowi atau lebih dari sanadnya tanpa mengetahui keadaan rowi yang dibuang tersebut. AKAN TETAPI apabila ada hadits mu’allaq pada kitab sohih bukhori dan sohim muslim MAKA mempunyai HUKUM KHUSUS yaitu terbagi dua:1) jika disebutkan dengan sighoh kalimat jazm/ kalimat aktif seperti:telah berkata, telah menyebutkan, telah meriwayatkan maka hukumnya sohih dari (periwayat) yang disandarkan padanya, dan 2)jika disebutkan dengan sighoh tamrid/ kalimat pasif seperti: dikatakan, disebutkan, diriwayatkan maka tidak ada hukum akan kesohihannya (secara langsung) dari yang disandarkan padanya akan tetapi harus diteliti dulu karena kemungkinan padanya ada yang sohih, hasan dan ada yang dloif; akan tetapi tidak ada padanya hadits wahin/lemah karena terdapat di dalam kitab yang disebut sohih yang telah mendapat jaminan kesohihan dari penulisnya yaitu imam bukhori dan imam muslim rohimahumallah.)

(*2 HADITS MURSAL adalah yaitu hadits yang sanadnya setelah tabi’in terputus, dan hukumnya pada asalnya adalah dloif karena tidak ada salah satu syarat diterimanya hadits yaitu bersambungnya sanad, dan terdapat kemungkinan rowi yang dibuang itu selain sahabat. dalam keadaan seperti ini ada kemungkinan besar hadits tersebut dloif, akan tetapi para ulama’ berbada pendapat tentang hukum hadits mursal dan bolehnya berdalil dengannya, karena terputusnya sanad di sini berbeda dengan terputusnya sanad pada umumnya, sebab rowi pada hadits mursal yang tidak dicantumkan pada umumnya adalah sohabat rodliallahu’anhum, sedangkan para sahabat SELURUHNYA ADALAH ADIL, tidak ditampilkannya sohabat tidak mempengaruhi kesohihan hadits. Secara global pendapat para ulama’ tentang hadits mursal terbagi menjadi tiga:1) menurut jumhur ahlul hadits dan banyak dari para ulama’ usul fikih: bahwa hadits mursal adalah hadits dloif tertolak, alasan mereka adalah bahwa hadits mursal itu terdapat perowi yang tidak diketahui dengan tidak disebutkan dan ada kemungkinan yang tidak disebutkan tersebut adalah bukan sahabat, 2) menurut imama abu hanifah, imam malik, imam ahmad, dan sekelompok ulama’ yang lain rohimahumullah: hukum hadits mursal adalah hadits sohih yang boleh digunakan untuk berdalil dengan satu syarat, hadits mursal tersebut dari orang yang tsiqoh/terpercaya dan tidak ada mursal yang diterima kecuali dari perowi yang tsiaqoh. Alasannya adalah: bahwa tabi’in itu adalah tsiqoh tidak mungkin seorang tabi’in yang tsiqoh berkata: rosululullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda… kecuali bila dia mendengar dari orang yang tsiqoh pula yaitu sohabat. 3) sebagian ulama’ syafi’iyyah dan sebagian ulama’ berpendapat bahwa hadits mursal adalah: bisa diterima dengan beberapa syarat: (ada empat syarat) yang ketiga syarat terletak pada perowi mursal dan satu syarat pada hadits mursal tersebut. Syarat tersebut:a)hadits mursal tersebut adalah dari tabi’in kibar, b)jika menyebutkan hadits mursal dari orang yang memursalkannya adalah menyebutkan ulama’ yang tsiqoh, c)jika pendukungnya adalah para huffadz yang terpercaya tang tidak menyelisihinya, c) hadits tersebut diriwayatkan dari jalan lain secara musnad atau diriwayatkan dari jalan lain secara mursal, yang memursalkannya adalah orang yang mengambil ilmu dari selain perowi mursal yang pertama, atau isi hadits sesuai dengan perkataan sahabat, atau difatwakan oleh kebanyakan ahlul ilmi. Jika sarat-sarat tersebut tepenuhi maka kedua hadits mursal itu jelas kesohihannya, maka jika ada satu hadits sohih yang menentangnya dengan satu riwayat dan tidak mungkin untuk diamalkan kedua-duanya maka ulama’ syafi’iyyah memenangkan dua hadits mursal tersebut dengan berbilangnya riwayat.)

(*3 SYAWAHID: jama’ dari syahid, yaitu hadits yang menguatkan hadits yang lain, sehingga menaikkan derajad hadits yang lain tersebut dari dloif menjadi hasan lighoirihi, atau dari hasan menjadi sohih lighoirihi.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.