Syarah Matan Abi Syuja’ (32): Menggosok Gigi (Bersiwak) – bagian 1

Nama Kitab :Syarah matan Abu Syuja’
Kategori : Kitab fikih madzhab imam Asy Syafi’I rohimahullah
Muallif : Muhammad bin Hasan Abdul Ghoffar rohimahullah
Penerjemah : Hindra Kurniawan
Situs Asli :www.islam.net
Part :thirty two

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil’alamin, washallallah ‘ala nabiyyina muhammadin, waalihi waashhabihi ajma’in amma ba’du.

MENGGUNAKAN ALAT GOSOK GIGI
Menggosok gigi termasuk (salah satu) dari sunnah fitrah, dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam menganjurkannya, dan lebih ditekankan kesunahannya ketika akan shalat, ketika bangun dari tidur, ketika berubah (bau) mulut, dan pada (amalan) gosok gigi ada beberapa adab yang perlu diperhatikan (namun sebelum membahasnya penulis akan membahas terlebih dahulu bab tentang anjuran nenuntut ilmu).

ANJURAN UNTUK MENUNTUT ILMU (AGAMA)
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} [آل عمران:102].
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا} [النساء:1].
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا} [الأحزاب:70 – 71].
أما بعد: فإن أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.
Amma ba’du, dalam kitab assohih nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

(لا تقوم الساعة حتى يرفع العلم ويظهر الجهل، وإن الله لا يقبض العلم انتزاعاً ينتزعه من صدور العلماء، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء، حتى إذا لم يَبْق عالم -وفي رواية: لم يُبْق عالماً- اتخذ الناس رءوساً جهالاً فسألوهم فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا)
(sekali-kali) tidak akan datang hari kiamat sehingga ilmu itu diangkat dan Nampak (menyebarlah) kebodohan, dan sesungguhnya Allah tidaklah mengambil ilmu itu dari dada para ulama’ akan tetapi dengan mewafatkan para ulama’, sehingga tidak tersisa -dalam riwayat yang lain- tidak disisakan seorang laim pun, sehingga orang-orang mengambil para pemimpin yang bodoh (dari ilmu agama) dan mereka bertanya kepada mereka, dan mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka (sendiri) sesat (sekaligus) menyesatkan (manusia).

Dan dulu sahabat (Abdullah) Ibnu Abbas rodliallahu’anhu (ma) waardlohu, beliau adalah lautan ilmu dalam bidang tafsir, faroidh, beliau (begitu) mengagungkan zaid bin tsabit rodliallahu’anhu waardlohu (karena ilmunya dan ketika wafat) dia berdiam di dekat kuburan zaid bin tsabit dan banyak menangis sambil berkata:
: اليوم دفن علم كثير، ثم قال: أيها الناس! إن أردتم أن تعلموا كيف يذهب العلم، فهكذا يذهب العلم.
Pada hari ini banyak ilmu telah dikubur, kemudian beliau berkata: wahai manusia, jika kalian ingin mengetahui bagaimana hilangnya ilmu, maka seperti inilah (cara) hilangnya ilmu.

Maksudnya: sesungguhnya jika ulama’ meninggal dunia maka akan hilanglah ilmu bersama ulama’ (tersebut), tak terkecuali jika mereka (generasi berikutnya dari penuntut ilmu) tidak mengambil ilmu dari lisan mereka,(dan tidak) menempuh perjalanan untuk mendapatkannya, dan mereka (tidak) bersabar dengan ilmu tersebut dan (tidak) menyebarkan di kalangan manusia, maka dunia diijinkan hancur (tenggelam dalam kerusakan) dengan meninggalnya ulama’ Rosulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
(الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالماً ومتعلماً)
Dunia itu terlaknat, seluruh yang ada di dalamnya terlaknat kecuali dzikir kepada Allah dan yang menolong kepadanya, dan (kecuali) orang alim dan para penuntut ilmu.

Kita meminta kepada Allah yang maha perkasa dalam ketinggian-Nya agar menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berilmu, mengamalkan dan menyebarkan agama Allah yang maha perkasa dalam ketinggiann-Nya, baik (kita ini berada) di belahan bumi bagian timur maupun barat.(amin).

Dan semangat memabara dalam mendapatkan ilmu itu adalah kebiasaan generasai salaf, (ada dua kisah yang akan disebutkan di sini: )

1)(kisah pertama) sungguh dulu imam Waki’ bin aljarrah (gurunya imam asy-syafi’I rohimahumallah) jika beliau datang ke makkah, maka orang-orang (di sana) meninggalkan majlis ilmu yang ada (meliburkan diri sementara) dan menghadiri majlisnya imam Waki’ dengan sangat antusias dalam mendapatkan ilmu, dan mereka mengetahui keagungan ilmu (beliau), dan mereka mengetahui kepada siapa haknya (menuntut) ilmu itu diberikan,
Dan mereka duduk dengan pengagungan, rendah hati dan tenang sehingga mereka mengagungkan hadits nabi shallallahu’alaihi wasallam, sehingga mereka derajatnya ditinggikan di sisi Allah Ta’ala, dan (betapa tingginya kedudukan) ilmu itu dimata orang-orang.

2)(kisah kedua) dialah Abdurrahman bin Mahdi rohimahullah dia ini dikaruniai (salah satu) nikmat yang tidak ada nikmat (yang lebih besar) setelahnya, karena dialah orang yang meminta imam Asy-syafi’I untuk menulis kitab Arrisalah, maka (imam Asy-Syafi’I rohimahullah) menulis kitab tersebut untuknya, dan jadilah kitab arrisalah ini begitu memuaskan (dahaga ilmiah) dalam bidang ushul fikih.

Suatu ketika Abdurrahman bin Mahdi (sedang mengajar hadits) dalam sebuah majlis, dan jika beliau mendengar suara berisik (ngobrol sendiri) beliau berkata: aku tidak akan berbicara pada kalian karena mengagungkan hadits nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan pada suatu ketika beliau mengajar hadits ternyata ada seorang murid yang mencatat sambil tersenyum
Maka beliau (menegurnya dengan berkata): apakah engkau tertawa pada saat aku menyampaikan hadits nabi shallallahu’alaihi wasallam? Aku tidak akan mengajar hadits/tidak akan berbicara padamu sebulan (sebagai hukuman). Dan libur tidak membacakan hadits selama sebulan penuh sehingga mereka mengetahui kadar kemuliaan ilmu dan (agar mereka mengetahui) bagaimana mereka harus mengagungkan hadits nabi shallallahu’alaihi wasallam, karena manusia apabila telah memuliakan hadits nabi dalam hatinya maka dia akan mempunyai kedudukan (tinggi) di mata manusia (sebagaimana imam Abdurrahman bin mahdi rohimahullah) .

Allahummanfa’na ma ‘allam tana wa’allimna ma yanfa’una robbi zidna ‘ilma, wala taj’al liddunya akbaro hammina.
Washallallah ‘ala nabiyyina Muhammad walhamdulillahirobbil ‘alamin
Thanks for your attention, Insya Allah Tobe continue part threty three

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.