Manusia yang paling dzalim ialah yang menghalangi manusia dari masjid.

💧 Manusia yang paling dzalim ialah yang menghalangi manusia dari masjid.

✍Kembali terjadi keributan dan kericuhan di masjid dengan membubarkan kajian Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Sungguh ini merupakan kejadian yang memilukan.
Bagaimana seorang muslim melakukan kedzaliman kepada muslim yang lainnya di dalam masjid.
Apakah mereka tidak takut dengan ancaman Allah …?
Allah mengancam mereka dengan kehinaan dan adzab didunia dan diakherat.
Kemana akal fikiran mereka …?
Kenapa mereka mengabaikan Al-Qur’an, kitab suci mereka sendiri …?
Allah berfirman,

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ أَن یُذۡكَرَ فِیهَا ٱسۡمُهُۥ وَسَعَىٰ فِی خَرَابِهَاۤۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَا كَانَ لَهُمۡ أَن یَدۡخُلُوهَاۤ إِلَّا خَاۤىِٕفِینَۚ لَهُمۡ فِی ٱلدُّنۡیَا خِزۡیࣱ وَلَهُمۡ فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ عَذَابٌ عَظِیمࣱ
“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.”[Al-Baqarah: 114]

Berkata Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi,
Tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang melarang dzikrullah di masjid-masjid Allah, seperti melarang orang yang shalat, orang yang membaca Al Qur’an dan melarang orang lain menjalan ibadah. Terlebih ditambah dengan usaha untuk merobohokannya atau melarang kaum mukmin masuk ke dalamnya. Usaha merobohkannya menurut Syaikh As Sa’diy dalam tafsirnya ada dua; Hissiy (inderawi) dan Maknawi. Yang Hissiy misalnya menghancurkannya, merusaknya dan mengotorinya. Sedangkan yang Maknawi adalah melarang orang-orang yang menyebut nama Allah di masjid-masjid-Nya. Ayat di atas adalah umum mencakup kepada semua yang memiliki sifat tersebut, termasuk ke dalamnya As-habul Fiil (para tentara bergajah di bawah pimpinan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah), kaum Quraisy yang menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Hudaibiyah, kaum Nasrani yang menghancurkan Baitul Maqdis dan lain-lain, maka Allah membalas mereka dengan menghalangi mereka masuk ke dalam masjid baik secara syara’ maupun taqdir (ketentuan)-Nya kecuali dalam keadaan takut dan hina. Ketika mereka membuat takut hamba-hamba Allah, maka Allah membuat hati mereka takut. Kaum musyrik yang menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata tidak lama, kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengizinkan Beliau menaklukkan Makkah dan melarang kaum musyrik mendekati rumah-Nya (lihat surat At Taubah: 28).
Sebelum mereka adalah As-habul Fiil, Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah menimpakan kehinaan kepada mereka di dunia (baca kisahnya di surat Al Fiil), sedangkan orang-orang Nasrani yang merobohkan Baitul Maqdis akhirnya dikalahkan oleh kaum mukmin. Oleh karena itu, siapa saja yang coba-coba mengikuti jejak mereka, pasti akan memperoleh kehinaan. Jika tidak ada orang yang paling zalim daripada orang yang menghalangi orang lain menjalankan ibadah di dalamnya dan berusaha merobohkannya berarti tidak ada orang yang paling besar imannya daripada orang yang berusaha memakmurkan masjid-Nya baik Hissiy (seperti membangunnya dan membersihkannya) maupun maknawi (seperti mengumandangkan azan, mengadakan shalat jama’ah, mengadakan ta’lim, membaca Al Qur’an di sana dan melakukan ibadah-ibadah lainnya di sana).
(Aisarut Tafasir, Abu Bakar Jabir al-Jazairi)

Berkata Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili ketika menjelaskan ayat ini:
1 ). Wahai Allah engkau tahu bahwasanya mereka telah melakukan dua kejahatan : mereka melarang orang-orang beriman berdzikir meneyebut nama-Mu di masjid-masjid Mu bahkan mereka merubuhkannya, dan mereka juga membunuh hamba-hamba Mu yang beribadah dan sebagian lagi disiksa oleh mereka, maka percepatlah penghinaan terhadap mereka dan azablah mereka.
2 ). Jarang sekali para pembangkan yang berbuat kerusakan di muka bumi kecuali Allah menghinakan mereka sebelum kematian menjemput, kemudian mereka pun akan dihinakan oleh orang-orang kecil maupun besar, dan kehinaan mereka menjadi bahan pembicaraan di majlis-majlis, Ibnu katsir berkata : “tatkala mereka menyombongkan diri, Allah menemui mereka dengan kehinaan di dunia sebelum kehinaan yang lebih besar di akhirat”.
(Tafsir Al-Wajiz, Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili)

Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.🥀…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.