Malu kepada Allah menjadi penyempurna kebaikan

๐Ÿ’ซ *Malu kepada Allah menjadi penyempurna kebaikan …*

โœMalu adalah salah satu Nama Allah dan sifatnya.
Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… bersabda:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุญูŽูŠููŠู‘ูŒ ูƒูŽุฑููŠู…ูŒ ูŠูŽุณู’ุชูŽุญููŠ ุฅูุฐูŽุง ุฑูŽููŽุนูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฑูุฏู‘ูŽู‡ูู…ูŽุง ุตููู’ุฑู‹ุง ุฎูŽุงุฆูุจูŽุชูŽูŠู’ู†ู
โ€œSesungguhnya Allah Maha pemalu dan pemurah. Dia malu bila seorang lelaki mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampaโ€ (HR. Abu Daud, 1488; At-Tirmidzi, 3556 dishahihkan Al-Albani).

Malu adalah sifat yang sangat terpuji dan amat dianjurkan dalam Islam. Rasa malu adalah salah satu tanda kebersihan hati dan kesehatan jiwa seseorang. Jika seseorang punya perasaan tidak enak untuk melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan, maka ketahuilah bahwa itu tanda kebaikan dalam dirinya.
Sebaliknya, jika ada orang yang tidak pernah merasa segan mengucapkan kata-kata yang tidak layak, atau tidak merasa sungkan melakukan hal yang tidak semestinya, maka ketahuilah bahwa sebagian kebaikan dalam dirinya telah hilang.
Al-Junaid ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ berkata,
โ€œRasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.โ€™โ€
(Madarijus Salikin, 2/270)

Iman itu mempunyai lebih dari 60 cabang, dan salah satu cabang dari iman adalah sifat hayรขโ€™ (malu). Kalau seseorang itu mempunyai malu, berarti dia memiliki keimanan yang lurus. Dan orang yang tidak memiliki sifat malu, mereka akan tenggelam dalam perbuatan keji dan munkar.
Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… bersabda;

ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู ุจูุถู’ุนูŒ ูˆูŽุณูŽุจู’ุนููˆู†ูŽ ุฃูŽูˆู’ ุจูุถู’ุนูŒ ูˆูŽุณูุชู‘ููˆู†ูŽ ุดูุนู’ุจูŽุฉู‹, ููŽุฃูŽูู’ุถูŽู„ูู‡ูŽุง ู‚ูŽูˆู’ู„ู: ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู, ูˆูŽุฃูŽุฏู’ู†ูŽุงู‡ูŽุง ุฅูู…ูŽุงุทูŽุฉู ุงู„ู’ุฃูŽุฐูŽู‰ ุนูŽู†ู’ ุงู„ุทู‘ูŽุฑููŠู‚ู, ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุกู ุดูุนู’ุจูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู
โ€œIman itu ada tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Maka iman yang paling utama adalah ucapan โ€˜Laa Ilaaha Illallaahโ€™ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah cabang dari Iman.โ€ (HR: Muslim)

Malu pertanda kebaikan yang ada pada diri seorang mukmin.
Rasulullah bersabda;

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุกูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุฃู’ุชููŠู’ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุจูุฎูŽูŠู’ุฑู
โ€œSesungguhnya malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikanโ€.
Beliau juga bersabda,

ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุกู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ูƒูู„ู‘ูู‡ู
โ€œMalu itu semuanya baik.โ€(HR Muslim)

Kuatnya rasa malu kepada Allah akan mendapatkan balasan yang lebih baik dan sempurna dari-Nya.
Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… bersabda:

ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ู’ ููŽุขูˆูŽู‰ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽุขูˆูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ุขุฎูŽุฑู ููŽุงุณู’ุชูŽุญู’ูŠูŽุง ููŽุงุณู’ุชูŽุญู’ูŠูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ุขุฎูŽุฑู ููŽุฃูŽุนู’ุฑูŽุถูŽ ููŽุฃูŽุนู’ุฑูŽุถูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู
โ€œSalah seorang dari mereka berlindung kepada Allah, maka Allah pun melindunginya. Yang lain, dia malu sehingga Allah pun malu darinya. Adapun yang lainnya lagi, dia berpaling sehingga Allah berpaling darinyaโ€ (HR. Al-Bukhari, 66 dan Muslim, 2176).

Imam Ibnul Qayyim ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ berkata,
โ€œMalu berasal dari kata ุญูŠุงุฉ (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata ุงู„ุญูŠุง (hujan), tetapi makna ini tidak masyhรปr.
Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.
(Madarijus Salikin, 2/270)

Begitu pentingnya menjaga rasa malu kepada Allah, sehingga para Salaf memberikan bimbingan kepada ummat ini agar menjaga dengan kuat rasa malu ini.
Berkata Abu Sulaiman Ad-Darany ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡,

ุฅุฐุง ุงุณุชุญูŠู‰ ุงู„ุนุจุฏ ู…ู† ุฑุจู‡ – ุนุฒู‘ูŽ ูˆุฌู„ู‘ูŽ – ูู‚ุฏ ุงุณุชูƒู…ู„ ุงู„ุฎูŠุฑ.
๐Ÿ“š ุญู„ูŠุฉ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก ูˆุทุจู‚ุงุช ุงู„ุฃุตููŠุงุกุŒ ู„ุฃุจูŠ ู†ุนูŠู… ุงู„ุฃุตุจู‡ุงู†ูŠ ุต. 255
Ketika seorang hamba memiliki rasa malu kepada Rabb-nya ‘Azza wa Jalla, sungguh telah sempurnalah kebaikannya.
๐Ÿ“šHilyah Al-Auliya’ wa Thobaqot Al-Ashfiya’, Imam Abu Nua’im Al-Asbahany, h. 255

Wallahu a’lam

๐ŸƒAbu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

โœ๐Ÿ“šโœ’.๐Ÿ’ฆ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.