Makanan hati

๐Ÿ’– Makanan hati …

โœAllah berfirman:

ูŠูุคู’ุชููŠ ุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉูŽ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุคู’ุชูŽ ุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉูŽ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฃููˆุชููŠูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง ูˆูŽู…ูŽุง ูŠูŽุฐู‘ูŽูƒู‘ูŽุฑู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃููˆู„ููˆ ุงู„ู’ุฃูŽู„ู’ุจูŽุงุจู

โ€œAllah memberikan hikmah kepada orang yang Ia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, maka sesungguhnya ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak menerima pengingat kecuali orang-orang yang memiliki akal sempurna.โ€ (Al-Baqarah: 269)

Imam Al-Ghozali ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ menukil perkataan Imam Fath Al-Mausuly ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ketika menasehatkan murid-muridnya,

ุฃู„ูŠุณ ุงู„ู…ุฑูŠุถ ุฅุฐุง ู…ู†ุน ุงู„ุทุนุงู… ูˆุงู„ุดุฑุงุจ ูˆุงู„ุฏูˆุงุก ูŠู…ูˆุชุŸ ู‚ุงู„ูˆุง ุจู„ู‰. ู‚ุงู„ ูƒุฐู„ูƒ ุงู„ู‚ู„ุจ ุฅุฐุง ู…ู†ุน ุนู†ู‡ ุงู„ุญูƒู…ุฉ ูˆุงู„ุนู„ู… ุซู„ุงุซุฉ ุฃูŠุงู… ูŠู…ูˆุช

โ€œBukankah akan mati jika ada orang sakit yang tidak mendapatkan makan, minum, dan obat ?โ€™
Mereka pun menjawab, โ€œIya benar, akan mati.โ€™
Lalu kata Al-Maushuly,
โ€˜Begitu juga hati, ketika tidak mendapatkan hikmah dan ilmu selama tiga hari, maka hati akan mati,โ€™ lanjut beliau.โ€

Lalu Imam al-Ghazali membenarkan apa yang dikatakan Fath al-Mushili. Kata beliau,
Karena sesungguhnya makanan hati adalah ilmu dan hikmah. Dengan keduanyalah hati bisa hidup. Sebagaimana badan akan hidup jika makan. Tidak mendapatkan ilmu menyebabkan hati seseorang dalam keadaan sakit dan pasti akan mati, meskipun ia tidak merasa.

Cinta dunia dan kesibukan duniawi bisa membuat orang tidak merasakan hal tersebut. Sebagaimana kondisi sangat ketakutan (atau mabuk) akan bisa โ€œmenghilangkanโ€ sakitnya luka yang berat. Kemudian, ketika kematian telah melenyapkan urusan-urusan duniawi dari dirinya, maka baru dia merasakan bahwa dirinya dalam keadaan rusak dan baru dia sangat menyesal. Penyesalan pascakematian ini tentu tidak ada gunanya lagi. Sama seperti orang yang sudah aman dari ketakutannya atau orang yang sudah sadar dari mabuknya, ia baru merasakan luka-luka yang ia alami saat mabuk atau saat ketakutan.

Maka kita berlindung kepada Allah dari hari terbukanya tirai semua amal. Karena sesungguhnya manusia masih dalam keadaan tertidur. Ketika meninggal dunia, maka mereka baru terbangun dari tidurnya. (Ihyaโ€™ โ€˜Ulumid Din, Imam Muhammad al-Ghazali, , Beirut, Dar al-Fikr, juz I, halaman 8)

Wallahu a’lam

๐ŸƒAbu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

โœ๐Ÿ“šโœ’.๐Ÿ’ž…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.