KRITIKAN TERHADAP ORANG-ORANG YANG MENYIMPANG ADALAH BAGIAN DARI AGAMA

KRITIKAN TERHADAP ORANG-ORANG YANG MENYIMPANG ADALAH BAGIAN DARI AGAMA

Nabi ( telah mengkhabarkan bahwa ummat ini akan terpecahbelah menjadi 73 kelompok, yang selamat hanya satu yaitu yang mengikuti jalan Rasulullah ( dan para sahabat, adapun yang 72 kelompok adalah ahli bid’ah dan ahwa’ yang tidak merasa cukup dengan syari’at Allah, mereka memandang bahwa agama Islam masih perlu ditambah dan dikurangi, mereka ceraiberaikan kaum muslimin menjadi kelompok-kelompok sempalan, mereka sebarkan syubhat-syubhat iblis ke dalam tubuh kaum muslimin, dan mereka propagandakan bid’ah-bid’ah dan kebatilan mereka dengan segala cara….

Akan tetapi Allah telah menyiapkan pasukanNya di setiap zaman untuk mematikan gerakan mereka, yaitu para ulama sunnah yang sabar dalam menda’wahkan agama Allah, membimbing orang-orang yang sesat kepada petunjuk, meluruskan pemahaman-pemahaman yang menyeleweng, membantah syubhat-syubhat ahli bid’ah dan menyingkap kebatilan-kebatilan mereka…

Tetapi ternyata di sana sini masih ada orang-orang yang merasa gerah jika melihat pembela sunnah yang membantah para pengusung bid’ah-bid’ah, mereka putar lidah-lidah mereka untuk mengingkari bantahan terhadap ahli bid’ah :

“ Janganlah kalian menghancurkan barisan dari dalam !

Janganlah kalian masukkan debu dari luar !

Janganlah kalian timbulkan perselisihan di antara kaum muslimin !

Kita bertemu atas yang kita sepakati dan masing-masing dari kita saling memberi udzur atas apa yang kita perselisihkan ! “

Ada lagi yang mengatakan :

“ Dia kritik saudaranya dan dia biarkan musuhnya ! “…

Di lain pihak di sana ada “politikus-politikus islami “ yang tutup mulut terhadap kesalahan ahli bid’ah atau bahkan bergandeng tangan dengan mereka, agar partai-partai mereka tidak kehilangan suara, karena “politikus-politikus islami “ ini membatasi jalan kembalinya kejayaan Islam hanya di dalam kotak-kotak suara !.

Maka dalam risalah ini kami memohon taufiq kepada Allah untuk memaparkan manhaj salaf dalam membantah orang-orang yang menyimpang dengan harapan agar menjadi petunjuk jalan di dalam masalah ini dan menjadi perisai bagi setiap muslim di dalam menghadapi fitnah-fitnah hizbiyyah yang terus menampakkan taringnya.

SIKAP SALAF TERHADAP ORANG-ORANG YANG MENYIMPANG
Tidak pernah muncul suatu bid’ah dalam ummat melainkan diingkari oleh salaf dari kalangan shahabat, tabi’in, dan para imam agama ini yang mengikuti mereka dalam kebaikan , mereka selalu memperingatkan ummat dari bid’ah-bid’ah ini, dan mengingkari ahli bid’ah terhadap kebid’ahan mereka. Mereka nampakkan sikap berlepas diri dari ahli bid’ah dan menyatakan kebencian dan permusuhan kepada ahli bid’ah sampai mereka bertaubat.

Dari Ibnu Umar bahwasanya dia mengatakan kepada seorang yang menyampaikan berita kepadanya tentang kelompok qodariyyah : “ Jika Engkau bertemu mereka beritahukan bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dari Ibnu Umar “ ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 1/140 ).

Dari Abul Jauza’ dia berkata : “ Kalau aku bertetangga dengan kera dan babi itu lebih aku sukai daripada bertetangga dengan seorang dari ahli bid’ah “ ( Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Ibanah Kubro 2/467 dan Lalikai dalam Syarh Usul I’tiqod 1/131 ).

Bahkan ulama salaf menolak pemberian dan hadiah dari ahli bid’ah, karena hal itu akan membawa kepada kecintaan kepada mereka, karena tabiat manusia adalah suka kepada siapa yang berbuat baik kepadanya, tidak mungkin seorang menerima pemberian dan hadiah ahli bid’ah kemudian mengaku membenci mereka, hal ini mustahil secara syar’i dan logika ( Lihat Mauqif Ahlis Sunnah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’ 2/473 ).

Al-Imam Abdullah bin Mubarak berkata : “ Aku tidak pernah melihat harta yang lebih binasa daripada harta ahli bid’ah”, dan dia berkata: “Ya Allah janganlah Engkau jadikan bagi ahli bid’ah jasa terhadapku sehingga hatiku mencintainya “ ( Dikeluarkan oleh Lalikai dalam Syarh Usul I’tiqod Ahli Sunnah 2/158 ).

Al-Imam Baghawy berkata : “ Para shahabat , tabi’in, tabi’it tabi’in dan para ulama sunnah sepakat atas permusuhan terhadap ahli bid’ah dan pemboikotan terhadap mereka “ ( Syarhus Sunnah 1/227 ).

MEMBANTAH PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN ADALAH BAGIAN DARI AGAMA

Al-Imam Ibnul Qoyyim berkata : “ Demikian sangat keingkaran salaf dan para imam terhadap bid’ah, mereka tunjukkan kepada ummat ahli-ahli bid’ah di seluruh muka bumi, mereka peringatkan ummat dari fitnah mereka dengan sangat, mereka sangat berlebihan dalam hal itu, hal yang tidak pernah mereka lakukan dalam keingkaran mereka terhadap kema’shiyatan, kedhaliman, dan permusuhan; karena madharat bid’ah dan kerusakannya terhadap agama lebih sangat dibanding kema’shiyatan dan yang semisalnya “ ( Madaarijus Salikin 1/327 ).

Membantah ahli bid’ah merupakan perkara yang masyhur di kalangan ulama; “ mereka sebutkan tempat-tempat yang dibolehkan di dalamnya seorang disebut dengan hal yang tidak disukainya – dan hal itu tidak dianggap ghibah, tetapi nasihat yang wajib- : jika orang itu adalah ahli bid’ah dari shufiyyah dan selainnya, atau seorang yang fasiq, dinampakkan kepada orang-orang yang berbolak-balik kepadanya agar di mengetahui, dikhawatirkan dia mendapat madharat darinya, maka dijelaskan keadaannya kepadanya “ ( Al-I’lan bit Taubikh Liman Dzammat Tarikh hal. 461 oleh Sakhawy ).

Dari sinilah, maka bantahan ahli sunnah atas ahli bid’ah adalah perkara yang sangat diharapkan, bahkan “ orang yang membantah ahli bid’ah adalah seorang mujahid “ ( Majmu’ Fatawa : 4/13 ).

Dalil yang sangat jelas atas hal ini adalah bahwasanya daftar nama kitab-kitab yang didalamnya terdapat bantahan ahli sunnah atas ahli bid’ah, sampai satu jilid besar, bahkan berjilid-jilid ( Ar-Raddu ‘Alal Mukhalif hal. 38 oleh Syaikh Bakr Abu Zaid ).

Bahkan telah ditulis kitab-kitab yang khusus tentang itu yang dikenal di kalangan ulama dengan nama “ Sejarah Ahli Bid’ah “( Al-I’lan bit Taubikh Liman Dzammat Tarikh hal. 577 oleh Sakhawy ).

Adapun “ orang-orang yang memutar-mutar lidah mereka untuk mengingkari kritikan terhadap kebathilan – maka walaupun di antara mereka terdapat kebaikan – , tetapi penyakit wahan dan lemahnya ketekadan telah menimpa mereka, atau karena mereka ini lemah dalam menjangkau kebenaran, bahkan pada hakekatnya perbuatan mereka ini adalah sikap lari dari tanggungjawab menjaga agama Allah dan membelanya, dalam keadaan di mana orang yang diam tidak mau mengucap kebenaran kedudukannya seperti pengucap kebathilan dari segi dosanya.

Abu Ali Ad-Daqqoq berkata : “ Orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu, dan orang yang bicara tentang kebatilan adalah setan yang bicara “.

Nabi ( telah mengkhabarkan bahwa ummat ini akan terpecahbelah menjadi 73 kelompok, yang selamat hanya satu yaitu yang mengikuti manhaj kenabian, apakah mereka-mereka ini ingkin meringkas ummat ini menjadi satu kelompok saja, bersama adanya perbedaan yang jelas secara aqidah dan manhaj ?!

Ataukah ini merupakan : seruan kepada persatuan yang menghancurkan “ kalimat tauhid “ ?! ,( Waspadalah kalian wahai kaum muslimin terhadap seruan ini !! )

Mereka ini tidak punya argumen kecuali omongan-omongan yang bathil :

Janganlah kalian menghancurkan barisan dari dalam !

Janganlah kalian masukkan debu dari luar !

Janganlah kalian timbulkan perselisihan di antara kaum muslimin !

“ Kita bertemu atas yang kita sepakati dan masing-masing dari kita saling memberi udzur atas apa yang kita perselisihkan ! “

… dan seterusnya !!

Dan selemah-lemah keimanan adalah jika dikatakan kepada mereka-mereka ini :

Adakah para pemilik kebathilan ( dari ahli bid’ah dan yang lainnya ) diam sehingga kita juga diam ?!

Ataukah mereka ini menyerang aqidah dalam keadaan kita melihat dan mendengar kemudian kita diminta untuk diam ?!

Demi Allah, tidak …

Maka kita memohonkan perlindungan kepada Allah bagi setiap muslim dari kerasukan argumen Yahudi, orang-orang yahudi ini berselisih pada Kitabullah dan menyelisihi Kitabullah … tetapi mereka menampakkan diri mereka seakan-akan bersatu dan seia sekata ! Allah telah mendustakan mereka dengan firmanNya :

(تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى(

“ Kalian kira mereka itu bersatu padahal sebenarnya hati mereka berpecah belah “ ( Al-Hasyr : 14 ) ,

dan di antara sebab mereka ini dilaknat oleh Allah adalah apa yang disebutkan Allah dalam firmanNya :

(كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ(

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. “ ( Al-Maidah : 79 ) “( Ar-Raddu alal Mukhalif hal. 75-76 ).

LANDASAN SYAR’I DALAM MEMBANTAH PEMIKIRAN-PEMIKIRAN YANG MENYIMPANG

Landasan masalah ini adalah nash-nash yang menyebutkan perintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar seperti firman Allah ( :

(وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(

Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung “ ( Ali Imran : 104 )

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “ Perintah kepada sunnah dan melarang dari bid’ah adalah perintah kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, bahkan ini adalah termasuk amal sholih yang paling utama… “ ( Minhajus Sunnah 5/253 ).

Maka tidak sepantasnya kelompok-kelompok Islam sekarang ini merasa berang jika dikritik ; karena kritikan ini termasuk tugas menegakkan keadilan dan persaksian karena Allah yang kita semua diperintahkan untuk melakukannya, meskipun atas diri-diri kita dan atas saudara-saudara seagama sebagaimana dalam firman Allah ( :

(يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا(

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan. “ ( Ali Imran : 104 )

Tidak diragukan lagi bahwa perasaan cemburu yang Allah letakkan di hati setiap mu’min atas pelanggaran kehormatanNya adalah yang mendorongnya untuk melaksanakan tugas ini, sebagaimana sabda Nabi ( :

إن الله يغار وإن المؤمن يغار وغيرة الله أن يأتي المؤمن ما حرم عليه

Sesungguhnya Allah cemburu dan seorang mu’min juga cemburu, dan kecemburuan Allah adalah jika seorang mu’min melakukan hal yang diharamkan Allah atasnya “ ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari 5/2002 dan Shahih Muslim 4/2114 ).

Jika setiap ada seorang mu’min melaksanakan tugas ini kemudian dikatakan kepadanya : Ini bukan saatnya karena orang-orang kafir sedang mengintai kita ! , maka kapan dia akan tahu kesalahannya?! kapan dia meninggalkan kesalahannya ?! dan kapan yang sakit menjadi sehat dan kapan yang lemah menjadi kuat ?, sedangkan Rasulullah ( telah bersabda :

المؤمن مرآة المؤمن والمؤمن أخو المؤمن يكف عليه ضيعته ويحوطه من ورائه

Seorang mu’min adalah cermin bagi mu’min yang lainnya, seorang mu’min adalah saudara bagi mu’min yang lainnya, dia gabungkan penghidupannya kepadanya, dan dia jaga dia dari belakangnya “ ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 4/280 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Shahihah : 926 dan Shahih Abu Dawud 3/206 ).

Bukanlah dikatakan loyal kepada Islam sedikitpun jika Engkau membantu saudaramu dalam kebatilan dengan alasan dia ini melawan orang-orang komunis, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bahwasanya Rasulullah ( bersabda :

انصر أخاك ظالما أو مظلوما فقال رجل يا رسول الله أنصره إذا كان مظلوما فرأيت إذا كان ظالما كيف أنصره قال تحجزه أو تمنعه من الظلم فإن ذلك نصره

Tolonglah saudaramu dalam keadaan dholim atau didholimi ! “ , seseorang berkata : Wahai Rasulullah aku tolong dia jika dia didholimi ,maka jika aku melihat dia dalam keadaan dholim bagaimana aku menolongnya ?, Rasulullah ( bersabda : “ Kamu halangi dia atau kamu cegah dia dari kedholiman, maka itulah pertolongan baginya “ ( Diriwayatkan oleh Bukhary dalam Shahihnya 6/2550 ). ( Madarikun Nadhar fis Siyasah hal. 69-70 ).

KENAPA PARA ULAMA LEBIH BANYAK PERHATIANNYA DALAM MEMBANTAH AHLI BID’AH LEBIH DARIPADA MEMBANTAH KEKAFIRAN ?

Membantah ahli bid’ah dan menepis kejelekan mereka adalah bentuk usaha penjagaan negeri kaum muslimin agar tidak diserang dari dalam, dengan berjihad melawan orang-orang munafiq yang menyelundup ke dalam barisan kaum muslimin dengan sembunyi-sembunyi, Allah ( berfirman :

( يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ(

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. “ ( At-Taubah : 73 )

Al-Imam Ibnul Qoyyim berkata : “ Berjihad melawan orang-orang munafiq adalah dengan menyampaikan argumen ( melawan syubhat-syubhat mereka )… berjihad melawan orang-orang munafiq ini lebih sulit daripada berjihad melawan orang-orang kafir, karena itulah maka yang melakukan jihad ini adalah para ulama yang merupakan pewaris para rasul, yang menegakkan jihad ini adalah orang-orang tertentu, yang berperan serta dalam jihad ini – walaupun jumlah mereka sedikit – tetapi mereka adalah yang paling agung kedudukannya di sisi Allah … “ ( Zadul Ma’ad 3/5 ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “ Jika ada segolongan kaum yang bukan termasuk orang-orang munafiq tetapi mereka ini amat suka mendengar omongan-omongan orang-orang munafiq, karena perkara-perkara orang-orang munafiq ini samar kepada mereka sehingga mereka menyangka bahwa omongan-omongan orang-orang munafiq adalah haq, padahal sebenarnya menyelisihi Al-Kitab, maka jadilah orang-orang ini penyeru kepada kebid’ahan-kebid’ahan orang-orang munafiq, sebagaimana dalam firman Allah ( :

( لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ(

Jika mereka berangkat bersama-sama kalian, niscaya mereka tidak menambah kalian selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kalian; sedang di antara kalian ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. “ ( At-Taubah : 47 ),

maka harus dijelaskan keadaan orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan orang-orang munafiq ini, bahkan fitnah mereka ini lebih besar, karena pada diri mereka terdapat keimanan yang mengharuskan wala’ kepada mereka, bersamaan dengan itu mereka telah masuk ke dalam bid’ah-bid’ah orang-orang munafiq yang merusak agama, maka tidak boleh tidak harus memperingatkan umat dari bahaya mereka, meskipun harus menyebut nama-nama mereka dan menunjuk hidung-hidung mereka, bahkan walaupun mereka ini tidak menerima langsung bid’ah-bid’ah ini dari orang-orang munafiq, tetapi mereka ikut-ikutan mengatakannya dengan menyangka bahwa dia adalah petunjuk, kebaikan, dan agama … “ ( Majmu’ Fatawa 28/233 ).

Demikian juga ahli bid’ah juga membantu musuh-musuh Islam dalam menghancurkan Islam, karena musuh tidak akan bisa masuk ke dalam rumahmu kecuali jika jendelanya terbuka atau lemah, demikian juga kelompok-kelompok sempalan dari Islam yang menyeleweng dari jalan yang lurus adalah jendela-jendela orang-orang kafir untuk masuk menghancurkan Islam, apakah kaum muslimin menutup mata terhadap peranan kelompok shufiyyah yang membantu orang-orang kafir dalam menjajah kaum muslimin ?, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “ Orang-orang Syi’ah Rofidhoh biasa meminta bantuan orang-orang kafir dalam melawan kaum muslimin, kaum muslimin telah melihat sendiri bahwa jika kaum muslimin diserang oleh orang-orang kafir, maka orang-orang rofidhoh ini selalu membela orang-orang kafir, sebagaimana hal ini terjadi pada Jenghis Khan raja Tartar yang kafir, ketika dia menyerang kaum muslimin maka orang-orang rofidhoh inilah yang membantunya, demikian juga ketika cucunya yaitu Holako menyerang kaum muslimin di Khurasan, Iraq, dan Syam, maka bantuan orang-orang rofidhoh kepada mereka adalah sangat masyhur dan tidak tersembunyi bagi siapapun, orang-orang rofidhoh ini adalah pembantu yang paling setia kepada Holako di Iraq dan Khurasan, di antara orang-orang rofidhoh ini ada yang bernama Ibnu ‘Alqomi yang menjabat sebagai salah seorang menteri Kholifah di Baghdad, Ibnu ‘Alqomi ini selalu membuat makar terhadap kholifah dan kaum muslimin, berusaha memotongi gaji-gaji pasukan kholifah sehingga mereka lemah, melarang kaum muslimin dari memerangi pasukan Tartar dan membuat berbagai makar, sehingga masuklah orang-orang tartar ini ke kota Baghdad dan membunuh kaum muslimin dengan keji, bilangan kaum muslimin yang terbunuh dikatakan mencapai sekitar 15 juta jiwa … maka orang-orang ahli bid’ah ini lebih berbahaya bagi kaum muslimin dibandingkan semua musuh yang lainnya … “ ( Majmu’ Fatawa 4/13 ).

Karena inilah maka para ulama salaf memandang bahwa membela sunnah dan memerangi bid’ah adalah jihad yang paling utama, Al-Imam Yahya bin Yahya berkata : “ Membela sunnah lebih afdhol daripada jihad fi sabilillah “ ( Diriwayatkan oleh Al-Harowy dalam Dzammil Kalam hal. 111 ).

Abu Sa’id Al-Khudry berkata : “ Memerangi orang-orang khowarij lebih agung di sisiku daripada memerangi orang-orang kafir “ ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf 15/303 dan Ahmad dalam Musnadnya 3/33 dengan sanad yang hasan ).

Ibnu Hubairoh berkata : “Hadits Abu Sa’id ini menjelaskan bahwa memerangi orang-orang khowarij lebih diutamakan daripada memerangi kaum musyrikin, dan hikmah yang terkandung dari hal ini bahwa memerangi orang-orang khowarij adalah menjaga modal (agama ) Islam, sedangkan memerangi kaum musyrikin adalah seperti mencari laba; dan menjaga modal lebih penting daripada mencari laba “ ( Fathul Baary 12/301 ).

 

BERSIKAP KERAS DI DALAM MEMBANTAH PENYIMPANGAN BUKAN BERARTI LOYAL KEPADA ORANG-ORANG KAFIR

Hukum asal dalam perintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar adalah dengan cara yang halus dan lembut sebagaimana dalam firman Allah ( :

( ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ(

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. “ ( An-Nahl : 125 )

Tetapi jika kemungkaran tidak bisa diubah kecuali dengan kekerasan maka tidak apa-apa jika sikap keras dipakai, walaupun terhadap kaum muslimin, tidakkah Engkau melihat bahwa Allah membolehkan perang untuk mengubah kemungkaran, dan tidak ada sikap yang lebih keras dibanding perang, Allah ( berfirman :

( وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ(

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah “ ( Al-Hujurat : 9 ),

Maka kadang-kadang seorang mu’min perlu bersikap keras di dalam mengingkari kemungkaran saudaranya lebih daripada sikapnya terhadap musuhnya, tidakkah Engkau melihat bagaimana Musa bersikap lemah lembut kepada Fir’aun, dan bersikap keras kepada Harun saudaranya, sampai Musa “memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya “ ( Al-A’raf : 150 ).

Bahkan kadang Rasulullah ( mencerca dengan keras para ulama dari kalangan sahabat jika melakukan kesalahan, seperti tegurannya kepada Mu’adz bin Jabal ketika dia menjadi imam kemudian memanjangkan sholat sehingga memberatkan ma’mum : “ Apakah Engkau mau menjadi pembuat fitnah wahai Mu’adz ?! “ ( Muttafaq Alaih ), di sisi lain Rasulullah ( bersikap lemah lembut dengan seorang Baduwi yang kencing di masjid ( Diriwayatkan oleh Bukhari dan yang lainnya ).Ketika Usamah bin Zaid membunuh seorang dalam peperangan sesudah orang tersebut mengucapkan kalimat tauhid Rasulullah ( menegurnya dengan keras : “ Wahai Usamah ! kamu bunuh dia padahal dia sudah mengucap لا إله إلا الله ?! “. Usamah berkata : “ Tidak henti-hentinya Rasulullah ( mengulang-ulang ucapannya sampai aku berandai-andai jika aku belum masuk Islam sebelum saat itu “ ( Diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya ).

Usamah bin Zaid mendapatkan pelajaran yang berharga dari teguran Rasulullah ( di atas di zaman fitnah setelah terbunuhnya Utsman bin Affan sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Adz-Dzahaby : “ Dia menahan tangannya ( dari menumpahkan darah kaum muslimin ), dan berdiam di rumahnya “ ( Siyar A’lam Nubala’ 2/501 ).

Allahu Akbar ! alangkah agungnya tarbiyyah Nabi (! dan alangkah hinanya tarbiyyah kelompok-kelompok khowarij !, kelompok-kelompok khowarij ini mengharamkan kritikan dan bantahan kepada ahli bid’ah dalam keadaan mereka halalkan darah-darah kaum muslimin yang tidak berdosa dengan nama “ jihad “!.

PENUTUP
Jelaslah dari uraian dia atas bahwa membantah para pengusung pemikiran-pemikiran yang menyimpang adalah salah satu dari pokok-pokok yang agung dari agama, bahkan merupakan jihad fi sabilillah yang paling utama, karena ahli bid’ah lebih berbahaya dibandingkan orang-orang kafir.Membantah ahli bid’ah adalah salah satu pokok-pokok manhaj salaf yang dipraktekkan oleh para ulama salaf dari masa ke masa. Semoga Allah selalu memberikan keteguhan kepada kita semua di atas jalan yang lurus dan manhaj yang shahih.

والله أعلم بالصواب

Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifull

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.