Kisah taubatnya wanita tukang sihir

💧 *Kisah taubatnya wanita tukang sihir …*

✍Dari Aisyah, berkata, “Seorang wanita dari penduduk Daumatul Jandal datang kepadaku, ia datang untuk mencari Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam yang baru saja wafat, ia hendak bertanya tentang beberapa perkara (ilmu sihir) yang telah ia masuki namun ia belum mempraktekannya.” Aisyah berkata kepada Urwah, “Wahai anak saudaraku, aku melihat wanita itu menangis ketika tidak menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam untuk memberi jawaban kepadanya, maka iapun menangis hingga aku kasihan padanya.

Wanita itu berkata “Aku takut kalau aku telah binasa, aku meimiliki seorang suami yang pergi meninggalkan aku lalu aku menemui seorang nenek dan aku mengeluhkan kepadanya hal itu, nenek itu berkata, “Jika engkau melakukan apa yang aku perintahkan kepadamu maka aku akan menjadikan suamimu balik kepadamu”. Maka tatkala malam hari nenek itu datang kepadaku dengan membawa dua ekor anjing yang hitam, akupun menunggangi salah satu anjing tersebut dan nenek itu menunggangi anjing yang kedua, dan tidak ada apa-apa hingga akhirnya kami sampai di Babil lalu tiba-tiba ada dua orang pria yang tergantung kaki-kaki mereka. Kedua lelaki itu berkata, “Apa yang membawamu kemari?”, aku berkata, “Kami ingin mempelajari sihir”, mereka berkata, “Sesungguhnya kami adalah fitnah maka janganlah engkau kafir (kepada Allah), kembalilah!”, namun aku enggan, aku katakana kepada mereka, “Tidak”, mereka berdua berkata, “Pergilah ke tanur itu lalu kencinglah dalam tanur tersebut!”, lalu akupun pergi dan aku merasa takut sehingga aku tidak melakukan apa-apa, lalu aku kembali kepada mereka berdua. Mereka berkata, “Apakah engkau telah melakukannya?”, aku katakana, “Iya”, mereka berkata, “Apakah engkau melihat sesuatu?”, aku berkata, “Aku tidak melihat apa-apa”, mereka berkata, “Berarti engkau belum melakukannya, kembalilah ke negerimu dan janganlah kafir”, namun aku enggan dan enggan. Mereka berkata, “Pergilah ke tanur itu dan kencinglah di tanur tersebut!”, maka akupun pergi dan aku merasa takut dan merinding lalu aku kembali kepada mereka berdua dan aku katakan kepada mereka berdua bahwasanya aku telah melakukannya. Mereka berkata, “Apakah yang engkau lihat?”, aku berkata, “Aku tidak melihat apa-apa”, mereka berkata, “Engkau telah berbohong, engkau belum melakukannya, kembalilah ke negerimu dan janganlah engkau kafir sesungguhnya engkau berada pada urusanmu yang sangat penting!”, namun aku enggan dan enggan. Mereka berkata, “Pergilah ke tanur itu dan kencinglah di dalamnya!”, lalu akupun pergi dan akupun kencing di tanur itu lalu aku melihat seekor kuda yang terkekang dengan besi keluar dari tubuhku lalu terbang ke langit lalu menghilang hingga tidak terlihat olehku. Lalu aku mendatangi mereka berdua dan kukatakan kepada mereka bahwa aku telah melakukannya, mereka berkata, “Apakah yang kau lihat?”, aku berkata, “Aku melihat seekor kuda yang terkekang dengan besi keluar dari tubuhku lalu terbang kelangit hingga hilang dari pandanganku”, mereka berkata, “Engkau jujur, sesungguhnya itu adalah imanmu yang telah keluar darimu, maka pergilah!”, aku berkata kepada si nenek, “Demi Allah, aku belum mempelajari apa-apa dan mereka berdua tidak mengatakan apa-apa kepadaku”, nenek itu berkata, “Tidak, bahkan tidaklah engkau menghendaki sesuatu kecuali engkau tinggal mengambil biji gandum ini dan tanamlah!” kemudian akupun menanamnya dan aku berkata, “Keluarlah bunganya!”, maka biji gandum itupun mengeluarkan bunganya, “Kemudian aku berkata, “Jadilah basah (agak masak)!”, maka gandum itupun mulai membasah (agak masak), lalu aku berkata, “Terbukalah!” maka gandum itupun terbuka, lalu aku berkata, “Keringlah (masaklah)!”, lalu gandum itupun masak. Lalu aku berkata, “Haluslah!”, maka gandum itu menjadi halus (seperti selesai digiling), lalu aku berkata, “Jadilah roti!”, maka jadilah gandum itu roti. Tatkala aku mengetahui bahwa tidaklah aku menghendaki sesuatu kecuali ada di tanganku maka akupun menyesal, demi Allah wahai Ummul mukminin aku tidak melakukan apa-apa, dan aku tidak akan melakukannya selamanya”[Tafsir At-Thobari 1/460-461]

Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ar-Robi’ bin Sulaiman hingga Aisyah sebagaimana di atas dengan tambahan setelah lafal di atas sebagai berikut,

Aisyah berkata, “Akupun bertanya kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam sepeninggal Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dan mereka tatkala itu masih banyak maka mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan kepada sang wanita itu, semuanya takut untuk memberi fatwa kepadanya tanpa ilmu, hanya saja Ibnu Abbas telah berkata kepadanya (atau sebagian orang yang ada di sisi Ibnu Abbas), “Jika kedua orangtuamu masih hidup atau salah satunya”

Ibnu Katsir berkata, “Isnadnya jayyid hingga Aisyah”[Tafsir Ibnu Katsir 1/143]

Para sahabat merasa sulit untuk berfatwa dengan sesuatu amalan yang bisa dilakukan oleh wanita tersebut untuk menghapuskan dosa-dosanya, namun Ibnu Abbas memandang bahwa berbakti kepada orangtua bisa menjadi penebus dosa-dosanya.

📚Dinukil dari artikel Ust. DR. Firanda, Lc. MA oleh Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.