KEDUSTAAN DAN KESESATAN BUKU MEMBONGKAR KEDOK SALAFIYYUN SEMPALAN !

KEDUSTAAN DAN KESESATAN
BUKU MEMBONGKAR KEDOK SALAFIYYUN SEMPALAN !

Disusun oleh : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum

Di antara karakteristik ahli bidah dari masa ke masa bahwasanya mereka selalu mencela dan mencoreng citra Ahli Sunnah wal Jamaah untuk menjauhkan umat dari al-haq, Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi berkata : Ciri ahli bidah adalah mencela ahlil atsar ( Ashlu Sunnah hal. 24 ), Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni berkata : Tanda yang paling jelas dari ahli bidah adalah kerasnya permusuhan mereka kepada pembawa Sunnah Rasulullah ( , mereka melecehkan dan menghina ahli sunnah dan menamakan ahli sunnah dengan Hasyawiyah, Jahalah, Dhahiriyyah, dan Musyabbihah ( Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 116 ).
Di antara deretan buku-buku hitam yang mencela Salafiyyin dan Dakwah Salafiyyah adalah buku Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan yang beredar baru-baru ini di tanah air, buku ini tidak jauh berbeda isinya dari buku para pendahulunya seperti Salafiyyah Marhalah Zamaniyyah oleh Said Ramadhan Al-Buthi ! atau Salaf wa Salafiyyun Ruyah minad Dakhil oleh Ibrahim Asas !, buku kecil ini sarat dengan syubhat yang menyesatkan serta kedustaan atas Salafiyyin dan Dakwah Salafiyyah.
Untuk menunaikan kewajiban kami dalam nasehat kepada kaum muslimin dan membela dakwah yang haq maka dengan memohon pertolongan kepada Alloh akan kami paparkan sebagian dari kesesatan dan kedustaan buku ini agar menjadi kewaspadaan dan peringatan bagi kita semua.

PENERBIT DAN PENGEDAR BUKU INI

Buku ini disusun oleh Tim Studi Kelompok Sunniyyah dan diterbitkan oleh Pustaka MIM pada bulan Rabiul Awwal 1427 H / April 2006 M, pengedar buku ini adalah HASMI yang berada di bawah naungan Yayasan Al-Huda Ciomas Bogor.
Sebagai catatan bahwa beberapa bulan yang lalu telah datang pertanyaan sebagian pembaca Majalah Al-Furqon kepada kami yang belum sempat kami jawab yaitu : Apakah HASMI termasuk kelompok Sururi ? , Insya Alloh dengan menelaah buku yang disebarkan oleh mereka ini bisa diraba tentang jatidiri mereka.

MENYEBARKAN KERAGUAN TERHADAP ISTILAH SALAFIYYAH DAN SALAFIYYUN

Tim Studi Kelompok Sunniyyah ( TSKS ) berkata dalam halaman 7-8 dari buku mereka ini : Manhaj Ahli Sunnah terkadang pula disebut atau dinamakan dengan istilah Salafiyyah, walaupun sebenarnya nama Salafiyyah tidak mendapatkan legitimasi resmi sebagai nama lain dari manhaj Ahlus Sunnah. Salafiyyah hanyalah merupakan kata atau istilah bantu untuk memastikan bahwa As-Salaf Ash-Shalih ( tiga generasi pertama ) berjalan di atas manhaj tersebut !
Bandingkan perkataan mereka ini dengan perkataan Said Ramadhan Al-Buthi dalam judul kitabnya: Salafiyyah adalah fase kurun waktu yang penuh berkah dan bukan madzhab Islami !
Perkataan Al-Buthi ini telah dibantah oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan di dalam kitab beliau Nadharat wa Taqibat ala ma Fi Kitabi Salafiyyah LiMuhammad Said Ramadhan minal Hafawat, beliau berkata dalam kitab tersebut : “Penafsiran bahwasanya Salafiyyah hanyalah suatu kurun waktu dan bukan jamaah adalah penafsiran yang gharib dan batil, apakah dikatakan bahwa kurun waktu adalah Salafiyyah ? ini tidak pernah dikatakan oleh seorang pun dari manusia, yang benar bahwasanya istilah Salafiyyah ditujukan pada jamaah orang-orang yang beriman yang hidup di kurun pertama dari masa Islam yang mereka berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ( dari orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik yang mereka ini disifati oleh Rasulullah ( dalam sabdanya :
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
“ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang datang sesudah mereka kemudian yang datang sesudah mereka “ ( Muttafaq Alaih )
Ini adalah sifat bagi suatu jama’ah dan bukan sifat bagi suatu kurun waktu, ketika Nabi ( menyebut tentang perpecahan umat beliau mengatakan sesudahnya sifat semua kelompok ini Semuanya di neraka kecuali satu dan beliau mensifati satu kelompok yang selamat ini adalah yang mengikuti manhaj salaf dan berjalan di atasnya, beliau bersabda : Mereka adalah yang berada di atas jalan yang aku tempuh hari ini dan para sahabatku Hal ini menujukkkan bahwa di sana ada jamaah salafiyyah yang terdahulu dan ada jamaah salafiyyah belakangan yang mengikuti manhaj jamaah salafiyyah yang terdahulu, dan di lain pihak ada kelompok-kelompok yang menyelisih jamaah salafiyyah dan diancam dengan neraka
TSKS berkata dalam buku mereka ini hal. 11 : Pada dekade terakhir, muncul suatu arus pengajian atau pemahaman yang menamakan diri mereka sebagai Salafiyyun … penamaan ini merupakan hal baru ( bidah ) ! …
Perkataan TSKS ini telah dibantah oleh Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid yang menjelaskan tentang disyariatkannya penamaan Salafiyyun, beliau berkata : Jika disebut salaf atau salafiyyun atau salafiyyah, maka dia adalah nisbah kepada Salafush Shalih : para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, bukan orang-orang yang cenderung kepada hawa nafsu dari generasi sesudah sahabat dan menyempal dari jalan para sahabat dengan nama atau simbol mereka inilah yang disebut khalafi, nisbah kepada khalaf -, adapun orang-orang yang teguh di atas manhaj kenabian maka mereka menisbahkan diri kepada Salafush Shalih sehingga mereka disebut salaf dan salafiyyun, dan nisbah kepada mereka adalah salafi ( Hukmul Intima hal. 90 ).

MELECEHKAN PARA ULAMA

Tim Studi Kelompok Sunniyyah ( TSKS ) berkata dalam halaman 13 dari buku mereka ini : Ketika pada tahun 1990 terjadi perang Kuwait, muncullah beberapa bentuk pertentangan di antara masyayikh yang ada di Saudi Arabia … Yang dimaksud para masyayikh adalah beberapa masyayikh di Najd dan Madinah. Dari segi ilmu, mereka semua di bawah level Lajnah Daimah atau Hayah Kibar al-Ulama .
Kami katakan : TSKS hendak menyamakan level antara para ulama Madinah seperti Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Syaikh Muhammad Aman Al-Jami, Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali, Syaikh Shalih bin Sad As-Suhaimi, dan yang lainnya dengan para tukang khotbah muda dari Najd seperti Salman Al-Audah, Safar Hawali, Aidh Al-Al-Qarni, dan yang lainnya ! , setiap orang yang jujur dan obyektif akan mengatakan bahwa Salman cs tidaklah selevel dengan para ulama Madinah dari segi usia apalagi dari segi ilmu !
Dan realita yang sesungguhnya bahwa perbandingan antara dua kelompok ini adalah perbandingan antara para ulama dengan para tukang khotbah seperti yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud tentang zaman ini :
إنكم في زمان كثير علماؤه، قليل خطباؤه، وإن بعدكم زمانًا كثير خطباؤه، والعلماء فيه قليل
“ Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di zaman yang banyak ulamanya dan sedikit tukang khotbahnya, dan sesungguhnya akan datang sesudah kalian suatu zaman yang banyak tukang khotbahnya dan sedikit ulamanya ( Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Kitabul Ilm hal. 109 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam takhrijnya ).
Ketika para tukang khotbah ini ( yaitu Salman cs ) menampakkan bidah dan fitnah maka para ulama Madinah seperti Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Syaikh Muhammad Aman Al-Jami, Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali memperingatkan umat dari kesesatan mereka, bantahan para ulama Madinah terhadap Salman cs ini didukung dan diberi rekomendasi oleh Ketua Lajnah Daimah dan Hayah Kibar al-Ulama Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan anggota Lajnah Daimah dan Hayah Kibar al-Ulama Syaikh Shalih Al-Fauzan dan yang lainnya.
TSKS berkata dalam hal. 13 dari buku mereka ini : Pada waktu yang sama di Yaman pun terdapat pula seorang tokoh ahli hadits yang sangat terkenal dalam hal menjarh ( menilai negatif ) para dai, sehingga pada saat itu mulai terlahirlah arus porak poranda .
Kami katakan : Pelecehan ahli bidah kepada Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii ini bukanlah yang pertama kali, dan orang yang melecehkan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii dikatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai seorang yang jahil atau pengikut hawa nafsu ( Dari kaset Silsilatul Huda wan Nur no. : 851 ).
TSKS berkata dalam hal. 19 dari buku mereka ini : Pemimpin-pemimpin asli mereka, walaupun sangat sedikit, tetapi berpencar di beberapa negeri di Timur Tengah. Di antara para pemimpin tersebut ada yang gemar mengaku sebagai murid dari salah seorang ulama hadits terkenal yang sangat kita hormati. Pengakuan ini masih harus dibuktikan .
Kami katakan : Sindiran para penulis buku ini kepada Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi tidaklah berarti, karena setiap penulis biografi Syaikh Al-Albani selalu mencantumkan nama Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi di dalam deretan nama murid-murid Syaikh Albani, dan tidak satupun dari Salafiyyin yang menganggap beliau sebagai pemimpin sebuah jamaah yang dibaiat dan ditaati sebagaimana dilakukan oleh para hizbiyyin terhadap amir-amir jamaah mereka !.

MENYAMAKAN PARA ULAMA SALAFIYYIN DENGAN MURJIFUN

TSKS berkata dalam hal. 21 dari buku mereka ini : Ulah kaum sempalan tersebut memang cukup ganjil dan mungkin yang pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Kalaupun ada yang mendahului mereka dalam meniti manhaj pemorak-porandaan seperti ini maka tidak lain adalah kaum Murjifun atau destroyer ( perusak ) yang ada di Madinah pada zaman Rasulullah ( .
Kami katakan : Perkataan mereka ini hanyalah daur ulang dari perkataan gembong mereka Salman Al-Audah dalam kasetnya Tahrirul Ardhi Am Tahrirul Insan yang menyebut bahwa para ulama Salafiyyin di Madinah sebagai Murjifin di Madinah ( Lihat Al-Quthbiyyah cet. kedua hal. 150 ).
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz telah membantah perkataan Salman ini dengan mengatakan : Para saudara kita masyayikh yang dikenal yang berada di Madinah kami samasekali tidak meragukan tentang mereka, mereka adalah para pemilik aqidah thayyibah, mereka adalah Ahli Sunnah wal jamaah, seperti Syaikh Muhammad Aman bin Ali Al-Jami, Syaikh Rabi bin Hadi, Syaikh Shalih bin Sad As-Suhaimi, Syaikh Falih bin Nafi, dan Syaikh Muhammad bin Hadi, semuanya kami kenal dengan istiqomah, ilmu, dan aqidah thayyibah ( Bayan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz tertanggal pada 28/7/1412 H di Makkah sebagaimana dalam Al-Quthiyyah cet. kedua hal. 151 ).

MEMBELA AHLI BIDAH

TSKS berkata dalam hal. 17 dari buku mereka ini : 6. Menuduh tanpa bukti dan memutarbalikkan fakta tanpa malu, khususnya tuduhan kepada para ulama yang tertulis dalam daftar musuh-musuh Zionis Internasional, seperti Sayyid Quthb Rahimahullah yang dihukum gantung oleh antek-antek zionis di Mesir .
Kami katakan : Sayyid Quthb bukan seorang ulama sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan , Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, dan Syaikh Shalih Al-Luhaidan, bahkan banyak sekali perkataan-perkataan Sayyid Quthb yang bidah dan sesat seperti mencela Nabi Musa  , mencela para sahabat, mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluq, menganut faham hulul dan jabriyyah, menolak sifat-sifat Alloh dengan menempuh cara-cara jahmiyyah, menolak hadits-hadits yang shahih dalam masalah aqidah, mengimani faham sosialisme, dan yang lainnya .
Pembelaan kelompok Quthbiyyah Sururiyyah terhadap Sayyid bukanlah hal yang baru, gembong mereka Muhammad Surur berkata dalam kitabnya Dirasat fi Sirah Nabawiyyah hal. 321-323 : Sayyid Quthb dizhalimi oleh dua kelompok manusia :
Dizhalimi oleh sebagian murid-murid dan pengagumnya, karena mereka sangat kagum kepadanya, kagum kepada keteguhannya di atas kebenaran dan kesabarannya menerima ujian di jalan Alloh, kagum dengan keluasan wawasannya, kebersihan fitrahnya, dan kedalaman pengetahuannya … dan kami menyertai mereka dalam hal ini semua …
Pembelaan senada juga datang dari Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam risalahnya Arbauna Nashihatan Liishlahil Buyut hal. 23-25, Aidh Al-Qarny dalam kitabnya Lahnul Khulud hal. 20, Salman Al-Audah dalam kasetnya Taqwimur Rijal, dan masih banyak lagi dari kalangan mereka.

MENCOMOT FATWA LAJNAH DAIMAH YANG SEJALAN DENGAN KEPENTINGAN MEREKA

Akhir-akhir ini banyak kelompok-kelompok bidah di tanah air yang beramai-ramai mencomot Fatwa Lajnah Daimah yang mengkritik sebagian tulisan dari Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi, di antara kelompok-kelompok bidah tersebut adalah HASMI As-Sururi di dalam akhir dari buku yang mereka edarkan : Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan – yang sedang kita bahas sekarang ini -, dan MMI Al-Baasyiri Al-Khariji di dalam selebaran mereka yang berjudul Aqidah Jamaah Salafiyyah Dalam Tinjauan Syari.
Sikap para hizbiyyun ini sangat mengherankan sekali, karena sepanjang sejarah perjalanan mereka baru kali ini mereka begitu antusias untuk menukil sebuah fatwa dari para ulama Saudi Arabia, tempo hari mereka menuding para ulama Saudi hanyalah ulama haidh dan nifas, tidak faham realita, antek-antek CIA, ulama penguasa, dan sederet tuduhan-tuduhan keji yang lainnya !, kemudian hari ini dengan serempak mereka menukil sebuah fatwa dari para ulama Saudi Arabia dan menyebarluaskannya ?!
Sehubungan dengan Fatwa Lajnah Daimah ini kami nukilkan tanggapan dari Syaikh Dr. Husain bin Abdul Aziz Alu Syaikh Imam Masjid Nabawi dan Qadhi di Pengadilan Tinggi Madinah Nabawiyyah – di dalam ceramah beliau yang berjudul Ala Thariqi Sunnah pada tanggal 5 Rabiul Awwal 1422 H :
Penanya berkata : Fadhilatusy Syaikh bagaimana pendapat Syaikh tentang Fatwa yang dikeluarkan oleh Lajnah Daimah tentang kedua kitab Syaikh Ali Al-Halabi : At-Tahdzir dan Shaihatu Nadzir , bahwasanya kedua kitab ini mengajak kepada pemikiran Irja yaitu bahwasanya amalan buanlah syarat sahnya iman, padahal kedua kitab ini tidak membahas masalah syarat sahnya iman atau syarat kesempurnaan iman ?!
Syaikh Dr. Husain bin Abdul Aziz Alu Syaikh menjawab : Yang pertama wahai saudara-saudaraku ! Syaikh Ali dan Masyayikh yang lainnya satu jalan, Syaikh Ali adalah saudara tua sebagaimana para masyayikh yang mengeluarkan fatwa ini, Syaikh Ali mengenal mereka, dan mereka juga mengenal Syaikh Ali, mereka memiliki hubungan baik dengan Syaikh Ali.
Syaikh Ali telah diberi Alloh ilmu dan bashirah untuk mengatasi masalah ilmiyyah antara dia dan Masyayikh, dan masalah ilmiyyah ini untuk menjelaskan al-Haq.
Adapun Syaikh Ali dan gurunya – Syaikh Al-Albani – : setiap orang yang di atas jalan Sunnah tidak ada satupun yang meragukan bahwasanya mereka di atas manhaj yang diridhai walillahil hamdu -.
Syaikh Ali wa lillahil hamdu termasuk para pembela manhaj ahli sunnah wal jamaah.
Fatwa tersebut tidak menashkan bahwa Syaikh Ali murjiah tidak akan beliau mengucapkan ini !! khilaf antara Fatwa ini dengan Syaikh Ali pada masalah kitab, dan diskusi bersamanya pada perkara ini.
Keberadaan orang-orang lain yang hendak memaksakan kandungan Fatwa ini bahwasanya dia mewajibkan hukum atas Syaikh Ali bahwa dia murji, maka ini tidak saya fahami , dan aku menyangka bahwa saudara-saudara di sini juag tidak memahami ini, dan Fatwa ini walillahil hamdu tidak menyelisihi hubungan antara Syaikh Ali dan Masyayikh, mereka menghormati dan menghargai Syaikh Ali.
Syaikh Ali telah membantah dengan bantahan ilmiyyah sebagaimana dilakukan oleh Salaful Ummah – ; tidak ada dari kita melainkan mengambil dan memberi, setiap orang diambil perkataannya dan juga dibantah ; kecuali pemilik kubur ini, yaitu Rasulullah ( sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Malik : Setiap ucapan diterima dan ditolak kecuali perkataan Rasul .
Demikianlah umat ini ; berselisih pada awalnya antara yang mengambil dan yang menolak ; tetapi manusia dari segi asalanya kadang-kadang di tengah ucapan-ucapannya ada ucapan-ucapan yang lain yaitu yang dinamakan dengan perkataan-perkataan spontan dengan sebab adanya perdebatan, dan dari sebab tabiat asli manusia -, yang terdapat di dalamnya sedikit keras, bahkan juga di antara para sahabat Radhiyallahu Anhum sebagaimana terjadi antara Abu Bakar dan Umar, dan antara yang lainnya dari kalangan sahabat seperti antara Aisyah dan Ali -.
Kesimpulannya, bahwa fatwa ini dalam pandanganku tidak menghukumi, dan tidak menashkan dengan nash yang sharih bahwa Syaikh Ali atas manhaj ini, sesungguhnya dia adalah munaqasyah ( pembicaraan ) tentang sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh.
Syaikh Ali telah menulis kitab ( Ajwibah Mutalaimah ) sesudah keluarnya Fatwa, bukan dalam rangka membantah, tetapi dalam rangka menjelaskan manhajnya dan manhaj gurunya Syaikh Al-Albani -.
Yang kami yakini dan yang kami pertanggungjawabkan di hadapan Alloh : Bahwasanya Syaikh Ali dan gurunya Syaikh Al-Albani paling jauh di antara manusia dari madzhab Murjiah sebagaimana telah kami katakan sebelumnya -.
Syaikh Ali demikian juga Syaikh Al-Albani – jika ditanyakan kepadanya : Apakah definisi Iman ? : Tidak akan kita dapati dalam ucapannya perkataan Murjiah yang mengatakan bahwa amalan tidak masuk dalam keimanan.
Bahkan nash-nash Syaikh Al-Albani menashkan bahwa definisi Iman adalah : Keyakinan dengan hati, perkataan dengan lisan, dan amalan dengan anggota tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemashiyatan. ( Lihat Tanbihat Mutawaimah hal. 553-557 ).

PENUTUP

Inilah yang bisa kami sampaikan kepada para pembaca tentang buku ini, sebetulnya masih banyak hal-hal lain dari kesesatan dan kedustaan buku ini yang perlu dijelaskan, tetapi Insya Alloh yang telah kami paparkan sudah bisa memberikan peringatan kepada kita tentang bahaya buku ini. Semoga Alloh selalu menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan nasehat dan mengikutinya. Amin.

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.