Kebahagian yang sempurna …

🌹 Kebahagian yang sempurna …

✍Kebahagiaan merupakan kebutuhan asasi setiap manusia. Banyak manusia yang salah mendeskripsikan kebahagian. Mereka menganggap kebahagiaan itu diperoleh manakala seseorang sudah mendapatkan apa yang dia angan-angankan.
Sebagian besar manusia berorientasi kebahagiaan itu pada urusan duniawi. Sebagian kecil lainnya yang berorintasi pada urusan ukhrawi.
Islam memandang kebahagiaan itu pada dasarnya merujuk pada hati yang bersih dan bertakwa.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ.
وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ
Sesungguhnya berbahagialah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),
dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. (Al-A’la: 14-15)

Imam al-Ghazali mendefinisikan kebahagiaan itu sebagai sebuah kondisi spiritual, saat manusia berada dalam satu puncak ketakwaan. Bahagia merupakan kenikmatan dari Allah. Kebahagiaan itu adalah perwujudan dari mengingat Allah.
Dan puncak kebahagiaan manusia adalah jika ia berhasil mencapai tahap makrifat, telah mengenal Allah. Kebahagiaan datang bila seseorang merasakan nikmat dan kesenangan dari dalam hatinya. Namun kesenangan itu menurut tabiat kejadian masing-masing manusia berbeda-beda sesuai dengan orintasi hidupnya. Sedangkan kebahagiaan hakiki hanya bisa diperokeh dengan makrifat (mengenal) Allah.
(Ihya’Ulumuddin, Imam Al-Ghazaly)

Kesenangan mata ialah melihat rupa yang indah. Kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu. Demikian pula semua anggota tubuh yang lain dari tubuh manusia. Adapun kenikmatan hati ialah teguh makrifat kepada Allah. Hati itu dijadikan untuk mengingat Tuhan. Dari sanalah sumber cahaya kebahagiaan manusia. Betapa banyak manusia yang bergelimang dengan kemewahan dunia dan melimpahnya harta namun tidak dapat merasakan kebahagian.
Dan betapa banyak manusia yang berada dalam kesempitan harta tetapi miliki kebahagiaan yang luas tiada batas.
Sahabat Bilal bin Rabbah رضي الله عنه, walau ditindih dengan batu ditengah terik matahari yang panas menyengat, tetapi beliau merasakan kebahagiaan yang nyata disaat hatinya tunduk patuh kepada Allah, Rabbnya dengan melantunkan ucapan Ahad … Ahad .. di bibirnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata,

وليس للقلوب سرور ولا لذة تامة إلاّ في محبة الله والتقرب إليه
“Tidak ada kegembiraan bagi hati, tidak pula kelezatan yang sempurna, kecuali dalam kecintaan kepada Allah ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya.”
[Majmu’ Al-Fatawa, 28/32]

Sebuah syair dalam bahasa Arab menyebutkan,

ولست أرى سعادة جمع مال
ولكن التقى لهي السعيد
“ kebahagiaan bukanlah mengumpulkan harta benda,
tetapi takwa (kepada Allah) itu lah yang bahagia.

Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.✨…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.