Karunia berupa Sunnah

๐Ÿ”ฅ *Karunia berupa Sunnah…*

โœDi antara karunia dan nikmat Allah yang terbesar bagi ummat ini adalah diutusnya Nabi Muhammad ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู….
Allah berfirman,

ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ู…ูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฅูุฐู’ ุจูŽุนูŽุซูŽ ูููŠู‡ูู…ู’ ุฑูŽุณููˆู„ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’ ูŠูŽุชู’ู„ููˆ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุขูŠูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽูŠูุฒูŽูƒูู‘ูŠู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูุนูŽู„ูู‘ู…ูู‡ูู…ู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉูŽ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ููˆุง ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ู ู„ูŽูููŠ ุถูŽู„ุงู„ู ู…ูุจููŠู†ู.
โ€œSungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman tatkala Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur-an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya, sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.โ€(Ali โ€˜Imran: 164)

Dengan diutusnya Rasululloh Muhammad ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…, Allah menjadikan mata yang buta terbuka, menjadikan telinga yang tuli mendengar dan membuka qalbu yang terkunci mati. Dengan diutusnya Rasulullah, Allah menunjuki orang yang sesat, memuliakan orang yang hina dan menguatkan orang yang lemah, serta menyatukan orang dan kelompok setelah bercerai-berai dan bermusuhan.

Berkata Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡,
Karunia ini yang telah Allah berikan kepada hamba-hambaNya, merupakan karunia yang paling besar bahkan karunia yang paling mendasar, yaitu anugerah dengan adanya Rasul yang mulia tersebut kepada mereka, yang dengannya Allah menyelamatkan mereka dari kesesatan, dan memelihara mereka dengannya dari kehancuran, maka Allah berfirman, โ€œSungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus pada mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiriโ€ yang mereka ketahui garis keturunannya, keadaannya dan bahasanya dari kaum mereka dan suku mereka sebagai seorang pemberi nasihat bagi mereka, bersikap kasih sayang terhadap mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, dan mengajarkan kepada mereka lafazh dan maknanya, โ€œdan membersihkan (jiwa) merekaโ€ dari syirik dan maksiat, hal-hal yang hina serta seluruh akhlak-akhlak yang buruk, โ€œdan mengajarkan kepada mereka al-kitab, โ€ baik jenis al-Kitab (secara umum) yang maksudnya adalah al-Quran, sehingga Firman Allah, โ€œYang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, โ€ maksudnya adalah, ciptaan-ciptaan Allah (al Ayat al-Kauniyah), atau yang dimaksudkan dengan al-KItab di sini adalah penulisan, sehingga maknanya adalah bahwa Allah telah memberikan karuniaNya atas mereka dengan mengajarkan al-Kitab dan penulisan, di mana dengan tulisan itu ilmu dapat dipahami dan terjaga. โ€œDan al-Hikmah, โ€ yaitu, as-Sunnah yang merupakan pendamping al-Quran. Atau (juga bermakna) meletakkan sesuatu pada tempatnya dan mengetahui rahasia-rahasia syariat. Maka Allah menyatukan bagi mereka antara pengajaran hukum-hukum dan segala hal yang dengannya hukum-hukum tersebut direalisasikan dan segala hal yang menjadi perangkat didapatkannya faidah dan buahnya. Hingga mereka melampaui seluruh makhluk yang ada dengan perkara-perkara yang agung itu.
Dan mereka menjadi para ulama Rabbani, โ€œsekalipun sebelum (kedatangan Nabi) ituโ€, maksudnya, sebelum diutusnya Rasul tersebut, โ€œmereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.โ€ Mereka tidak mengetahui jalan yang menghantarkan mereka kepada Rabb mereka, tidak juga tentang perkara yang membersihkan jiwa mereka dan menyucikannya. Akan tetapi apa yang dihiasi oleh kebodohan mereka, niscaya mereka melakukannya walaupun perbuatan itu bertentangan dengan akal sehat seluruh alam.
(Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili)

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡,
Karunia ini merupakan karunia yang paling besar, bahkan asasnya. Karunia ini merupakan karunia yang menyelamatkan mereka dari kesesatan dan dari jurang kebinasaan (neraka).
Yakni orang Arab seperti mereka agar mereka dapat memahami perkataannya, bukan dari kalangan malaikat dan bukan pula orang asing (non Arab). Mereka mengenali nasab Beliau, keadaannya, bahasanya dan sifatnya yang tulus dan sayang kepada mereka, ia membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan lafaz dan maknanya.
Dari dosa-dosa seperti dosa syirk, maksiat, perbuatan-perbuatan rendah dan semua akhlak buruk lainnya..
Adapula yang mengartikan hikmah dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya dan mengetahui rahasia syari’at.
Mereka tidak mengetahui jalan yang dapat mengantarkan mereka kepada Tuhan mereka serta tidak mengetahui sesuatu yang dapat membersihkan jiwa dan menyucikannya.
(Tafsir as-Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

Dan semua yang dibutuhkan ummat ini sudah diajarkan secara lengkap dan terperinci. Tidak satupun yang ditinggalkan atau dilalaikan oleh Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู….
Dari Abu Dzar berkata,

ุชูŽุฑูŽูƒูŽู†ูŽุง ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ุทูŽุงุฆูุฑูŒ ูŠูู‚ูŽู„ูู‘ุจู ุฌูŽู†ูŽุงุญูŽูŠู’ู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ู‡ูŽูˆูŽุงุกู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑูู†ูŽุง ู…ูู†ู’ู‡ู ุนูู„ู’ู…ู‹ุง. ู‚ูŽุงู„ูŽ: ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ : ู…ูŽุง ุจูŽู‚ููŠูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒ ูŠูู‚ูŽุฑูู‘ุจู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽูŠูุจูŽุงุนูุฏู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ูˆูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุจููŠูู‘ู†ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’.
โ€œRasulullah telah pergi meninggalkan kami wafat, dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau telah menerangkan ilmunya kepada kami.โ€ Berkata Abu Dzar, โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah bersabda, โ€˜Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.โ€™โ€(HR. At-Thabrani, 1647 dan Ibnu Hibban, 65 dishohihkan Al-Albany dalam silsilah Ash-Shohihah, 1803)

Para imam madzhab telah menyampaikan wasiat untuk berpegang dengan sunnah yang datang dari Rasululloh dan tidak mengambil dari ucapan selainnya. Diantaranya wasiat Imam Asy-Syafi’i berikut,

ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡:
ุฅุฐุง ูˆุฌุฏุชู… ู„ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุณูู†ู‘ูŽุฉ ูุงุชุจุนูˆู‡ุง ูˆู„ุง ุชู„ุชูุชูˆุง ุฅู„ู‰ ู‚ูˆู„ ุฃุญุฏ.
Berkata Imam Asy-Syafi’i ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡,
Kalau kalian mendapati dari Rasululloh ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… suatu sunnah, maka ikutilah sunnah itu dan jangan kalian menoleh kepada ucapan siapapun selainnya.
(Al-Muqfy Al-Kabir, Imam Muqrizy: j. 5 /1-6)

Wallahu a’lam

๐ŸƒAbu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

๐Ÿ–๐Ÿ“šโœ’.๐ŸŒน..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.