Serial Kajian Kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ (001)

Serial Kajian Kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ (001)

Kitab yang disusun oleh Ibnul Qoyyim -rahimahullah- ini adalah dalam rangka menjawab satu pertanyaan. Pertanyaan tersebut adalah :

“Apa nasehat dari para ulama untuk seseorang yang sedang ditimpa musibah, dan dia sadar sekiranya dia terus berada dalam pusaran musibah tersebut, maka bisa merusak kehidupan dunia sekaligus akhiratnya…? Sebenarnya dia telah berusaha dengan berbagai cara untuk menghindarinya, tapi justru musibah itu semakin bertambah parah… Bagaimana langkah untuk menolak dan menyingkap musibah tersebut? Semoga Allah merahmati orang yang berkenan menolong saudaranya yang sedang terkena musibah tersebut…” (selesai/hal.5)

Meskipun sang penanya tidak merinci permasalahannya, namun Ibnul Qoyyim dapat memahaminya… Dan permasalahan tersebut adalah berkaitan dengan cinta!

Pernahkah anda jatuh cinta? Tidak sekedar cinta, namun sampai pada tingkat “cinta buta” (al-‘isyq)… Berbahagialah anda yang tidak diberi cobaan dahsyat tersebut… karena urusan ini lebih berat dari musibah manapun…

Masalah ini sering menimpa pada para pemuda, -meski yang sudah berkeluarga dan berumur juga tidak dijamin terbebas dari cobaan ini-. Maka perhatikanlah, wahai para ayah, pergaulan anak-anak anda… Demi Allah jika penyakit ini sudah sampai menjangkiti anak anda (semoga Allah jauhkan dari keluarga kita), maka tugas anda sebagai orang tua untuk menyembuhkannya cukuplah berat!

Solusi untuk terhindar dari masalah ini sebenarnya cukup mudah, yaitu :

1. Arahkan anak2 anda sedini mungkin pada rasa tanggungjawab.
2. Jika sudah saatnya, segera nikahkan putra-putri anda. Jangan ditunda! Karena menunda pernikahan baik dengan alasan kuliah, kerja, dst akan membuka peluang bagi penyakit ini untuk menjangkitinya!

Percayakah anda :

>bahwa para sahabat menikahkan putra-putri mereka tanpa gelar dan ijazah…
>bahwa rezeki seseorang tidak akan berkurang hanya karena tidak memiliki gelar akademik…
>bahwa pernikahan tidak menghalangi seseorang untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat!

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ منكُم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang memiliki kemampuan, maka menikahlah. Karena hal itu lebih bisa menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya… dan barangsiapa yang belum mampu, maka puasalah, karena pada puasa ada penawar…” HR. Al-Bukhori dan Muslim.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh : Abu Abbas Aminullah Yasin
Pekalongan, 2 Maret 2016.

8 comments

  • Ada istilah puber kedua yaitu dimana orang sudah berstatus suami/istri tapi kembali punya rasa cinta lagi. Parahnya justru kepada bukan pasangannya. Gimana solusinya ustadz?

    • Permasalahan inilah yg dibahas oleh Ibnul Qoyyim secara rinci dalam kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ ini.

      Secara ringkas, ada beberapa solusi aplikatif dari permasalahan ini :

      1. Jaga pandangan (sesuai QS An-Nuur : 30-31).

      2. Perbanyak puasa, sebagaimana hadits diatas.

      3. Memohon pertolongan dari Allah (do’a) agar dijauhkan dari fitnah al-isyq. Karena doa adalah senjata seorang mukmin.

      4. Mempelajari bahaya al-isyq dan ancaman yg ditimbulkan darinya (dalam kitab ini Ibnul Qoyyim menyebutkan lebih dari 50 keburukan akibat al-isyq).

      5. Mempelajari langkah2 menuju dosa… sehingga sedini mungkin kita bisa mendeteksi arah cinta yg salah dan dapat mengendalikan gejolak nafsu syahwat. (Dalam kitab ini ibnul qoyyim merinci menjadi 4 point yg cukup detail).

      6. Mengaktualisasikan cinta kepada Allah dalam diri kita, karena tidak akan tumbuh dalam diri seseorang dua cinta kepada dua hal yg bertentangan.

      Insya Allah penjelasan 6 point diatas, akan kita bahas secara runut. Semoga Allah mudahkan. Wallahu a’lam.

  • Ustadz, akhir-akhir ini ana sering deg-degan kalo berpapasan dgn akhwat (ana kuli pabrik)
    Apakah didalam islam ada istilah puber kedua? Bagaimana cara mengatasinya, karena untuk ta’addud ana belum sanggup. Syukron jawabannya.

    • Permasalahan inilah yg dibahas oleh Ibnul Qoyyim secara rinci dalam kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ ini.

      Secara ringkas, ada beberapa solusi aplikatif dari permasalahan ini :

      1. Jaga pandangan (sesuai QS An-Nuur : 30-31).

      2. Perbanyak puasa, sebagaimana hadits diatas.

      3. Memohon pertolongan dari Allah (do’a) agar dijauhkan dari fitnah al-isyq. Karena doa adalah senjata seorang mukmin.

      4. Mempelajari bahaya al-isyq dan ancaman yg ditimbulkan darinya (dalam kitab ini Ibnul Qoyyim menyebutkan lebih dari 50 keburukan akibat al-isyq).

      5. Mempelajari langkah2 menuju dosa… sehingga sedini mungkin kita bisa mendeteksi arah cinta yg salah dan dapat mengendalikan gejolak nafsu syahwat. (Dalam kitab ini ibnul qoyyim merinci menjadi 4 point yg cukup detail).

      6. Mengaktualisasikan cinta kepada Allah dalam diri kita, karena tidak akan tumbuh dalam diri seseorang dua cinta kepada dua hal yg bertentangan.

      Insya Allah penjelasan 6 point diatas, akan kita bahas secara runut. Semoga Allah mudahkan. Wallahu a’lam.

  • Assalamu’alaikum, ustadz bagaimana jika kita di jodohkan oleh orang tua tetapi dgn orang yg berbeda manhaj? Seberapa urgensinya kita harus mencari pasangan yg satu manhaj dg kita? Jazakallahu khairan.

    • Wa’alaikum salam.

      Secara konteks fikih, laki2 itu menikahi bukan dinikahi. Sehingga dia berhak memilih sendiri siapa wanita yg dia ingin nikahi.

      Nabi menganjurkan bagi seseorang yg memilih wanita untuk dinikahi adalah karena akhlak dan agamanya. Karena akhlak dan agamalah Allah menjaga seseorang dan melindunginya…

      Terkait dg penjodohan orang tua, maka hal tersebut tidak bisa kita hukumi secara langsung, karena situasi dan kondisi yg dihadapi setiap org berbeda2.

      Secara ringkas, jika seseorang mampu membahagiakan kedua ortunya serta mendidik istrinya (yg merupakan pilihan ortu) menjadi baik, tentu ini adalah sebuah kebaikan ganda.

      Namun jika dia merasa tidak bisa menjama’ dua perkara tsb, maka ana sarankan agar dia beristikhoroh dan bermusyawaroh dg seorang ustadz senior yg dapat mengarahkannya menuju pilihan terbaik. Wallahu a’lam.

  • Ustadz, ana dari dulu sekali sudah berkeinginan untuk menikah, taaruf pun dah beberapa kali ana coba, akan tetapi ana selalu kurang cocok dgn akhwatnya karena ndak ada yg seakidah, giliran sekarang dah ada akhwatnya yg seakiidah dan ana merasa cocok qadarullah rizki ana tahun terahir ini yg lg sempit hingga skrg ini, apakah ana mesti pinjem2 dulu ya ustadz? ataukah ana tunggu sampe mdpt rizki? ana takut terlibat cinta terlarang ustadz krn ahwatnya dah mberi sinyal positif kepada ana. jazakumullah.

    • Mintalah petunjuk dari Allah, beristikhoroh.

      Dan yakinkan pada diri antum, apakah antum sdh yakin mampu memikul tanggungjawab? Jika iya, maka simaklah ayat 32 dari surat An-Nuur.

      “… jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dg karunia-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya, Maha Mengetahui.”

      Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.