Kajian Fikih Praktis (006) : SUNAH-SUNAH FITRAH

KAJIAN FIKIH PRAKTIS (006)

بسم الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن ولاه،اما بعد.

SUNAH-SUNAH FITRAH

Sunah Fitrah adalah suatu tradisi yang apabilah dilakukan akan menjadikan pelakunya sesuai dengan tabiat yang telah Allah tetapkan bagi para hambanya. (Lihat Shahih Fiqhus Sunnah, 1/97)

✅DALIL SUNAH FITRAH

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

sunnah-sunnah fitrah itu ada lima, atau lima dari sunnah-sunnah fitrah, yaitu; berkhitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan mencukur kumis.” (Muttafaqun ‘Alaih)

عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقٌ بِالْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ يَعْنِي الِاسْتِنْجَاءَ قَالَ زَكَرِيَّا قَالَ مُصْعَبٌ وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ

“Ada sepuluh hal bagian dari tuntunan sunnah fithroh, yaitu: memotong kumis, memanjangkan jenggot, siwak, istinsyaq (memasukkan air ke dalam lubang hidung) dengan air, memotong kuku, mencuci ruas-ruas jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, dan beristinja` (bersuci dari buang air kecil atau besar dengan air).” Zakariyya berkata: berkata Mush’ab; “Saya lupa yang kesepuluh selain berkumur-kumur.” (Hasan, HR. Abu Daud, Ibnu Majah, At tirmidzi)

✅PENJELASAN

1⃣ Khitan

✅Khitan hukumnya wajib atas laki-laki dan perempuan, karena khitan adalah bagian dari syiar Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam pernah berkata kepada seorang yang baru masuk Islam,

أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ

“Cukurlah rambut kafirmu dan berkhitanlah”. (Hasan, HR. Ibnu Majah, Abu Daud)
Khitan adalah syariat Nabi Ibrahim, sebagaimana hadits Abi Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nabi Ibrahim kekasih Allah berkhitan ketika umurnya sudah mencapai 80 tahun.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Sedangkan Allah ta’ala telah memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan firmannya,

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. (Q.S An Nahl : 123)

✅ Disunnahkan untuk bayi agar dikhitan di hati ke tujuh dari kelahirannya, berdasarkan hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meng-aqiqahi Al Hasan dan Al Husain dan mengkhitani keduanya pada hari ke tujuh dari kelahirannya. Begitu juga dengan hadits Ibnu Abbas, “Ada tujuh sunnah yang dikerjakan untuk bayi pada hati ke tujuh dari kelahirannya, diberi nama dan dikhitan.”

Syeikh Al Albani rahimahullah menjelasakan, walaupun dua hadits tersebut di atas ada kelemahan padanya namun keduannya saling menguatkan, (Tamamul Minnah : 68)

Wallahu ta’ala a’lam bishawab

———————————————————–
? – Al Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil Aziz
– Shahih Fiqhus Sunnah
———————————————————–
? Khoiri Assalaky

Tengaran,14 Sya’ban1437 H
21 Mei 2016 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.