Kajian Fikih Praktis (004) : KITAB THAHARAH (Tentang Najis)

KAJIAN FIKIH PRAKTIS (004)

بسم الله والصلاة والسلام على رسول الله، اما بعد؛

✅ CARA MENSUCIKAN NAJIS

Syariat Islam telah memberitakan kepada manusia benda-benda yang najis, selanjutnya syariat pun mengajari kita bagaimana cara mensucikan benda-benda yang terkena najis. Maka kewajiban kita adalah mengikuti cara yang telah ditetapkan dalam syariat Islam ini;

➡ Jika syariat memerintahkan untuk mencuci hingga tidak tersisa warna, bau dan rasanya maka itulah kaifiyyah mensucikannya.

➡ Jika syariat hanya memerintahkan untuk menyiram, memercikkan, mengerik atau hanya mengusapkannya di tanah, atau bahkan hanya untuk berjalan di atas tanah, maka itulah kaifiyyah mensucikannya.

✅ Perlu diketahui, bahwa pada dasarnya najis itu hanya bisa disucikan dengan air, sehingga tidak boleh mengganti air dengan yang lainnya kecuali ada dalil yang menunjukkannya.
Berikut tata cara mensucikan benda najis atau benda yang terkena najis sesuai yang diajarkan syariat Islam;

1⃣ Mensucikan kulit dari bangkai (binatang mati tanpa disembelih)

? Yaitu dengan cara disamak (dibagh) sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wasallam;

ﺇِﺫَﺍ ﺩُﺑِﻎَ ﺍﻹِﻫَﺎﺏُ ﻓَﻘَﺪْ ﻃَﻬُﺮَ

“Apabila kulit telah disamak, maka sungguh ia telah suci.” (HR. Muslim)

Secara umum cara menyamak kulit binatang adalah sbb :

➡Terlebih dahulu kulit dipisahkan dari anggota badan binatang.
➡Dicukur semua bulu-bulu dan dibersihkan segala urat-urat dan lendir-lendir daging dan lemak yang melekat pada kulit.
➡Kemudian direndam kulit itu dengan air yang bercampur dengan benda-benda yang menjadi alat penyamak (seperti garam) sehingga lemak-lemak, daging dan lendir yang
melekat di kulit terpisahkan.
➡Kemudian diangkat dan dibasuh dengan air yang bersih dan dijemur hingga kadar airnya sedikit alias kering.

2⃣ Mensucikan bejana yang dijilat anjing.

?Yaitu dengan mencucinya 7 kali dengan air, salah satunya adalah dengan debu (baik pertama kali atau salah satu di antara 7 bilasan itu)

Dalam masalah ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

ﻃُﻬُﻮﺭُ ﺇِﻧَﺎﺀِ ﺃَﺣَﺪِﻛُﻢْ ﺇِﺫَﺍ ﻭَﻟَﻎَ ﻓِﻴْﻪِ ﺍﻟْﻜَﻠْﺐُ ﺃَﻥْ ﻳَﻐْﺴِﻠَﻪُ ﺳَﺒْﻊَ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ، ﺃُﻭْﻻَﻫُﻦَّ ﺑِﺎﻟﺘُّﺮَﺍﺏِ .
ﻭَﻓِﻲْ ﻟَﻔﻆٍ ﻟَﻪُ : “ﻓَﻠْﻴُﺮِﻗْﻪُ ” ﻭَﻟِﻠﺘِّﺮْﻣِﺬِﻱِّ: “ ﺃُﺧْﺮَﺍﻫُﻦَّ، ﺃَﻭْ ﺃُﻭْﻻَﻫُﻦَّ
ﺑِﺎﻟﺘُّﺮَﺍﺏِ .”
”Sucinya bejana kamu yang dijilat anjing adalah dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali, dan yang pertama dengan tanah.” (HR.
Muslim). Dan dalam suatu lafazhnya “Hendaklah ia membuang air yang di bejana tersebut”. Dan dalam riwayat Tirmidzi dengan lafazh “Salah satu bilasannya dengan tanah atau yang pertamanya”).

Bersambung … 3⃣4⃣5⃣6⃣7⃣8⃣9⃣

Wallahu ta’ala a’lam bishshawab..

? Khoiri Assalaky
? Al Wajiz Fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.