Jauhi syubhat, niscaya akan terjaga agama kalian …!

🔥 Jauhi syubhat, niscaya akan terjaga agama kalian …!

✍Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersaba,

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ

“Barangsiapa meninggalkan perkara-perkara syubhat, maka ia mencari keterbebasan untuk agamanya dan kehormatannya.”(HR Bukhory, Muslim)

Menjaga keterbebasan agamanya dan selamat dari perkara syubhat adalah perkara pokok bagi seorang muslim. Adapun keterbebasan kehormatan, jika ia tidak meninggalkannya, maka kaum yang dungu tidak berhenti menggunjingnya dan menggolongkannya sebagai pemakan barang haram, lalu hal itu mendorong mereka untuk melakukan perbuatan dosa. Disebutkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يَقِفَنَّ مَوَاقِفَ التُّهَمِ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berdiri di tempat-tempat yang mencurigakan.”*

Dari Ali bin Abi Thalib bahwa ia mengatakan, “Hati-hatilah kamu terhadap perkara yang segera diingkari oleh hati, meskipun kamu punya alasan (udzur). Berapa banyak orang yang mendengar perkara kemungkaran, namun kamu tidak dapat mendengarnya sebagai udzur.”
Dalam Shahih at-Tirmidzi bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا أَحْدَثَ أَحَدُكُمْ فيِ الصَّلاَةِ فَلْيَأْخُذْ بِأَنْفِهِ ثُمَّ لِيَنْصَرِفْ

“Jika salah seorang dari kalian berhadats di dalam shalat, maka peganglah hidungnya kemudian pergilah.”

Hal itu dilakukan agar tidak dikatakan bahwa ia berhadats.

Sabdanya, “Siapa yang jatuh dalam syubhat, maka ia jatuh dalam keharaman,” mengandung dua hal:

Pertama, ia jatuh dalam keharaman, sedangkan ia menyangka bahwa itu bukan suatu yang haram.

Kedua, bisa juga bermakna bahwa ia sudah hampir jatuh dalam keharaman. Sebagaimana dinyatakan, kemaksiatan itu pengantar kekufuran, karena ketika jiwa jatuh dalam perbuatan yang menyeli-sihi, maka jiwa tersebut berjenjang dari suatu mafsadah ke mafsadah[/i lainnya yang lebih besar dari sebelumnya.
Konon, itulah yang diisyaratkan dengan firmanNya,

وَیَقۡتُلُونَ ٱلۡأَنۢبِیَاۤءَ بِغَیۡرِ حَقࣲّۚ ذَ ٰ⁠لِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ یَعۡتَدُونَ
“Dan mereka membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (Ali Imran: 112)

Maksudnya, mereka bermaksiat secara bertahap hingga membunuh para nabi Shallallahu ‘Alaihim wa Sallam. Dalam hadits disebutkan,

لَعَنَ اللهُ السَّارِقَ يَسْرِقُ اْلبَيْضَةَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ وَيَسْرِقُ اْلحَبْلَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ.

“Allah melaknat pencuri yang mencuri telur lalu tangannya dipotong, dan mencuri tali lalu tangannya dipotong.” Yakni bertahap dari telur dan tali hingga nisab pencurian.

📚Sumber mausu’ah bulughul maram

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.📒…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.