JAUHI FIQIH WAQI (MEMBACA BERITA) DAN KEMBALILAH KE MAJELIS ILMU !

JAUHI FIQIH WAQI ( MEMBACA BERITA ) DAN KEMBALILAH KE MAJELIS ILMU !
Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Fiqih ( memahami ) agama adalah kewajiban yang paling agung dari kewajiban-kewajiban agama, agar seorang muslim bisa benar aqidahnya, benar ibadahnya, dan benar amalan kesehariannya, maka wajib bagi setiap muslim untuk tafaqquh fid din ( mendalami ilmu agama ) sesuai dengan kemampuannya.
Mana fiqih secara bahasa adalah mengetahui sesuatu dan memahaminya, kemudian dipakai lafadz fiqih secara khusus dalam pemahaman terhadap ilmu agama karena kemuliaan ilmu agama di atas yang lainnya ( Lisanul Arab 13/522 ).
Fiqih yang diperintahkan bagi setiap muslim untuk mempelajarinya adalah Fiqih tentang Kitab dan Sunnah, dan istinbath ( penyimpulan ) hukum dari keduanya, termasuk dalam hal ini mempelajari bahasa arab yang merupakan bahasa Kitab dan Sunnah, kemudian fiqih ( memahami ) tentang kasus-kasus dan peristiwa yang terjadi dengan tujuan untuk bisa menerapkan hukum syari padanya dengan penerapan yang benar ( lihat Ilamul Muwaqqiin 1/87-88 dan taliq Al-Haritsy atas Ajwibah Mufidah hal. 5 ).
Adapun Fiqih Waqi yang didengung-dengungkan oleh kelompok Quthbiyyin baik dari kalangan Ikhwanul Muslimin maupun Sururiyyin ( seperti Muhammad Quthb dalam kitabnya Waqiunal Muashir, Nashir Al-Umar dalam kitabnya Fiqih Waqi, Salman Al-Audah dalam kitabnya Shifatul Ghuraba dan kasetnya Haulal Ahdats Jadidah , Abdurrahman Abdul Khaliq dalam kitabnya Fushul minas Siyasah Syariyyah, dan orang-orang yang semodel mereka ) maka bukanlah termasuk fiqih yang kita sebutkan di atas, bahkan fiqih waqi ini adalah fiqih yang baru dan asing yang tidak pernah dikenal oleh para ulama terdahulu, bahkan sebetulnya tidak pantas dinamakan fiqih, apalagi disamakan dengan fiqih secara syari, untuk lebih jelasnya hal ini kami paparkan pada pembahasan kali ini tinjauan secara syari tentang fiqih waqi ini dan penjelasan para ulama tentangnya.

ASAL USUL FIQIH WAQI

Fiqh waqi bukanlah merupakan penemuan baru dari kelompok Quthbiyyin, tetapi merupakan daur ulang dari pemikiran imam mereka Sayyid Quthb yang berkata dalam kitabnya Fi Zhilalil Quran 4/2006 : … sesungguhnya fiqh harakah( gerakan ) berbeda sekali asasnya dengan fiqh auraq !( kertas ), … sesungguhnya fiqh harakah mengambil itibar dari waqi yang turun padanya nash-nash, dan padanya dibuat hukum… ( Ajwibah Mufidah an Asilatil Manahijil Jadidah hal. 5-6 )..
Lihatlah bagaimana Sayyid Quthb menjuluki Fiqih Syariat dengan Fiqih Kertas !, maka pantaslah jika para pengikutnya menamakan Fiqih Syari dengan nama Fiqih Haidh dan Nifas !, sungguh ini adalah pelecehan kepada syariah ! .

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN FIQIH WAQI ?

Fiqih waqi menurut para pencetusnya adalah fiqih politik barat, dan memahami program-program rahasia mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.
Salman Al-Audah berkata : Memperhatikan masalah-masalah politik dan mencurahkan pikiran di dalamnya, berusaha mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia, dan keterkaitan antara peristiwa yang satu dengan yang lainnya, kemudian menyingkap permainan-permainan para thaghut dunia terhadap negeri-negeri, khususnya negeri-negeri Islam … ( Shifatul Ghuraba hal. 124 ).
Nashir Al-Umar berkata : Dia adalah ilmu yang membahas pemahaman keadaan-keadaan masa kini, seperti faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat, kekuatan-kekuatan yang menguasai dunia, pemikiran-pemikiran yang mengancam aqidah, dan cara-cara yang disyariatkan untuk menjaga umat dan mengawasinya di waktu sekarang dan akan datang ( Fiqh Waqi hal. 10 ).
Kami katakan : Fiqih waqi ini yaitu memahami peristiwa yang terjadi dan menelaah makar-makar musuh- adalah hal yang terpuji, kita tidak mengingkarinya dan memeranginya, tetapi yang kita ingkari dan tidak kita setujui bahwa para propagandis fiqih waqi ini membatasi ulama yang dijadikan panutan hanyalah yang tahu fiqih waqi ini bukan yang lainnya ( Al-Quthbiyyah hiyal Fitnah hal. 102 oleh Syaikh Abu Ibrahim Al-Adnany ).
Bahkan kita lihat bahwa kelompok Quthbiyyin merendahkan dan melecehkan para ulama salafiyyin dengan mengatakan bahwa mereka bukanlah rujukan kaum muslimin karena mereka tidak faham waqi ( realita ) sebagaimana dikatakan oleh Salman dalam Majalah Al-Ishlah Emirat Arab edisi 223-28/1, Muhammad Surur dalam majalah Mujtama edisi 1133, Abdurrahman Abdul Khaliq dalam kitabnya Khuthuth Roisiyah Libatsil Ummah Islamiyyah hal. 73-78 ( Lihat Madarikun Nazhar hal. 271 dan Jamaah Wahidah hal.40 ).
Syaikhuna Al-Allamah Rabi bin Hadi Al-Madkhaly berkata : Orang-orang yang ghuluw ( berlebih-lebihan ) dalam masalah politik memiliki pelecehan yang luar biasa terhadap ahli hadits dan tauhid, peremehan, pembodohan, dan menuduh ahli hadits dan tauhid dengan hal-hal yang keji, di antara sikap ghuluw mereka yang tidak pernah dikenal sebelumnya oleh para ulama Islam adalah pemujaan mereka kepada fiqih waqi, dan pendakwaan mereka bahwa merekalah ulama waqi, kemudian mereka gerakkan para pemuda Islam untuk membaca koran-koran, majalah-majalah, dan mengikuti siaran-siaran radio, dan mereka palingkan para pemuda Islam dari mempelajari ilmu syari dan mendalami kitab dan Sunnah.
Kita mendengar hal-hal yang ajaib dari pemujaan kepada fiqih waqi ini, sampai di antara pemujanya ada yang menuduh para ulama dan penuntut ilmu adalah orang-orang yang sekuler karena mereka tidak bergelut dengan politik dan fiqih waqi, bisa disimpulkan dari sikap ini bahwa para pendewa fiqih waqi ini menganggap politik dan ilmu waqi sebagai kewajiban fardhu ain yang paling penting… (Ahlil Hadits Hum Thaifah Manshurah Najiyah hal.76 ).

HUKUM MEMPELAJARI FIQH WAQI

Hukum yang paling maksimal dari ilmu fiqh waqi yang didengung-dengungkan sekarang ini jika benar dia dinamakan ilmu dan fiqh adalah fardhu kifayah jika tidak dikatakan perkara yang mubah. Hanya saja para pencetus fiqh waqi ini menggambarkannya dengan berlebih-lebihan seakan-akan melebihi ibadah-ibadah yang hukumnya fardhu ain.
Syaikhuna Al-Allamah Rabi bin Hadi Al-Madkhaly berkata : Saya secara pribadi meyakini bahwa merupakan kemashlahatan, bahkan merupakan hal yang dharurat bagi kaum muslimin untuk mengetahui program-program musuh-musuh Islam, dan bahwasanya wajib bagi kita semua untuk menggalang kekuatan untuk mematahkan makar-makar mereka, tetapi saya tidak ghuluw dalam masalah ini, bahkan saya berpandangan sesuai dengan apa yang dikatakan dan disepakati oleh para ulama bahwasanya kewajiban-kewajiban Islam ada yang hukumnya fardhu ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah, jika saja mengetahui waqi ( realita ) musuh-musuh Islam adalah sesuatu yang harus diketahui, maka hal ini hukumnya adalah fardhu kifayah, jika sebagaian kaum muslimin telah melaksanakan, maka yang lain telah gugur kewajibannya
Aku mengetahui bahwa banyak sekali dari kaum muslimin yang pusat perhatiannya dicurahkan untuk mengetahui waqi( realita ) yang terjadi, dan bahwasanya banyak orang-orang non muslim dari Yahudi dan Nahara lebih banyak tahu dibanding para pemerhati waqi ini, maka aku memandang bahwasanya bukanlah merupakan aib atas para ulama dan penuntut ilmu yang mencurahkan mayoritas perhatiannya untuk menjaga syariat Islam mendalami Kitab, Sunnah, dan Fiqh – , karena hal yang mereka lakukan ini adalah termasuk fardhu kifayah, dan aku berkeyakinan bahwa para ulama dan penuntut ilmu ini lebih afdhol, lebih mulia, lebih jujur, dan lebih bermanfaat bagi islam dan kaum muslimin daripada para politikus yang lemah dalam pengetahuan agama atau tidak punya bagian sama sekali dari ilmu agama ( Ahlul Hadits Hum Thaifah Manshurah Najiyah hal.93 ).

BISAKAH BERITA-BERITA DARI ORANG-ORANG KAFIR DIJADIKAN RUJUKAN ?

Di antara hal yang menunjukkan kejanggalan para pencetus fiqih waqi’ adalah bahwa mereka jadikan berita-berita dari orang-orang kafir sebagai bagian dari referensinya, padahal Allah ( berfirman dalam KitabNya:
( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا(
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti “ ( Al-Hujurat : 6 ).
Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata : “ Allah memerintahkan untuk tatsabbut ( memeriksa dengan teliti ) berita yang datang dari orang yang fasiq, dan berhati-hati dalam menyikapinya agar tidak tergesa-gesa menghukumi sesuatu dengan perkataan orang fasiq ini, karena bisa jadi berita yang dibawanya dusta atau keliru … ( Tafsir Ibnu Katsir 4/252 ).
Tidak syak samasekali bahwa berita-berita yang bersumber dari media massa orang-orang kafir lebih dusta daripada berita yang datang dari orang yang fasiq, lalu bagaimana berita-berita dari orang-orang kafir ini dijadikan sebagai rujukan ?!.
Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Al-Albany telah memberikan kritikan kepada Nashir Al-Umar di saat dia menyebutkan daftar referensi fiqih waqi : Referensi-referensi politik dan sumber-sumber media massa, yang merupakan referensi kontemporer yang terpenting, yang berupa media audio, tulisan, dan visual, yang paling menonjol di antaranya adalah koran-koran, majalah-majalah, pamflet-pamflet, bulettin-bulettin, kantor-kantor berita dunia, siaran radio, televisi, kaset-kaset, dokumen-dokumen, … maka berkata seorang hadirin kepada Syaikh Al-Albany : Bagaimana pendapat Syaikh tentang referensi-referensi ini ?
Syaikh Al-Albany berkata : Ini semua adalah referensi yang menggelincirkan !, kita semua tahu bahwa orang-orang kafir tidaklah menyebarkan kepada kaum muslimin kecuali hal-hal yang memperdaya kaum muslimin, bagaimana ini semua dijadikan alat untuk mengetahui waqi ( realita ) ?!, …Tidak mungkin bagi siapapun untuk mengecek kebenaran sebagian dari berita-berita ini, tidak mungkin untuk mengeceknya ; karena sumber-sumbernya dari orang kafir … ( Silsilatul Huda wan Nur no. 605/1 dengan judul Fiqih Waqi, dialog antara Nashir Al-Umar dengan Syaikh Al-Albany sebagaimana dalam Madarikun Nazhar hal. 278-280 ).
Karena inilah maka Nabi Sulaiman tidak langsung menerima begitu saja berita dari burung Hudhud ketika dia membawa berita tentang Ratu Saba yang menyembah matahari, Nabi Sulaiman berkata : Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta ( Surat An-Naml : 27 ), karena binatang bukanlah sumber berita yang terpercaya, inilah manhaj yang paling adil dan paling teliti dalam menerima berita, manhaj ini tidak akan dijumpai kecuali pada kalangan salafiyyin yang mereka merealisasikan manhaj ahlil hadits dengan sungguh-sungguh, bukan seperti orang-orang yang mengaku salafy tetapi terpengaruh dengan sangat oleh manhaj-manhaj lain.
Karena inilah maka tidaklah merupakan cela atas salafiyyin yang tidak begitu mengacuhkan berita-berita yang memenuhi kepala para pemuda muslim saat ini, salafiyyun tidak menjadikannya sebagai rujukan, dengan catatan bahwa berita-berita ini kadang bisa diambil manfaatnya setelah jelas diketahui antara yang benar dan yang dusta darinya, kemudian menghukumi sesuatu berdasarkan yang benar darinya dengan qarinah-qarinah yang mengelilinginya, tetapi tidak bisa melakukan hal ini kecuali para ulama robbaniyyin yang dikenal dengan ketegaran dan kekokohan langkah mereka di atas gelombang syubhat dan fitnah ( Lihat Madarikun Nazhar hal. 280-281 dan Nubdzah Ilmiyyah fi Manhajis Salaf fil Ilmi wal Ulama ).

TUJUAN PENCETUSAN FIQH WAQI

Pencetusan fiqih waqi memiliki tujuan yang sangat berbahaya, di antaranya:
1. Menjatuhkan manhaj salaf; karena fiqih waqi tidak jauh berbeda dengan pemikiran shufiyyah yang memisahkan antara syariat dan hakikat; karena tujuan utama mereka adalah menjatuhkan syariat.
2. Menguasai pemikiran para pemuda muslim untuk berkiblat kepada tokoh-tokoh fiqih waqi ini dan memisahkan mereka dengan para ulama yang bermanhaj salaf, dengan memburukkan citra mereka dengan celaan-celaan keji ( Ahlil Hadits Hum Thaifah Manshurah Najiyah oleh Syaikhuna Al-Allamah Rabi bin Hadi Al-Madkhaly hal.93 ).
3.Melariskan pemikiran-pemikiran sesat para pencetus fiqih ini, karena jika mereka tidak mempunyai pendukung dari atsar salaf maka nampaklah borok-borok pemikiran mereka di mata orang-orang awam dan para ulama, dalam hal ini mereka sangat mirip dengan model-model orang-orang ahli bidah dari kelompok Asyariyyah, yang berkata : Kami mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas bagiNya , padahal maksud mereka adalah mentathil ( menolak ) sifat-sifat Allah !. Seandainya mereka dari awal mengatakan akan menolak sifat-sifat Allah tentu tidak akan mengikuti mereka kecuali sedikit sekali ( Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah hal. 102 oleh Syaikh Abu Ibrahim Al-Adnany ).

PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG FIQIH WAQI

Telah kami nukil pada pembahasan di atas beberapa penjelasan dari Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Al-Albany dan Syaikhuna Al-Allamah Rabi bin Hadi Al-Madkhaly tentang fiqih waqi, berikut ini kami nukilkan beberapa penjelasan para ulama yang lain tentang fiqih waqi :
1. Penjelasan Fadhilatusy Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:
Kemudian sesungguhnya fiqih waqi yang dikatakan dia adalah pemahaman realita apa referensinya ?, referensinya adalah koran, majalah, dan siaran radio!, alangkah banyaknya propaganda dalam koran, majalah, dan siaran radio ! karena itulah media-media massa sekarang tidak mungkin dijadikan rujukan, karena kadang di sana ada prediksi-prediksi lama yang kemudian menjadi tidak akurat karena berubahnya keadaan, karena itulah jika seorang yang berakal mau memperhatikan dengan seksama kronologi peristiwa dalam rentang waktu 20 tahun, maka akan nampak jelas baginya bahwa semua prediksi-prediksi yang sebelumnya dilontarkan tidaklah menjadi realita, karena inilah kami memandang bahwa jika ada yang menyibukkan para pemuda muslim dalam fiqih waqi melalui majalah, koran, siaran radio, dan yang semisalnya, sehingga menjauhkan mereka dari mendalami agama Allah … kami memandang bahwa ini adalah kesalahan dalam manhaj… ( Dari kaset Liqo Abil Hasan Al-Mariby maa Syaikh Ibn Baz wa Syaikh Ibn Utsaimin sebagaimana dalam Madarikun Nazhar hal. 280 ).
2. Penjelasan Syaikh Al-Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan :
Ketika ditanya tentang fiqih waqi beliau menjawab :
Fiqih yang diperintahkan dan sangat dianjurkan untuk dipelajari adalah fiqih Kitab dan Sunnah, inilah fiqih yang diperintahkan untuk dipelajari… adapun lafadz fiqih jika dimutlakkan sebagaimana dalam firman Allah ( :
(لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ(
“untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama “ ( At-taubah : 122 ), dan dalam sabda Rasulullah ( : “ Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah jadikan dia faham tentang agama ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari : 71 dan Shahih Muslim : 1037 )… maka maksudnya adalah fiqih tentang agama dengan mempelajari hukum-hukum syari, inilah yang diperintahkan , dan inilah yang diwajibkan atas kaum muslimin untuk memperhatikan dan mempelajarinya.
Tetapi yang dimaksud fiqih waqi menurut mereka ( yang mendengung-dengungkannya ) bukanlah fiqih secara bahasa, tetapi maksudnya menurut mereka adalah : Menyibukkan diri dengan masalah politik dan pergerakan politik, serta menghabiskan waktu dan perhatian kepadanya.
Adapun fiqih tentang hukum-hukum agama mereka namakan fiqih parsial dan fiqih haidh dan nifas ; untuk memperburuk citranya dan membuat manusia lari darinya . ( Ajwibah Mufidah an Asilatil Manahijil Jadidah hal. 4-5 ).
3. Penjelasan Syaikhuna Al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad :
… Meluruskan pemahaman para pemilik fiqh baru : yaitu fiqh berkubang dalam politik ( kafir ) dan peristiwa-peristiwa politik, dan fiqh waqi ( realita ) kisah-kisah dari koran dan majalah, mengikuti berita-berita radio orang-orang kafir, dan menerima berita-beritanya, dan membahasnya dengan prediksi-prediksi yang seakan-akan berita-berita kuffar itu adalah hal-hal yang bisa dipercaya begitu saja, realita menunjukkan bahwa prediksi-prediksi ini secara umum menyelisihi realita, mereka tidak berhenti sampai di sini saja, bahkan beranjak kepada pencelaan ulama-ulama yang terkemuka yang masyhur dengan pemahaman agama yang mendalam, dan pembawa warisan Nabi yang mulia ( , di antara mereka adalah Samahatu Syaikhuna Al-Allamah Al-Jalil Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz , dan Fadhilatusy Syaikh Al-Allamah Al-Jalil Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin … ( Pengantar terhadap kitab Madarikun Nazhar fis Siyasah oleh Syaikh Abdul Malik Romadhony Al-Jazairy ).
4. Penjelasan Maali Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu Syaikh :
Banyak orang-orang yang mengatakan bahwa para ulama kita sekarang ini tidak faham waqi !!, sampai ada di antara mereka yang mengatakan kepada sesama komunitas mereka : Kita mendapat faidah dari peristiwa-peristiwa ini bahwasanya para ulama ada yang memahami waqi dan menyimpulkan hukum-hukum syari darinya, dan ada para ulama yang tidak faham waqi !!!
Demi Allah sungguh ini adalah perkataan yang keji, menunjukkan bahwa pengucapnya tidak faham apa landasan penyimpulan hukum-hukum syari, apa yang diambil oleh para ulama, apa yang perlu difahami, dan apa yang tidak perlu difahami.
Sesungguhnya pemahaman terhadap waqi ( realita ) menurut para ulama terbagi menjadi dua bagian :
Yang pertama : Pemahaman terhadap waqi yang merupakan landasan hukum syari, maka hal ini perkara yang harus difahami, barangsiapa yang menghukumi suatu masalah tanpa memahami waqinya maka sungguh dia telah berbuat kesalahan :
Sebagai contoh untuk hal ini adalah munculnya kelompok-kelompok Islam sekarang ini yang masing-masing berbeda dengan yang lainnya, apakah pantas bagi seorang ulama syari untuk menghukumi kelompok-kelompok Islam ini tanpa memahami waqinya, apa aqidah-aqidahnya?, apa landasan-landasannya?, apa manhaj-manhajnya?, apa pemikiran-pemikirannya?, dan bagaimana cara dawahnya?
Jelas tidak mungkin baginya …
Maka pemahaman waqi ( realita ) kelompok-kelompok Islam ini punya pengaruh terhadap penilaian syari atas kelompok-kelompok Islam ini.
Yang kedua : Keadaan-keadaan dan hal-hal yang pemahaman waqinya tidak berpengaruh sama sekali kepada hukum syari :
Sebagai contoh untuk hal ini apa yang banyak terjadi antara dua pihak yang bertikai yang mengadu kepada hakim, yang masing-masing mengadukan perkaranya kepada hakim dengan perkataan yang panjang lebar, tetapi banyak dari kejadian yang diungkapkan oleh pihak yang berselisih tidak dijadikan landasan hukum oleh hakim, karena meskipun hal itu terjadi, tetapi tidak berpengaruh sama sekali kepada hukum ( Dhawabith Syariyyah Limauqifil Muslim fil Fitan hal. 44-47 ).

PENUTUP

Merupakan hal yang paling aneh dari para propagandis fiqih waqi bahwasanya mereka menyuguhkannya kepada kaum muslimin seakan-akan seperti ilmu yang paling penting dan paling mulia, bahkan sebagian dari mereka sangat ghuluw sekali, mereka jadikan ilmu-ilmu syari sebagai unsurnya, dan mereka sulamkan di sekitarnya rujukan-rujukan dusta yang tidak pernah dikenal oleh para ulama terdahulu dan belakangan, padahal dia tidak pantas disebut ilmu dan fiqih, seandainya benar dia ini ilmu dan fiqih, mana tulisan-tulisan yang membahasnya ?!, mana ulama-ulama dan fuqahanya di zaman dulu dan sekarang ?!, mana madrasah-madrasahnya ?!…
Tidak selayaknya menyibukkan umat dengan hal ini, tidak boleh mengerahkan para ulama dan penuntut ilmu kepadanya, tidak boleh mencela para ulama dan para dai yang disibukkan oleh kewajiban talim dan dawah, sehingga tidak sempat menelaah koran-koran, majalah-majalah, dan pernyataan kantor-kantor berita Amerika, Yahudi, dan yang lainnya, karena mereka merasa cukup dengan telaah kaum muslimin selain mereka terhadap perkara-perkara ini…
Kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan siyasah syariyyah pada zaman sekarang adalah tugas kementrian-kementrian dari daulah yang muslimah, maka kewajiban mengetahui waqi ( realita ) musuh dan makar-makarnya secara militer termasuk dalam tugas Kementrian Pertahanan, kewajiban mengetahui makar-makar musuh secara politis adalah tugas Kementrian Luar Negeri…
Barangsiapa yang ingin lebih mengetahui hal-hal di atas secara rinci bisa merujuk kepada Ahkam Sulthaniyyah oleh Abu Yala, Ahkam Sulthaniyyah oleh Mawardy, serta Kitab Siyasah Syariyyah dan Al-Hisbah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Tidak boleh bagi seorangpun untuk melemparkan beban-beban yang berat ini kepada para pemuda muslim dan para penuntut ilmu pemula, karena hal ini termasuk penyerahan urusan kepada seorang yang bukan ahlinya, ini semua akan menyebabkan fitnah dan kerusakan, bukanlah hal yang bermanfaat sama sekali pada umat jika semua pemuda muslim menjadi politikus, karena hal ini akan mengakibatkan kejahilan terhadap ilmu syari, dan mengkotak-kotak umat menjadi partai-partai yang saling bermusuhan, masing-masing partai ingin memegang tampuk kekuasaan… ( Ahlil Hadits Hum Thaifah Manshurah Najiyah oleh Syaikhuna Al-Allamah Rabi bin Hadi Al-Madkhaly hal.95-96 dan lihat dialog antara Nashir Al-Umar dengan Syaikh Al-Albany yang dinukil oleh Syaikh Abdul Malik Romadhony dalam kitabnya Madarikun Nazhar hal. 279 ).

والله أعلم بالصواب

7 comments

  • Abu Rafli - Cikarang Bekasi

    Ustadz saya pernah mendengar perkataan syaikh Albaniy dari ust Abdul Hakim bahwa salah satu siyasah syar’iyah yaitu dg meninggalkan siyasah itu sendiri, jika demikian bagaimana kita bisa tahu kekuatan musuh jika kita tidak terlibat didalamnya

    • Ustadz Arif Fathul Ulum

      Maksudnya termasuk politik syari adalah meninggalkan politik orang2 kafir

      • Abu Rafli - Cikarang Bekasi

        Na’am ustadz
        Ketika kita meninggalkan fiqih waqi tsb bagaimana kita bisa tahu keadaan musuh-musuh syariat
        Atau kita tinggalkan dan tawakal saja sama Alloh

        ( Menyikapi fatwa ulama dari tulisan ust Firanda tentang jangan golput )

        • Ustadz Arif Fathul Ulum

          Di antara hal yang menunjukkan kejanggalan para pencetus fiqih waqi’ adalah bahwa mereka jadikan berita-berita dari orang-orang kafir sebagai bagian dari referensinya, padahal Allah ( berfirman dalam KitabNya:
          ( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا(
          “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti “ ( Al-Hujurat : 6 ).
          Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata : “ Allah memerintahkan untuk tatsabbut ( memeriksa dengan teliti ) berita yang datang dari orang yang fasiq, dan berhati-hati dalam menyikapinya agar tidak tergesa-gesa menghukumi sesuatu dengan perkataan orang fasiq ini, karena bisa jadi berita yang dibawanya dusta atau keliru … ( Tafsir Ibnu Katsir 4/252 ).
          Tidak syak samasekali bahwa berita-berita yang bersumber dari media massa orang-orang kafir lebih dusta daripada berita yang datang dari orang yang fasiq, lalu bagaimana berita-berita dari orang-orang kafir ini dijadikan sebagai rujukan ?!.
          Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Al-Albany telah memberikan kritikan kepada Nashir Al-Umar di saat dia menyebutkan daftar referensi fiqih waqi : Referensi-referensi politik dan sumber-sumber media massa, yang merupakan referensi kontemporer yang terpenting, yang berupa media audio, tulisan, dan visual, yang paling menonjol di antaranya adalah koran-koran, majalah-majalah, pamflet-pamflet, bulettin-bulettin, kantor-kantor berita dunia, siaran radio, televisi, kaset-kaset, dokumen-dokumen, … maka berkata seorang hadirin kepada Syaikh Al-Albany : Bagaimana pendapat Syaikh tentang referensi-referensi ini ?
          Syaikh Al-Albany berkata : Ini semua adalah referensi yang menggelincirkan !, kita semua tahu bahwa orang-orang kafir tidaklah menyebarkan kepada kaum muslimin kecuali hal-hal yang memperdaya kaum muslimin, bagaimana ini semua dijadikan alat untuk mengetahui waqi ( realita ) ?!, …Tidak mungkin bagi siapapun untuk mengecek kebenaran sebagian dari berita-berita ini, tidak mungkin untuk mengeceknya ; karena sumber-sumbernya dari orang kafir … ( Silsilatul Huda wan Nur no. 605/1 dengan judul Fiqih Waqi, dialog antara Nashir Al-Umar dengan Syaikh Al-Albany sebagaimana dalam Madarikun Nazhar hal. 278-280 ).
          Karena inilah maka Nabi Sulaiman tidak langsung menerima begitu saja berita dari burung Hudhud ketika dia membawa berita tentang Ratu Saba yang menyembah matahari, Nabi Sulaiman berkata : Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta ( Surat An-Naml : 27 ), karena binatang bukanlah sumber berita yang terpercaya, inilah manhaj yang paling adil dan paling teliti dalam menerima berita, manhaj ini tidak akan dijumpai kecuali pada kalangan salafiyyin yang mereka merealisasikan manhaj ahlil hadits dengan sungguh-sungguh, bukan seperti orang-orang yang mengaku salafy tetapi terpengaruh dengan sangat oleh manhaj-manhaj lain.
          Karena inilah maka tidaklah merupakan cela atas salafiyyin yang tidak begitu mengacuhkan berita-berita yang memenuhi kepala para pemuda muslim saat ini, salafiyyun tidak menjadikannya sebagai rujukan, dengan catatan bahwa berita-berita ini kadang bisa diambil manfaatnya setelah jelas diketahui antara yang benar dan yang dusta darinya, kemudian menghukumi sesuatu berdasarkan yang benar darinya dengan qarinah-qarinah yang mengelilinginya, tetapi tidak bisa melakukan hal ini kecuali para ulama robbaniyyin yang dikenal dengan ketegaran dan kekokohan langkah mereka di atas gelombang syubhat dan fitnah ( Lihat Madarikun Nazhar hal. 280-281 dan Nubdzah Ilmiyyah fi Manhajis Salaf fil Ilmi wal Ulama

          • Abu Rafli - Cikarang Bekasi

            Lanjut ustadz

            Alhamdulillah saya sendiri tetep pada pendirian untuk bersiyasah syari’ah, meski sempet goyah juga ketika hal tsb menjadi perbincangan diantara salafyin yg masih ragu dg keyakinanya selama ini

            Apa nasehat antum pada ikhwah yg goyah manhajnya ini

  • Ustadz Arif Fathul Ulum

    KETIKA TERJADI PERSELISIHAN BERSAMALAH DENGAN ORANG YANG TUA DAN HATI-HATILAH DARI YANG MUDA

    Jika terjadi perselisihan terutama di dalam hal-hal yang berkaitan dengan fitnah-fitnah maka bersamalah di dalam barisan orang-orang yang tua di dalam ilmu dan usia, dan awaslah dari hal-hal yang orang-orang muda menyendiri dengannya, karena orang yang muda masih terbawa oleh darah muda yang akan mendorongnya kepada fitnah, adapun orang yang sudah tua maka sudah hilang darinya darah muda, telah hilang darinya sifat keras, tergesa-gesa, dan kedunguan, dia telah banyak pengetahuan dan pengalaman; sehingga tidak masuk syubhat dalam ilmunya, tidak dikalahkan oleh hawa nafsu, tidak terpengaruh oleh ketamakan, tidak mudah digelincirkan oleh syaithan sebagaimana anak muda, dengan tambahnya usia maka tumbuhlah keagungan dan kewibawaan, dan berkah bersama mereka, Nabi  bersabda :
    البركة مع أَكابرِكم
    “ Berkah itu bersama orang-orang tua mereka ” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam Shahihnya : 559 dan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak : 210 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Shahihan : 1778 ).
    Abdullah bin Mubarok pernah ditanya di hadapan Sufyan bin Uyainah maka dia berkata : Kami dilarang bicara di hadapan orang-orang tua kami ( Siyar Alamin Nubala 8/420 ).

    JAUHILAH DARI SIKAP BERUBAH-UBAH DAN TETAPLAH DI ATAS SUNNAH

    Di antara fiqih fitnah adalah menjauhi sikap berubah-ubah dan berbolak-balik di dalam fitnah, dan hal itu dengan komitmen dengan Sunnah.
    Suatu hari Abu Masud Al-Anshari Radhiyallahu Anhu masuk kepada Hudzaifah seraya berkata : Berikan wasiat kepada kami wahai Abu Abdillah ! , Hudzaifah berkata : Belumkah datang al-yaqin kepadamu ? , Abu Masud menjawab : Ya demi Rabbku , Hudzaifah berkata : Sesungguhnya kesesatan sebenarnya jika Engkau memandang maruf pada hari ini apa yang Engkau pandang mungkar pada hari sebelumnya, dan Engkau pandang mungkar pada hari ini apa yang Engkau pandang maruf pada hari sebelumnya, awaslah Engkau dari berubah-ubah, karena sesungguhnya agama Alloh adalah satu ( Diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak 4/552 dan Abdurrozzaq di dalamAl-Mushonnaf 11/249 ).
    Hudzaifah Radhiyallahu Anhu berkata : Jika seorang dari kalian ingin mengetahui apakah dia telah tertimpa fitnah atau belum maka hendaknya dia melihat : Jika dia memandang halal sesuatu yang sebelumnya dia pandang haram maka sungguh dia telah tertimpa fitnah, dan jika dia memandang haram sesuatu yang sebelumnya dia pandang halal maka sungguh dia telah tertimpa fitnah ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushonnaf 7/474 nomor 37343 dan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak 4/514 nomor 8443 dan dinyatakan shahih sanadnya oleh Al-Hakim atas syarat Syaikhain ).

  • Ustadz Arif Fathul Ulum

    KETIKA TERJADI PERSELISIHAN BERSAMALAH DENGAN ORANG YANG TUA DAN HATI-HATILAH DARI YANG MUDA

    Jika terjadi perselisihan terutama di dalam hal-hal yang berkaitan dengan fitnah-fitnah maka bersamalah di dalam barisan orang-orang yang tua di dalam ilmu dan usia, dan awaslah dari hal-hal yang orang-orang muda menyendiri dengannya, karena orang yang muda masih terbawa oleh darah muda yang akan mendorongnya kepada fitnah, adapun orang yang sudah tua maka sudah hilang darinya darah muda, telah hilang darinya sifat keras, tergesa-gesa, dan kedunguan, dia telah banyak pengetahuan dan pengalaman; sehingga tidak masuk syubhat dalam ilmunya, tidak dikalahkan oleh hawa nafsu, tidak terpengaruh oleh ketamakan, tidak mudah digelincirkan oleh syaithan sebagaimana anak muda, dengan tambahnya usia maka tumbuhlah keagungan dan kewibawaan, dan berkah bersama mereka, Nabi  bersabda :
    البركة مع أَكابرِكم
    “ Berkah itu bersama orang-orang tua mereka ” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam Shahihnya : 559 dan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak : 210 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Shahihan : 1778 ).
    Abdullah bin Mubarok pernah ditanya di hadapan Sufyan bin Uyainah maka dia berkata : Kami dilarang bicara di hadapan orang-orang tua kami ( Siyar Alamin Nubala 8/420 ).

    JAUHILAH DARI SIKAP BERUBAH-UBAH DAN TETAPLAH DI ATAS SUNNAH

    Di antara fiqih fitnah adalah menjauhi sikap berubah-ubah dan berbolak-balik di dalam fitnah, dan hal itu dengan komitmen dengan Sunnah.
    Suatu hari Abu Masud Al-Anshari Radhiyallahu Anhu masuk kepada Hudzaifah seraya berkata : Berikan wasiat kepada kami wahai Abu Abdillah ! , Hudzaifah berkata : Belumkah datang al-yaqin kepadamu ? , Abu Masud menjawab : Ya demi Rabbku , Hudzaifah berkata : Sesungguhnya kesesatan sebenarnya jika Engkau memandang maruf pada hari ini apa yang Engkau pandang mungkar pada hari sebelumnya, dan Engkau pandang mungkar pada hari ini apa yang Engkau pandang maruf pada hari sebelumnya, awaslah Engkau dari berubah-ubah, karena sesungguhnya agama Alloh adalah satu ( Diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak 4/552 dan Abdurrozzaq di dalamAl-Mushonnaf 11/249 ).
    Hudzaifah Radhiyallahu Anhu berkata : Jika seorang dari kalian ingin mengetahui apakah dia telah tertimpa fitnah atau belum maka hendaknya dia melihat : Jika dia memandang halal sesuatu yang sebelumnya dia pandang haram maka sungguh dia telah tertimpa fitnah, dan jika dia memandang haram sesuatu yang sebelumnya dia pandang halal maka sungguh dia telah tertimpa fitnah ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushonnaf 7/474 nomor 37343 dan Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak 4/514 nomor 8443 dan dinyatakan shahih sanadnya oleh Al-Hakim atas syarat Syaikhain ).

Tinggalkan Balasan ke Abu Rafli - Cikarang Bekasi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.