INTISARI AJARAN ISLAM

إياك نعبد وإياك نستعين
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan . “

Ayat ini adalah ayat yang selalu dibaca oleh setiap muslim pada setiap roka’at sholatnya ,tidak terhitung berapa kali seorang muslim mengucapkan ayat ini setiap hari di dalam sholat dan di luar sholat, tetapi sedikit sekali di antara kita yang memahami bahwa ayat ini mengandung mana yang agung, bahkan ayat ini merupakan inti surat Al-Fatihah, sedangkan Al-Fatihah adalah merupakan inti dari isi Al-Quran semuanya ( Majmuatur Rosailit Taujiihaat 1/166 ) , sebagian ulama salaf mengatakan : Al-Fatihah adalah merupakan rahasia keagungan Al-Quran, sedangkan rahasia Al-Fatihah terdapat pada kalimat ini :
( إياك نعبد وإياك نستعين ( ( Tafsir Al-Qur’anul Adhim 1/36 ) . Mengapa ayat ini demikian besar keutamaannya ? Jawabannya akan kita dapatkan jika kita melihat ma’na dan kandungannya.

MA’NA AYAT

Al-Imam Ibnu Jarir berkata :

Ma’na ( إياك نعبد ( KepadaMulah Ya Allah kami merendah, khusyu’ dan menghinakan diri, karena mengakui rububiyyah hanya kepadaMu, tidak kepada yang selainMu.
Dan ma’na ( وإياك نستعين ( adalah : Dan kepada Engkaulah kami mohon pertolongan agar kami selalu beribadah kepadaMu dan taat terhadap semua perintahMu tiadak ada seorangpun yang kami mintai pertolongan selainMu -, ketika orang yang kafir kepadaMu meminta pertolongan kepada berhala-berhala yang disembah selainMu dalam urusan-urusannya , maka kami meminta pertolongan kepada Engkau dalam semua urusan kami dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepadaMu . ( Jamiul Bayan 1/98-99)

Al-Imam Al-Qurthuby berkata : Jika ada yang bertanya : Kenapa didahulukan maful (yaitu إياك ) sebelum fi’il ( yaitu نعبد dan نستعين ) ? Maka jawabannya adalah fi’il tersebut didahulukan karena dipentingkan, dan mendahulukan yang penting adalah merupakan kebiasaan orang-orang Arob. (Al-Jami’ li Ahkaamil Qur’an 1/145)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sady berkata : Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan : Yaitu kami khususkan Engkau dalam ibadah dan istianah , dan ibadah adalah kata yang meliputi segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridloiNya dari perkataan dan perbuatan , baik yang nampak maupun tidak nampak , sedangkan istianah adalah menyandarkan kepada Allah dalam mencari manfaat dan menolak madlorot , dengan perasaan tsiqoh kepada Allah dalam mendapatkan semua itu . ( Lihat Taisir Al-Kariimir Rohman hal. 35 )

KANDUNGAN AYAT

Al-Hasan Al-Bashry berkata : Sesungguhnya Allah telah menurunkan 104 kitab suci yang dikumpulkan semua ilmunya dalam empat kitab, dan mengumpulkan ilmu empat kitab dalam Al-Quran, dan mengumpulkan ilmu Al-Quran dalam Al-Mufashshol, dan mengumpulkan ilmu Al-Mufashshol dalam Ummul Quran, dan mengumpulkan ilmu Ummul Quran di dalam dua kalimat yang menyeluruh ini : ( إياك نعبد وإياك نستعين ( dan sesungguhnya ilmu semua kitab yang diturunkan dari langit terkumpul dalam dua kalimat ini (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan yang lainnya sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa 14/7).

😦
😦

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Firman Allah ( إياك نعبد ( mengisyaratkan kepada peribadahan hanya kepadaNya yang merupakan konsekwensi terhadap uluhiyahNya dari kecintaan , rasa takut, roja’(mengharap), perintah dan laranganNya.
Dan firman Allah ( وإياك نستعين ( mengisyaratkan kepada apa yang diharuskan terhadap pengakuan rububiyyahNya seperti tawakkal, penyerahan , dan pasrah kepada Allah ( , karena Allah ( adalah pemilik alam semuanya. Di dalam firman Allah ini juga terdapat mana rububiyyah, perbaikan, dan penguasa yang berbuat pada apa yang dikuasainya sesuai dengan kehendaknya .
Maka jika telah jelas rahasia rububiyyah kepada seorang hamba yaitu bahwasanya kekuasaan dan pengaturan semuanya di tangan Allah ( – Allah berfirman : Maha Suci Allah yang di tanganNyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu (Al-Mulk :1) maka tidak akan melihat manfaat, madhorot, gerakan, ketenangan, penggenggaman, pembentangan, penundukan, dan pengangkatan melainkan merasa bahwa Allahlah pelakunya, penciptanya, penggenggamnya, pembentangnya, pengangkatnya, dan penurunnya, Persaksian ini adalah rahasia kalimat kauniyyah yang merupakan tanda bagi sifat rububiyyah. Adapun persaksian yang pertama(persaksian terhadap ibadah hanya kepada Allah semata) adalah tanda bagi sifat uluhiyyah yang merupakan penyingkap terhadap rahasia kalimat taklifiyyah.
Maka perealisasian terhadap perintah dan larangan, kecintaan, khouf(rasa takut), dan roja(mengharap) ; adalah dengan menyingkap ilmu uluhiyyah.
Dan perealisasian terhadap tawakkal, penyerahan, dan kepasrahan adalah sesudah menyingkap ilmu rububiyyah yaitu ilmu pengaturan terhadap alam semesta ; sebagaimana difirmankan oleh Allah ( : ( إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ ( “ Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya “ Kun (Jadilah) “ , maka jadilah ia “ ( An-Nahl :40 ) . Jika telah terjelma pada seorang hamba persaksian ini , dan dia diberi taufiq oleh Allah tunjukkan dalam hal itu, yaitu bahwa persaksian kedua ini tidak menghalangi persaksian yang pertama, maka jadilah ia orang yang faham terhadap ibadahnya ; karena dua persaksian ini adalah kisaran ajaran agama , karena semua persaksian rohmah, kelembutan, kemurahan, dan keindahanNya termasuk dalam persaksian rububiyyah.
Karena inilah maka dikatakan bahwa ayat ini ( إياك نعبد وإياك نستعين ( mengandung semua rahasia Al-Qur’an, karena awalnya mengharuskan peribadahan kepadaNya dengan melaksanakan perintah dan larangan, kecintaan, rasa takut, dan roja’ sebagaimana telah kita sebutkan ; dan akhirnya mengharuskan peribadahan kepadaNya dengan penyerahan dan kepasrahan, dan meninggalkan pilihan, dan semua penghambaan masuk dalam hal itu. (Majmu Fatawa: 1/89-90)
Maka agama Islam adalah hendaknya seorang hamba tidak beribadah melainkan hanya kepada Allah dan tidak istianah (meminta pertolongan) kecuali kepadaNya . (Majmu Fatawa: 11/524)
Dan apabila Allah telah mewajibkan kepada kita agar kita selalu bermunajat dan berdoa kepadaNya dengan dua kalimat ini di setiap sholat maka merupakan hal yang dimaklumi bahwa hal itu mengharuskan bahwasanya Dia mengharuskan kita agar selalu ibadah dan istianah kepadaNya, karena kewajiban mengucapkan sesuatu – yang berupa pengakuan, penetapan, doa, dan meminta adalah merupakan kewajiban terhadap mana ucapan tersebut bukan sekedar kewajiban mengucapkan lafadz tanpa mana.
Dan Allah telah mengumpulkan dua pokok yang menyeluruh ini dalam beberapa tempat dalam KitabNya seperti firmanNya dalam akhir surat Hud  فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ(
“ Maka beribadahlah kepadaNya dan bertawakkalah kepadaNya “ (Hud:123) , dan perkataan Hamba yang sholih Syu’aib :  َوَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ(
“ Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah, hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepadaNyalah aku kembali “ (Hud: 88) , dan perkataan Ibrohim dan orang-orang yang bersamanya : ( َرَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِير(
Ya Rabb kami kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali (Al-Mumtahanah: 4).
Dan kepada dua pokok inilah Rasulullah ( memaksudkan ibadah-ibadahnya, dzikir-dzikirnya, dan munajat-munajatnya ,seperti doanya ketika berkurban : (اللهم هذا منك و لك) : “Ya Allah ini adalah dariMu dan untukMu “ ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud : 2795 dan Daarimy: 2/75-76 dan dihasankan oleh Al-Albaany dalam Irwaaul Gholil: 4/350 ) maka lafadz (منك ) adalah ma’na tawakkal dan isti’anah , dan lafadz (لك ) adalah bermana ibadah. (Majmu Fatawa : 14/8-9)

Kemudian manusia di dalam hal ibadah kepada Allah dan istianah kepadaNya terbagi menjadi empat kelompok :

1. Orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, mereka selalu beribadah dan istianah kepadaNya.

2. Kelompok yang beribadah kepadaNya tanpa disertai dengan istianah dan kesabaran, maka engkau dapati mereka selalu berusaha untuk taat, waro, dan iltizam kepada sunnah tetapi tidak memiliki tawakkal, istianah, dan kesabaran, bahkan terdapat pada mereka kelemahan dan keluh kesah.

3. Kelompok yang memiliki istianah, tawakkal, dan kesabaran tanpa disertai istiqomah atas perintah Allah dan tanpa ittiba kepada sunnah.

4. Kelompok yang terjelek, yaitu yang tidak beribadah dan istianah(minta pertolongan) kepadaNya . (Majmu Fatawa : 3/124-125 dengan sedikit ringkasan)

Kelompok yang pertama adalah orang-orang yang selalu beribadah dan memohon pertolongan kepada Allah sehingga Allah membantu mereka melaksanakan ibadah dan ketaatan kepadaNya , mereka adalah orang-orang yang beriman dan beramal sholih yang dijelaskan keadaan mereka oleh Allah dalam firmanNya :
(حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (
“ Allah yang menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus “ (Al-Hujuroot: 7)

Kelompok yang kedua adalah orang-orang yang banyak memperhatikan ibadah kepada Allah, menjalankan perintah dan larangan, ikhlas kepada Allah, ittiba kepada syariat dengan tunduk kepada perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, serta tunduk kepada kalimat-kalimat kauniyahNya, tetapi mereka ini kurang dalam hal istianah dan tawakkal sehingga adakalanya mereka ini menjadi lemah, berlebih-lebihan, atau terkalahkan oleh musuh yang nampak atau musuh yang tidak nampak, dan kadang kelompok ini banyak diliputi keluh kesah terhadap musibah yang menimpanya dan banyak bersedih terhadap hal-hal yang luput darinya. Keadaan seperti ini banyak terdapat pada orang-orang yang mengenal syariat Allah dan perintahNya dan melihat dirinya ittiba kepada syariat dan ibadah yang syariy tetapi tidak mengenal qodlo dan qodarNya. Dia bagus niatnya, pencari kebenaran, tetapi tidak tahu jalan yang menyampaikan pada kebenaran yang dicarinya.

Kelompok yang ketiga adalah orang-orang yang sangat memperhatikan istianah kepada Allah, tawakkal kepadaNya, menampakkan kefaqiran dan kebutuhan yang sangat di hadapan Allah ( , tunduk kepada qodlo dan qodarNya serta kalimat-kalimat kauniyahNya tetapi kurang dari segi ibadah, dan keikhlasan agama kepada Allah semata, sehingga tujuannya bukanlah agar agama ini semuanya bagi Allah, dan kalaupun tujuannya demikian maka dia tidak ittiba kepada syariat Allah dan manhajNya ; bahkan tujuannya adalah mendapatkan suatu jenis kekuatan tertentu di dunia, adakalanya berupa kekuatan untuk menguasai atau mempengaruhi dan adakalanya kekuatan untuk menyingkap dan memberitakan (hal yang ghoib), atau tujuannya adalah mendapatkan apa yang dia inginkan dan menolak apa yang dia benci dengan segala cara, atau tujuannya adalah jenis ibadah tertentu. Dan dari segi manapun cita-citanya dalam istianah dan tawakkal adalah agar mendukung tercapainya tujuannya. Maka orang seperti ini adakalanya orang yang jahil(bodoh) dan adakalanya orang yang dholim dengan meninggalkan sebagian perintah Allah, melanggar sebagian laranganNya. Keadaan seperti ini adalah keadaan kebanyakan orang yang menempuh suatu peribadahan, tashawwuf, dan kefaqiran, mengakui qodar Allah dan qodloNya, tetapi tidak mengakui perintah Allah dan laranganNya; mengakui tegaknya alam semesta karena Allah dan butuhnya alam semesta kepadaNya dan pengaturanNya terhadap alam semesta , tetapi tidak mengakui apa yang diperintahkan dan dilarang olehNya, tidak mengakui apa yang dicintai dan diridloiNya, dan tidak mengakui apa yang dibenci dan dimurkaiNya.
Karena inilah banyak terdapat pada mereka ini kekuatan mengetahui yang ghoib, kekuatan mempengaruhi dan hal-hal yang luar biasa bersama pelanggaran terhadap sebagian syariat dan penyelewengan terhadap sebagian perintah Allah. Dan jika seseorang di antara mereka sudah sangat mendalam dalam hal ini maka dia akan terjerumus dalam keyakinan bolehnya meninggalkan syariat secara keseluruhan, dan kadang-kadang meningkat kesesatannya sampai pada rusaknya tauhidnya sehingga terjerumus ke dalam pemahaman ittihad (bersatunya hamba dengan Allah) dan hulul(penjelmaan Allah pada sesuatu makhluk) yang terbatas.
Dan sebagian mereka bahkan masuk ke dalam keyakinan ittihad muthlaq dan keyakinan wihadatulwujud (bahwa segala yang nampak adalah perwujudan dari Allah).

Kelompok yang keempat adalah kelompok yang berpaling sama sekali dari ibadah kepada Allah dan istianah kepadaNya. Dan mereka ini terbagi menjadi dua bagian : Ahlu Dunia dan Ahlu Diin.
Adapun Ahlud Diin dari kelompok ini adalah pemilik agama yang rusak yang menyembah selain Allah, dan isti’anah(memohon pertolongan) kepada selain Allah dengan mengikuti persangkaan mereka padahal Allahlah yang paling pantas dimintai pertolongan :
(إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى (
“ Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka “ (An-Najm :23).
Sedangkan Ahli Dunia dari kelompok ini adalah orang-orang yang mencari apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka dari perhiasan dunia dan berkeyakinan bahwa sikap mereka ini(yaitu meninggalkan ibadah dan istianah kepada Allah) adalah termasuk sarana untuk mencapai tujuan mereka. ( Lihat Majmu Fatawa : 14/10-12, 36 )

KESIMPULAN

Ayat ini mengandung dua pokok yang agung, yaitu ibadah dan istianah.
Perintah Allah kepada setiap muslim agar selalu bermunajat kepadaNya dengan dua kalimat ini dalam setiap sholatnya menunjukkan bahwa Allah memerintahkan agar setiap muslim tidak beribadah dan meminta pertolongan melainkan hanya kepadaNya.
Ibadah adalah perealisasian Tauhid Uluhiyyah, sedangkan istianah adalah perealisasian Tauhid Rububiyyah, sehingga dua pokok ini adalah merupakan intisari ajaran agama Islam.
Di dalam pelaksanaan dua pokok ini manusia terbagi menjadi empat kelompok: Kelompok yang selalu menjalankan keduanya, kelompok yang mlaksanakan ibadah tanpa disertai istianah, kelompok yang melaksanaka istianah tanpa disertai ibadah, dan kelompok yang tidak melaksanakan kedua-duanya.

و الله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.