Hati yang keras dalam bahaya

💖 *Hati yang keras dalam bahaya …*

✍Allah berfirman,

أفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [az-Zumar: 22]

Berkata Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar,
Apakah kalian tidak bisa membedakan dan melihat, maka Allah jadikan hatinya terbuka menerima Islam, itu adalah dari petunjuk Tuhannya, sebagaimana orang yang keras dan sempit hatinya, maka iman tidak akan masuk dalam dirinya, apakah itu pilihan yang buruk? Yakni tidak sama diantara keduanya. Maka kerusakan dan siksa akan menimpa mereka yang berpaling dari Al-Qur’an, mereka adalah orang-orang yang keras hatinya, ragu-ragu, jauh dari kebenaran. (afaman) adalah istifham inkari bermakna nafi, istifham dalam lafadz tersebut disesuaikan dengan konteks ayat setelahnya.
(Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar)

Berkata Imam Ibnu Katsir رحمه الله,
Maksudnya, apakah sama orang yang demikian dengan orang yang membatu hatinya lagi jauh dari kebenaran? Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا}
Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? (Al-An’am: 122)
Karena itulah disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:
فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya umtuk mengingat Allah. (Az-Zumar: 22)
Yakni hati mereka tidak lunak saat menyebut nama Allah, tidak khusyuk, tidak sadar dan tidak memahami.
{أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ}
Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az-Zumar: 22)
(Tafsir Ibnu Katsir)

Syaikh as-Sa’dîy –rahimahullah- berkata:

أَي: لَا تَلِيْنُ لِكِتَابِهِ، وَلَا تَتَذَّكَّرُ بِآيَاتِهِ، وَلَا تَطْمَئِنَّ بِذِكْرِهِ، بَل هِيَ مُعْرِضَةٌ عَنْ رَبِّهَا، مُلْتَفِتَةٌ إِلَى غَيْرِهِ، فَهَؤُلَاءِ لَهُمْ الْوَيْلُ الشَّدِيْدُ، وَالشَّرُّ الْكَبِيْرُ.
“Maksudnya adalah hati yang tidak bisa luluh lembut dengan Al-Qur’an, tidak bisa mengambil peringatan dari ayat-ayat Allah, dialah hati yang tidak bisa tenang dengan dzikir kepada Allah, bahkan dia adalah hati yang berpaling dari tuhannya kepada selainNya. Merekalah yang mendapat ancaman kecelakaan yang parah dan keburukan yang besar”
(Taisir Al-Karim Ar-Rahman hal. 722)

Hati yang keras membuat seorang hamba menjadi malas untuk melakukan ketaatan kepada Allah, menjadi malas untuk melakukan perbuatan yang baik.
Hati yang keras membuat seorang insan terkunci dengan angan-angan dunia hingga dia lupa terhadap akhiratnya.
Hati yang keras membuat hidup seseorang terasa gelap mencekam, meskipun secara dhahir dia berada di tengah gemerlapnya hidup bergelimang kenikmatan dunia.
Dan tidaklah seorang hamba yang hatinya keras kecuali dia berada pada sebuah ancaman kemurkaan dan adzab Allah.

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata,
“Tidaklah seorang hamba mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada hati yang keras dan jauh dari Allah.” (al-Fawa’id, hal. 95).

Berkata Hudzaifah ibn qotadah رحمه الله,

أعظم المصائب قسوة القلوب.
(السير ، 9/284)
“Musibah terbesar yaitu Kerasnya Hati”
(Siyar, 9/284)

Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.💞…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.