Haramnya Wala’ (Loyal) kepada orang Kafir dan wajibnya Bara’ (Berlepas diri) dari Mereka

Di antara pokok-pokok aqidah Islam adalah wajibnya memberikan walaโ€™ ( loyalitas ) kepada setiap muslim dan baroโ€™ ( membenci dan memusuhi ) orang-orang kafir, wajib memberikan walaโ€™ kepada orang-orang yang bertauhid dan baroโ€™ kepada orang-orang musyrik, inilah agama Ibrahim yang kita semua diperintahkan oleh Alloh agar mengikutinya Alloh ( berfirman :

( ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฃูุณู’ูˆูŽุฉูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉูŒ ูููŠ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูŽุนูŽู‡ู ุฅูุฐู’ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ู„ูู‚ูŽูˆู’ู…ูู‡ูู…ู’ ุฅูู†ู‘ูŽุง ุจูุฑูŽุขุกู ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูู…ู‘ูŽุง ุชูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฏููˆู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽููŽุฑู’ู†ูŽุง ุจููƒูู…ู’ ูˆูŽุจูŽุฏูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู ุงู„ู’ุนูŽุฏูŽุงูˆูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุบู’ุถูŽุงุกู ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูุคู’ู…ูู†ููˆุง ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู (
โ€œSesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: โ€œSesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. โ€œ ( Al-Mumtahanah : 4 )

Alloh ( mengharamkan walaโ€™ kepada orang-orang kafir semuanya sebagaimana dalam firmanNya :

( ูŠูŽุงุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุกูŽุงู…ูŽู†ููˆุง ู„ูŽุง ุชูŽุชู‘ูŽุฎูุฐููˆุง ุนูŽุฏููˆู‘ููŠ ูˆูŽุนูŽุฏููˆู‘ูŽูƒูู…ู’ ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงุกูŽู (
โ€œSesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: โ€œSesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. โ€œ ( Al-Mumtahanah : 4 )

BENTUK-BENTUK WALAโ€™ KEPADA ORANG-ORANG KAFIR

  1. Menyerupai orang-orang kafir dalam pakaian-pakaian, pembicaraan, dan kebiasaan-kebiasaan mereka.

Menyerupai orang-orang kafir dalam pakaian-pakaian, pembicaraan, dan yang lainnya menunjukkan kecintaan kepada siapa yang ditirunya, karenanya Rasulullah ( bersabda :
ู…ู† ุชุดุจู‡ ุจู‚ูˆู… ูู‡ูˆ ู…ู†ู‡ู…
โ€œ Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka โ€œ ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 4/44, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya 4/216, dan ahmad dlam Musnadnya 2/50 dan dikatakan oleh syaikh Al-Albany dalam Irwaul Ghalil : 1269 : Hasan Shahih ).

Diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam ciri-ciri khas mereka dari kebiasaan, peribadahan, dan akhlaq-akhlaq mereka seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, memkai bahasa-bahasa mereka tanpa ada keperluan, meniru model pakaian mereka dan lain sebagainya.

  1. Memuji orang-orang kafir dan membantu mereka dalam memerangi kaum muslimin.

Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata : โ€œ Ini termasuk pembatal keislaman dan sebab kemurtadan โ€œ ( Al-Walaโ€™ wal Baroโ€™ hal. 3 ).

  1. Meminta pertolongan kepada mereka, memberi mereka kedudukan-kedudukan penting, dan menjadikan mereka sebagai teman setia dan penasehat.

Alloh ( berfirman :
( ูŠูŽุงุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุกูŽุงู…ูŽู†ููˆุง ู„ูŽุง ุชูŽุชู‘ูŽุฎูุฐููˆุง ุจูุทูŽุงู†ูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ุฏููˆู†ููƒูู…ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽุฃู’ู„ููˆู†ูŽูƒูู…ู’ ุฎูŽุจูŽุงู„ู‹ุง ูˆูŽุฏู‘ููˆุง ู…ูŽุง ุนูŽู†ูุชู‘ูู…ู’ ู‚ูŽุฏู’ ุจูŽุฏูŽุชู ุงู„ู’ุจูŽุบู’ุถูŽุงุกู ู…ูู†ู’ ุฃูŽูู’ูˆูŽุงู‡ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽุง ุชูุฎู’ูููŠ ุตูุฏููˆุฑูู‡ูู…ู’ ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ู‚ูŽุฏู’ ุจูŽูŠู‘ูŽู†ู‘ูŽุง ู„ูŽูƒูู…ู ุงู„ู’ุขูŠูŽุงุชู ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ ู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุฃููˆู„ูŽุงุกู ุชูุญูุจู‘ููˆู†ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุญูุจู‘ููˆู†ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุชูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ูƒูู„ู‘ูู‡ู ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู‚ููˆูƒูู…ู’ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ุกูŽุงู…ูŽู†ู‘ูŽุง ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฎูŽู„ูŽูˆู’ุง ุนูŽุถู‘ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู ุงู„ู’ุฃูŽู†ูŽุงู…ูู„ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุธู ู‚ูู„ู’ ู…ููˆุชููˆุง ุจูุบูŽูŠู’ุธููƒูู…ู’ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ ุจูุฐูŽุงุชู ุงู„ุตู‘ูุฏููˆุฑู (

โ€œHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: โ€œKami berimanโ€; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): โ€œMatilah kamu karena kemarahanmu ituโ€. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. โ€œ ( Ali Imran : 118-119 )

Dari Aisyah bahwasanya Nabi ( keluar untuk perang Badar, ternyata ada seorang musyrik yang mengikuti beliau dan menemui beliau di Harroh, berkata oarang musyrik tersebut : โ€œ Bagaimana menurut pendapatmu jika aku mengikutimu dan berperang bersamamu ? โ€œ,Nabi ( bersabda : โ€œ Apakah kamu beriman kepada Alloh dan RasulNya ? โ€œ, orang tersebut menjawab : โ€œ Tidak โ€œ, maka Nabi ( bersabda : โ€œ Kembalilah !, akau tidak mau meminta bantuan kepada seorang yang musyrik โ€œ ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 3/1450 ).

Nash-nash di atas menunjukkan haramnya menjadikan orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan, larangan meminta pertolongan kepada mereka, memberi mereka kedudukan-kedudukan penting sehingga bisa memata-matai kaum muslimin dan memberikan madharat kepada kaum muslimin.

  1. Memberi nama dengan nama-nama orang-orang kafir.

Sebagian kaum muslimin memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama orang-orang kafir, padahal Rasulullah ( bersabda :

ุชุณู…ูˆุง ุจุงุณู…ูŠ
โ€œ Namakanlah dengan namaku โ€œ ( Muttafaq Alaih, Bukhary 1/52 dan Muslim 3/1682 ).

ุฅู† ุฃุญุจ ุฃุณู…ุงุฆูƒู… ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ูˆุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู†
โ€œ Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling dicintai oleh Alloh adalah Abdullah dan Abdurrahman โ€œ ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 3/1682 ).

  1. Menghadiri dan ikutserta dalam hari raya- hari raya orang-orang kafir atau membantu pelaksanaannya atau ucapan selamat hari raya kepada mereka atau menghadirinya ( Lihat Al-Walaโ€™ wal Baroโ€™ oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 3-13 ).

MUI di dalam fatwanya tertanggal 1 Jumadil Awal 1401 H / 7 Maret 1981 memutuskan bahwa : Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram ( Dari situs resmi Majelis Ulama Indonesia http://www.mui.or.id ).

Lajnah Daimah Saudi Arabia di dalam Fatwanya nomor 11168 menyatakan : โ€ Tidak boleh seorang muslim memberi ucapan selamat kepada orang Nasrani pada hari raya mereka, karena hal itu berarti tolong menolong di dalam dosa. Sungguh Alloh telah melarang kita dari hal itu :

โ€œ dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. โ€œ ( Al-Maidah : 2 ).

Sebagaimana di dalam ucapan selamat itu terdapat kasih sayang kepada mereka, menuntut kecintaan, serta menampakkan keridhaan kepada mereka, karena mereka selalu menentang Alloh dan menyekutukanNya dengan selainNya, menjadikan baginya isteri dan anak, Alloh ( telah berfirman:

โ€œ Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang Telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya โ€œ ( Al-Mujadilah : 22 ) โ€œ.

WAJIBNYA MENYELISHI ORANG-ORANG KAFIR

Di antara doa kaum mukminin yang selalu dilantunkan di dalam setiap rokaโ€™at shalat yakni saat membaca surat Al-Fatihah adalah permohonan kepada Allah Subhanahu wa Taโ€™ala agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan dijauhkan dari mengikuti jalan Yahudi dan Nashara. Doโ€™a ini adalah :

ุงู‡ู’ุฏูู†ูŽุง ุงู„ุตู‘ูุฑูŽุงุทูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ุชูŽู‚ููŠู…ูŽ ุตูุฑูŽุงุทูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ุนูŽู…ู’ุชูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุถููˆุจู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ุงูŽ ุงู„ุถู‘ูŽุงู„ู‘ููŠู†ูŽ
โ€ Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. โ€ ( Al-Fatihah : 5-6 ) โ€œ.

Rasulullah ( bersabda :

ุงู„ูŠู‡ูˆุฏ ู…ุบุถูˆุจ ุนู„ูŠู‡ู… ูˆุฅู† ุงู„ู†ุตุงุฑู‰ ุถู„ุงู„

โ€ Yahudi adalah yang dimurkai dan sesungguhnya Nashoro adalah orang-orang yang sesat โ€ ( Diriwayatkan oleh Tirmidzi di dalam Sunannya 5/201 dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsirnya 1/31 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jamiโ€™ : 8202 ).

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata : โ€ Ciri khas orang-orang Yahudi adalah dimurkai sebagaimana Alloh Taโ€™ala berfirman :

โ€ yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, โ€ ( Al-Maaidah : 60 ), dan ciri khas orang-orang Nashoro adalah kesesatan sebagaimana Alloh Taโ€™ala berfirman tentang mereka :

โ€ orang-orang yang Telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka Telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus โ€ ( Al-Maaidah : 77 ), dan telah dalam hal ini hadits-hadits dan atsar-atsar โ€ ( Tafsir Al-Qurโ€™anil Azhim 1/28 ) .
Alloh telah melarang tasyabbuh secara umum, Allloh berfirman :

โ€ sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak Mengetahuiโ€ ( Yunus : 89 ).
Alloh melarang menyerupai orang-orang kafir di dalam perkara-perkara yang diharamkan atas kita, Alloh berfirman :

โ€ seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih Kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dari kamu. Maka mereka Telah menikmati bagian mereka, dan kamu Telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka Itulah orang-orang yang merugi โ€ ( At-Taubah : 69 ).

Di dalam ayat ini Alloh mencela tasyabuh orang-orang kafir di dalam segi syubhat-syubhat ( keyakinan-keyakinan ) mereka yang batil dan mengikuti syahwat-syahwat yang diharamkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

ูˆุฌู…ุน ุณุจุญุงู†ู‡ ุจูŠู† ุงู„ุงุณุชู…ุชุงุน ุจุงู„ุฎู„ุงู‚ุŒ ูˆุจูŠู† ุงู„ุฎูˆุถุ› ู„ุฃู† ูุณุงุฏ ุงู„ุฏูŠู†: ุฅู…ุง ุฃู† ูŠู‚ุน ุจุงู„ุงุนุชู‚ุงุฏ ุงู„ุจุงุทู„ุŒ ูˆุงู„ุชูƒู„ู… ุจู‡ุŒ ุฃูˆ ูŠู‚ุน ููŠ ุงู„ุนู…ู„ ุจุฎู„ุงู ุงู„ุงุนุชู‚ุงุฏ ุงู„ุญู‚ุŒ ูˆุงู„ุฃูˆู„: ู‡ูˆ ุงู„ุจุฏุน ูˆู†ุญูˆู‡ุงุŒ ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ: ูุณู‚ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ูˆู†ุญูˆู‡ุงุŒ ูˆุงู„ุฃูˆู„: ู…ู† ุฌู‡ุฉ ุงู„ุดุจู‡ุงุชุŒ ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ: ู…ู† ุฌู‡ุฉ ุงู„ุดู‡ูˆุงุช

โ€ Alloh Subhanahu menggabungkan antara menikmati bagian dan antara mempercakapkan ( hal yang batil) ; karena sesungguhnya kerusakan agama : adakalanya terjadi dengan keyakinan yang batil dan mengucapkannya, atau terjadi dengan melakukan perbuatan yang menyelisihi keyakinan yang haq, yang pertama : adalah bidโ€™ah-bidโ€™ah dan semacamnya, dan yang kedua adalah kefasiqan amalan dan yang semacamnya, yang pertama adalah dari sisi syubhat-syubhat, dan yang kedua adalah dari sisi syahwat-syahwat โ€ ( Iqtidha Shirathal Mustaqim 1/118-119 ).

Di antara hal yang dilarang oleh Alloh dari tasyabbuh terhadap orang-orang kafir adalah kekesatan hati dengan berlalunya masa yang panjang, Alloh Taโ€™ala berfirman :

โ€ Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang Telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya Telah diturunkan Al Kitab kepadanya, Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik โ€ ( Al-Hadid : 16 ).

Akhirnya kita memohon kepada Allah โ€˜Azza wa jalla agar memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa berpegang dengan ajaran Islam dan diselamatkan dari segala bentuk meniru-niru orang kafir dan memberikan taufiq kepada kita untuk taโ€™at kepadanya, beribadah dengan benar kepadaNya, dan selalu mengingatNya serta menyatukan kalimat muslimin kepada yang dicintainya dan diridhainya.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Akhukum : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah
[16:51, 12/28/2018] Abu Yusuf Masruhin Sahal: PENYEBAB TERJADINYA BENCANA

Pertanyaan.
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali Hafizhahullah ditanya : Apakah bencana-bencana yang terjadi, khususnya di Indonesia, termasuk adzab Allah, karena Indonesia merupakan negara yang tidak sepenuhnya memberlakukan syariโ€™at agama secara baik dan benar?

Jawaban
Musibah-musibah yang terjadi menimpa umat ini, ada dua bentuk penyebab. Bisa merupakan hukuman atau penebus dosa. Jika merupakan hukuman, maka itu hukuman atas maksiat. Jika merupakan penebus dosa, maka sebagai penebus dosa terhadap pelaku maksiat. Ini menunjukkan, bahwa maksiat menjadi peyebab musibah-musibah yang menimpa umat.

Oleh karena itu, maka orang yang berakal, ia berhenti dari (berbuat maksiat). Orang yang berbahagia adalah orang yang mengambil pelajaran. Dia mengambil pelajaran (musibah) yang menimpa orang lain sebelum menimpa dirinya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Masโ€™ud Radhiyallahu โ€˜anhu

ุงู„ุณู‘ูŽุนููŠู’ุฏู ู…ูŽู†ู ุงุชู‘ูŽุนูŽุธูŽ ุจูุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู , ูˆูŽุงู„ุณูŽู‚ููŠูู‘ ู…ูŽู†ู ุงุชู‘ูŽุนูŽุธูŽ ุจูู†ูŽูู’ุณูู‡ู

โ€œOrang yang berbahagia adalah orang yang mengambil pelajaran dengan orang lain. Dan orang yang celaka adalah orang yang mengambil pelajaran dengan dirinyaโ€

Jadi, musibah-musibah itu diakibatkan dari perbuatan-perbuatan maksiat. Ini disebutkan dalam banyak hadits, di antaranya hadits โ€˜Abdullah bin โ€˜Umar Radhiyallahu โ€˜anhu , bahwa Nabi Muhammad Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:

ูŠูŽุง ู…ูŽุนู’ุดูŽุฑูŽ ุงู„ู’ู…ูู‡ูŽุงุฌูุฑููŠู†ูŽ ุฎูŽู…ู’ุณูŒ ุฅูุฐูŽุง ุงุจู’ุชูู„ููŠุชูู…ู’ ุจูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽุฃูŽุนููˆุฐู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ุชูุฏู’ุฑููƒููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุธู’ู‡ูŽุฑู ุงู„ู’ููŽุงุญูุดูŽุฉู ูููŠ ู‚ูŽูˆู’ู…ู ู‚ูŽุทู‘ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูุนู’ู„ูู†ููˆุง ุจูู‡ูŽุง ุฅูู„ู‘ูŽุง ููŽุดูŽุง ูููŠู‡ูู…ู ุงู„ุทู‘ูŽุงุนููˆู†ู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽูˆู’ุฌูŽุงุนู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽูƒูู†ู’ ู…ูŽุถูŽุชู’ ูููŠ ุฃูŽุณู’ู„ูŽุงููู‡ูู…ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูŽุถูŽูˆู’ุง ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูุตููˆุง ุงู„ู’ู…ููƒู’ูŠูŽุงู„ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ููŠุฒูŽุงู†ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูุฎูุฐููˆุง ุจูุงู„ุณู‘ูู†ููŠู†ูŽ ูˆูŽุดูุฏู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุฆููˆู†ูŽุฉู ูˆูŽุฌูŽูˆู’ุฑู ุงู„ุณู‘ูู„ู’ุทูŽุงู†ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู…ู’ู†ูŽุนููˆุง ุฒูŽูƒูŽุงุฉูŽ ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูู†ูุนููˆุง ุงู„ู’ู‚ูŽุทู’ุฑูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ูˆูŽู„ูŽูˆู’ู„ูŽุง ุงู„ู’ุจูŽู‡ูŽุงุฆูู…ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูู…ู’ุทูŽุฑููˆุง ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูุถููˆุง ุนูŽู‡ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุนูŽู‡ู’ุฏูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุณูŽู„ู‘ูŽุทูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุนูŽุฏููˆู‘ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ููŽุฃูŽุฎูŽุฐููˆุง ุจูŽุนู’ุถูŽ ู…ูŽุง ูููŠ ุฃูŽูŠู’ุฏููŠู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุญู’ูƒูู…ู’ ุฃูŽุฆูู…ู‘ูŽุชูู‡ูู…ู’ ุจููƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽูŠูŽุชูŽุฎูŽูŠู‘ูŽุฑููˆุง ู…ูู…ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู’ุฒูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูŽุฃู’ุณูŽู‡ูู…ู’ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’

โ€œHai orang-orang Muhajirin, lima perkara; jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatinya :

โ€ข Perbuatan keji (seperti : bakhil, zina, minum khamr, judi, merampok dan lainnya) tidaklah dilakukan pada suatu masyarakat dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar wabah penyakit thoโ€™un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang dahulu yang telah lewat.

โ€ข Orang-orang tidak mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan kezholiman pemerintah.

โ€ข Orang-orang tidak menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan.

โ€ข Orang-orang tidak membatalkan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka.

โ€ข Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan di antara merekaโ€. [1]

Dan hadits:

ุฅูุฐูŽุง ุชูŽุจูŽุงูŠูŽุนู’ุชูู…ู’ ุจูุงู„ู’ุนููŠู†ูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽุฎูŽุฐู’ุชูู…ู’ ุฃูŽุฐู’ู†ูŽุงุจูŽ ุงู„ู’ุจูŽู‚ูŽุฑู ูˆูŽุฑูŽุถููŠุชูู…ู’ ุจูุงู„ุฒู‘ูŽุฑู’ุนู ูˆูŽุชูŽุฑูŽูƒู’ุชูู…ู’ ุงู„ู’ุฌูู‡ูŽุงุฏูŽ ุณูŽู„ู‘ูŽุทูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฐูู„ุงู‘ู‹ ู„ุงูŽ ูŠูŽู†ู’ุฒูุนูู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุฑู’ุฌูุนููˆุง ุฅูู„ูŽู‰ ุฏููŠู†ููƒูู…ู’

โ€œJika kamu berjual-beli dengan โ€˜inah (sejenis riba), kamu memegangi ekor-ekor sapi, kamu puas dengan pertanian, dan kamu meninggalkan jihad, Allah pasti akan menimpakan kehinaan kepada kamu. Dia tidak akan menghilangkan kehinaan itu sehingga kamu kembali menuju agama kamuโ€. [2]

Ini semua menunjukkan, bahwa kemaksiatan merupakan sebab di antara sebab-sebab musibah. Maka kewajiban umat yang menghormati dirinya sendiri dan yang mengambil pelajaran terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, hendaklah memperhatikan dirinya dan menjauhi kemaksiatan, baik sebagai individu atau sebagai bangsa. Karena sesungguhnya, yang menghancurkan bangsa-bangsa dan membinasakan umat-umat adalah dosa-dosa; dan sebelum itu dosa-dosa mematikan hati. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

BAGAIMANA BANTUAN SALAFIYIN ATAS MUSIBAH INI?

Pertanyaan.
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari ditanya : Kami melihat sebagian ahzab (kelompok-kelompok atau partai-partai) memberikan bantuan kepada umat Islam yang tertimpa musibah, apalagi saat kita terkena banjir (gempa dan tsunami -ed) misalnya, atau lainnya. Sementara kami, dari kalangan Salafi, perhatian mereka banyak yang terfokus dalam menjelaskan kepada umat atau membimbing umat, sedangkan mereka tidak memberi atau tidak menyumbang kepada orang-orang yang terkena musibah, kecuali sedikit. Bagaimana nasihat Syaikh kepada kami?

Jawaban.
Pernyataan bahwa ahzab (kelompok-kelompok atau partai-partai) telah berbuat dan memberikan (bantuan), maka ini tidaklah tepat. Akan tetapi, ahzab ini memiliki (jaringan) informasi yang kuat ; mereka menampakkan yang sedikit di hadapan manusia. Adapun Salafiyun tidak memiliki (media) berita dan informasi yang besar, sehingga kita tidak mampu meniadakan yang menyatakan bahwa Salafiyun tidak memberikan bantuan. Bahkan persangkaan (baik) terhadap mereka (Salafiyun) adalah mereka memberikan bantuan. Tetapi jika didapati (masih adanya) kekurangan, maka kekurangan itu merupakan tabiโ€™at manusia.

Dan ini merupakan kesempatan bagi kami untuk mengingatkan saudara-saudara kami Salafiyin, secara umum dan khusus, untuk maju memberikan bantuan dan perhatian kepada masyarakat (yang tertimpa musibah). Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ููŽุฑู‘ูŽุฌูŽ ุนูŽู†ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูƒูุฑู’ุจูŽุฉู‹ ููŽุฑู‘ูŽุฌูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูƒูุฑู’ุจูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ูƒูุฑูุจูŽุงุชู ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู

โ€œBarangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia dari seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan akhirat.โ€ [HR Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580, dari Abu Hurairah]

Dalam hadits yang lain dengan lafazh:

ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽูู‘ูŽุณูŽ ุนูŽู†ู’ ู…ูุคู’ู…ูู†ู ูƒูุฑู’ุจูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ูƒูุฑูŽุจู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ู†ูŽูู‘ูŽุณูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูƒูุฑู’ุจูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ูƒูุฑูŽุจู ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู

โ€œBarangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan akhiratโ€ [HR Muslim no. 2699]

(Sesi pertanyaan dalam muhadharah di Masjid Istiqlal-Jakarta. Sabtu 22 Muharram 1428H/11 Februari 2007M)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo โ€“ Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 085290093792, 08121533647, 081575792961, 08122589079]


Footnote
[1]. HR Ibnu Majah no. 4019, al Bazzar, al Baihaqi ; dari Ibnu โ€˜Umar. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shahihah no. 106, Shahih at-Targhib wat-Tarhib no. 764, Maktabah al Maโ€™arif
[2]. HR Abu Dawud dan lainnya. Dihasankan oleh Syaikh al Albani di dalam Silsilah ash-Shahihah no. 11

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.