Hakekat i’tikaf …

🌹 Hakekat i’tikaf …

✍Imam Ibnul Qayyim berkata, “Maksud i’tikaf adalah mengkonsentrasikan hati supaya beribadah penuh pada Allah. I’tikaf berarti seseorang menyendiri dengan Allah dan memutuskan dari berbagai macam kesibukan dengan makhluk. Yang beri’tikaf hanya berkonsentrasi beribadah pada Allah saja. Dengan hati yang berkonsetrasi seperti ini, ketergantungan hatinya pada makhluk akan berganti pada Allah. Rasa cinta dan harapnya akan beralih pada Allah. Ini tentu saja maksud besar dari ibadah mulia ini. Jika maksud i’tikaf memang demikian, maka berarti i’tikaf semakin sempurna jika dilakukan dengan ibadah puasa. Dan memang lebih afdhol dilakukan di hari-hari puasa”.
(Zadul Ma’ad, 2/82-83)

Dan i’tikaf itu sangat dianjurkan di 10 akhir Ramadhan sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar رضى الله عنهما berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan (HR. Bukhari, 2025 dan Muslim, 1171).

Sehingga i’tikaf itu menjadikan seorang muslim ber-kholwat dengan Allah, menyendiri untuk beribadah dan menjauh dari kesibukan dunia, dan secara khusus untuk mendapatan malam yang mulia, yaitu Lailatul Qodr.

Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.🎗…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.