GARIS PEMISAH ANTARA DAKWAH SALAFIYYAH DAN DAKWAH HIZBIYYAH

GARIS PEMISAH ANTARA DAKWAH SALAFIYYAH DAN DAKWAH HIZBIYYAH


Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Umat Islam sekarang ini sedang menghadapi bahaya yang besar dari musuh-musuhnya, dari musuh-musuh yang menampakkan secara terang-terangan permusuhan mereka kepada Islam seperti orang-orang kafir yahudi, nashara, Hindu, Budha, Komunis, dan yang lainnya, atau dari musuh-musuh Islam tidak begitu nampak permusuhannya kepada Islam dari orang-orang munafik dan ahli bid’ah wal ahwa’.
Adapun orang-orang kafir dari luar Islam maka mereka menyerang Islam dari luar, adapun orang-orang munafik dan ahli bid’ah maka mereka menikam kaum muslimin dari arah belakang.
Tentang makar orang-orang kafir maka Alloh menyebutkan solusi dari makar mereka di dalam kitabNya, Alloh  berfirman:
 وَلاَ تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ * إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ 
“ Dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan ( kebaikan ). “ ( An-Nahl : 127-128 ).
Maka umat islam ini jika tidak ingin bersempit dada terhadap makar-makar orang kafir maka hendaknya mereka berpegang teguh dengan dua perkara di dalam ayat di atas, yaitu taqwa dan ihsan. Jika umat Islam melaksanakan taqwa dan ihsan maka Alloh menjanjikan kelapangan dari makar-makar orang-orang kafir.
Tetapi kenyataannya saat ini sebagian besar dari kaum muslimin melakukan hal-hal yang kontradiksi dengan taqwa dan ihsan, banyak dari mereka yang terjerumus ke dalam kesyirikan dan kemakshiyatan.
Musuh berikutnya yang lebih berbahaya bagi kaum muslimin adalah ahli bid’ah dan syubuhat, dari jalan merekalah umat ini tenggelam ke dalam kesyirikan dan kema’shiyatan, merekalah yang mendorong orang-orang yang jahil dari kaum muslimin ke dalam kesyirikan, mereka membuat para pelaku kema’shiyatan semakin jauh dari jalan yang lurus karena mereka ghuluw di dalam mengingkari kema’shiyatan sehingga menghalalkan darah seorang muslim yang melakukan kema’shiyatan, di antara ahli bid’ah ini ada yang mendorang kaum muslimin untuk melakukan kema’shiyatan dengan menamakan kema’shiyatan dengan nama-nama yang indah dan agamis !, mereka namakan campur baur laki-laki dan perempuan dengan percampuran jiwa dan fana’ di dalam dzat Alloh !, mereka namakan khamr dengan minuman ruhani, mereka namakan nyanyian dan musik dengan nama nasyid dan nyanyian Islami, mereka namakan partai-partai pemecah belah sebagai jama’ah pemersatu kaum muslimin!, mereka namakan ketaatan kepada waliyyul amr dalam perkara ketaatan sebagai ketaatan kepada thaghut ! … dan masih banyak lagi bualan-bualan mereka yang tidak mungkin disebut semuanya, dengan sebab syubhat-syubhat mereka ini jadilah banyak ketaatan menjadi kema’shiyatan, dan banyak kema’shiyatan menjadi ketaatan.
Sejak munculnya kelompok-kelompok bid’ah maka para salafush shalih dan pengikut mereka selalu menghadapi dan melawan semua bid’ah dan syubhat ini dengan terang-terangan. Mereka membendung arus bid’ah dan syubhat ini dengan hujjah dari Kitab dan Sunnah, demikian juga dengan pedang sebagaiman dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib terhadap khawarij.
Tidak henti-hentinya kelompok-kelompok bid’ah ini tegak hingga hari ini, tidak ada firqah yang muncul kemudian punah bahkan semakin banyak firqah yang muncul.
Seiring dengan kemajuan teknologi media massa maka semakin luas jangkauan syubhat yang dilontarkan oleh kelompok-kelompok bid’ah ini, dan membuat semakin bingung para pemuda muslim yang memiliki semangat Islam yang tinggi tetapi tidak tahu mana yang haq dari dakwah-dakwah yang tersebar di sekelilingnya.
Maka sangat diperlukan garis pemisah yang memilahkan mana ahli sunnah dan mana ahli bid’ah, mana dakwah salafiyyah dan mana dakwah hizbiyyah, terutama di zaman sekarang yang banyak para ahli bid’ah mengaku ahli sunnah, dan banyak para hizbiyyun yang mengaku salafiyyun.
Berikut ini akan kami paparkan secara ringkas beberapa garis pemisah yang memilahkan antara dakwah salafiyyah ahli sunnah dengan dakwah hizbiyyah ahli bid’ah.

SIKAP TERHADAP TAUHID DAN KESYIRIKAN

Garis pemisah pertama yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah sikap terhadap tauhid dan kesyirikan, dakwah salafiyyah memprioritaskan dakwahnya untuk mengajak umat kepada tauhid dan menjauhkan mereka dari kesyirikan, inilah intisari dakwah semua rasul dan para pengikut mereka hingga hari kiamat, adapaun dakwah hizbiyyah maka mereka tidak mementingkan dakwah tauhid, bahkan kadang mengenyampingkan dakwah tauhid dengan alasan memecah belah umat !, ada yang mengajak kepada perbaikan akhlak dan moral serta gigih merazia tempat-tempat kema’shiyatan dalam keadaan mereka tenggelam dalam kesyirikan, ada yang begitu getol kepada dakwah politik dalam keadaan jahil kepada tauhid sehingga membenamkam umat dan diri-diri mereka ke dalam kesyirikan dalam Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat, ada lagi yang ngajak umat kepada ibadah-ibadah sholat dan dzikir dan membiarkan umat berdo’a dan bernadzar kepada selain Alloh.

SIKAP TERHADAP IMAMAH DAN BAIAT

Dakwah salafiyyah tidak hanya berhenti pada Tauhid Asma’ wa Shifat dan Tauhid Ibadah saja, karena ada sebagian orang yang begitu semangat dalam masalah Tauhid Asma’ wa Shifat dan Tauhid Ibadah, tetapi mereka sembrono dalam masalah baiat kepada pemimpin yang muslim sehingga terjatuh ke dalam pemikiran khawarij, karena khawarij ( klasik ) tidaklah thawaf dan menyembelih kepada selain Alloh dan tidak memiliki kesalahan di dalam masalah Asma’ wa Shifat, tetapi bid’ah mereka yang menyebabkan Ali bin Abi Thalib memerangi mereka adalah karena mereka keluar ( memberontak ) dari mendengar dan taat kepada waliyyul amr.
Inilah garis pemisah antara dakwah sunnah salafiyyah dengan dakwah bid’ah hizbiyyah, yaitu sikap terhadap imam yaitu pemimpin atau penguasa muslim, ahli sunnah tidak mensyaratkan bahwa waliyyul amr yang ditaati ini harus ma’shum ( bersih dari kesalahan ) dengan mennacu kepada hadits Adi bin Hatim bahwasanya dia berkata : Kami berkata : “ Wahai Rasulullah kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan kepada pemimpin yang bertakwa, tetapi pemimpin yang melakukan ini dan itu ( yaitu kejelekan-kejelekan ) ? “, maka Rasulullah  bersabda :
اتقوا الله واسمعوا واطيعوا
“ Bertakwalah kalian kepada alloh dan mendengarlah dan taatlah “ ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah hal. 494 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Dhilalul Jannah : 1069 ).
Tidak ada yang mensyaratkan waliyyul harus makshum kecuali Rafidhah, maka kelompok-kelompok Islam sekarang ini yang enggan memberikan baiat kepada waliyyul amr dengan lasan bahwa dia seorang yang fasiq atau zhalim, maka mereka ini telah mengikuti pemikiran Rafidhah, karena inilah maka para ulama salaf selalu menyebut aqidah dalam hal imamah ini dalam kitab-kitab Sunnah, mereka berkata : “Kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan para waliyyul amr kami, meskipun mereka berbuat kecurangan, kami tidak mendoakan kejelekan kepada mereka, kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka, kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Alloh Azza wa Jalla sebagai suatu kewajiban selama mereka tidak memerintah kepada kemakshiyatan, dan kami doakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan “.
Masalah ini sengaja dihilangkan dari pembicaraan kelompok-kelompok dakwah, bahkan orang yang berbicara masalah ini dan menjelaskan kepada umat dicela dan dituduh penjilat, penakut, dan murjiah !!!.
Di sisi lain banyak para pemuda Islam masuk ke dalam tanzhim-tanzhim sirri, dan berangkat untuk berjihad – sesuai dengan anggapan mereka – , dia kembali dengan membawa lima atau enam baiat kepada orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai amir, atau kembali ke dalam lingkungannya tanpa memandang sahnya baiat kepada waliyyul amrnya !.

SIKAP TERHADAP JAMA’AH

Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah pemahaman tentang makna jama’ah muslimah, ada orang yang menghilangkan makna jama’ah, bahkan menghilangkan umat Islam secara keseluruhan, dengan menyebut bahwa umat Islam adalah Umat Yang Hilang, ada lagi yang mengatkan bahwa seluruh lambang dan seluruh undang-undang adalah kafir, ini artinya adalah pengkafiran terhadap umat Islam secara keseluruhan… ada lagi yang lain mencela persatuan kaum muslimin, dan jama’ah kaum muslimin sehingga tidak memandang kecuali kelompoknya, tidak menganggap jama’ah kecuali tanzhimnya, masing-masing kelompok memahami jama’ah sesuai dengan hawa nafsunya.

SIKAP TERHADAP JIHAD

Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah pemahaman tentang makna jihad, kapan diwajibkan jihad ?, Di bawah panji apa ?, Dan di bawah komando siapa ? Apa maksud dari jihad ?, maka jauh berbeda antara jihad dengan ifsad ( pengrusakan ) ( Untuk melihat pembahasan jihad yang lebih mendetail lihat pembahasan Jihad dalam Majalah Al-Furqon edisi 9 tahun IV rubrik Tafsir ).

SIKAP TERHADAP JIWA YANG DILINDUNGI DENGAN SEBAB IMAN DAN JAMINAN KEAMANAN

Garis pemisah lainnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah sikap terhadap jiwa yang dilindungi dengan sebab iman dan al-aman, yang dimaksud iman yaitu dia telah beriman kepada Rabbnya sesuai dengan sabda Rasulullah  :
لا يحل دم امرئ مسلم يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله إلا بإحدى ثلاث النفس بالنفس والثيب الزاني والمفارق لدينه التارك للجماعة
“ Tidak halal darah seorang muslim yang bersyahadat An Laa Ilaha Illalah wa Anna Muhammadan Rasulullah kecuali dengan salah satu dari tiga hal : Jiwa dengan jiwa, orang sudah menikah yang berzina, dan orang yang meninggalkan agamanya dan meninggalkan jama’ah “ ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari 6/2521 dan Shahih Muslim : 1676 ).
Alloh  berfirman:
“ Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. “ ( An-Nisa’ : 93 ).
Adapun Al-Aman maka dia adalah jaminan keamanan kepada orang-orang kafir mu’ahid, dzimmi, dan yang lainnya. Al-Aman memiliki hukum-hukum yang dijelaskan oleh Nabi  , dalam hadits Ummu Hani’ bahwasanya dia datang kepada Nabi  pada saat Fathu Makkah, Ummu Hani’ berkata : “ Wahai Rasulullah sesungguhnya Anak Ibuku menyangka bahwa dia akan membunuh orang yang aku lindung- Fulan Ibnu Hubairah -, maka Rasulullah  bersabda : “ Kami melindungi orang yang kamu lindungi wahai Ummu Hani’ “( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari : 357 dan Shahih Muslim : 336 ).
Dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bahwasanya Rasulullah  bersabda:
من قتل معاهَدًا لم يُرُح رائحة الجنة، وإن ريحها توجد من مسيرة أربعين عامًا
“ Orang yang membunuh mu’ahad ( orang kafir yang membuat perjanjian dengan orang Islam ) maka tidak akan bisa mencium bau surga, dan sesungguhnya bau surga didapati dari jarak 40 tahun perjalanan “ ( Shahih Bukhari : 3166 ).
Masalah ini telah dibahas secara panjang lebar oleh para ulama, bahkan di antara para ulama ada yang mengkhususkan pembahasan ini dalam kitab tersendiri seperti Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ahkam Ahli Dzimmah.
Adapun kelompok-kelompok khawarij zaman ini maka mereka menghalalkan darah jiwa-jiwa yang dilindungi oleh Islam dengan sebab Iman dan Al-Aman, karena mereka mengkafirkan kaum muslimin yang memberi jaminan keamanan kepada orang-orang kafir, maka orang-kafir dengan orang kafir tidak bisa memberi jaminan keamanan di antara mereka, inilah pandangan mereka sebenarnya, apa yang kita saksikan dari takfir dan tafjir ( pengeboman-pengeboman ) tidak lain sebagai buah dari pemikiran-pemikiran khawarij ini, dan hasil dari provokasi da’i-da’i fitnah dan kesesatan !.

SIKAP TERHADAP ULAMA, DAN SIAPAKAH ULAMA ?

Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah sikap terhadap ulama, dan siapakah ulama ?.
Sebagian orang mengatakan : Duduklah bersama para ulama, bermajelislah dengan para ulama !, sedangkan yang lain mencela para ulama dengan mengatakan : Mereka tidak faham realita !, ada lagi yang mengatakan : Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi menunjukkan bahwa umat ini tidak memiliki ulama rujukan yang layak !, yang lain mengatakan : Para ulama tidak berdiri sendiri dalam fatwa-fatwa mereka, bahkan mereka penjilat terhadap penguasa !, setelah keluar celaan-celaan ini kemudian dari kelompok para pencela ini mengatakan : Dengarkanlah perkataan para ulama !.
Siapakah ulama yang harus di dengar perkataannya ? apakah mereka orang-orang yang memakai baju-baju tertentu atau yang memiliki bentuk-bentuk tertentu ?, tidak , para ulama adalah mereka yang mendalami Kitab dan Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih, menyeru kepada tauhid dan melarang dari kesyirikan, mengajak kepada sunnah dan menjauhkan dari bid’ah, telah datang kesaksian dari para ulama bahwa mereka adalah ahli ilmu, mereka mengikuti dalil dan bukan hawa nafsu, mengajak kepada persatuan di atas al-haq bukan perpecahan di atas kesesatan-kesesatan, berusaha untuk menjelaskan al-haq kepada umat bukan membodohkan umat dan menyesatkan mereka . Dan zaman sekarang ini adalah seperti yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud :
إنكم في زمان كثير علماؤه، قليل خطباؤه، وإن بعدكم زمانًا كثير خطباؤه، والعلماء فيه قليل
“ Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di zaman yang banyak ulamanya dan sedikit tukang khotbahnya, dan sesungguhnya akan datang sesudah kalian suatu zaman yang banyak tukang khotbahnya dan sedikit ulamanya “ ( Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Kitabul Ilm hal. 109 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam takhrijnya ).
Hal yang sangat disesalkan bahwa banyak orang-orang awam dan anak-anak muda yang mengangkat derjat para tukang khotbah ini sehingga mereka sebut sebagai ulama, ketika para tukang khotbah ini menampkkan bid’ah dan fitnah dan para ulama yang sesungguhnya memperingatkan umat dari kesesatan mereka, maka orang-orang menyangka bahwa khilaf antara para ulama dan para tukang khotbah ini adalah khilaf yang terjadi antara ulama dengan ulama, kemudian mempraktekkan fiqh salaf – dengan serampangan – di dalam mensikapi khilaf yang terjadi di antara para ulama, seandainya saja mereka benar dalam memahami fiqh khilaf, tetapi kenyataannya mereka membawakan perkataan Ibnu Mas’ud : “ Khilaf adalah jelek “, kata mereka maksudnya : “ Diamlah jangan mengingkari kebid’ahan dan kesesatannya ! “ ?!.

SIKAP TERHADAP BID’AH DAN AHLI BID’AH

Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah sikap terhadap terhadap bid’ah dan ahli bid’ah, dan bagaimana sikap yang benar di dalam mu’amalah terhadap mereka.
Para ulama Ahli Sunnah telah memaparkan dalam kitab-kitab mereka sikap-sikap terhadap bid’ah, mereka bantah para pemilik kebatilan, mereka jelaskan kebid’ahan-kebid’ahan mereka di dalam masalah aqidah, manhaj, ibadah, akhlaq, dan mu’amalah.
Demikian juga mereka telah menjelaskan sikap-sikap terhadap ahli bid’ah dan mua’amalah dengan mereka.
Tidak pernah muncul suatu bid’ah dalam ummat melainkan diingkari oleh salaf dari kalangan shahabat, tabi’in, dan para imam agama ini yang mengikuti mereka dalam kebaikan , mereka selalu memperingatkan ummat dari bid’ah-bid’ah ini, dan mengingkari ahli bid’ah terhadap kebid’ahan mereka. Mereka nampakkan sikap berlepas diri dari ahli bid’ah dan menyatakan kebencian dan permusuhan kepada ahli bid’ah sampai mereka bertaubat.
Dari Ibnu Umar bahwasanya dia mengatakan kepada seorang yang menyampaikan berita kepadanya tentang kelompok qodariyyah : “ Jika Engkau bertemu mereka beritahukan bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dari Ibnu Umar “ ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 1/140 ).
Dari Abul Jauza’ dia berkata : “ Kalau aku bertetangga dengan kera dan babi itu lebih aku sukai daripada bertetangga dengan seorang dari ahli bid’ah “ ( Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Ibanah Kubro 2/467 dan Lalikai dalam Syarh Usul I’tiqod 1/131 ).
Bahkan ulama salaf menolak pemberian dan hadiah dari ahli bid’ah, karena hal itu akan membawa kepada kecintaan kepada mereka, karena tabiat manusia adalah suka kepada siapa yang berbuat baik kepadanya, tidak mungkin seorang menerima pemberian dan hadiah ahli bid’ah kemudian mengaku membenci mereka, hal ini mustahil secara syar’i dan logika ( Lihat Mauqif Ahlis Sunnah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’ 2/473 ).
Al-Imam Abdullah bin Mubarak berkata : “ Aku tidak pernah melihat harta yang lebih binasa daripada harta ahli bid’ah”, dan dia berkata: “Ya Allah janganlah Engkau jadikan bagi ahli bid’ah jasa terhadapku sehingga hatiku mencintainya “ ( Dikeluarkan oleh Lalikai dalam Syarh Usul I’tiqod Ahli Sunnah 2/158 ).
Jika ada kelompok dakwah yang menyelisihi jalan salaf dalam menyikapi bid’ah dan ahlinya maka mereka adalah penyebar dakwah bid’ah dan hizbiyyah.

MASALAH TAKFIR

Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah masalah takfir, tidak diragukan lagi bahwa Ahli Sunnah mengkafirkan setiap orang yang dikafirkan oleh Alloh dan RasulNya dan yang terjatuh ke dalam kekufuran, Takfir mu’ayyan ( person ) tidak diperbolehkan kecuali setelah terkumpul padanya syarat-syarat pengkafiran dan tidak ada mawani’ ( penghalang ) dari pengkafiran, di antara syarat-syarat takfir adalah ilmu dan ma’rifat, ikhtiyar ( atas pilihan sendiri bukan terpaksa ), dan kesengajaan, di antara mawani’ adalah : takwil, kejahilan ( kebodohan ), lupa, tidak sengaja, dan ikrah ( pemaksaan ).
Contoh takwil adalah keadaan Hathib bin Abi Baltha’ah, contoh ikrah adalah keadaan Ammar bin Yasir, contoh ketidaksengajaan adalah seorang yang mengatakan : “ Ya Alloh Engkau adalah hambaku dan aku adalah RabbMu …” .
Maka Ahlul Haq dan Sunnah adalah orang-otang yang berhati-hati dalam masalah takfir tidak seperti ahli bid’ah yang sembarangan dalam masalah takfir ( Untuk melihat pembahasan yang lebih rinci tentang masalah takfir ini lihat Fitnah Takfir oleh Syaikh Al-Albani yang dimuat dalam majalah Al-Furqon Edisi 10 Tahun ke-3 Rubrik Fatwa ).

SIKAP TERHADAP AQIDAH WALA’ WAL BARO’

Garis pemisah berikutnya yang membedakan antara dakwah salafiyyah dan dakwah hizbiyyah adalah sikap terhadap aqidah wala’ wal baro’, wala’ kepada orang-orang mukmin dan baro’ terhadap orang-orang kafir, wala’ kepada ahli sunnah wal jama’ah para pengikut salafush shalih dan baro’ terhadap ahli bid’ah wal furqah ( perpecahan ) wa tahazzub ( hizbiyyah ).
Di antara pokok-pokok aqidah Islam yang agung adalah wajibnya memberikan wala’ ( loyalitas ) kepada setiap muslim dan baro’ ( membenci dan memusuhi ) orang-orang kafir, wajib memberikan wala’ kepada orang-orang yang bertauhid dan baro’ kepada orang-orang musyrik, inilah agama Ibrahim yang kita semua diperintahkan oleh Alloh agar mengikutinya Alloh  berfirman :
 قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ 
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. “ ( Al-Mumtahanah : 4 )
Alloh  mengharamkan wala’ kepada orang-orang kafir semuanya sebagaimana dalam firmanNya :
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَُ 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia “ ( Al-Mumtahanah : 1 )
Wala’ yang terlarang bagi seorang kafir adalah kecintaan kepada agamanya dan pembelaan mereka di dalam melakukan hal-hal yang merugikan kaum muslimin, adapun mu’amalah dalam masalah jual beli dan yang semisalnya maka bukanlah pijakan hukum wala’ wal baro’, karena Rasulullah  wafat dalam keadaan baju besinya digadaikan pada orang Yahudi ( Shahih Bukhari 3/1068 ), demikian juga adil dan ihsan dalam mu’amalah dengan ahli dzimmah dan mu’ahadin tidak melazimkan kecintaan kepada mereka.
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam mengomentari hadits yang menyebutkan jual beli Rasulullah  dengan orang Yahudi dengan mengatakan : “ Hadits ini menunjukkan tentang bolehnya muamalah dan jualbeli dengan orang-orang kafir, dan bahwasanya hal ini tidak termasuk muwalah ( loyalitas ) kepada mereka “ ( Taudhihul Ahkam 4/75 ).
Maka selayaknya kita berusah mengetahui kaidah-kaidah syar’i dari wala’ wal baro’ merupkan pemilah antara dakwah salafiyyah dengan dakwah-dakwah hizbiyyah, karena banyak kelompok-kelompok dakwah yang masuk dalam masalah wala’ wal baro’ tanpa dengan kaidah-kaidah yang shahihah, mereka kafirkan orang-orang yang tidak ada dalil yang menunjukkan atas pengkafirannya, mereka loyal kepada orang yang wajibnya mereka berlepas diri darinya dan baro’ dari orang yang wajib diberikan wala’ kepadanya ( Lihat pembahasan lebih lanjut dalam masalah ini di dalam Al-Wala’ wal Baro’ fil Islam oleh Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Fauzan ) .

( Pembahasan ini disarikan dari kitab Kawashif Jaliyyah fil Furuq Baina Dakwah Salafiyyah wa Dakwah Hizbiyyah oleh Syaikh Muhammad bin Ramzan Al-Hajiri ).

PENUTUP

Inilah yang bisa kami paparkan dari beberapa garis pemisah yang memilahkan antara dakwah salafiyyah ahli sunnah dengan dakwah hizbiyyah ahli bid’ah, semoga bisa menjadi cahaya penerang kepada siapa saja yang tersesat dan salah jalan, dan menunjukkan kaum muslimin kepada jalan yang lurus. Amin.

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.