FENOMENA USTADZ GADUNGAN

FENOMENA USTADZ GADUNGAN

Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Hiruk pikuknya dunia modern dengan pernik-perniknya menyebabkan manusia mengalami kekeringan ruhani dan haus akan ilmu agama. Kecenderungan masyarakat yang haus ilmu agama ini diiringi dengan munculnya ustadz-ustadz muda di berbagai media massa yang menawarkan berbagai metode keagamaan, ada yang menawarkan manajemen qalbu, ada yang menyemarakkan dzikir-dzikir bersama dan hal-hal lainnya yang bernuansa menyelisihi Sunnah.
Banyak dari kaum muslimin yang terhanyut di dalam buaian hidangan yang disuguhkan oleh ustadz-ustadz tersebut, yang penting, ruhani yang kering dapat terpuaskan. Karenanya tidak mengherankan jika sekarang ini banyak orang-orang yang memanfaatkan peluang ini, sehingga ke dalam bidang ilmu dan dakwah masuklah orang-orang yang bukan ahlinya dengan berbagai latar belakang yang beraneka ragam seperti pelawak, penyanyi, fotomodel, dan ilmuwan yang jauh dari ilmu agama yang shahih.
Yang lebih memprihatinkan lagi bahwa ” ustadz-ustadz ” tersebut termasuk orang-orang yang ” ringan ” berfatwa, dan bisa ditebak jika begitu banyak dari fatwa-fatwa mereka yang menyelisihi dien yang shahih, karena jika ada orang yang masuk kepada bukan bidangnya maka akan mendatangkan hal-hal yang ajaib.
Tentunya tidak semua orang yang mengaku ulama dapat berfatwa dan diikuti tindak-tanduknya. Kita harus kritis terhadap mereka sehingga kita tidak mudah terperangkap oleh orang yang disebut ustadz atau mengaku sebagai ulama. Semua ini untuk mencegah agar tidak ada umat yang tersesat dan disesatkan. Karena sebaik-baik petunjuk adalah yang selaras dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta contoh dari para shahabat, sebagai potret generasi terbaik umat ini. Sebagaimana pujian yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Masuknya para penyelundup di dalam bidang ilmu ini bukanlah hal yang baru, bahkan fenomena ini telah terjadi pada zaman dahulu sehingga para ulama mutaqaddimin dan muta’akhkhirin telah memperingatkan umat dari para penyelundup ini di dalam kitab-kitab mereka untuk membersihkan bidang ilmu dari orang-orang yang mengotorinya. Di antara para ulama muta’akhkhirin yang telah membahas hal tersebut adalah Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid di dalam kitab beliau yang berjudul At-Ta’alum wa Atsaruhu ‘Alal Fikri wal Kitab yang Insya Alloh akan kami petik faidah-faidah darinya di dalam bahasan kita kali ini sebagai nasehat kepada diri kita semuanya.

KETIKA SEGALA PERKARA DISERAHKAN KEPADA SELAIN AHLINYA TUNGGULAH KIYAMAT !

Di antara tanda-tanda kiyamat yang dikhabarkan oleh Rasulullah ( adalah jika urusan-urusan diserahkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya, fatwa diserahkan kepada orang jahil, pemerintahan diserahkan kepada orang yang dungu, amanat diserahkan kepada orang yang khianat, Rasulullah ( bersabda :
إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
“ Jika urusan diserahkan kepada selain ahlinya maka tunggulah kiyamat ” ( Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya 1/23 ).
Al-‘Allamah Badrudiin Al-‘Aini berkata : ” Sabda Rasulullah ( ” Jika urusan diserahkan ” maksudnya adalah jenis urusan-urusan yang berhubungan dengan agama seperti khilafah, qadha’ ( hukum ), fatwa, dan yang semacamnya, dan dikatakan yaitu dengan diserahkan kepada selain ahli dien dan amanat dan orang orang yang membantu mereka atas kedhaliman dan kefajiran, dan pada saat itu jadilah para pemimpin telah menyia-nyiakan amanat yang Alloh wajibkan atas mereka hingga orang khiyanat diberi amanat dan orang yang diamanati berkhiyanat. Dan ini terjadi jika kebodohan menjadi dominan dan ahlil haq lemah di dalam menegakkan al-haq ” ( ‘Umdatul Qari Syarah Shahih Bukhari 2/386 Syamilah – ).
Al-Hafidz Ibnu Rojab Al-Hanbali berkata : ” berbaliklah segala keadaan-keadaan, orang yang dusta dibenarkan, orang yang jujur didustakan, pengkhiyanat dipercaya, orang yang amanat dianggap khiyanat, orang jahil ( bodoh ) bicara, orang ‘alim ( berilmu ) diam atau tidak ada sama sekali, sebagaimana telah shahih dari Nabi ( bahwasanya beliau bersabda :
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ
” Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiyamat adalah terangkatnya ilmu dan nampaknya kebodohan ” ( Shahih Bukhari 7/48 dan Shahih Muslim 8/58 ), dan Nabi ( mengkhabarkan bahwasanya :
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“ Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu (agama) dengan serta-merta dari hamba-hamba Nya. Tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan (mematikan) ulama, sehingga Allah tidak menyisakan orang berilmu. Maka, manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Lalu, mereka ditanya, dan mereka memberi fatwa tanpa ilmu. Maka, mereka sesat dan menyesatkan ( Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya 1/36 dan Muslim dalam Shahihnya 8/60 ).
Asy-Sya’bi berkata : ” Tidaklah tegak kiyamat hingga jadilah ilmu sebagai kejahilan dan kejahilan sebagai ilmu “.
Ini semua di antara pemutarbalikan realita-realita di akhir zaman dan terbaliknya perkara-perkara ” ( Jami’ul Ulum wal Hikam 1/120-121 ).
Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini berkata : ” Nabi ( bersabda dalam hadits ini : ” “ Jika urusan diserahkan kepada selain ahlinya maka tunggulah kiyamat , sungguh telah terbukti realita makna hadits ini di zaman ini, di sana ada serangan membabi buta kepada ashabul hadits, hingga masuk para wanita di dalam serangan membabi buta ini, seorang wanita mengatakan bahwa tidak shahih dari Nabi ( kecuali 17 hadits saja ! ” ( Syarah Shahih Bukhari 4/8 Syamilah – ).

PARA PENYELUNDUP DALAM BIDANG FATWA

Pada hari ini kita mendengar betapa beraninya manusia berfatwa, berbicara atas Alloh tanpa ilmu, berdasar atas persangkaan, bahkan ada yang menjawab pertanyaan sebelum selesai soal dibacakan, menoleh ke kanan dan ke kiri membanggakan jawabannya, berfatwa secepat kilat dalam masalah-masalah yang dahulu para imam tawaqquf padanya.
Al-Imam Malik berkata : ” Telah mengkhabarkan kepadaku seorang laki-laki bahwa dia masuk kepada Rabi’ah bin Abdurrahman ternyata dia dapati sedang menangis, maka dia bertanya : ” Apakah yang membuatmu menangis ?” dia takut dengan tangisannya maka dia berkata kepada Rabi’ah : ” Apakah ada musibah yang menimpamu ? “, Rabi’ah menjawab : “Tidak, akan tetapi telah dimintai fatwa orang yang tidak punya ilmu dan telah muncul di dalam Islam perkara yang besar “, Rabi’ah berkata : ” Dan untuk sebagian yang berfatwa di sini lebih pantas untuk dipenjara dari pada para pencuri ” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi 2/388 – terbitan Ar-Royyan – ).
Al-Imam Ibnul Qayyim berkata : ” Sebagian ulama berkata : ” Bagaimana jika Rabi’ah melihat zaman kita, dan lancangnya orang yang tak berilmu atas fatwa, begitu semangatnya di dalamnya, mempersulit diri kepadanya, dia masuki bidang fatwa dengan kejahilan dan keberanian dengan sedikitnya pengetahuan dan jeleknya perilaku serta kejelekan niyat. Dalam keadaan dia di kalangan ahli ilmu diingkari atau orang asing. Tidaklah dia punya bagian di dalam ma’rifat Al-Kitab, As-Sunnah, dan Atsar salaf
Barangsiapa yang lancang kepada yang dia bukan ahlinya dalam bidang fatwa, hukum, atau pengajaran, maka dia pantas untuk dicela, dan tidak halal diterima fatwanya dan hukumnya, inilah hukum agama Islam ” ( I’lamul Muwaqqi’in 4/207-208 ).
Adapun para salafush shalih maka mereka begitu waro’ dan berhati-hati dalam berfatwa, Ibnu Abi Laila berkata : ” Aku telah mendapati 120 sahabat Rasulullah ( , tidak ada satupun dari mereka yang menyampaikan hadits kecuali berharap agar saudaranya yang mencukupinya ( menggantikannya ) dalam menyampaikan hadits tersebut, dan tidak ada yang berfatwa kecuali berharap agar saudaranya mencukupinya dari fatwa tersebut, seorang dari mereka ditanya tentang suatu masalah maka mengalihkannya kepada yang lainnya, dan yang lainnya kepada yang lainnya, dan yang lainnya kepada yang lainnya, hingga kembali kepada yang pertama ” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam Thabaqat Kubra 6/109-110 dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Imi wa Fadhlihi no. 2199 dan 2202 dengan sanad yang shahih sebagaimana dikatakan oleh Abul Asybal Az-Zuhairi dalam Takhrijnya terhadap Al-Jami’ hal. 1120).
Dari Uqbah bin Muslim dia berkata : Aku menemani Abdullah bin Umar selama 34 bulan maka yang banyak dia ucapkan ketika ditanya : ” Saya tidak tahu ” kemudian dia menoleh kepadaku seraya berkata : ” Tahukah kamu apa yang dikehendaki mereka ? mereka hendak menjadikan punggung-punggung kami sebagai jembatan bagi mereka ke Jahannam ” ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam Jami’ Al-Ilmi wa Fadhlihi no. 1585 dan 1629 dan Al-Khathib di dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih 2/172 dengan sanad yang shahih sebagaimana dikatakan oleh Abul Asybal Az-Zuhairi dalam Takhrijnya terhadap Al-Jami’ hal. 841).
Dari Ayyub bahwasanya orang-orang di Mina berbondong-bondong kepada Al-Qasim bin Muhammad bertanya kepadanya, maka Al-Qasim berkata : Saya tidak tahu , kemudian dia berkata : Demi Alloh tidaklah kami tahu semua yang kalian tanyakan kepada kami, seandainya kami mengetahuinya tidak akan kami sembunyikan kepada kalian ( Diriwayatkan oleh Darimi dalam Sunannya 1/48 dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi 2/836 dengan sanad yang shahih ).
Abdurrahman bin Mahdi berkata : Kami berada di sisi Al-Imam Malik bin Anas, tiba-tiba datang seseorang kepadanya seraya berkata : Aku datang kepadamu dari jarak 6 bulan perjalanan, penduduk negeriku menugaskan kepadaku agar aku menanyakan kepadamu suatu permasalahan , Al-Imam Malik berkata : Tanyakanlah ! , maka orang tersebut bertanya kepadanya suatu permasalahan, Al-Imam Malik menjawab : Saya tidak bisa menjawabnya , orang tersebut terhenyak, sepertinya dia membayangkan bahwa dia telah datang kepada seseorang yang tahu segala sesuatu, orang tersebut berkata : Lalu apa yang akan aku katakan kepada penduduk negeriku jika aku pulang kepada mereka ?, Al-Imam Malik berkata : Katakan kepada mereka : Malik tidak bisa menjawab ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Taqdimah Jarh wa Tadil hal. 18 dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi 2/838 dengan sanad yang shahih ).

PARA PENYELUNDUP DALAM BIDANG TAFSIR

Pada hari ini begitu besar musibah yang terjadi di dalam bidang tafsir, telah menyelundup ke dalamnya orang-orang yang jahil tidak tahu As-Sunnah dan tidak hafal Al-Kitab, begitu percaya diri dengan perasaaan dan akalnya sehingga menyeret dan memelintir ayat-ayat Alloh kepada hasil pemikiran-pemikiran sesatnya, Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir berkata : ” Adapun pada zaman kita telah muncullah musibah-musibah, dan tumbuhlah generasi-generasi dari orang-orang yang diperbudak oleh pemikiran-pemikiran missionaris dan hawa-hawa nafsu mereka, dari orang-orang yang bodoh terhadap bahasa Arab kecuali bahasa-bahasa pasaran dan yang semacam mereka, mereka jahil terhadap Al-Qur’an dan tidak membacanya, dan tidaklah memperdengarkannya kecuali sedikit, mereka jahil terhadap Sunnah bahkan merupakan musuh-musuhnya, dari orang-orang yang mengejek ilmu para ulama Islam dan menganggap dungu mereka, lisan-lisan mereka begitu lancang mengucapkan ucapan-ucapan yang jelek terhadap Salaf kita yang shalih dari kalangan sahabat, tabi’in, dan yang datang sesudah mereka, bahkan tidaklah mereka beriman kepada yang ghaib kecuali sedikit. Mereka ini dan yang serupa dan semisal mereka, begitu berani berbuat iseng terhadap Al-Qur’an dan mempermainkan Sunnah, mereka masuk kepada tafsir Al-Qur’an dan menyangka diri mereka memiliki ijtihad yang jahil, mereka memfitnah manusia dan mengajari mereka perbuatan iseng dan permainan, dan mereka cabut keimanan dari dalam hati mereka. Tidaklah saya katakan mereka ini dan mereka yang lain menafsirka Al-Qur’an dengan hawa-hawa nafsu mereka, karena mereka lebih lemah dan lebih bodoh dari memiliki hawa nafsu, bahkan mereka menafsirkan Al-Qur’an dengan hawa-hawa nafsu majikan-majikan mereka dan guru-guru mereka dari para missionaris dan para penjajah musuh-musuh Islam ” ( Umdatu Tafsir dan Kalimatu Haqqin hal. 5 dengan perantaraan kitab At-Ta’alum wa Atsaruhu ‘Alal Fikri wal Kitab hal. 42-43 ).
Di antara contoh-contoh mereka di zaman ini adalah seruan ” penyegaran ” Islam dengan menyuguhkan cara baru di dalam menafsirkan agama Islam sebagaimana dikatakan oleh seorang dari mereka : Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha sederhana menyegarkan kembali pemikiran Islam yang cenderung membeku, menjadi paket yang sulit didebat dan dipersoalkan: paket Tuhan yang disuguhkan kepada kita dengan cara sederhana: take it or leave it! Islam yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi kemajuan Islam itu sendiri. Jalan satusatunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara kita menafsirkan agama ini.

PARA PENYELUNDUP DALAM BIDANG SUNNAH NABAWIYYAH

Bidang Sunnah Nabawiyyah telah dimasuki oleh orang-orang yang bukan ahlinya, Al-Imam Al-Khathib Al-Baghdadi menceritakan tentang keadaan mereka : ” Sungguh aku telah melihat orang-orang dari penghuni zaman ini menisbatkan diri kepada hadits, dan menganggap diri-diri mereka termasuk ahlina, memiliki spesialisasi mendengar hadits dan menukilnya, padahal mereka adalah orang yang paling jauh dari dakwaan mereka, paling sedikit ma’rifatnya terhadap apa yang mereka nisbatlan diri mereka kepadanya, seorang dari mereka memandang jika telah menulis jumlah yang sedikir dari juz-juz, menyibukkan diri mendengar hadits dalam waktu sedikit, bahwa dia adalah ahli hadits secara mutlak, dan tidak pernah mengupayakan jiwanya dan memaksanya untuk mencarinya, dan tidak pernah bersusah payah menghafal macam-macamnya dan bab-babnya
Dan mereka dengan sedikitnya apa yang mereka tulis dari hadits dan ketiadaan ma’rifat mereka terhadapnya adalah orang yang paling besar sombongnya, paling sesat lagi ‘ujub, tidak memperhatika kehormatan guru dan tidak mewajibkan tanggung jawab kepada murid, mereka lecehkan para perawi dan mereka kasar terhadap para penuntut ilmu, menyelisihi konsekwensi ilmu yang mereka dengarkan, dan lawan dari kewajiban yang mengharuskan mereka untuk mengerjakannya … ” ( Al-Jami’ Liakhlaqi Raawi wa Aadaabis Sami’ hal 1 dan 4 ).
Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid menceritakan contoh-contoh fenomena-fenomena orang-orang yang berlagak tahu padahal bodoh di dalam ilmu hadits, beliau berkata : ” Sesungguhnya kitab-kitab Sunnah yang mulia di dalam sebagian naskahnya ada perbedaan, keran perbedaan para perawinya, kadang perbedaan terjadi dalam satu bab secara keseluruhan, atau di dalam satu hadits atau di dalam lafazh suatu hadits, dan seterusnya
Telah terjatuh banyak orang di dalam banyak kesalahan karena kelalaian mereka tentang hal ini.
Suatu contoh seorang imam menyandarkan kepada Sunan Abu Dawud riwayat Ibnu Dasah, kemudian datanglah seorang pentahqiq zaman ini yang merujuk kepada Sunan Abu Dawud yang telah dicetak, ternyata dia dari riwayat Al-Lu’lu’I maka dia katakan bahwa imam tersebut telah waham ( keliru ) karena hadits tersebut tidak ada di dalam Sunan Abu Dawud yang dicetak tersebut, padahal dia sendirilah yang waham ” ( At-Ta’alum wa Atsaruhu ‘Alal Fikri wal Kitab hal. 51-52 ).

PARA PENYELUNDUP DALAM BIDANG FIQIH

Ilmu Fiqih juga telah dimasuki oleh berbagai macam penyelundup, ada yang begitu mudah mengambil keringanan, ada yang begitu senang memakai pendapat-pendapat yang syadz ( ganjil ), ada yang tidak tahu istilah seorang faqih di dalam ungkapan-ungkapannya , dan ada lagi yang fiqihnya mengikuti hawa nafsunya.
Kemudian di sisi lain adalah para murid ” madrasah fiqih modern ” yang masuk di dalamnya orang-orang yang terkenal, hingga orang-orang kafir menjadikan mereka mereka ini sebagai corong-corong mereka, hingga orang kafir berhasil memasukkan makar-makar mereka dengan jalan orang-orang ini, dengan menjadikan syari’at baru dan yang telah diselewengkan sebagai ganti syari’at Alloh.
Inilah di antara jalan-jalan mereka :
Klaim ” berubahnya fatwa sesuai dengan perubahan zaman “.
Kaidah ini adalah kaidah fiksi yang tidak pada hakekatnya ; karena seluruh orang-orang yang menyebutkannya dari fuqaha’ memerikan batasan kepadanya dengan hukum-hukum ijtihadiyyah yang berubah dengan perubahan adat kebiasaan, adapun hukum-hukum yang memiliki nash maka tidak bisa dibawa kepadanya.
Para ahli fiqih modern begitu jauh di dalam hal ini hingga mereka katakan bahwa hukum-hukum had yang memiliki nash-nash yang qath’I bisa berubah sesuai dengan perubahan zaman.
Seruan ” membuka pintu ijtihad ” padahal hakekatnya adalah melicinkan jalan bagi musuh-musuh Islam untuk merusak Islam.
Mencari-cari rukhsah dan menggabungkan madzhab-madzhab dan pendapat-pendapat dengan hawa nafsu tanpa dalil syar’i yang rajih.
Studi perbandingan antara Islam yang datangnya dari Alloh dengan undang-undang dan hukum-hukum buatan manusia.

SEBAB-SEBAB MUNCULNYA PARA PENYELUNDUP DALAM ILMU

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid menyebutkan sebab-sebab munculnya fenomena-fenomena ta’alum ( sikap sok berilmu dari orang-oranng yang bodoh ) dengan mengatakan : ” Mungkin bisa disebutkan sebab-sebabnya secara global berikut ini :
Orang-orang yang ahli tidak menunaikan tugas penyampaian ilmu dan turun ke medan.
Kurangnya persiapan-persiapan yang benar.
Kurangnya perhatian terhadap problem-problem dan solusi-solusinya.
Mewabahnya penyakit ” gila popularitas ” karena lenyapnya kekuatan iman.
Lemahnya hubungan antara penuntut ilmu dengan kitab-kitab salaf, karena menimba ilmu berubah dari kitab-kitab salaf kepada diktat-diktat dan karangan-karangan orang-orsang belakangan.
Membalik ” bahasa ilmu ” di dalam istilah-istilah dengan apa-apa yang tidak sesuai dengan ” bahasa ilmu ” untuk kitab-kitab salaf ” ( At-Ta’alum wa Atsaruhu ‘Alal Fikri wal Kitab hal. 25-26 ).

WAJIBNYA MENGIKHLASHKAN NIYAT DI DALAM ILMU

Telah kita sebutkan di atas fenomena-fenomena ta’alum ( sikap sok berilmu dari orang-oranng yang bodoh ) dan sebab-sebabnya, dan di antara hal-hal yang bisa menyelamatkan para penuntut ilmu dari penyakit-penyakit tersebut adalah mengikhlashkan niat kepada Alloh Ta’ala, karena semua ibadah seorang muslim tidak akan diterima di sisi Alloh kecuali jika terpenuhi di dalamnya dua syarat :
1. Hendaknya amalan tersebut diikhlashkan semata kepada Alloh, karena sesungguhnya Alloh tidak akan menerima amalan kecuali yang dimurnikan semata kepadaNya, Alloh ( berfirman :
( وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (
“ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus “ ( Al-Bayyinah : 5 ),
2. Hendaknya ittiba’ ( mengikuti ) Rasulullah ( , karena sesungguhnya Alloh tidak akan menerima amalan kecuali yang mencocoki dengan yang petunjuk Rasulullah ( , Alloh ( berfirman :
( وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا َ (
“ apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. ( Al-Hasyr : 7 )
Maka tidak akan berguna setiap amalan jika tidak ikhlash semata untuk Alloh dan benar sesuai dengan sunnah Rasulullah ( , Fudhail bin ‘Iyadh berkata tentang makna firman Alloh ( :
( لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا َ (
“ supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. “ ( Al-Mulk : 2 ) ” Yaitu yang paling ikhlash dan paling benar “, ditanyakan kepadanya : ” Wahai Abu Ali apakah yang dimaksud dengan yang paling ikhlash dan paling benar ? “, maka dia menjawab : ” Sesungguhnya amalan jika dia ikhlash tetapi tidak benar maka tidak akan diterima, dan jika dia benar dan tidak ikhlash maka tidak akan diterima hingga menjadi ikhlash dan benar, dan ikhlash adalah jika diniatkan semata karena Alloh, dan benar jika dilandaskan atas sunnah ” ( Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Auliya’ 8/95 ).
Begitu banyak perkataan para salaf agar meluruskan niyat di dalam menuntut ilmu, karena di antara sebab-sebab penyakit ta’alum adalah gila popularitas, Ibrahim bin Adham berkata : ” Tidak pernah jujur kepada Alloh orang yang gila popularitas ” ( Siyar A’lami Nubala’ 7/393 ).
Al-Imam Adz-Dzahabi berkata : ” Hendaknya seorang yang berilmu berbicara dengan niyat da maksud yang benar, jika dia merasa ta’jub dengan ucapannya maka hendaknya dia diam, dan jika dai merasa ta’jub dengan diamnya maka hendaknya dia bicara, janganlah bosan-bosan mengintrospeksi jiwanya, karena sesungguhnya jiwa suka kepada popularitas dan pujian ” ( Siyar A’lami Nubala’ 4/494 ).

TIDAK BOLEH MENGIKUTI KETERGELINCIRAN PARA ULAMA

Orang-orang yang setengah matang ilmunya menjadikan hawa nafsu mereka sebagai hakim dalam masalah-masalah khilafiyah (perselisihan). Mereka memilih pendapat yang paling mudah dan yang paling enak menurut hawa nafsu mereka tanpa bersandar kepada dalil syar’i. Bahkan karena taqlid kepada kesalahan seorang alim, yang seandainya orang alim tersebut mengetahui kebenaran maka dia akan meninggalkan pendapatnya (yang salah tersebut) tanpa ragu-ragu.
Bahkan mereka mengambil rukhsah dari para fuqaha’ pada suatu permasalahan dan meninggalkan pendapat-pendapat para fuqaha itu pada permasalahan yang lain. Mereka menyesuaikan antara madzhab-madzhab dan menggabungkan pendapat-pendapat menurut hawa nafsu mereka !.
Padahal yang wajib atas setiap muslim adalah ittiba’ ( mengikuti ) dalil dan bukan menuruti hawa nafsunya sebagaimana Aloh wajibkan setiap manusia agar selalu ittiba kepada wahyu yang diturunkan oleh Alloh kepada RasulNya, Alloh jadikan wahyu tersebut sebagai petunjuk kepada manusia di dalam kehidupannya.
Tidak ada seorang pun dari para imam – yang diakui imamahnya oleh seluruh umat yang sengaja menyelisihi sunnah Rasulullah ( bahkan mereka selalu memerintahkan umat agar selalu ittiba terhadap sunnah Rasulullah ( .
Betapa pun para ulama berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti al-haq akan tetapi kadang terjatuh di dalam kesalahan sebagaimana tabiat manusia yang tercipta dalam keadaan lemah sebagaimana Alloh ( berfirman:
“ dan manusia dijadikan bersifat lemah.“ ( An-Nisa’ : 28 ).
Manusia diciptakan oleh Alloh dalam keadaan lemah di dalam ilmu dan pemahamannya, lemah tidak mungkin mengetahui dan menguasai segala sesuatu, yang pasti akan terjatuh di dalam kesalahan di dalam sebagian permasalahan.
Maka tidak boleh mengikuti kesalahan-kesalahan para ulama sebagaimana juga tidak boleh merendahkan para ulama dengan sebab ketergelinciran mereka..
Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata : ” Sesungguhnya seorang dari para imam jika banyak benarnya, diketahui usahanya untuk mengikuti al-haq, diketahui keluasan ilmunya, nampak kecerdasannya, diketahui keshalihannya, waro’nya,dan ittiba’nya, maka diampuni ketergelincirannya, tidaklah kita menyesatkannya dan melemparkannya dan melupakan kebaikan-kebaikannya. Ya, kita tidak mengikuti dia dalam kebid’ahannya dan kesalahnnya dan kita mengharapkan baginya taubat dari hal itu ” ( Siyar A’lam Nubala’ 5/271 ).

PENUTUP

Inilah yang bisa kami sampaikan di dalam bahasan ini, dan kami menasehatkan kepada diri kami dan kaum muslimin semuanya agar berhati-hati di dalam berbicara tentang agama agar karena Alloh ( tellah berfirman di dalam KitabNya :
ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ
“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan perkataan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui”. ( Al-Araf : 33 ).
Dalam ayat ini Alloh menjadikan mengada-adakan perkataan terhadap Alloh seimbang dengan kesyirikan, bahkan lebih sangat dibanding kesyirikan, hal ini menunjukkan betapa bahayanya berbicara tentang agama.
Rasulullah ( bersabda:
من أفتى بغير علم كان إثمه على من أفتاه
“ Barangsiapa yang berfatwa tanpa ilmu dosanya ditanggung oleh orang yang berfatwa “ ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya : 3657 dan Al-Hakim dalam Mustadrak 1/84 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Sunan Abu Dawud 2/410 ).
Al-Imam Asy-Syafi’I berkata : ” Yang wajib atas manusia agar tidak berbicara kecuali yang mereka mengetahui ilmunya, sungguh telah berbicara di dalam ilmu orang yang jika dia menahan diri dari sebagian yang dia ucapakan maka sungguh menahan diri lebih baik baginya dan lebih selamat Insya Alloh ” ( Ar-Risalah hal. 41 )
Akhirnya kita memohon kepada Allah ‘Azza wa jalla agar melapangkan hati-hati kita untuk kebenaran, menunjuki kita ke jalan yang lurus, dan menyatukan segala urusan kita, memudahkan kesulitan yang ada pada kita dan memberikan taufiq kepada kita untuk taat kepadanya, beribadah dengan benar kepadaNya, dan selalu mengingatNya serta menyatukan kalimat muslimin kepada yang dicintainya dan diridhainya.

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.