FATWA-FATWA PARA ULAMA TENTANG AKSI BOM BUNUH DIRI

FATWA-FATWA PARA ULAMA TENTANG AKSI BOM BUNUH DIRI

Mengingat maraknya pembicaraan tentang aksi bom bunuh diri, maka kami merasa perlu untuk lebih memperjelas masalah ini dengan menukilkan beberapa fatwa para ulama salafiyyin robbaniyyin tentang aksi bom bunuh diri ini :

1. FATWA SYAIKH ALLAMAH MUHAMMAD BIN SHALIH AL-UTSAIMIN

Di dalam Syarah Riyadhush Shalihin 1/165-166 setelah menyebutkan syarah hadits kisah Ashabul Ukhdud beliau menyebutkan faidah-faidah yang bisa diambil dari kisah ini diantaranya : “ Sesungguhnya seseorang boleh mengorbankan dirinya untuk kemashlahatan kaum muslimin secara umum, pemuda ini menunjukkan kepada raja yang menuhankan dirinya hal yang bisa membunuhnya, yaitu dengan mengambil sebuah anak panah dari tempat anak panahnya …
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “ Karena ini adalah jihad fi sabilillah, sebuah umat beriman semuanya dalam keadaan pemuda ini tidak kehilangan apa-apa, karena dia mati, dan pasti dia akan mati cepat atau lambat “.
Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian orang dengan bunuh diri, yaitu dengan membawa alat peledak dibawa ke tempat orang kafir, kemudian dia ledakkan ketika dia di antara orang-orang kafir, maka ini tergolong perbuatan bunuh diri – Semoga kita dilindungi Allah darinya – , barangsiapa yang bunuh diri maka dia kekal di neraka jahannam selama-lamanya, sebagaimana datang dalam hadits dari Nabi ( ( dalam Shahih Bukhary : 5778 dan Shahih Muslim : 109 :
من قتل نفسه بحديدة فحديدته في يده يتوجأ بها في بطنه في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا
“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi tajam maka besi itu diletakkan di tangannya , di tusukkan ke perutnya di neraka jahannam dia kekal di dalamnya “ ).
Karena orang ini membunuh dirinya bukan untuk mashlahat Islam ; karena jika dia membunuh dirinya dengan membunuh sepuluh, atau seratus, atau dua ratus orang kafir, maka Islam tidak mendapatkan manfaat sama sekali dari perbuatannya, manusia tidak akan beriman, berbeda dengan kisah pemuda ashabul ukhdud di atas, ( dengan bom bunuh diri ) ini bisajadi membuat musuh lebih congkak dan membuat geram mereka, sehingga mereka memberikan balasan kepada kaum muslimin yang lebih kejam dari itu.
Sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yahudi terhadap penduduk Palestina, jika ada seorang penduduk Palestina yang mati dengan bom bunuh diri, dan menewaskan 6 atau 7 orang Yahudi, maka orang-orang Yahudi membalas dengan menewaskan 60 orang Palestina atau lebih dari itu, maka bom bunuh diri ini tidak memberikan manfaat bagi kaum muslimin, dan tidak juga bagi orang-orang diledakkan bom ini di barisan mereka.
Karena inilah kami memandang bahwa apa yang dilakukan oleh sebagian orang dari bunuh diri ini, kami memandang bahwa dia telah membunuh jiwa dengan tidak haq, dan perbuatannya ini membawa dia ke neraka – Semoga kita dilindungi Allah darinya -, dan pelakunya tidaklah syahid, tetapi jika ada seseorang yang melakukan perbuatan ini dengan takwil dengan menyangka bahwa perbuatan ini dibolehkan syari’at, maka kami mengharap semoga dia selamat dari dosa, adapun dia tertulis sebagai orang yang syahid maka tidak; karena dia tidak menempuh jalan syahid yang benar, dan barangsiapa yang berijtihad dan keliru maka dia mendapat satu pahala.”
Di dalam kaset Liqo’ Syahry : 20 ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada beliau : “ Fadhilatusy Syaikh ! Engkau telah mengetahui – semoga Alloh menjagamu – apa yang terjadi pada hari Rabu kemarin dari suatu peristiwa yang menewaskan lebih dari 20 orang Yahudi di tangan salah seorang mujahidin Palestina, dia juga melukai sekitar 50 orang Yahudi, seorang mujahidin ini meletakkan alat peledak di dalam tubuhnya, kemudian masuk di sebuah rombongan kendaraan mereka dan dia ledakkan, dia melakukan itu dengan sebab :
Pertama : Dia tahu bahwa kalau dia tidak terbunuh sekarang hari itu maka besoknya akan dibunuh, karena orang-orang yahudi membunuh para pemuda muslim di sana dengan berencana.
Kedua : Para mujahidin ini melakukan hal itu karena membalas dendam terhadap orang-orang Yahudi yang telah membunuh orang-orang yang sholat di Masjid Ibrahimy.
Ketiga : Mereka mengetahui bahwa orang-orang yahudi dan nashara membuat rancangan untuk menghilangkan ruh jihad yang ada di Palestina.
Pertanyaan : Apakah perbuatan dia ini dianggap bunuh diri atau dianggap jihad ? Apa nasihatmu dalam keadaan seperti ini, karena jika kami telah mengetahui bahwa perbuatan ini adalah perbuatan yang diharamkan maka semoga kami bisa menyampaikannya kepada saudara-saudara kita di sana, – Semoga Alloh memberikan taufiq kepadamu – ? “
Beliau menjawab : “ Pemuda ini yang meletakkan bahan peledak di tubuhnya, pertama kali yang dia bunuh adalah dirinya, tidak diragukan lagi bahwa dialah yang menyebabkan pembunhuhan dirinya, tidak dibolehkan hal seperti ini kecuali jika hal itu bisa mendatangkan mashlahat yang besar bagi Islam, jika saja di sana ada mashlahat yang besar dan manfaat yang agung kepada Islam, maka hal itu dibolehkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – Rahimahullah – telah memberikan nash pada masalah ini, membuat permisalan untuk hal ini dengan kisah seorang pemuda , seorang pemuda mu’min yang berada di suatu umat yang dipimpin oleh seorang raja yang musyrik dan kafir, raja yang kafir dan musyrik ini ingin membunuh pemuda yang beriman ini, dia berupaya berulangkali, dia lemparkan pemuda itu dari atas gunung, dia lemparkan pemuda itu ke lautan, tetapi setiap upaya pembunuhan itu gagal karena Alloh menyelamatkan selalu pemuda itu, maka heranlah raja musyrik itu, suatu hari pemuda itu berkata kepada raja muyrik itu : “ Apakah kamu ingin membunuhku ? “ , raja itu berkata : “ Ya , tidaklah aku melakukan semua ini melainkan untuk membunuhmu “, pemuda itu berkata : “ Kumpulkanlah orang-orang di tanah lapang, kemudian ambillah satu panah dari tempat panahku, letakkanlah dia di busurnya, kemudian lepaskanlah kepadaku dan katakanlah : Dengan nama Alloh Tuhan pemuda ini “. Adalah penduduk raja ini jika menyebut mereka mengucapkan : Dengan nama raja, akan tetapi pemuda ini berkata kepada raja ini : Katakanlah : Dengan nama Alloh Tuhan pemuda ini.
Maka raja ini mengumpulkan orang-orang di satu tempat yang luas, kemudian dia mengambil sebuah anak panah dari tempat panah pemuda itu, dia letakkan di busurnya seraya mengatakan : Dengan nama Alloh Tuhan pemuda ini, dia lepaskan anak panah itu sampai mengenai pemuda itu dan matilah dia, melihat kejadian itu berteriaklah semua orang : Tuhan adalah Tuhan pemuda ini, Tuhan adalah Tuhan pemuda ini, dan mereka ingkari penuhanan raja yang musyrik ini ; mereka berkata : Raja ini telah melakukan segala cara yang memungkinkan untuk membunuh pemuda ini, ternyata dia tidak mampu membunuhnya, ketika dia mengucapkan satu kalimat : Dengan menyebut Alloh Tuhan pemuda ini, dia bisa mati, kalau demikian pengatur semua kejadian adalah Alloh, maka berimanlah semua manusia.
Syaikhul Islam berkata : Perbuatan pemuda ini mendatangkan manfaat yang besar bagi Islam.
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa yang menyebabkan kematian terbunuhnya pemuda ini adalah dia sendiri, tetapi dengan kematiannya didapatkan manfaat yang besar ; suatu umat beriman semuanya, jika bisa didapatkan manfaat seperti ini maka dibolehkan bagi seseorang menebus agamanya dengan jiwanya, adapun sekedar membunuh sepuluh atau dua puluh tanpa ada faidah, dan tanpa mengubah apapun maka perbuatan ini perlu dilihat lagi, bahkan hukumnya adalah haram, bisajadi orang-orang Yahudi membalasnya dengan membunuh ratusan kaum muslimin, maka kesimpulannya bahwa perkara-perkara seperti ini membutuhkan fiqih dan tadabbur, dan melihat akibatnya, membutuhkan tarjih ( penguatan ) mashlahat yang lebih tinggi dan menangkal mafsadah yang lebih besar, kemudian sesudah itu dipertimbangkan setiap keadaan dengan kadarnya “ ( Koran Al-Furqon Kuwait, 28 Shafar, edisi 145, hal. 20-21 ).
Dalam kesempatan lain dilontarkan suatu pertanyaan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang bunyinya : “ Apa hukum syar’i bagi orang meletakkan bahan peledak di tubuhnya, kemudian dia ledakkan di antara komunitas orang-orang kafir untuk menewaskan mereka ? Apakah benar jika dia berdalil dengan kisah seorang pemuda yang hendak dibunuh oleh Raja yang musyrik ? “
Beliau menjawab : “ Orang yang meletakkan bahan peledak dalam tubuhnya dengan tujuan untuk meledakkannya bersama dirinya di komunitas musuh, adalah orang yang membunuh dirinya, dia akan diadzab dengan apa yang membunuh dirinya di neraka jahannam kekal di dalamnya, sebagaimana telah tsabit hal itu dari Nabi ( tentang ancaman orang bunuh diri dengan sesuatu maka dia diadzab dengan sesuatu yang membunuhnya di neraka jahannam.
Alangkah aneh mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti ini, padahal mereka membaca firman Alloh :
( وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا(
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.. “ ( An-Nisa’ : 29 ),
kemudian mereka melakukan perbuatan itu, apakah mereka memetik sesuatu ? apakah musuh kalah ?! ataukah musuh semakin keras kepada mereka yang melakukan bom bunuh diri ini, sebagaimana hal ini terlihat di negeri yahudi –Israel-, di mana perbuatan seperti ini tidak menambah mereka kecuali mereka semakin gigih dengan kebrutalan mereka, bahkan kami dapati di negeri yahudi – Israel – di pooling terakhir dimenangkan oleh kelompok kanan yang ingin menghabiskan orang-orang Arab.
Akan tetapi barangsiapa yang melakukan hal ini dengan ijtihadnya menyangka bahwa ini adalah sarana pendekatan diri kepada Alloh – Azza wa Jalla – maka kita memohon kepada Alloh – Ta’ala – agar tidak menghukumnya ; karena dia seorang jahil yang mentakwil …
Adapun pendalilan dengan kisah pemuda ashabul ukhdud, maka kisah pemuda ini didapatkan darinya umat yang masuk Islam, tanpa menewaskan musuh, karena itu ketika raja mengumpulkan orang-orang, dan mengambil sebuah panah dari tempat panah pemuda seraya mengatakan : Dengan nama Alloh Tuhan pemuda ini, ( hingga terbunhuhlah pemuda itu ) maka orang-orang semuanya berteriak : Tuhan yang benar adalah Tuhan pemuda ini, maka didapatkan dengan kematian pemuda ini keislaman sebuah umat yang besar, seandainya hal seperti ini terjadi maka sungguh kami akan mengatakan bahwasanya di sana ada tempat untuk berdalil dengan kisah ini, dan bahwasanya Nabi ( mengisahkan kisah ini agar kita mengambil ibrah darinya, tetapi orang yang meledakkan diri-diri mereka jika membunuh sepuluh atau seratus musuh, maka hal itu tidak menambah musuh kecuali semakin marah kepada kaum muslimindan semakin gigih dengan apa keyakinan mereka “ ( Majalah Al-Furqon Kuwait, edisi 79, hal. 18-19, dan koran Al-Furqon Kuwait, 28 Shafar, edisi 145, hal. 20 ).

2. FATWA SYAIKH AL-ALLAMAH AL-MUHADDITS MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANY

Ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada beliau : “ Sebagian jama’ah membenarkan adanya jihad perorangan dengan berdalil kepada perbuatan seorang sahabat yang bernama Abu Bashir, mereka melakukan bom syahid ( saya katakan : bom bunuh diri ), bagaimana hukum perbuatan ini ? “
Syaikh Al-Albany menjawabnya dengan sebuah pertanyaan : “ Berapa lama tindakan ini mereka lakukan …? “
Penanya menjawab : “ Empat tahun “.
Maka Syaikh Al-Albany berkata : “ Mereka untung atau rugi ? “
Penanya berkata : “ Rugi “.
Syaikh Al-Albany berkata : “ Dari buahnya mereka dikenal “ ( Silsilah Huda wan Nur kaset no. 527 ).
Penanya berkata : “ Berhubungan dengan siasat perang modern, di dalamnya terdapat pasukan penyerang yang disebut commando, di sana terdapat pasukan musuh yang menyerang kaum muslimin, maka mereka membuat suatu kelompok bunuh diri ( jibaku ) meletakkan bom ke tank-tank musuh, sehingga banyak menewaskan mereka … apakah perbuatan ini dianggap bunuh diri ?
Syaikh Al-Albany menjawab : “ Ini tidak dianggap bunuh diri ; karena bunuh diri adalah jika seorang muslim membunuh dirinya untuk melepaskan diri dari kehidupan yang celaka …adapun gambaran di atas yang Engkau tanyakan, maka tidak dikatakan bunuh diri, bahkan ini adalah jihad fi sabilillah … hanya saja di sana ada catatan yang harus diperhatikan, yaitu hendaknya perbuatan ini hendaknya bukan sekedar ide pribadi, tetapi harus dengan perintah komandan pasukan… jika komandan pasukan merasa perlu dengan tindakan ini, dia memandang bahwa unsur kerugian yang ditimbulkan lebih sedikit daripada keuntungan yang didapatkan, yaitu memusnahkan jumlah besar dari pasukan musyrik dan kafir, maka pendapat komandan pasukan ini harus ditaati karena komando di tangannya, walaupun ada yang tidak suka maka tetap wajib taat…
Bunuh diri termasuk hal yang paling diharamkan dalam Islam; karena pelakunya tidaklah melakukannya kecuali karena marah kepada Rabbnya dan tidak ridho kepada ketentuan Alloh … Adapun yang tadi maka tidak termasuk bunuh diri, sebagaimana hal ini pernah dilakukan oleh para sahabat, seorang dari mereka menyerang sekelompok orang kafir dengan pedangnya, dia tebaskan pedangnya pada mereka hingga kematian menjemputnya, dia sabar, karena di tahu bahwa tempat akhirnya adalah surga … maka berbeda sekali antara orang yang membunuh dirinya dengan cara jihad bunuh diri ini dan antara orang yang mengakhiri hidupnya yang sempit dengan membunuh dirinya, atau melakukannya dengan ijtihad pribadinya, maka yang ini termasuk hal melemparkan dirinya dalam kebinasaan “( Silsilah Huda wan Nur kaset no. 134 ).

3. FATWA SYAIKH AL-ALLAMAH SHALIH BIN GHANIM AS-SADLAN

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman berkata : Sesudah menjelaskan keharaman aksi bom bunuh diri ini Syaikh Shalih Bin Ghanim As-Sadlan mengatakan : “ Kemudian kita datang kepada beberapa gambaran dari aksi-aksi bunuh diri, yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dengan tujuan memancing kemarahan musuh, walaupun perbuatan ini tidak memajukan atau memundurkan, tetapi dengan banyaknya aksi-aksi ini bisajadi akan melemahkan musuh atau membuat takut mereka…aksi-aksi bunuh diri ini berbeda dari pelaku yang satu dengan pelaku yang lainnya, kadang-kadang orang yang melakukan aksi bom bunuh diri ini terpengaruh oleh orang-orang yang membenarkan perbuatan ini, maka dia melakukannya dengan niat berperang, berjihad, dan membela suatu keyakinan, jika yang dibela benar, dan dia melakukannya dengan landasan pendapat orang yang membolehkannya maka bisajadi dia tidak dikatakan bunuh diri; karena dia berudzur dengan apa yang dia dengar “( Koran Al-Furqon Kuwait, 28 Shafar, edisi 145, hal. 21 dengan perantaraan Salafiyyun wa Qadhiyatu Filisthin hal. 62 ).

PENUTUP

“ Dan saya katakan sebagai penutup : Wahai para pemuda bertakwalah kalian kepada Alloh terhadap diri-diri kalian, janganlah kalian menjadi mangsa syaithan, yang mengumpulkan bagi kalian kehinaan di dunia dan adzab di akhirat.
Bertaqwalah kalian kepada Alloh terhadap kaum muslimin dari orang-orang tua, orang-orang dewasa, dan para pemuda.
Bertakwalah kalian kepada Alloh terhadap kaum muslimat dari para ibu, anak-anak perempuan, saudara-saudara perempuan, dan para bibi.
Bertakwalah kalian kepada Alloh terhadap orang-orang tua yang ruku’ dan bayi-bayi yang masih menyusu.
Bertakwalah kalian kepada Alloh terhadap darah-darah yang dilindungi dan harta-harta yang diharamkan.
” peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu ”
” Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang Sempurna terhadap apa yang Telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”.
” Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang Telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; “.
” Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, Dari ibu dan bapaknya, Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya “.
Bangunlah kalian dari tidur kalian dan sadarlah dari kelalaian kalian. Janganlah kalian menjadi kendaraan syaithan di dalam merusak di muka bumi.
Dan saya memohon kepada Alloh Azza wa Jalla agar memberikan pemahaman kepada kaum muslimin di dalam agama mereka, agar menjaga mereka dari fitnah-fitnah yang menyesatkan, yang nampak dan yang tidak nampak.
Semoga Alloh selalu mencurahkan sholawat dan berkah kepada hamba dan NabiNya Muhammad beserta keluarganya dan sahabatnya semuanya ( Biayyi Aqlin Yakunu Tafjir wa Tadmir Jihadan ?! Waihakum … Afiiqu Ya Syabab !! oleh Syaikh Al-‘Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad terbitan Mathba’atu Safir Riyadh, cetakan pertama 1424 H / 2003 M ).

Akhukum : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

2 comments

  • Abu Rafli - Cikarang Bekasi

    Ustadz apa nasehat antum kepada para penuntut ilmu dg maraknya fitnah media dan dalam rangka membentengi kamuflase anjing-anjing neraka di media sosial
    Syukron jazakallohu khoir

    • Ustadz Arif Fathul Ulum

      Hendaknya penuntut ilmu bertaqwa kepada Alloh pada dirinya dan kaum muslimin dan merapat ke majelis2 ilmu, mengambil ilmu dari ahli ilmu yg terpercaya dlm aqidah dan manhajnya. Kemudian menjauhi para penebar syubhat yg banyak muncul di sosmed. Dan tentunya selalu berdoa agar ditunjukkan Alloh ke jalan yg lurus. Waffaqaniyallohu wa iyyakum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.