FATWA-FATWA PARA ULAMA SUNNAH TENTANG DEMONSTRASI

FATWA-FATWA PARA ULAMA SUNNAH TENTANG DEMONSTRASI
1. Fatwa Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz :

Ada seorang yang bertanya kepada Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz: Apakah demonstrasi yang dilakukan oleh orang-orang laki-laki dan orang-orang perempuan melawan penguasa dan pemerintah termasuk salah satu sarana dakwah ? dan apakah orang-orang yang mati dalam rangka demonstrasi dianggap syahid di jalan Alloh ?
Maka Samahatusy Syaikh menjawab : Aku tidak memandang bahwa demonstrasi yang dilakukan oleh orang-orang laki-laki dan orang-orang perempuan merupakan solusi,akan tetapi dia adalah termasuk sebab-sebab terjadinya fitnah, sebab-sebab terjadinya kejelekan-kejelekan, dan penyebab kedholiman sebagian manusia dan melanggar hak-hak orang lain. Akan tetapi sarana-sarana yang syar’i adalah mengirim surat, nasehat, dan dakwah kepada kebaikan dengan jalan-jalan damai, demikianlah jalan yang ditempuh oleh ahli ilmu, dan juga yang ditempuh oleh para sahabat Nabi ( dan para pengikut mereka dengan ihsan, yaitru dengan cara mengirim surat dan bicara langsung dengan orang-orang yang berbuat kesalahan, dan dengan pemerintah dan penguasa dengan menghubunginya secara langsung dan menasehatinya, serta menulis surat kepadanya, bukan mempublikasikannya di mimbar-mimbar dan yang lainnya : bahwa dia telah berbuat demikian dan karena dia menjadi demikian, Wallohul Musta’an ( Dari kaset yang berjudul Muqtathofatun min Aqwalil Ulama’ dengan perantaraan bulettin Aqwal Ulama Sunnah fil Mudhaharat ).
Samahatusy Syaikh juga berkata : ” Metode yang bagus termasuk di antara sarana paling agung agar kebenaran bisa diterima, sedangkan metode yang jelek dan kasar termasuk di antara sarana paling berbahaya di dalam ditolaknya kebenaran dan tidak diterima, atau dia adalah mencuatkan kegelisahan, kedhaliman, sikap melampaui batas, aksi mogok, dan termasuk di dalam bab ini adalah yang dilakukan oleh sebagian orang dari demonstrasi; yang menyebabkan kejelekan yang besar atas para da’i, maka unjuk rasa di jalan-jalan dan berteriak-teriak ; bukanlah termasuk jalan untuk perbaikan dan dakwah. Jalan yang shahih adalah dengan cara kunjungan, mengirim surat dengan cara yang baik, Engkau nasehati pemimpin, pemerintah, dan kepala suku dengan cara ini, bukan dengan kekerasan dan demonstrasi. Nabi ( tinggal di Makkah selama 13 tahun, beliau tidak pernah menggunakan demonstrasi dan unjuk rasa, beliau tidak pernah mengancam manusia akan merusak harta benda mereka dan menculik mereka. Tidak syak lagi bahwa metode ini memadharatkan da’i dan dakwah, menghalangi tersebarnya dakwah, membawa para pemimpin dan pembesar untuk memusuhi dakwah dan melawannya dengan segala cara. Mereka menghndaki kebaikan dengan metode ini, akan tetapi hasilnya adalah kebalikannya. Maka keberadaan seorang da’i Ilalah menempuh jalan para para rasul dan para pengikut mereka, walaupun butuh waktu yang panjang, adalah lebih utama daripada suatu perbuatan yang memadharatkan dakwah dan mempersempit ruang geraknya, atau memusnahkannya, Wa La Hala Wala Quwwata Illa Billah ” ( Majalah Buhuts Islamiyyah Edisi 38 hal. 310 ).

2. Fatwa Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin :

Ada pertanyaan yang dilontarkan kepada Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: ” Apakah demonstrasi dianggap sebagai salah satu sarana dari sarana dakwah yang disyari’atkan ? ”
Maka Fadhilatusy Syaikh menjawab : Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin wa Shollalllohu Ala Sayyidina Muhammadin Wa Ala Alihi Wa Shohbihi wa Sallam, Wa Man Tabi’ahum Ila Yaumiddin.
Amma Ba’du.
Sesungguhnya demonstrasi adalah perkara baru, – tidak pernah dikenal pada zaman Nabi ( , tidak juga pada zaman Khulafaur Rasyidin, dan pada zaman sahabat Radhiyallahu Anhum – , kemudian demonstrasi menimbulkan kekacauan dan kerusakan yang membuat dia terlarang, di mana dia membuat kaca-kaca dipecahkan, pintu-pintu dirusak dan yang lainnya .. terjadi campur baur laki-laki dan wanita, yang tua maupun yang muda, dan yang serupa dari kerusakan-kerusakan dan kemungkaran-kemungkaran.
Adapun masalah menekan penguasa, jika penguasa adalah muslim maka cukuplah menasehatinya dengan Kitabullah Ta’ala dan Sunnah Rasulullah ( , inilah hal terbaik yang dipaparkan pada seorang muslim, dan jika penguasa adalah kafir maka mereka tidak akan peduli dengan para demonstran, mereka akan berbasa-basi kepada mereka secara nampak, adapun yang mereka sembunyikan adalah jauh lebih jelek, karena inilah maka kami memandang bahwa demonstrasi adalah perkara yang mungkar.
Adapun perkataan mereka bahwa demonstrasi ini adalah aksi damai, maka dia kadang adalah damai di awalnya atau di kali yang pertama, kemudian menjadi aksi perusakan. Dan aku nasehatkan kepada para pemuda agar mengikuti jalan para salaf, karena sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memuji orang-orang Muhajirin dan Anshor, dan memuji kepada orang-orang yang mengkuti mereka dalam kebaikan. ( Al-Jawabul Abhar oleh Fuad Siraj hal. 75 ).

3. Fatwa Syaikh Al-Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan :

” Telah datang banyak pertanyaan tentang hukum pemilihan umum dan demonstrasi dengan catatan bahwasanya keduanya adalah perkara baru yang diimpor dari non Islam, maka saya katakan dengan memohon taufiq dari Alloh Ta’ala – : … Adapun demonstrasi maka Islam tidak membenarkannya karena akan menimbulkan kekacauan, ketidakstabilan, jiwa-jiwa melayang, harta-harta dirusak, dan meremehkan pemerintahan Islam. Agama kita adalah agama yang mengajak keteraturan, ketertiban, dan menepis kerusakan-kerusakan. Jika masjid-masjid digunakan untuk markaz demonstrasi dan pertahanan maka ini adalah semakin menambah kejelekan dan pelecehan terhadap masjid-masjid, menjatuhkan kehormatannya, membuat ngeri orang-orang yang datang kepadanya dari orang-orang yang sholat dan berdzikir, karena sesungguhnya masjid-masjid dibangun untuk dzikrullah, sholat, ibadah, dan ketenangan.
Maka wajib atas kaum muslimin agar mengetahui perkara-perkara ini dan tidak menyeleweng bersama adat-adat luar, slogan-slogan yang menyesatkan, dan taklid kepada orang-orang kafir dan para pengacau. Semoga Alloh memberikan taufiq kepada kita semua keapda kebaikan ” ( Surat Kabar Al-Jazirah Edisi 11358, Senin 8 Ramadhan 1424 H / 3 November 2003 ).

4. Fatwa Syaikh Al-Allamah Shalih bin Ghusun :

Ada seorang yang bertanya kepada Syaikh Al-Allamah Shalih bin Ghusun Rahimahullah – : ” Dua tahun yang lalu kami mendengar sebagian para da’i berbicara tentang masalah sarana-sarana dakwah dan inkarul munkar, mereka memasukkan di dalam sarana-sarana tersebut demonstrasi, sabotase, dan unjuk rasa, dan kadang mereka masukkan hal-hal ini ke dalam bab jihad !, maka kami mengharap dari Syaikh penjelasan apakah perkara-perkara ini termasuk sarana-sarana yang syar’i ataukah masuk ke dalam bid’ah yang tercela dan sarana-sarana yang terlarang ? Kami mengharap Syaikh agar menjelaskan tentang perlakuan yang syar’i terhadap para penyeru aksi-aksi ini dan orang-orang yang melakukannya dan mengajak kepadanya ? “.
Syaikh Al-Allamah Shalih bin Ghusun Rahimahullah berkata : ” Alhamdulillah, merupakan hal yang dimaklumi bahwa Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar dan dakwah serta arahan kepada kebaikan adalah termasuk pokok-pokok agama Alloh Azza wa Jalla, akan tetapi Alloh Jalla wa ‘Ala telah berfirman di dalam kitabNya yang agung :

” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. ” ( An-Nahl : 125 )
Tatkala Alloh Azza wa Jalla mengutus Musa dan Harun untuk mendakwahi Fir’aun Alloh berfirman :
(َفقولا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى(
“ Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”. “ ( Thaha : 44 ).
Nabi ( datang dengan hikmah dan memerintah agar seorang da’i menempuh jalan hikmah dan menghiasi diri dengan kesabaran, dan ini termktub di dalam Al-Qur’anul Aziz di dalam surat Al-‘Ashr :

” Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. ” ( Al-Ashr : 1-3 )
Maka seorang da’i dan seorang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf serta melarang dari yang munkar hendaknya menghiasi dirinya dengan kesabaran, wajib atasnya mengharap pahala dari Alloh, wajib atasnya untuk menahan diri dari hal yang tidak menyenangkan yang kadang dia dengar atau dia alami di dalam jalan dakwahnya.
Adapun jika seseorang menempuh cara kekerasan atau menempuh jalan wal’iyadzu billah menyakiti manusia, atau jalan dengan mengganggu manusia, atau dengan cara perselisihan dan memecahbelah persatuan, maka ini semua adalah perkara-perkara syaithan, dan dia adalah pokok dakwah Khawarij, ini adalah pokok dakwah Khawarij, merekalah yang mengingkari kemungkaran dengan senjata, mengingkari perkara-perkara yang mereka anggap menyelisihi keyakinan-keyakinan mereka dengan cara peperangan, menumpahkan darah, mengkafirkan manusia, dan perkara-perkara keji yang lainnya.
Maka sungguh sangat berbeda antara dakwah para sahabat Nabi ( dengan dakwah Khawarij serta orang-orang yang menempuh jalan Khawarij. Dakwah para sahabat dengan hikmah, nasehat yang baik, penjelasan terhadap al-haq, kesabaran, dengan akhlaq yang baik dan mengharap pahala dari Alloh, sedangkan dakwah Khawarij adalah dengan memerangi manusia, menumpahkan darah-darah manusia, mengkafirkan manusia, memecahbelah persatuan dan mengoyak bariasan kaum muslimin, ini semua adalah perbuatan-perbuatan keji, dan perbuatan-perbuatan yang diada-adakan ; maka yang lebih utama bahwa orang-orang yang menyeru kepada perkara-perkara keji ini agar dijauhi, disikapi dengan prasangka buruk, merekalah yang memecahbelah persatuan kaum muslimin. Jama’ah adalah rahmah sedangkan perpecahan adalah adzab wal’iyadzu billah – . Seandainya penduduk negeri bersatu atas kebaikan, dan bersatu atas satu kalimat maka sungguh pasti mereka akan memiliki kedudukan dan memiliki wibawa, akan tetapi penduduk negeri sekarang ini bepartai-partai dan berkelompok-kelompok, mereka berpecahbelah dan berselisih, musuh masuk melalui diri-diri mereka, dan dari sebagaian mereka atas sebagian yang lain, ini adalah jalan yang bid’ah dan jalan yang keji, jalan seperti jalan yang terdahulu yaitu jalan orang-orang Khawarij, yang memerangi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu beserta para sahabat yang bersamanya dan para ahli Baiat Ridhwan ( yang dijanjikan surga oleh Alloh ), orang-orang Khawarij ini memerangi Ali dengan maksud untuk perbaikan !!, padahal merekalah gembong-gembong kerusakan, gembong-gembong kebid’ahan, gembong-gembong perselisihan, maka merekalah yang memecahbelah persatuan kaum muslimin, melemahkan kekuatan kaum muslimin. Dan demikian juga hingga orang-orang yang mengikuti hal-hal ini, mengambilnya, dan memprogandakannya, maka dia adalah jelek aqidahnya dan wajib dijauhi.
Dan aku mengetahui wal’iyadzu billah sesungguhnya dia adalah membawa madharat bagi umatnya, bagi teman-teman duduknya, dan bagi orang-orang yang bersamanya, dan kalimat yang haq bahwasanya hendaknya seorang muslim adalah pembangun, penyeru kebaikan, benar-benar mencari kebaikan, mengatakan al-haq, menyeru manusia dengan cara yang baik, dengan kelembutan, dan berbaik sangka kepada saudara-saudaranya, dan menyadari bahwa kesempurnaan adalah sulit dicapai, dan bahwasanya yang ma’shum hanyalah Nabi ( dan bahwasanya jika mereka tiada maka tidaklah datang seorang yang lebih baik dari mereka, seandainya orang-orang yang menjadi tiada sama saja mereka dari para penguasa atau pihak-pihak yang berwenang atau para penuntut ilmu atau bangsa seandainya mereka semua telah tiada, suatu bangsa atau negeri, maka sungguh akan datang yang lebih jelek dari mereka ! karena sesungguhnya tidaklah datang suatu tahun melainkan akan datang tahun berikutnya lebih jelek darinya. Maka orang yang menginginkan manusia bisa mencapai derajat kesempurnaan, atau mereka mereka menjadi ma’shum bersih dari kealahan dan dosa, maka dia ini adalah manusia yang sesat, mereka adalah orang-orang Khawarij, merekalah yang memecahbelah persatuan kaum muslimin dan menyakiti mereka. Inilah maksud-maksud orang-orang yang menyelisihi Ahli Sunnah wal Jama’ah dalam kebid’ahan dari orang-orang Rafidhah, Khawarij, dan Mu’tazilah, serta berbagai model ahli bid’ah dan kejelekan ” ( Majalah Safinatun Najah, edisi kedua, Januari 1997 ).

5. Fatwa Syaikh Al-Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi :

Syaikh Al-Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi menyebutkan kritikan-kritikan terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin, di antaranya : Catatan ke-23 : Aksi unjuk rasa dan demonstrasi, sedangkan Islam tidak mengakui perbuatan ini, dan tidak membenarkannya, bahkan dia adalah perkara yang baru, buatan orang-orang kafir, dan telah menular dari mereka kepada kita, apakah setiap orang kafir melakukan suatu perbuatan maka kita saingi mereka dalam hal itu dan kita ikuti mereka dalam hal itu !!
Sesungguhnya Islam tidaklah menang dengan unjuk rasa dan demonstrasi, akan tetapi menang dengan jihad yang dilandaskan atas aqidah yang shahihah dan berjalan di atas jalan yang dcontohkan oleh Muhammad bin Abdullah ( , sungguh Rasulullah ( dan para pengikutnya telah diuji dengan berbagai macam ujian dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar bersabar, inilah Musa Alaihi Salam mengatakan kepada Bani Israil betapapun apa yang mereka rasakan dari kekejaman Fir’aun dan kaumnya Musa berkata kepada bani Israil sebagaimana dikhabarkan oleh Alloh Azza wa Jalla di dalam firmanNya :

” Musa Berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” ” ( Al-A’raf : 128 )
Dan inilah Rasulullah ( berkata kepada sebagian sahabatnya tatkala mereka mengadukan kepadanya apa yang mereka terima dari siksaan orang-orang musyrik :
قد كان من قبلكم يؤخذ الرجل فيحفر له في الأرض فيجعل فيها فيجاء بالمنشار فيوضع على رأسه فيجعل نصفين ويمشط بأمشاط الحديد ما دون لحمه وعظمه فما يصده ذلك عن دينه والله ليتمن هذا الأمر حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت لا يخاف إلا الله والذئب على غنمه ولكنكم تستعجلون
“ Sungguh orang-orang sebelum kalian ada yang ditangkap kemudian digalikan lubang baginya dan dia dimasukkan ke dalamnya, kemudian didatangkan gergaji yang diletakkan di atas kepalanya dan dia dibelah menjadi dua, ada yang disisir tubuhnya dengan sisir besi di antara daging dan tulangnya, hal itu semua tidaklah menghalanginya dari agamanya. Demi Alloh sungguh Alloh akan menyempurnakan agama ini hingga seorang pengendara berjalan dari Shon’a ke Hadhramaut tidaklah takut kecuali kepada Alloh dan serigala atas kambingnya, akan tetapi kalian tergesa-gesa ( Shahih Bukhari 6/2546 ).
Maka Rasulullah ( tidaklah memerintahkan para sahabatnya agar melakukan demonstrasi dan penculikan ( Al-Maurid Al-‘Adzbu Zallal hal. 228 ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.