DAULAH BUKANLAH TUJUAN DAKWAH

DAULAH BUKANLAH TUJUAN DAKWAH

Dakwah Ilallah adalah jalan semua rasul dan para pengikut mereka, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya yang terang benderang, dari kekufuran kepada keimanan, dari kesyirikan kepada tauhid, dan dari neraka ke surga.
Dakwah para rasul ini berlandaskan asas-asas yang wajib diikuti oleh setiap juru dakwah, agar dakwah mereka membuahkan hasil yang baik, barangsiapa yang berdakwah tanpa memakai asas-asas dakwah para rasul maka dakwah itu tidak bernilai sama sekali di sisi Alloh dan menjadikan daya upaya yang dicurahkan padanya sia-sia.
Di antara asas-asas dakwah yang benar adalah hendaknya berlandaskan ilmu yang diiringi dengan amalan, ikhlash kepada Alloh bukan untuk mendapatkan dunia dan kedudukan, mendahulukan hal yang paling penting yaitu memperbaiki aqidah dengan mengikhlaskan ibadah semata kepada Alloh dan melarang dari segala macam kesyirikan, inilah jalan dakwah semua rasul sebagaimana dalam firman Alloh Ta’ala :
( وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ (
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, “ ( An-Nahl : 36 ).
Setiap dakwah yang tidak ditegakkan atas asas-asas ini, dan tidak mengikuti manhaj dakwah para rasul, maka akan berakhir dengan kesia-siaan, dan hanya menghabiskan waktu dan tenaga tanpa faidah, sebagai bukti yang kongkrit terhadap hal ini adalah realita jamaah-jamaah dakwah masakini yang membuat manhaj dakwah sendiri yang menyelisihi manhaj dakwah para rasul, mereka lalaikan masalah yang prinsip, yaitu seruan penegakan aqidah, mereka justru berkutat habis dalam memperjuangkan masalah lainnya.
Di antara jama’ah-jama’ah dakwah yang menyelisihi manhaj para rasul adalah jama’ah dakwah yang mengkonsentrasikan dakwahnya untuk merebut kekuasaan dan mendirikan Khilafah Islamiyyah ( negara Islam ) , model dakwah seperti nampak dengan jelas pada Ikhwanul Muslimin ,Hizbut Tahrir, NII, dan yang sejalan dengan mereka.
Demikian banyak syubhat yang mereka hembuskan ke dalam tubuh kaum muslimin untuk melariskan dakwah mereka, maka kami melihat pentingnya bantahan kepada mereka dan penjelasan tentang penyimpangan mereka dari dakwah yang haq.

MANHAJ DAKWAH PARA NABI

Para nabi adalah manusia-manusia terbaik yang dipilih oleh Alloh ( sebagai penyampai risalahNya kepada seluruh umat manusia, mengingatkan mereka kepada hikmah penciptaan mereka yaitu agar mereka beribadah kepada Alloh ( semata, mengagungkanNya, mensucikanNya dari segala kekurangan , sekutu dan tandingan-tandingan bagiNya, Allah ( berfirman :
(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. “ ( Adz-Dzariyyat : 56 ).
Karena inilah maka Tauhid Uluhiyyah adalah prioritas utama dari dakwah semua rasul sejak rasul Yang pertama Nuh ( hingga yang terakhir Muhammad ( dan merupakan sebab utama pergulatan semua rasul dengan kaumnya, dan merupakan sebab pergulatan semua umat manusia hingga sekarang dengan pewaris para rasul sebagai ujian bagi mereka untuk meniti kedudukan yang tinggi di sisi Alloh ( . Alloh ( berfirman :
( وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ(
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). “ ( An-Nahl : 36 ).
Maka tauhid uluhiyyah adalah da’wah seluruh para nabi, maka tauhid adalah asas terpenting dari risalah yang mereka bawa kepada umat manusia di semua keadaan,tempat dan zaman. Inilah jalan yang wajib ditempuk di dalam berdakwah kepada manusia, dan sunnah yang digariskan oleh Alloh ( kepada para rasulNya dan kepada para pengikut mereka yang hakiki, tidak boleh diubah dan tidak boleh diganti dengan yang lainnya.

HIKMAH MANHAJ DAKWAH PARA NABI

Seluruh nabi memulai dakwah mereka dengan memperbaiki aqidah umat mereka dan memerangi kesyirikan, hal ini mengandung hikmah yang agung di antaranya :
1. Kerusakan-kerusakan yang berhubungan dengan aqidah manusia dari kesyirikan, khurafat, dan berbagai macam kesesatan lebih berbahaya beribu kali dibandingkan dengan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh jeleknya pemerintahan dan yang lainnya, jika ini tidak kita katakan dan kita yakini maka secara tidak langsung kita telah membodohkan seluruh para nabi, kita berlindung kepada Alloh dari kesesatan.
Kerusakan-kerusakan yang berhubungan dengan aqidah manusia ini terdapat pada rakyat dan penguasa, karena para penguasa di semua tempat dan zaman – kecuali yang beriman – tunduk kepada berhala-berhala dan kuburan-kuburan, membangunnya dan memberikan persembahan kepadanya, mereka meyakini bahwa berhala-berhala dan kuburan-kuburan itu memiliki kekuasaan gaib di atas kekuatan mereka yang bersifat materi.
Contoh yang paling jelas dari hal ini adalah seorang thaghut yang menuhankan dirinya yaitu Fir’aun yang berkata dengan congkaknya : “ Aku adalah tuhan kalian yang tertinggi “, Alloh mengkisahkan tentang ucapan kaumnya yang menunjukkan kecemburuan dan pembelaan Fir’aun kepada berhala-berhalanya : “ Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir`aun (kepada Fir`aun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?” ( Al-A’raf : 127 ).
Tidakkah Engkau melihat bahwa thaghut terbesar di muka bumi yang mengaku dirinya tuhan dia tunduk dan menyembah berhala-berhala.
Demikian juga Namrudz raja Kaledonia yang mengaku dirinya tuhan membakar Ibrahim karena Ibrahim menghancurkan berhala-berhalanya.
Demikian juga raja-raja India dan Persia menyembah berhala-berhala dan api, raja-raja Romawi masalalu dan penguasa-penguasa Eropa dan Amerika masakini menyembah patung-patung dan salib, dan berapa banyak penguasa-penguasa kaum muslimin masalalu dan masakini yang terfitnah dengan orang-orang yang sudah mati, membangun kuburan-kuburan mereka, melakukan kesyirikan dengan memberikan kecintaan, harapan dan rasa takut kepada kuburan-kuburan ini.
Dari sini nampaklah kepadamu kebenaran dan kelurusan manhaj dakwah para nabi, dan pentingnya sikap yang tegas dari berhala-berhala dan kuburan-kuburan.
2. Sesungguhnya Alloh tidaklah mengutus para rasul melainkan untuk mengajarkan kebaikan kepada manusia dan memperingatkan mereka dari adzab Alloh dan semua kejelekan.
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa kebaikan terbesar adalah tauhidullah yang akan membawa kepada kebahagiaan yang abadi di syurga dan kejelekan terbesar adalah kesyirikan yang akan membawa kepada adzab Alloh yang kekal.
3. Alloh tidak pernah membebani setiap pembawa risalahNya untuk mendirikan suatu daulah dan menjatuhkan yang lainnya, dan ini adalah puncak hikmah, karena seruan untuk menegakkan suatu daulah tidak akan terlepas dari tendensi mencari dunia, pangkat, dan kedudukan.Dan usaha pencapaian kekuasaan sering diperani oleh orang-orang yang rakus dan dengki. Tak jarang muncul sekelompok juru dakwah yang berjuang untuk menegakkan daulah, namun terselinap niat untuk merealisasikan dorongan nafsu, kerakusan, dan ambisi untuk memperoleh hajat yang mereka idamkan.
Sesungguhnya dakwah mengajak orang untuk menegakkan Daulah jauh lebih mudah, dan bahkan lebih cepat mendapat pengikut, sebab kebanyakan manusia menghendaki perolehan dunia dan pemenuhan hawa nafsu.
Karena beberapa pertimbangan seperti inilah – Wallahu A’lam – dan yang lainnya yang diketahui oleh Alloh Sang Pencipta yang Maha Mengetahui , maka manhaj dakwah para nabi jauh sekali dari slogan-slogan yang menyilaukan dan menarik bagi pengikut hawa nafsu dan pencari kedudukan, mereka menempuh manhaj yang penuh hikmah, bersih dan suci, yang penuh dengan kendala dan ujian, maka tidak ada yang mengikuti dan beriman kepada mereka kecuali orang-orang yang jujur, ikhlas, dan jauh dari segala macam tendensi-tendensi pribadi.

DAULAH BUKANLAH TUJUAN DAKWAH PARA NABI

Kadang Alloh memberikan hidayah kepada suatu kaum sehingga mereka mengikuti ajakan nabi mereka, hingga tegaklah sebuah daulah bagi mereka, sebagai buah kebaikan yang dipetik dari keimanan dan amal shalih mereka, anugerah Daulah ini akhirnya dilimpahkan Alloh kepada mereka karena keteguhan mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban seperti jihad, melaksanakan syari’at dan perkara-perkara yang disyari’atkan Alloh kepada mereka. Anugerah inilah yang diperoleh Rasulullah ( dan para sahabatnya, karena kesabaran mereka dalam menempuh manhaj dakwah yang haq, menghadapi kekejian dan kebrutalan kaum musyrikin. Alloh menolong Rasulullah ( dan para sahabatnya, memenangkan din mereka, dan mengokohkan mereka di muka bumi, sebagai perwujudan janji Alloh dalam KitabNya :
( وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا(
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. “ ( An-Nur : 55 ).
Bersamaan dengan itu semua nabi bukanlah manusia-manusia pencari kekuasaan, tetapi mereka adalah para da’i kepada tauhid, dan tidak pernah menyiapkan para pengikutnya untuk revolusi dan kudeta.
Rasulullah ( pada awal dakwahnya telah ditawari kedudukan sebagai “ penguasa ‘ di Makkah, tetapi beliau menolak dan tetap melanjutkan dakwah tauhidullah dan memerangi kesyirikan ( Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dalam Sirahnya 1/293-294 dan memiliki syahid dari hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Abd bin Humaid dan Abu Ya’la. Syaikh Rabi’ berkata : Dengan syahid ini kuatlah sanad kisah ini. Manhajul Anbiya’ hal. 116 ).
Kesimpulannya bahwa dakwah para nabi bukanlah untuk mendirikan suatu daulah dan menjatuhkan yang lainnya, mereka tidaklah mencari kekuasaan dengan mendirikan partai-partai politik, tetapi mereka berdakwah untuk memberikan hidayah kepada manusia, menyelamatkan mereka dari keseatan dan kesyirikan, mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dan mengingatkan mereka kepada hari pembalasan.

BOLEHKAH JURU DAKWAH BERPALING DARI MANHAJ PARA NABI ?

Tidak diperbolehkan secara syar’i bagi setiap juru dakwah di setiap zaman untuk berpaling dari manhaj para nabi dan memilih jalan yang lainnya karena :
1. Manhaj dakwah para nabi adalah jalan yang paling lurus yang digariskan oleh Alloh kepada semua nabi.
Allohlah yang meletakkan jalan ini, dan Dia adalah pencipta manusia, paling tahu tentang tabiat-tabiat manusia, dan apa yang paling sesuai bagi mereka.
2. Para nabi berpegangteguh dengan jalan ini dan menerapkannya, tidak pernah kita jumpai satupun nabi yang memulai dakwahnya dengan tashawwuf, ilmu kalam, filsafat, ataupun politik !!!.
Bahkan kita dapatkan mereka semua menempuh jalan yang satu yaitu menjadikan dakwah tauhid sebagai prioritas pertama, hal ini menunjukkan bahwa permasalahan ini tidak termasuk medan ijtihad.
3. Sesungguhnya Alloh telah mewajibkan Rasulullah ( agar menempuh jalan para nabi, Alloh berfirman – setelah menyebut 18 orang dari para nabi – : “ Mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka ikutilah petunjuk mereka ! “ ( Al-An’am : 90 ).
4. Alloh telah menciptakan alam semesta dan menatanya secara kauni dan syar’i, Alloh jadikan alam semesta berjalan sunnah-sunnah kauniyyahNya, jika sunnah-sunnah kauniyyah ini berubah maka rusaklah alam semesta.
Termasuk sunnah kauniyyah bahwa makhluk hidup dari manusia dan yang lainnya tidak akan hidup kecuali dengan ruh dan jasad, jika ruh memisahkan diri dari jasad maka matilah jasad sehingga menjadi rusak dan busuk.
Demikian juga tidak akan tegak syari’at kecuali di atas aqidah, jika syari’at kosong dari aqidah maka rusaklah syari’at, sebagaimana rusaknya syari’at Ibrahim di jazirah Arab ketika Amr bin Luhay memasukkan kesyirikan ke jazirah Arab, sebagaimana rusaknya syari’at Musa dan Isa ketika orang-orang Yahudi mengucapkan “ Uzair anak Alloh” dan orang-orang Nashara mengucapkan “ Isa adalah anak Alloh “.
Maka perumpamaan aqidah tauhid dengan syari’at seluruh nabi adalah seperti bangunan dan pondasinya, tidak akan tegak bangunan kecuali dengan pondasi.

PENUTUP

“ Wajib bagi jama’ah-jama’ah Islam yang ada sekarang ini untuk meluruskan pemahaman-pemahaman mereka dengan menelaah Kitab dan Sunnah agar mengetahui manhaj para rasul di dalam berdakwah ; karena sesungguhnya Alloh telah mengkhabarkan bahwa hakimiyyah dan anugerah kekuasaan tidak akan bisa didapatkan kecuali setelah pelurusan aqidah dengan menyembah kepada Alloh semata dan meninggalkan semua peribadahan kepada yang lainNya.
Tidak akan tegak daulah Islam kecuali setelah negeri kaum muslimin disucikan dari segala macam kesyirikan.
Apa yang terjadi pada jama’ah-jama’ah dakwah yang menyimpang dari manhaj para rasul disebabkan kejahilan mereka terhadap manhaj para rasul, sedangkan orang jahil tidak pantas untuk berdakwah, karena syarat utama seorang da’i adalah berilmu…” ( Muqoddimah Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Fauzan terhadap kitab Manhajul Anbiya’ fid Da’wah Ilallah ).

Akhukum : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.