CATATAN-CATATAN TERHADAP TAFSIR AL-QUR’AN MTA

CATATAN-CATATAN TERHADAP TAFSIR AL-QUR’AN MTA

Telah sampai kepada kami 3 jilid awal dari Tafsir Al-Quran yang diterbitkan oleh Majelis Tafsir Al-Qur’an Surakarta.
Dan setelah kami telaah ternyata Tafsir ini berusaha mengacu kepada dalil-dalil yang shahih dan perkataan-perkataan ahli tafsir. Hanya saja ternyata di dalamnya ada hal-hal yang perlu diluruskan.
Karena itulah Insya Alloh dalam pembahasan kali ini akan kami paparkan studi kritis terhadap tafsir ini harapan menjadi nasehat dan peringatan bagi kaum muslimin secara umum dan khususnya para pembaca tafsir ini .

PENULIS BUKU INI

Di dalam Kata Pengantar disebutkan bahwa buku ini bermula dari pelajaran Tafsir Al-Qur’an yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abdullah Thufail Saputro – Rahimahullah – pada pengajian Gelombang 7 Malam Majelis Tafsir Al-Qur’an ( MTA ) Pusat Surakarta.

MENTAKWIL SIFAT MALU BAGI ALLOH

Penulis berkata di dalam tafsir ayat 26 dari surat Al-Baqarah : ” Apabila Al-Haya’ ( الحياء ) dihubungkan kepada Alloh seperti pada ayat tersebut di atas :
إن الله لا يستحيي
Yang artinya : “ Sesungguhnya Tuhan tidak malu “ Maksudnya ialah : Meninggalkan sesuatu perbuatan seperti yang terdapat di dalam satu hadits :
إن الله يستحيي من الشيخ الكبير
” Sesungguhnya Allah malu terhadap orang yang tua ” Maksudnya ialah :
أن يترك عذابه و عقابه
” Tuhan meninggalkan adzab dan siksanya “.

Kami katakan : Ini adalah takwil ( tahrif ) terhadap sifat al-haya’ ( malu ) bagi Alloh, karena yang benar bahwa al-haya’ bagi Alloh adalah sifat yang sesuai dengan keagungannya, tidak sebagaimana malunya para makhluk, akan tetapi tidak boleh diselewengkan maknanya dengan Meninggalkan sesuatu perbuatan sebagaimana yang dikatakan oleh penulis di atas.

Adapun hadits yang dibawakan oleh penulis maka adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, hadits ini datang dengan lafazh :
إن الله يستحيى من ذي الشيبة إذا كان مسددا لزوما للسنة أن يسأله فلا يعطيه
” Sesungguhnya Alloh malu dari orang yang memiliki uban – jika dia lurus mengikuti Sunnah – kalau dia meminta kemudian Alloh tidak memberikan kepadanya ”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim di dalam As-Sunnah no. 23 dan dilemahkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Dha’ifah 6/90.

Adapun hadits dengan lafazh yang dibawakan oleh penulis maka belum pernah kami jumpai di dalam satu pun kitab hadits.

Di antara hadits yang menetapkan sifat malu bagi Alloh adalah hadits Salman Radhiyallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :

إن الله حيي كريم يستحيي إذا رفع الرجل إليه يديه أن يردهما صفرا خائبين

” Sesungguhnya Alloh Pemalu lagi Maha Mulia, malu jika ada sesorang mengangkat kedua tangannya kepadanya kemudian mengembalikannya kosong lagi merugi “.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya 1/553 dan Tirmidzi di dalam Jami’nya 5/556 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ : 1757 dan Shahih Targhib wa Tarhib 2/128.

Di antara para salaf yang menetapkan sifat al-haya’ ( malu ) bagi Alloh adalah Al-Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdul Malik Al-Karji sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam Majmu’ Fatawa 4/181.

MENOLAK SIFAT WAJAH BAGI ALLOH

Penulis berkata di dalam hal. 73 dari Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 92-141: “ Kalimat ” WAJAH ALLAH ” di sini bukan berarti wujud Allah atau wajahnya, karena Alloh tidak mempunyai muka ” .

Kami katakan : Ini adalah ta’thil ( penolakan ) terhadap sifat wajah yang tsabit bagi Alloh sesuai dengan keagungannya, banyak sekali nash-nash yang menyatakan sifat wajah bagi Alloh di antaranya firman Alloh Ta’ala :
” dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan Karena wajah Allah ” ( Al-Baqarah : 272 ).

Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :

إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعْمَلَ عَمَلاً تَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ إِلاَّ ازْدَدْتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفْعَةً

” Sesungguhnya Engkau tidak akan ditinggal sehingga Engkau melakukan amalan yang mengharap dengannya wajah Alloh kecuali akan bertambah dengannya derajat dan ketinggian bagimu ” ( Shahih Bukhari 2/103 dan Shahih Muslim 5/71 ).

Al-Imam Ibnu Khuzaimah berkata :

فنحن وجميع علمائنا من أهل الحجاز وتهامة واليمن والعراق والشام ومصر ؛ مذهبنا : أنا نثبت لله ما أثبته الله لنفسه ، نقر بذلك بألسنتنا ، ونصدق ذلك بقلوبنا ؛ من غير أن نشبه وَجْه خالقنا بوَجْه أحد من المخلوقين ، عز ربنا أن يشبه المخلوقين ، وجل ربنا عن مقالة المعطلين

” Maka kami dan seluruh ulama-ulama kami dari Ahli Hijaz, Tihamah, Yaman, Iraq, Syam, dan Mesir ; madzhab kami adalah : Bahwa kami menetapkan apa yang Alloh tetapkan bagi diriNya, kami mengakui hal itu dengan lisan-lisan kami, dan kami membenarkan hal itu dengan hati-hati kami ; dengan tanpa menyerupakan wajah Pencipta kami dengan wajah seorang pun dari para makhluq, maha mulia Rabb kami dari menyerupai para makhlu, dan maha agung Rabb kami dari perkataan para penolak sifat ” ( Kitabut Tauhid 1/25 ).

Al-Hafiz Ibnu Mandah berkata :

ومن صفات الله عَزَّ وجَلَّ التي وصف بها نفسه قوله : { كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ } ، وقال : { وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجلاَلِ وَالإِكْرَام } ، وكان النبي صلى الله عليه وسلم يستعيذ بوَجْه الله من النار والفتن كلها ، ويسأل به …

” Dan termasuk sifat-sifat Alloh Azza wa Jalla yang Dia sifati diriNya dengannya adalah firmanNya : ” Segala sesuatu akan binasa kecuali wajahNya “, dan Dia berfirman : ” Dan tetaplah wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan “, dan adalah Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam berlindung dengan wajah Alloh dari api neraka dan fitnah-fitnah semuanya, dan berdoa dengan bertawassul dengan wajah Alloh … ” ( Kitabut Tauhid 3/36 ).

Syaikh Muhammad Al-Khummais berkata : “ Wajah adalah termasuk sifat-sifat Alloh yang hakiki sesuai dengan keagunganNya Subhanahu wa Ta’ala “( ‘Adzbul Ghadir Fi Bayani Takwilat Fi Kitab Fathul Qadir hal. 12 ).

SURGA TEMPAT TINGGAL ADAM ADALAH DI BUMI ?

Penulis berkata di dalam tafsir ayat ke-35 dari surat Al-Baqarah : ” Kemudian apabila kita kembali memperhatikan pendapat ahli tafsir yang berbeda-beda mengenai di mana Adam dan istrinya bertempat tinggal, tidak salah rasanya apabila kita pun berpendapat bahwa syurga Adam itu adalah kebun di atas bumi ini “.

Kami katakan : Pendapat yang mengatakan bahwa surga tempat tinggal Adam adalah di bumi adalah daur ulang dari pendapat orang-orang Mu’tazilah dan Qadariyyah sebagaimana dikatakan oleh Al-Qurthubi di dalam Tafsirnya 1/302 dan kemudian dia menukil perkataan Ibnu Baththal yang berkata : ” Sebagian Masyayikh kami menghikayatkan bahwa Ahli Sunnah sepakat bahwa surga yang kekal adalah yang Adam diturunkan oleh Alloh darinya, maka tidak ada makna bagi pendapat yang menyelisihi mereka “.

MENTAHRIF MAKNA SYAFA’AT NABI

Penulis berkata di dalam tafsir ayat ke-48 dari surat Al-Baqarah : ” Ketahuilah bahwa rata-rata umat Islam sudah mufakat mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shollallohu Alaihi wa Sallam akan memberi syafaat kepada umatnya. Tentang ini tidak ada perselisihan di antara Ahli Sunnah dengan Mu’tazilah dan ahli-ahli falsafah. Akan tetapi mereka tidak sependapat tentang apakah yang dimaksud dengan syafaat itu ? “.

Penulis juga berkata : ” Maka adalah syafa’at yang diberikan Nabi-Nabi itu bukanlah harta yang dapat diunjuk berikan atau jabatan yang dapat dinaik turunkan, tetapi tiupan ilmu, budi pekerti yang tinggi dan peradaban kenabian yang suci “.

Penulis juga berkata : ” Tegasnya bahwa di hari akhirat nanti tidak seorang dapat menolong orang lain dan tidak akan diterima syafaat “.

Kami katakan : Penulis telah menyelewengkan makna syafa’at dengan mengartikannya sebagai tiupan ilmu, budi pekerti yang tinggi dan peradaban kenabian yang suci, ini menyelisihi makna yang benar dari syafa’at, karena Syafaat diambil dari asy-Syaf’i, yaitu lawan dari witir ( ganjil ), yaitu membuat yang ganjil menjadi genap, seperti menjadikan satu menjadi dua, tiga menjadi empat dan apa-apa yang serupa dengannya, ini dari segi pecahan katanya secara bahasa.

Adapun maknanya maka dia adalah: menjadi perantara bagi orang lain untuk mendatangkan manfaat atau menepis madharat, yang berarti bahwa pemberi syafaat berdiri sebagai perantara di antara orang yang ditujukan syafa’at kepadanya dan antara yang dimintakan syafa’at untuknya, untuk mendatangkan manfaat kepada yang dimintakan syafa’at untuknya atau menepis madharat darinya.

Dan syafaat ada dua macam : syafa’at ( perantaraan ) yang tsabit ( ditetapkan ) dan benar, dan syafa’at yag batil yang tidak bermanfaat kepada para pemiliknya.

Adapun syafaat yang tsabit yang benar : maka dia adalah yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dalam KitabNya, dan ditetapkan oleh RasulNya Shollallohu Alaihi wa Sallam, dan syafa’at tidaklah terjadi kecuali bagi ahli Tauhid dan ikhlash, karena Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata: ” Ya Rasulullah siapakah orang yang paling bahagia dengan syafa’atmu ? Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam menjawab :

” من قال لا إله إلا الله خالصاً من قلبه”

” Barangsiapa yang mengatakan tidak ada Tuhan yang haq selain Allah dengan ikhlash dari hatinya ” Dikeluarkan oleh Bukhari, Kitabul ‘Ilmi, Bab Al-Hirshu ‘Alal Hadits, nomor 99..

Syafaat ini memiliki tiga syarat : Syarat pertama: keridhaan Allah bagi pemberi syafa’at tersebut. Syarat kedua: keridhaan Alloh terhadap orang yang diberi syafaat. Syarat ketiga: Izin Allah Ta’ala bagi pemberi syafa’at untuk memberikan syafa’at. Syarat-syarat ini terkumpul di dalam firman Alloh Ta’ala :

(وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئاً إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى) (النجم:26)

” Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” ( An-Najm: 26 ), dan terperinci dalam firman Alloh Ta’ala:

( مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ)(البقرة: من الآية255)

” tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya ” ( Al-Baqarah : ayat 255), dan di dalam firman Alloh Ta’ala :

(يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلاً) (طه:109)

” Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah Telah memberi izin kepadanya, dan dia Telah meridhai perkataannya.” ( Thaha: 109 ), dan firman Alloh Ta’ala :

( وَلا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى)(الأنبياء: 28)

” dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, ” ( Al-Anbiya’ : 28), maka harus ada tiga syarat ini hingga terealisasi syafaat.

Dan berdasarkan atas hal itu maka kita definisikan macam yang kedua, yaitu syafaat batil yang tidak bermanfaat kepada para pemiliknya, dan dia adalah yang diklaim oleh orang-orang musyrik pada syafa’at tuhan-tuhan mereka di sisi Allah Azza wa Jalla, karena sesungguhnya syafaat ini tidak bermanfaat bagi mereka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

(فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ) (المدثر:48)

” Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.” ( Al-Muddatstsir : 48 ), yang demikian itu karena Allah Ta’ala tidak ridha kepada kesyirikan orang-orang musyrik tersebut, dan tidak mungkin mengizinkan syafa’at bagi mereka, karena tidak ada syafaat kecuali bagi siapa yang diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan Alloh ‘Azza wa Jalla tidak meridhai kekafiran bagi hamba-hambaNya, dan tidak menyukai kerusakan, maka bergantunglah orang-orang musyrik dengan tuhan-tuhan mereka yang mereka sembah, dan mereka mengatakan mereka adalah para pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah, ketergantungan yang batil tidak bermanfaat, bahkan hal ini tidak menambah mereka dari Alloh kecuali semakin jauh.

Kemudian sesungguhnya syafaat yang ditetapkan lagi bermanfaat, para ulama Rahimahumullah menyebutkan bahwa dia dibagi menjadi dua bagian : umum dan khusus, dan makna umum : bahwa Allah Subhnahu wa Ta’ala mengizinkan kepada kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya yang shalih untuk memberikan syaf”at bagi siapa yang Alloh izinkan kepada mereka untuk diberi syafaat. Dan khusus : yang khusus bagi Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam, dan yang terbesar adalah : syafaat uzhma ( terbesar ) pada hari kiamat, ketika melekat pada orang-orang dari kesedihan dan penderitaan dari apa-apa yang mereka tidak tahan, maka mereka meminta orang memberi syafa’at bagi mereka kepada Alloh ‘Azza wa Jalla agar melapangkan mereka dari posisi yang berat ini, mereka pergi kepada Adam, kemudian kepada Nuh, kemudian kepada Ibrahim, lalu ke Musa, kemudian kepada ‘Isa, dan mereka semua tidak bisa memberi syafaat, hingga berhenti kepada Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam, maka beliau berdiri dan memberi syafa’at di sisi Allah Azza wa Jalla untuk menyelamatkan hamba-Nya dari ini posisi yang berat ini, maka Allah mengabulkan do’anya dan menerima syafaatnya, dan ini adalah maqam mahmud ( kedudukan terpuji ) yang Alloh janjikan kepadanya di dalam firmanNya :

(وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَحْمُوداً) (الاسراء:79)

” Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.” ( Al-Isra’: 79 ). ( Lihat Fatawa Aqidah no. 5 ).

PENUTUP

Inilah sebagian catatan-catatatan terhadap kesalahan-kesalahan yang terdapat di dalam Tafsir ini, kami tidak bermaksud menyebutkan semuanya, kami hanya hendak memberikan peringatan bagi kesalahan-kesalahan yang serupa, kami harapkan agar para pembaca bisa mengambil faidah dari tulisan ini, dan kami tekankan bahwa peringatan tentang kesalahan-kesalahan tafsir ini bukan berarti menjatuhkan kitab ini atau menghilangkan haknya, sesungguhnya ini adalah kewajiban syar’i yang dibebankan oleh agama kepada kami, dan kami memohon kepada Alloh agar menjadikan tulisan ini di dalam timbangan amalan-amalan kebaikan kami.

والله أعلم بالصواب
Disusun oleh : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.