BUKU SAUDI DI MATA SEORANG AL-QAIDAH

BUKU SAUDI DI MATA SEORANG AL-QAIDAH

Disusun oleh : Abu Ahmad As-Salafi

Di antara karakteristik ahli bidah dari masa ke masa bahwasanya mereka selalu mencela dan mencoreng citra Ahli Sunnah wal Jamaah untuk menjauhkan umat dari al-haq, Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi berkata : Ciri ahli bidah adalah mencela ahlil atsar ( Ashlu Sunnah hal. 24 ), Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni berkata : Tanda yang paling jelas dari ahli bidah adalah kerasnya permusuhan mereka kepada pembawa Sunnah Rasulullah ( , mereka melecehkan dan menghina ahli sunnah dan menamakan ahli sunnah dengan Hasyawiyah, Jahalah, Dhahiriyyah, dan Musyabbihah ( Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 116 ).
Di antara deretan buku-buku hitam yang mencela Salafiyyin dan Dakwah Salafiyyah adalah buku Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan
Untuk menunaikan kewajiban kami dalam nasehat kepada kaum muslimin dan membela dakwah yang haq maka dengan memohon pertolongan kepada Alloh akan kami paparkan sebagian dari kesesatan dan kedustaan buku ini agar menjadi kewaspadaan dan peringatan bagi kita semua.

PENULIS DAN PENERBIT BUKU INI

Buku ini ditulis oleh Abu Muhammad Al-Maqdisi, nama lengkapnya adalah Isham ( di dalam edisi terjemah tertulis Ashim ini adalah kekeliruan penerjemah ) bin Muhammad bin Thahir Al-Burqawi. Lahir pada tahun 1378 H / 1959 M di desa Burqah daerah Nablis Palestina. Dia tumbuh di Kuwait, dia berguru pada awalnya kepada Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin tokoh utama kelompok Sururiyyah hingga dia dikeluarkan dari kelompok Muhammad Surur karena fatwanya yang menyelisihi kelompok tersebut, kemudian dia berguru kepada para pemuda sisa-sisa kelompok Juhaiman yang tinggal di Kuwait, dan mengarang beberapa kitab seperti Kawasyif Jaliyyah, Millata Ibrahim, Murjiatu Ashr, dan yang lainnya, kemudian dia dikeluarkan dari kelompok tersebut karena ketergesaannya dalam takfir, maka dia menyerang balik kelompok tersebut dengan menulis sebuah risalah kecil yang mensifati mereka sebagai thaghut-thaghut kecil . Sesudah itu dia bergabung dengan beberapa person yang ghuluw dalam takfir yang mereka tidak sholat di masjid-masjid kaum muslimin dan sholat Jumat di padang pasir ! ( Lihat Tabdid Kawasyif hal. 24-25 ).
Buku diterjemahkan oleh ke dalam bahasa Indonesia oleh Abu Sulaiman dan diterbitkan oleh Penerbit Jazera Solo, cetakan pertama September 2005.

MELECEHKAN DAN MENGKAFIRKAN PARA ULAMA

Buku Kawasyif Jaliyyah ini penuh dengan pelecehan dan takfir terhadap para ulama sunnah, penulis berkata dalam hal. 303 dari bukunya ini : Perhatikanlah, bagaimana para syaikh ada di setiap tempat. Inilah Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, pegawai negara, dan mereka yang membela-bela dan melindungi negara ini. Kemudian apa yang kalian inginkan, sesungguhnya itu adalah Islam dan tauhid (!)…mereka telah menyesatkan umat ini, mereka tlah mentalbis di hdapan mereka agamanya dan mereka memfitnahnya atas nama ilmu, tauhid, dan Islam ( ?!) .
Tidak hanya berhenti di situ bahkan dia kafirkan para ulama sunnah dan dia katakan mereka telah keluar dari Islam secara keseluruhan di dalam kitabnya yang berjudul Zalla Himarul Ilmi Fi Thin sebagaimana dalam situs sesatnya Minbaru Tauhid wal Jihad.
Syaikh Abdul Aziz Ar-Ris berkata : Jika ini sikapnya terhadap para ulama sunnah di zamannya maka dia adalah mubtadi yang sesat tidak ada kemuliaan sama sekali baginya ( Tabdid Kawasyif hal. 14 ).
Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni berkata : Tanda yang paling jelas dari ahli bidah adalah kerasnya permusuhan mereka kepada pembawa Sunnah Rasulullah ( , mereka melecehkan dan menghina ahli sunnah ( Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 116 ).

MEMBELA AHLI BIDAH

Penulis membela kelompok Juhaiman yang mengadakan pemberontakan di Masjidil Haram tahun 1400 H , dia berkata dalam hal. 265 : Tidak diragukan lagi bahwa bukanlah tergolong bughat. Baik secara bahasa atau syari atau istilah, mereka tidak termasuk bughat .
Penulis juga membela Abdurrahim Ath-Thahhan dan Aidh Al-Qarni di dalam footnote hal. 291 dari bukunya ini.

KEDUSTAAN-KEDUSTAANNYA

Inilah yang bisa kami sampaikan kepada para pembaca tentang buku ini, sebetulnya masih banyak hal-hal lain

KONTRADIKSI-KONTRADIKSINYA

1. Al-Maqdisi mengkafirkan Pemerintah Saudi karena bergabung dengan PBB ( Lihat hal. 85-115 dari bukunya ini ) tetapi dia tidak mengkafirkan Pemerintah Thaliban yang ingin bergabung dengan PBB, dia berkata di dalam tulisannya yang berjudul Hijrah LiAfghanistan dalam situsnya di internet ( Lihat Tabdid Kawasyif hal. 91 ).

 

SYUBHAT-SYUBHAT TAKFIRNYA TERHADAP SAUDI

1. Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi Arabia karena bergabung dengan PBB sebagaimana dia paparkan secara panjang lebar di dalam hal. 85-115.
Jawabannya : Pertama : Saudi Arabia menyetujui aturan-aturan PBB yang sesuai dengan syariat Islam dan menolak aturan-aturan PBB yang tidak sesuai dengan syariat Islam, Saudi Arabia menolak persamaan gender laki-laki dan wanita, menolak point ke-16 dari Piagam HAM tentang bolehnya perkawinan antar agama, menolak point ke-10 Piagam HAM yang memberikan kebebasan berpindah agama ( Lihat Hasyiyah Kitabatil Mamlakah Arabiyyah Suudiyyah wal Munadhdhamat Duwaliyyah hal. 181, Mauqiful Mamlakah Arabiyyah Suudiyyah minal Qadhaya Aalmiyyah Fi Haiatil Umam Muttahidah hal. 98 dengan perantaraan Tabdid Kawasyif hal. 95-96 ).
Kedua : Saudi bergabung dengan PBB untuk suatu kemashlahatan yaitu menjaga dirinya dari rongrongan orang-orang kafir, sebagaimana Rasulullah mengadakan perjanjian Hudaibiyyah dengan orang-orang kafir Quraisy untuk kemashlahatan kaum muslimin.
2. Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi Arabia karena membuat peraturan-peraturan tentang percetakan, penerbitan, pengawasan perbankan, kepabeanan, dan yang lainnya sebagaimana dia paparkan di dalam hal. 28-32 dari bukunya ini.
Jawabannya : Semua peraturan-peraturan ini tunduk kepada Undang-undang Dasar Saudi, yaitu berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, kalau ada kekeliruan maka itu adalah kekurangan dan kesalahan pembuatnya dan pelaksananya yang bisa diperbaiki dan diluruskan.
3. Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi Arabia karena tuduhan wala ( loyal ) kepada Amerika, karena Saudi telah melakukan kerjasama perdagangan dan militer dengan Amerika serta mendatangkan tentara-tentara Amerika ke Saudi sebagaimana dia paparkan dalam hal. 115-138 dari bukunya ini.
Jawabannya : Tentang kerjasama perdagangan dengan orang-orang kafir tidak ada satupun dalil syari yang melarang bahkan Rasulullah ( biasa berjual beli dengan orang-orang Yahudi, bahkan ketika beliau meninggal baju besi beliau masih tergadai di tempat orang Yahudi untuk membeli makanan keluarganya ( Shahih Bukhary 3/1068 ).
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata : Hadits ini menunjukkan bolehnya muamalah dengan orang kafir pada sesuatu yang belum terbukti keharamannya ( Fathul Bari 5/141 ).
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam berkata : Hadits ini menunjukkan tentang bolehnya muamalah dan jualbeli dengan orang-orang kafir, dan bahwasanya hal ini tidak termasuk muwalah ( loyalitas ) kepada mereka ( Taudhihul Ahkam 4/75 ).
Demikian juga kerjasama militer dengan orang-orang kafir bukanlah bentuk wala kepada mereka bahkan ketika Rasulullah ( berangkat hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar, beliau mengupah seorang kafir dari Bani Dil sebagai penunjuk jalan, dan mengantar keduanya sampai ke Madinah ( Shahih Bukhary 2/790 ).
Rasulullah ( juga pernah bekerjasama dengan Qabilah Khuzaah yang musyrik dalam Fathu Makkah ( Lihat Musnad Ahmad 1/179 ).
Al-Imam Ibnul Qayyim berkata : Sesungguhnya meminta bantuan orang musyrik yang bisa dipercaya di dalam jihad adalah dibolehkan jika diperlukan, karena mata-mata beliau Al-Khuzai waktu itu masih kafir ( Zadul Maad 3/301 ).
Rasulullah ( juga pernah meminta bantuan Shofwan bin Umayyah pada waktu perang Hunain dalam keadaan Shofwan waktu itu masih kafir ( Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Nasai dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Irwaul Ghalil 5/344, lihat Shaddu Udwanil Mulhidin hal. 49 ).
Tentang masuknya tentara Amerika ke Saudi pada waktu perang Teluk kemarin maka dikatakan oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad : Para Ulama Saudi Arabia ketika membolehkan datangnya kekuatan asing ke Saudia Arabia karena dharurat, hal ini seperti kasus seorang muslim yang meminta pertolongan kepada non muslim untuk membebaskan dirinya dari para perampok yang hendak masuk ke rumahnya untuk melakukan tindakan kriminal di rumahnya dan pada keluarganya, apakah kita katakan kepada orang yang terancam dengan para perampok ini : Kamu tidak boleh meminta pertolongan kepada orang kafir untuk menyelamatkan diri dari perampokan ?! ( Madariku Nazhar fi Siyasah hal. 12 ).
Sebagai tambahan keterangan bahwa pasukan Amerika yang datang ke Saudi pada waktu perang Teluk pada tahun 1411 H telah keluar dari Saudi pada tahun 1424 H yaitu setelah jatuhnya rezim Saddam Husein di Iraq. Hal ini menunjukkan bahwa maksud pemerintah Saudi di dalam mendatangkan pasukan Amerika ini adalah untuk suatu keperluan dan jika sudah tidak diperlukan maka ditarik lagi ke Amerika.
4. Al-Maqdisi mengkafirkan Saudi karena mengizinkan Bank-bank ribawi beroperasi di Saudi dan melindungi bank-bank yang melakukan praktek-praktek riba tersebut sebagaimana dia paparkan di dalam hal. 213-222 dari bukunya ini.
Jawabannya :

PERKATAAN PARA ULAMA SUNNAH TENTANG SAUDI

Inilah yang bisa kami sampaikan kepada para pembaca tentang buku ini, sebetulnya masih banyak hal-hal lain

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.