BUKU DAKWAH SALAFIYYAH DAKWAH BIJAK DALAM TIMBANGAN ISLAM

BUKU DAKWAH SALAFIYYAH DAKWAH BIJAK DALAM TIMBANGAN ISLAM

Disusun oleh : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad

Telah masuk kepada kami pertanyaan dari perihal buku Dakwah Salafiyyah Dakwah Bijak, Meluruskan Sikap Keras Dai Salafi oleh Abu Abdirrahman Ath-Thalibi yang beredar baru-baru ini.
Melihat judul buku ini sekan-akan kita melihat sosok seorang yang peduli dengan Dakwah Salafiyyah sehingga berusaha membenahi kekurangan yang terjadi dari dai-dai salafi yang bersikap keras tidak pada tempatnya di dalam berdakwah.
Tetapi setelah kami cermati isi buku ini ternyata di dalamnya penuh dengan syubbhat-syubhat yang sangat berbahaya di balik nasehat-nasehat yang dia sampaikan.
Karena itulah maka dalam pembahasan kali ini kami berusaha menyingkap syubhat-syubhat tersebut sebagai nasehat kepada kaum muslimin dan pembelaan kepada manhaj yang haq.

PENULIS DAN PENERBIT BUKU INI

Buku ini ditulis oleh Abu Abdirrahman Ath-Thalibi dan diterbitkan oleh Hujjah Press Cibubur Jakarta Timur, cetakan Pertama, Februari 2006 M.

KEDUSTAAN ATAS SYAIKH RABI BIN HADI AL-MADKHALI

Dalam Pengantar Penerbit tertera : Dalam salah satu artikelnya di sebuah situs salafi di Timur Tengah ( www.sahab.net ), Dr. Rabi Al-Madkhali menulis tentang bidah dan menyerang siapa pun yang dianggap sebagi ahlu bidah secara membabi buta. Mengutip perkataan Yahya bin Yahya yang diriwayatkan Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawanya, Al-Madkhali mengatakan bahwa memerangi ahlu bidah lebih utama daripada berjihad fi sabilillah. Lalu di belakang namanya, Al-Madkhali ini menuliskan gelar untuk dirinya sendiri, Pemberantas Bidah dan Para Pelakunya, Penolong Sunnah dan Pengikutnya, dan Pembela Akidah . Demikianlah sebagian contoh akhlak seorang tokoh kaum salaf masa kini yang mengaku sebagai penolong Sunnah ; dengan bangganya dia labelkan pada dirinya sendiri dengan gelar-gelar yang tidak ada contohnya dari Alloh, RasulNya, dan para ulama salaf
Kami katakan : Ini adalah kedustaan yang ditimpakan atas Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali, sepanjang penelitian dan pengetahuan kami beliau tidak pernah menuliskan gelar untuk diri beliau sendiri Pemberantas Bidah dan Para Pelakunya, Penolong Sunnah dan Pengikutnya, dan Pembela Akidah , meskipun kita semua yakin bahwa beliau adalah pembela Sunnah dan duri bagi para ahli bidah, para ulama telah memberikan pujian dan rekomendasi kepada beliau di dalam dakwah dan tulisan-tulisan beliau, di antara para ulama yang memberikan rekomendasi kepada beliau adalah tiga imam Dakwah Salafiyyah zaman ini : Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Al-Albani, dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin .
Beliau menukil perkataan Al-ImamYahya bin Yahya di atas di dalam kitab beliau yang berjudul Manhaj Ahli Sunnah fi Naqdi Rijal wal Kutub wa Thawaif hal. 83 dan Penutup, demikian juga dalam kitab beliau yang berjudul Jamaah Wahidah hal. 83 , dalam ketiga nukilan tersebut beliau tidak menyebutkan gelar di atas bagi dirinya sendiri ( Untuk mengenal lebih lanjut tentang tulisan-tulisan beliau – yang dimuat oleh www.sahab.net dan yang lainnya – silahkan melihat program Maktabah Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali oleh www.islamspirit.com ).
Demikian juga sepanjang kehadiran kami di dalam majelis-majelis beliau baik di masjid-masjid, di ruang kuliyah di Jamiah Islamiyyah Madinah, dan di kediaman beliau, kami tidak pernah mendengar beliau melabelkan gelar-gelar tersebut bagi diri beliau, bahkan ketika ada sebagian hadirin menyebut beliau dengan Samahatusy Syaikh beliau menolak seraya mengatakan Lastu bi Shahibi Samahah ( Aku tidak layak disebut Samahah ).
Yang kami lihat dari akhlaq dan sifat beliau adalah seperti yang ditulis oleh penulis biografi beliau : Beliau memiliki sifat tawadhu ( rendah hati ) terhadap para saudaranya, para muridnya, para tamu, dan para pengunjungnya, beliau sederhana dalam tempat tinggal, pakaian, dan kendaraannya, tidak menyukai kemewahan dalam hal itu semua, beliau selalu ramah dan terbuka tidak membuat bosan teman duduknya dari pembicaraan beliau, majelis-majelis beliau penuh dengan bacaan hadits dan sunnah … ( Dari Tarjamah Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dalam www.rabee.net ).
Kedustaan atas seorang Ulama Sunnah seperti yang dilakukan oleh pemilik buku ini bukanlah sikap Ahli Sunnah, tetapi salah satu tanda-tanda ahli bidah, Al-Imam Ali bin Harb Al-Maushili berkata : Setiap ahli hawa ( pengekor hawa nafsu ) selalu berdusta dan tidak peduli dengan kedustaannya! ( Diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Kifayah hal. 123 ).
Kedustaan-kedustaan seperti ini dilakukan oleh ahli bidah sebagai tangga untuk menjatuhkan Manhaj Salafi dengan menjatuhkan para ulama Salafiyyin lebih dahulu, dengan menjiplak metode orang-orang Yahudi : Jika Engkau hendak menjatuhkan suatu pemikiran, maka jatuhkanlah para pemikir dan tokoh-tokohnya !.

TALBIS SALAFI-HAROKI

Penulis berkata ( dalam hal. 20 dari bukunya ini ): Salafi Haroki adalah gerakan dakwah Salafiyyah yang menerapkan metode pergerakan ( harakiyyah ). Metode tersebut meskipun tidak sama persis, serupa dengan metode yang ditempuh oleh jamaah-jamaah dakwah Islam, seperti Ikhwanul Muslimin ( IM ), Hizbut Tahrir ( HT ), Jamaah Tabligh ( JT ), Jamaat Islami ( JI ), Negara Islam Indonesia ( NII ), dll. .
Kami katakan : Sebutan Salafi-Haroki adalah bentuk talbis ( pencampuradukkan antara haq dan batil ) antara manhaj salaf dengan manhaj Harokah yang bidah, tujuan talbis ini mereka hendak memalingkan Salafiyyin – para pengikut Salafush Shalih – dari manhaj Salaf dan menganut manhaj Haroki yang bidah !.
Syaikh Al-Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata : Menamakan diri dengan Salafiyyah tidak apa-apa jika benar-benar demikian keadaannya, adapun jika penamaan tersebut hanya sekedar klaim tanpa bukti maka tidak boleh menamakan diri dengan Salafiyyah dalam keadaan dia tidak berada di atas manhaj Salaf …
Maka tidak akan berkumpul antara Ahli Sunnah wal Jamaah bersama madzhab orang-orang yang menyelisihi mereka seperti Khawarij, Mutazilah, dan Hizbiyyin seperti orang yang mereka namakan sebagai Muslim Modern, yaitu orang yang hendak menggabungkan antara kesesatan-kesesatan modern dengan manhaj Salaf ( Ajwibah Mufidah hal. 18-19 ).
Syaikh Al-Allamah Rabi bin Hadi Al-Madkhali berkata : Saya menasehati orang yang mengatakan perkataan ini dan yang semisalnya agar bertakwa kepada Alloh dan menjelaskan kepada kaum muslimin manhaj Salafi yang shahih, janganlah mencampuradukkan agama ini dengan manhaj Sayyid Quthb dan yang semisalnya, karena manhaj Salafi dan manhaj Sayyid Quthb seorang mubtadi yang tenggelam ke dalam kebidahan dan kesesatan tidaklah keduanya melainkan dua hal yang kontradiksi yang tidak akan bisa bertemu di dalam manhaj dan tidak juga dalam aqidah. ( Dari kaset Ajwibah ala Asilah Manhajiyyah tanggal 7 Syawwal 1419 H ) .

MENGKOTAK-KOTAK SALAFIYYIN

Penulis berkata ( dalam hal. 10 dari bukunya ini ) : Tiga Madrasah yang sangat dominan saat ini ialah : Salafiyyah di Arab Saudi, Salafiyyah di Yaman, dan Salafiyah di Yordania-Syria ( Syam ). Masing-masing madrasah memiliki ulama-ulama, majlis-majlis, lembaga pendidikan, media, serta karya-karya buku
Penulis berkata ( dalam hal. 10 dari bukunya ini ) dengan judul pembahasan Komunitas Salafi Yamani : Madrasah Salafiyyah ada di berbagai negara Muslim, bukan hanya di Yaman. Bahkan di Yaman sendiri, saya yakin garis Salafiyyah itu tidak satu warna, tetapi beragam. Hanya saja, dibandingkan dengan madrasah-madrasah Salafiyah lainnya, maka madrasah Salafiyah di Yaman terkenal paling keras sikapnya terhadap ahli bidah dan kelompok-kelompok yang menyimpang .
Kami katakan : Salafiyyah bukanlah Hizbiyyah, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan : Salafiyyah adalah Firqatun najiyah ( kelompok yang selamat ) mereka adalah Ahli Sunnah wal Jamaah, bukan suatu hizb yang dinamakan sekarang sebagai kelompok-kelompok atau partai-partai, sesungguhnya dia adalah suatu jamaah, jamaah yang berjalan di atas sunnah … maka Salafiyyah adalah jamaah yang berjalan di atas madzhab salaf dan di atas jalan Rasulullah ( dan para sahabatnya, dan dia bukanlah salah satu kelompok dari kelompok-kelompok yang muncul sekarang ini, karena dia adalah jamaah yang terdahulu dari zaman Rasulullah ( dan terus berlanjut terus menerus di atas kebenaran dan nampak hingga hari kiyamat sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah ( ( Dari kaset yang berjudul At-Tahdzir minal Bida ) .

Penulis menyatakan bahwa dirinya bukan dari kalangan Salafiyyin dengan mengatakan ( dalam hal. 23 ): Saya tidak berdiri di salah satu kelompok. Saya bukan dari kalangan Salafi Yamani maupun Haroki .
Kemudian penulis berkata ( dalam hal. 112 dari bukunya ini ) : Persilangan pendapat antara ulama-ulama Salafiyah di Arab Saudi, Yordania, Syria, dan yang lainnya sudah bukan rahasia lagi. Contohnya, persilangan pendapat antara Syaikh Nashiruddin Al-Albani dengan Syaikh Hamud bin Abdillah At-Tuwaijiri. Persilangan itu begitu tajamnya … .
Kami katakan : Setelah penulis menyatakan bahwa dirinya bukan dari kalangan Salafiyyin, maka merupakan suatu kewajaran jika dia sulit untuk menjaga mulutnya dari perkataan yang tidak sopan kepada para ulama Salafiyyin, seperti terhadap dua imam dakwah Salafiyyah Syaikh Al-Albani dan Syaikh Hamud At-Tuwaijiri. Dan untuk menjelaskan hal ini kami nukilkan perkataan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman penulis biografi Syaikh Hamud At-Tuwaijiri : Beliau memiliki beberapa bantahan terhadap tulisan-tulisan Syaikh Al-Albani dan terjadi berberapa perbedaan pendapat antara beliau dengan Syaikh Al-Albani, meskipun begitu tetap terjalin ukhuwwah salafiyyah antara beliau dengan Syaikh Al-Albani sebagaimana dalam hubungan-hubungan yang baik antara keduanya, di antaranya :
Syaikh Hamud di dalam bantahannya kepada Syaikh Al-Albani beliau tetap berusaha menjaga kedudukan Syaikh Al-Albani, suatu misal ketika beliau sudah hampir mencetak bantahan beliau tiba-tiba ada seorang yang simpati kepada Syaikh Al-Albani datang kepada beliau protes terhadap beberapa kalimat dalam bantahan tersebut, maka seketika itu juga beliau menghapus kalimat-kalimat tersebut.
Ketika Syaikh Albani mengunjungi tempat beliau di Riyadh pada tahun 1410 H beliau begitu sangat di dalam berusaha menjamu dan menghormati Syaikh Al-Albani.
– Di dalam bantahan-bantahan beliau kepada Syaikh Al-Albani beliau banyak menyertakan pujian beliau kepada Syaikh Al-Albani dalam kegigihannya membela sunnah dan melawan bidah seperti perkataan beliau : Syaikh Al-Albani sekarang adalah lambang dari sunnah, mencela beliau akan memudahkan cela pada sunnah . Pujian ini jelas hanya berlaku bagi para imam ahli sunnah bukan bukan kepada para gembong ahli bidah sebagaimana yang dikehendaki oleh para pencetus manhaj muwazanah ! ( Sirah Al-Allamah Hamud bin Abdullah At-Tuwaijiry hal. 19-20 ).

PANDANGAN PENULIS TERHADAP SYAIKH MUQBIL BIN HADI AL-WADII

Penulis berkata ( dalam hal. 109 dari bukunya ini ) : Orang-orang yang mau melihat secara jujur dan obyektif pasti setuju bahwa Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah adalah seorang ulama Salafi. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Beliau mendirikan Markaz Ilmiyyah Darul hadits di Dammaj Yaman, beliau juga menulis karya-karya penting dalam hadits, beliau mendidik dai-dai Salafi, beliau juga berjuang keras menentang siapapun yang tidak sependapat dengan manhaj Salafiyyah. Bila perlu, Syaikh Muqbil bin Hadi akan bersikap keras terhadap musuh-musuhnya yang dianggap menyimpang. Dalam hal terakhir ini, Syaikh Muqbil bin Hadi sangat menonjol. .
Penulis juga berkata ( dalam hal. 111 dari bukunya ini ) : Menurut saya, sebagaimana yang saya ketahui dari berita-berita yang ada, baik lisan atau tulisan, paling tidak ada tiga alasan yang bisa dianggap sebagai latar belakang sikap keras Syaikh Muqbil bin Hadi, yaitu : 1. Tradisi sosial masyarakat Yaman sendiri yang memang keras… 2. Konflik antar aliran-aliran agama di tengah masyarakat belangsung keras … 3. Proses pribadi yang dialami oleh Syaikh Muqbil bin Hadi sendiri. Syaikh Muqbil memiliki kebencian besar terhadap Syiah, sebab dalam salah satu proses hidupnya, beliau pernah mengalami konflik dengan komunitas Syiah di tingkat masyarakat maupun pemerintahan..
Kami katakan : Inilah pandangan penulis terhadap Syaikh Muqbil bin Hadi, dan di bawah ini kami nukilkan pandangan Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani terhadap Syaikh Muqbil bin Hadi ketika ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada Syaikh Al-Albani yang berbunyi : Meskipun jelas sekali sikap Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii di dalam berjihad melawan kebidahan dan perkataan-perkataan yang menyeleweng ternyata ada sebagian orang yang meragukan kalau keduanya berada di atas garis Salafi ? .
Syaikh Al-Albani menjawab : Kami tanpa ada keraguan bersyukur kepada Alloh Azza wa Jalla yang telah menganugerahkan kepada dakwah yang shalihah ini – yang tegak di atas Kitab dan Sunnah dengan manhaj Salafush Shalih – para dai berbagai penjuru dunia Islam menegakan tugas Fardhu Kifayah ini yang jarang sekali yang menunaikannya pada hari ini, maka merendahkan dua Syaikh ini Syaikh Rabi dan Syaikh Muqbil yang keduanya menyeru kepada Kitab dan Sunnah, dan jalan yang ditempuh oleh Salafush Shalih, serta memerangi orang-orang yang menyelisihi manhaj yang shahih ini, maka ini – sebagaimana bukan hal yang tersembunyi atas semuanya – bahwa ini muncul dari salah satu dari dua orang : bisajadi dia jahil ( bodoh ) atau pengekor hawa nafsu. ( Dari kaset Silsilatul Huda wan Nur no. : 851 ).
Ketika kami menghadiri dars Sunan Nasai yang disampaikan oleh Syaikhuna Al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad di Masjid Nabawi ada sebuah pertanyaan yang disampaikan kepada beliau yaitu bagaimana pandangan beliau tentang Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii, maka beliau memuji Syaikh Muqbil di dalam menuntut ilmu, menyampaikan ilmu, dan di dalam berdakwah .
Tentang sikap keras Syaikh Muqbil kepada Ahli Bidah memang hal ini tidak mengenakkan hati para hizbiyyin sehingga mereka menjadikan hal ini sebagai sasaran celaan mereka kepada beliau, Syaikh Abu Hammam Muhammad bin Ali Ash-Shoumai telah menjawab hal ini dengan mengatakan : Sikap keras kepada Ahli Bidah merupakan keutamaan dan bukanlah merupakan kekurangan wahai Ibnu Ghalib , sesungguhnya yang membuat kalian memiliki pemahaman terbalik ini adalah manhaj kalian yang jelek dan duduk-duduknya kalian dengan ahli bidah, kalian menghendaki muwazanah dan kelembutan bagi para ahli kebatilan, dan inilah sebagian atsar dari Salafuna tentang kerasnya mereka terhadap ahli bidah barangkali kalian bisa mendapatkan manfaat darinya …
– Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata : Jika Engkau melihat seseorang mencela Hammad bin Salamah maka ragukanlah keislamannya, karena Hammad bin Salamah keras terhadap ahli bidah ( Siyar Alam Nubala 8/209 ).
– Al-Imam Baihaqi berkata : Adalah Al-Imam Asy-Syafii Rahimahullah keras terhadap ahli ilhad dan bidah, beliau terang-terangan membenci mereka dan menjauhi mereka ( Siyar Alam Nubala 7/308 ).
– Abul Hasan Al-Farra berkata tentang Abdurrahman bin Mandah : Dia keras terhadap ahli bidah dan menjauhi mereka ( Thabaqah Hanabilah 1/538 ) … ( Lihat Nubdzah Yasirah Min Hayati Ahadi Alamil Jazirah hal. 74 ) .

PENUTUP

Penulis berkata dalam Kalimat Penutup ( hal. 175 ) : Tujuan penulisan buku ini ialah menyampaikan nasehat-nasehat koreksi kepada sebagian kalangan Salafi yang cenderung bersikap berlebihan di dalam dakwahnya. Nasehat itu disampaikan tentu demi kebaikan dakwah Salafiyah di Indonesia, bukan dalam rangka menyerang atau menjatuhkan nama baik pihak-pihak tertentu. Sebagai hujjah bagi nasehat-nasehat yang disampaikan, saya kemukakan dalil-dalil Syariyyah, bukti-bukti yang saya ketahui, serta petunjuk-petunjuk referensi. Selain itu, dalam buku ini saya mencoba menghindari kata-kata yang bersifat menghina atau melecehkan. Hanya di beberapa tempat tertentu saya terpaksa mengutarakan ungkapan-ungkapan yang mungkin dianggap sinis. .
Kami katakan : Jika buku ini benar-benar ditulis untuk kebaikan dakwah Salafiyah maka pasti akan membela para Ulama Dakwah Salafiyyah dari tuduhan-tuduhan dusta ahli bidah, tetapi kenyataannya buku ini justru berisi talbis terhadap Manhaj Salafi, celaan dan kedustaan terhadap para Ulama salafiyyin yang ini semua merupakan cara-cara ahli bidah di dalam usaha mereka menjatuhkan Dakwah Salafiyyah.
Terakhir kami sampaikan nasehat kepada penulis agar bertaubat dari talbis, kedustaan, dan ungkapan-ungkapan sinis terhadap Para Ulama Salafiyyin, dan hendaknya Penulis berusaha mengikuti manhaj yang shahih yaitu Manhaj Salafi karena keshahihan manhaj menentukan tempat seseorang di surga atau neraka sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Fauzan : Keshahihan manhaj menentukan tempat seseorang di surga atau di neraka, jika manhaj seseorang shahih maka dia akan masuk surga, jika dia mengikuti manhaj Rasulullah ( dan manhaj salafush shalih maka dia akan menjadi penghuni surga biidznillah, dan jika dia berada pada manhaj yang sesat maka dia diancam dengan neraka ( Ajwibah Mufidah hal. 77 ).
Dan kepada para pembaca kami nasehatkan agar tidak menjadikan buku Dakwah Salafiyyah Dakwah Bijak ini sebagai rujukan, berhubung banyaknya syubhat-syubhat yang ada di dalamnya yang di antaranya telah kami sebutkan di atas, dan juga bahwa di sana masih banyak kitab-kitab para ulama yang lebih layak untuk dijadikan sebagai rujukan di dalam Manhaj Dakwah. Di antara kitab-kitab yang kami anjurkan untuk dijadikan rujukan dalam hal ini adalah : Min Aqwali Syaikh Abdul Aziz bin Baz Fi Dawah, Ajwibah Mufidah oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan, Dawah Ilallah dan Ruyah Waqiiyyah Lil Manahij Daawiyah keduanya oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari, serta Manhajul Anbiya fi Dawah Ilallah dan Al-Hatstsu Alal Mawaddah wal Itilaf wa Tahdzir Minal Furqoh wal Ikhtilaf keduanya oleh Syaikhuna Al-Allamah Rabi bin Hadi Al-Madkhali.
Semoga Alloh selalu menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan nasehat dan mengikutinya. Amin.

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.