BUAH INDAH KEJUJURAN

BUAH INDAH KEJUJURAN

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠّﻪ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟﻠﻪ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩُ، ﻭَﻧَﻌُﻮْﺫُ ﺑﺍ ﻠﻠﻪ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪ ﻓَﻠَﺎ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻠَﺎ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ، ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ، ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﻣﻦ ﻭﺍﻟﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺗﺴﻠﻴﻤﺎ ﻛﺜﻴﺮﺍ . ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ .

قَدْ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
إِنّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ
وَإِنّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ ، 
وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا
.
Rasulullãh ﷺ bersabda:

” sesungguhnya kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan membawa kepada surga. Dan sesungguhnya seseorang dia sungguh selalu jujur, hingga ditulis di sisi Allāh sebagai shiddiiq, seseorang yang banyak jujurnya”.

Hadits yang agung ini diriwayatkan oleh Bukhāri & Muslim di dalam kedua shahihnya yang hadits ini memiliki faidah yang sangat agung yaitu perintah untuk الصدق, kejujuran atau benar, yaitu adalah

إخبار على وفق الواقع

Mengabarkan sesuai dgn realita yang ada, yaitu sesuai dengan hakikatnya.

Dan dikatakan bahwa

الصدق مطابقة أقواله وأفعاله لباطن حاله في نفسه وعرفان قلبه

Yaitu kesesuaian antara perkataan perbuatan kepada bathin pada dirinya dan apa yang diketahui dari hatinya

Di hadits ini menunjukkan hasungan Rasulullãh ﷺ tentang الصدق atau kejujuran, yang mana kejujuran akan membawa kepada kepada kebajikan2 yaitu kebaikan2 secara keseluruhan, untuk mendapatkan kebaikan dan menjauhi kejelekan2.  Kebajikan ini akan membawa kepada surga yaitu mengantarkan pelakunya kepada surga, yaitu ketika seseorang berbuat kebajikan, ini akan mengantarkan pelakunya ke surga.

Allāh berfirman dalam kitabnya:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ

“Sesungguhnya orang2 yang berbuat kebajikan sungguh dalam kenikmatan dalam surga na’im”.

Kemudian Rasulullãh ﷺ  menyatakan:

وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ

Bahwa ada seseorang yang selalu berupaya untuk jujur

حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا

“Sampai dia ditulis di sisi Allāh sebagai seorang Shiddiq “.

Shiddiiq adalah mubalaghoh dari الصادق yaitu yang banyak jujurnya, yang dia selalu melakukan kejujuran, ditulis dinyatakan seseorang yang banyak jujurnya yang disaksikan oleh para malaikat Allāh Subhānahu wa Ta’āla kemudian diletakkan itu di dalam hati2 para penduduk bumi. Dandisebutkan di dalam kitaabah,ditulis di sini, yaitu ditulis dilauful mahfudz atau ditulis di catatan malaikat, bahwa dia adalah shiddiq, sesorang yang banyak jujurnya.

Kemudian juga hadits ini memiliki kelanjutan
وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ

“Sesunggunya kedustaaan akan membawa kepada kefajiran”,

yaitu kadzib, dusta, yaitu mengatakan sesuatu yang berbeda dgn realita dgn kenyataannya, «يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ» akan membawa kepada kafajiran yaitu merobek tirai dari agama, cenderung pada kerusakan, tergerak kepada kemaksiatan yang fujur adalah nama dari seluruh kejelekan2

وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

“Sesunguhnya kefajiran2 akan membawa ke neraka, yaitu dia akan mengantarkan pelakuknya untuk masuk ke dalam neraka”

وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ

Dan sesungguhnya ada sesorang yang banyak berdusta

حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Sampai ditulis di sisi Allāh sebagai seseorang pendusta, mubalaghoh dari كاذب yaitu dihukumi bahwa dia pantas, dikumpulkan di golongan orang2 yang berdusta, yang dinyatakan oleh ِlloh, ditampakkan oleh malaikatnya, kemudian diletakkan itu pada hati para penduduk bumi.

Kaum muslimin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Juga jelas di dalam hadits ini bahwa perkara yang paling agung dan paling bermanfaat dari seorang hamba adalah kejujuran karena akan membawa kepada kebaikan dan akan membawa kepada surga.

Sebaliknya perkara yang paling berbahaya yang sangat memu dharatkan baginya adalah kedustaan dan kebohongan yang akan membawa kepada kefajiran dan kejelekan dan akan mengantarkan pelakuknya ke neraka.

Demikianlah bahwa kejujuran akan bertambah keimanan

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam kitabnya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ

“Wahai orang yang beriman, bertakwalah pada Allāh dan jadilah kalian bersama orang2 yang jujur”.

Hadits yang agung ini menunjukkan pada kita bahwasanya Rasulullãh ﷺ menghasung untuk jujur, kemudian selalu menjaganya, selalu memperhatikannya, berusaha untuk menjaga kejujuran ini, jangan sampai hilang, sekaligus peringatan dari kedustaan dan juga peringatan dari bergampang gampang di dalam kedustaan karena ketika seseorang banyak melakukan kedustaan, akan dikenal dengan kedustaannya.

Dan berkata Raghim al asfahani, bahwa keujuran adalah sesuatu dari rukun2 akan masih adanya dunia ini. Sehingga ketika masih ada kejujuran, masih tegaklah dunia ini, alam ini dan dia adalah pokok dari perkara2 kebaikan dan jujur merupakan rukun dari kenabian dan sekaligus hasil dari takwa. Seandainya tidak ada kejujuran, akan batallah hukum2 syariat.

Kemudian ketika seseorang kebalikannya, yaitu bersifat dusta, maka dia akan lepas dari kemanuasiaan secara umum. Karena manusia ini memiliki kekhususan dibanding makhluk yang lain, dengan dia bicara. Kalo dia biasa berdusta maka bicaranya tidak akan diangkat, akan dijadikan sebagai sandaran, tidak dipedulikan sama sekali, maka dia sama dengan binatang yang tidak dianggap bicaranya, maka kelebihan manusia adalah berbicara. Jika dia tidak dianggap bicaranya maka jika dia biasa berdusta, maka tidak ada beda antara dia dgn binatang. Ini jelas menunjukkan tentang pentingnya kejujuran yang merupakan ciri yang membedankan manusia dgn binatang.

Kaum muslimin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Rasulullãh ﷺ telah menghsung kita pada kejujuran, menyebutkan tentang keutamaan kejujuran, membawa pada kebaikan2 karena seluruh kebaikan didasarkan pada kejujuran , dan juga kita melihat bahwa amalan tidak mungkin diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kecuali diiringi dgn kejujuran. Jujur terhadap Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengingatkan supaya ikhlas semata pada Allāh kemudian jujur, tidak menyelisihi dari ucapannya terhadap apa yang terdapat dalam hatinya kemudian juga para ulama menjelaskan bahwa jujur ini juga meliputi dalam perbuatan. yaitu bahwasanya perbuatan sesuai dgn hatinya. Berbeda dgn orang munafik yang mereka berbeda perbuatannya dengan hati mereka. Mereka shalat padahal mereka ingkar, kufur pada Allāh Subhānahu wa Ta’āla Mereka melakukan ibadah2 padahal dalam hati mereka tidak mengimani ibadah tersebut.

Ini contoh bahwa jujur ini ada juga dalam arkaan, dalam perbuatan2 yaitu ketika seseorang melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ia niatkan maka inilah yang disebut dusta, tidak jujur di dalam perbuatan2nya maka jujur dgn lisan mengucapkan sesuai dgn hatinya, sesuai dgn kenyataan, kemudian jujur dalam perbuatan yaitu perbuatan yang sesuai yang ada di dalam hatinya.

Kaum muslimin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Maka hadits ini menunjukkan bahwa pelaku kejujuran akan memiliki keutamaan dimudahkan, dibawa oleh kejujuran itu kepada kebaikan2, semoga Allāh menjadikan kita termasuk pada pelaku kebaikan yang kemudian akan membawa pelakunya pada surga dan surga itu adalah puncak dari apa yang dcari manusia. Karena itulah maka manusia diperintahkan untuk meminta pada surga dan dijauhkan dari neraka.

Kaum muslimin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Dan juga Allāh menyebukan bahwa ashiddiq ini menepati kedudukan kedua pada orang2 yang diberi nikmat oleh Allāh sebagaimana tertulis pada kitabNya dalam ayatnya

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ

Dan siapa yang menta’ati Allāh dan RasulNya, maka mereka bersama orang2 yang Alloh beri nikmat pada mereka, dari para Nabi, dari para Shiddiiq, para
Syuhada dan para Shaalihiin.

Ini menunjukkan الصِّدِّيق adalah tingkatan yang mulia yang Allāh tempatkan kedudukan kedua setelah para nabi. Ketika seseorang jujur, Allāh akan menuliskan bahwa dia selalu jujur, الصِّدِّيق ,yaitu orang yang banyak membenarkan, yang jujur, yang membenarkan yang shiddiiqulakbar, shiddiq yang terbesar adalah Abu bakar Ashiddiiq radhiyallahu anhu, yang dia mengimani Rasulullãh ﷺ ,ketika diajak masuk islam, langsung masuk islam, membenarkan Rasulullãh ﷺ  ketika didustakan oleh kaumnya yang membenarkan apa yang disampaikan rasululah ﷺ ketika isra mi’raj, ketika orang2 mendustakannya

Kaum muslimin yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Maka marilah kita bertakwa pada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan juga berupaya untuk jujur sebagai mana dinasihatkan oleh Rasulullah ﷺ ,dan juga menjauhi kedustaanyang akan membawa kepada kejelekan yang akan mengantakan pada neraka, dan berusaha jujur yang akan mengantarkan kita semua ke dalam surga.

Semoga Allāh memudahkan kita untuk selalu jujur dalam perbuatan kita, dalam seluruh amalan kita yang Allāh adalah mampu untuk menunjukkan pada kita kebaikan dan mampu menjauhkan kita dari semua kejelekan

الله أعلم بالصواب 
ﻭ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﻤﺪ ﻭ ﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭ ﺻﺤﺒﻪ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ .
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ

ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠّﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
? www.kajiantemanggung.com
? Channel Telegram https://goo.gl/foFM5Z
? WA & TG Kajian Kadang Temanggung (+6281210152298)
? Sunduq Dakwah BRI 0842-01-029843-53-2 (an. SUKAEMI)

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.