BUAH-BUAH INDAH ITTIBA’ KEPADA SUNNAH

BUAH-BUAH INDAH ITTIBA’ KEPADA SUNNAH

Ittiba’ ( mengikuti ) sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merupakan perkara yang besar dan agung. Yang membutuhkan bukti dan praktek nyata dalam kehidupan sehari-hari. Allah subhanahu telah memerintahkan setiap muslim agar mengambil apa yang diperintahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan meninggalkan apa yang beliau larang darinya. Demikian juga Alloh menyatakan bahwa barangsiapa yang menaati Rasul berarti ia telah menaati Allah.
Begitu banyak nash-nash yang menunjukkan bagaimana semestinya sikap seorang muslim menempatkan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yaitu wajib mengambilnya. Kemudian menjadikan sunnah tersebut sebagai pedoman dalam melangkah dan melakukan ketaatan kepada Allah subhanahu wa taala.
Ketahuilah! Siapa saja dari umat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berupaya untuk senantiasa mengikuti dan menaati beliau shallallahu alaihi wasallam dengan ikhlas serta menjadikannya sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari, maka sungguh ia akan mendapatkan sekian banyak keutamaan yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa taala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.
Insya Alloh di dalam bahasan kali ini akan kami sebutkan sebagian keutamaan-keutamaan ittiba’ kepada Sunnah dengan banyak mengambil faidah dari kitab Fadhlu Ittiba’is Sunnah yang ditulis oleh Syaikh Dr. Muhammad bin Umar Bazmul.

ITTIBA’ KEPADA SUNNAH MERUPAKAN SEBAB DITERIMANYA SETIAP AMALAN

Telah kita ketahui bersama bahwa dua prinsip dasar yang harus selalu beriringan dalam melandasi suatu amal agar diterima oleh Allah subhanahu wa taala adalah keikhlasan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebaliknya, apabila hilang salah satu dari keduanya, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa taala, dan hendaknya kita khawatir suatu amal shalih yang kita kerjakan akan ditolak atau tidak diterima oleh Allah subhanahu wa taala.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“ Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak berdasarkan urusan dari kami maka dia adalah tertolak “ ( Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahihnya : 3243 )
Dari hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu keutamaan terbesar dalam Ittibaus Sunnah (mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) adalah diterimanya suatu amalan.
Al Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: Dalam mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terdapat keberkahan dalam mengikuti syariat, meraih keridhoan Allah subhanahu wa taala, meninggikan derajat, menentramkan hati, menenangkan badan, membuat marah syaithan, dan berjalan di atas jalan yang lurus ( Dharuratul Ihtimam, hal. 43).

KESELAMATAN DARI PERSELISIHAN

Ketika kaum muslimin ittiba’ terhadap Sunnah maka berarti mereka telah mengambil jalan keselamatan dari perselisihan yang tercela, perselisihan yang tercela adalah yang seorang tidak akan selamat darinya kecuali dengan mentaati Alloh dan RasulNya, Alloh Ta’ala berfirman :
(وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوَاْ إِنّ اللّهَ مَعَ الصّابِرِينَ ([الأنفال :46]
” Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ” ( Al-Anfal : 46 ).
Di dalam ittiba’ terhadap Sunnah maka terdapat ketaatan kepada Alloh dan RasulNya dan itu adalah jalan keselamatan dari perselisihan yang tercela.
Diriwayatkan dari al-Irbâdh bin Sâriyah radhiyallâhu’anhu bahwa ia berkata:
وَعَظَنا رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – مَوعِظَةً ، وَجِلَتْ مِنْها القُلوبُ ، وذَرَفَتْ منها العُيونُ ، فَقُلْنا : يَا رَسول الله ، كأنَّها مَوعِظَةُ مُودِّعٍ، فأوْصِنا ، قال : (( أوصيكُمْ بتَقوى الله ، والسَّمْعِ والطَّاعةِ ، وإنْ تَأَمَّرَ عَليكُم عَبْدٌ ، وإنَّه من يَعِشْ مِنْكُم بعدي فَسَيرى اختلافاً كَثيراً ، فَعَلَيكُمْ بِسُنَّتِي وسُنَّةِ الخُلفاء الرَّاشدينَ المهديِّينَ ، عَضُّوا عليها بالنَّواجِذِ ، وإيَّاكُم ومُحْدَثاتِ الأمور ، فان كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة))
“Suatu hari Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang membekas pada jiwa, yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati menjadi takut, maka seseorang berkata:Wahai Rasulullâh! Seolah-olah ini adalah nasehat dari orang yang akan berpisah, maka apakah yang engkau wasiatkan kepada kami?Maka Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allâh, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafâ Râsyidîn yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bidah, dan setiap bidah itu adalah sesat.” ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 7/126-127, Abu Dâwud no. 4607 dan ini lafazhnya, at-Tirmidzi no. 2676, dan Ibnu Mâjah no. 42, dan berkata at-Tirmidzi, Hadits ini hasan shahîh. Hadits ini dishahîhkan juga oleh Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah no. 937 dan 2735 dan dalam Irwâ-ul Ghalîl 8/107-109, no. 2455 ).
Maka buah pertama dari ittiba’ Sunnah adalah keselamatan dari perselisihan yang tercela, Al-Imam Abu Hatim Ibnu Hibban berkata :
في قوله صلى الله عليه وسلم: “فعليكم بسنتي” عند ذكره الاختلاف الذي يكون في أمته بيان واضح أن من واظب على السنن قال بها ولم يعرج على غيرها من الآراء من الفرق الناجية في القيامة جعلنا الله منهم بمنه .
” Di dalam sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam ‘ wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku ‘ ketika beliau menyebutkan perselisihan yang terjadi umatnya : terdapat penjelasan yang gamblang bahwa siapa yang selalu membiasakan diri dengan Sunnah-sunnah, berkata dengannya dan tidak mengikuti selain Sunnah dari pendapat-pendapat maka dia termasuk kelompok-kelompok yang selamat pada hari kiyamat semoga Alloh menjadikan kita termasuk mereka dengan karuniaNya ” ( Shahih Ibnu Hibban 1/179 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: Sebagaimana tidak ada generasi yang lebih sempurna dari generasi para shahabat, maka tidak ada pula kelompok setelah mereka yang lebih sempurna dari para pengikut mereka. Maka dari itu, siapa saja yang lebih kuat dalam mengikuti hadits Rasulullah dan sunnahnya, serta jejak para shahabat, maka ia lebih sempurna. Kelompok yang seperti ini keadaannya, akan lebih utama dalam hal persatuan, petunjuk, berpegang teguh dengan tali (agama) Allah, dan lebih terjauhkan dari perpecahan, perselisihan, dan fitnah. Dan barangsiapa yang menyimpang jauh dari itu (Sunnah Rasulullah dan jejak para sahabat), maka ia akan semakin jauh dari rahmat Allah dan semakin terjerumus ke dalam fitnah. (Minhajus Sunnah, 6/368)

MENDAPAT HIDAYAH DAN SELAMAT DARI KESESATAN

Ketika seorang muslim ittiba’ kepada Sunnah maka dia telah berusaha mendapatkan hidayah dan menyelamatkan diri dari kesesatan, dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي ، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ
” Sesungguhnya aku telah meninggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama-lamanya : Kitabullah dan Sunnahku, dan tidak akan berpisah keduanya hingga keduanya mengantarku ke telaga ” ( Diriwayatkan oleh Daruquthni di dalam Sunannya 5/440 dan Al-Hakim di dalam Mustadraknya 1/172 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-albani di dalam Shahih Al-Jami’ : 2937 ).
Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda ketika berkhotbah di waktu haji Wadda’ :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
” Wahai manusia sesungguhnya aku telah meninggalkan pada kalian apa yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan sesat selama-lamanya : Kitabullah dan Sunnah NabiNya ” ( Diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam Mustadraknya 1/171 dan Baihaqi di dalam Sunan Kubra 10/114 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Takhrij Fiqih Sirah hal. 456 ).
Dari ‘Amr bin Auf dia berkata : Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda :
تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما كتاب الله وسنة نبيه صلى الله عليه وسلم
” Aku telah meninggalkan pada kalian dua perkara apa yang jika kalian berpegang teguh dengan keduanya maka kalian tidak akan sesat selama-lamanya : Kitabullah dan Sunnah NabiNya shallallâhu ‘alaihi wasallam ” ( Diriwayatkan oleh Malik dalam Muwaththo’ 5/1323 dan dihasankan oleh Syaikh Al-albani di dalam Takhrij Misykat 1/40 ).
Hadits-hadits di atas menjelaskan bahwa ittiba’ kepada Sunnah adalah penyelamat dari kesesatan dan sekaligus di dalamnya terdapat berita gembira yang agung bahwa Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam akan memberikan hidayah menuju telaga Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam pada hari kiamat.
Al-Imam Malik berkata :
السنة سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها هلك
” As-Sunnah adalah bahtera Nuh siapa yang menaikinya maka dia selamat dan siapa yang tertinggal maka dia binasa ” ( Diriwayatkan oleh Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam 4/124 dan Al-Khathib di dalam Tarikh Baghdad 7/336 ).

MENDAPATKAN AGAMA SECARA UTUH

Jika Engkau ittiba’ kepada Sunnah maka Engkau akan mendapatkan ad-dien ( agama ) ini secara keseluruhannya, karena ad-dien maknanya adalah hendaknya Engkau tidak beribadah kecuali hanya kepada Alloh dan hendaknya Engkau tidak beribadah kepada Alloh kecuali dengan apa yang Alloh syari’atkan, dan tidaklah ada jalan bagi kita untuk mengetahui syara’ kecuali dengan Al-Qur’anul Karim dan As-Sunnah Nabawiyyah, karena ibadah adalah tauqifiyyah ( bergantung kepada nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
” Karena inilah maka para fuqaha’ berkata : Ibadah-ibadah landasannya atas tauqif sebagaimana di dalam Shahihain dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu bahwasanya dia mencium Hajar Aswad dan mengatakan :
والله إني لأعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع ولولا أني رأيت رسول الله ( يقبلك لما قبلتك
‘ Demi Alloh sesungguhnya saya mengetahui bahwa sesungguhnya Engkau adalah batu yang tidak bisa memadharatkan dan memberi manfaat, seandainya saya tidak melihat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menciummu maka saya tidak akan menciummu ‘.
Dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita agar ittiba’ ( mengikuti ) Rasul, mentaaitnya, loyal kepadanya, dan mencintainya, dan agar hendaknya Alloh dan RasulNya lebih kita cintai daripada apa-apa yang selain keduanya, dan Dia menjamin kepada kita dengan mentaati RasulNya dan mencintainya maka kita akan mendapatakan kecintaan Alloh dan kemuliaan dariNya, Alloh Ta’ala berfirman :
{ قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم}
” Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” ( Ali Imran : 31 ), dan Alloh Ta’ala berfirman :
{ وإن تطيعوه تهتدوا }
” dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. ” ( An-Nur : 54 ), dan Alloh Ta’ala berfirman :
{ ومن يطع الله ورسوله يدخله جنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها وذلك الفوز العظيم }
” barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar ” ( An-Nisa’ : 13 ).
Dan ayat-ayat yang semisal hal itu di dalam Al-Qur’an adalah banyak sekali, dan tidak selayaknya bagi seorangpun keluar di dalam hal ini dari apa-apa yang dijelaskan oleh Sunnah, dibawa oleh Syari’at, dan yang ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah dan jalan yang ditempuh oleh Salaful Ummah, apa yang dia ketahui maka dia berucap dengannya, apa yang dia tidak mengetahui maka dia menahan diri darinya dan tidak mengikuti apa-apa yang dia tidak mengetahui ilmunya, dan tidak mengatakan atas Alloh apa-apa yang dia tidak mengetahuinya karena Alloh Tabaraka wa Ta’ala telah mengharamkan itu semua ” ( Majmu’ Fatawa 1/334 ).

MENGANGKAT KERENDAHAN DAN KEHINAAN UMAT

Dengan ittiba’ kepada Sunnah maka akan terangkatlah kehinaan dan kerendahan umat ini, karena Sunnah adalah agama, sedangkan meninggalkan agama adalah sebab kehinaan dan kerendahan.
Dari Ibnu Umar dia berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda :
إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم
“ Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‘iinah, disibukkan oleh ternak dan tanaman, dan kalian tinggalkan jihad fi sabilillah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian ( Diriwayatkan oleh Abu dawud dalam Sunannya : 3462, Baihaqy dalam Sunan Kubro 5/316 dan Thobrony dalam Musnad Syamiyyin hal. 464 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Shahihah : 11 ).
Kembali kepada agama adalah kembali kepada Sunnah, karena Sunnah adalah representasi resmi dari Islam sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Bisyr bin Harits : Islam adalah Sunnah, dan Sunnah adalah Islam ( Syarhu Sunnah hal. 126 ).
Di dalam hadits di atas Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menyatakan jika umat Islam telah menjauh dari agama dengan melakukan mu’amalah-mu’amalah yang diharamkan, terpedaya dengan dunia, dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu sampai mereka kembali kepada agama mereka.
Maka dengan kembali kepada Sunnah yang merupakan Islam yang murni akan terangkatlah kehinaan dan kerendahan kaum muslimin.
Di dalam hadits Jibril yang masyhur setelah menyebutkan tentang Islam, Iman, dan Ihsan, maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Ini adalah Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan perkara-perkara agama kalian “, barangsiapa yang ingin kembali kepada agama maka hendaknya dia mempelajari perkara-perkara yang terkandung dalam hadits Jibril dari rukun-rukun Islam, Iman, dan Ihsan.
Adapun siapa yang meninggalkan perkara-perkara di atas dan menjadikan perkataannya semuanya dari kaum sekuler, liberalis, dan orang-orang kafir, maka dia telah menjerumuskan dirinya dan umat Islam ke dalam kehinaan dan kerendahan.
Maka berjalanlah wahai Saudaraku di atas jalan yang lurus, ittiba’lah kepada Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam, bersemangatlah untuk menegakkan peribadahan kepada Alloh, dan percayalah bahwa jika Engkau berjalan di atas hal ini, maka Engkau telah memperbaiki dirimu dan memperbaiki keluargamu. Baiknya keluarga adalah baiknya masyarakat, baiknya masyarakat adalah baiknya umat, dan baiknya umat adalah baiknya alam semesta dengan idzin Alloh Ta’ala.

DI DALAM SUNNAH DIDAPATKAN KESEMPURNAAN AKHLAQ DAN KEMULIAANNYA

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِح الْأَخْلَاقِ
” Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kebaikan akhlaq ” ( Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Musnadnya 2/381 dan Bukhari di dalam Adabul Mufrad 1/104 dan dishahihkan oleh Syaikh di dalam Silsilah Shahihah 1/75 dan Shahih Al-Jami’ : 2349 ).
Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata di dalam At-Tamhid 24/334 :
” Ini adalah hadits ahli Madinah yang shahih, masuk ke dalam makna hadits ini kebaikan semuanya, agama, keutamaan, muru’ah, kebajikan, dan keadilan, maka dengan itulah Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam diutus untuk menyempurnakannya.
Para ulama telah berkata : Sesungguhnya ayat yang paling lengkap mengumpulkan kebajikan, keutamaan, dan kemuliaan akhlaq adalah firman Alloh Azza wa Jalla :

{إِنَ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلّكُمْ تَذَكّرُونَ} [النحل:90].
” Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran ” ( An-Nahl : 90 ).
Telah sampai riwayat kepada kami dari Aisyah yang disebutkan Ibnu Wahb dan yang lainnya bahwasanya dia berkata : ” Kemuliaan-kemuliaan akhlaq adalah kejujuran ucapan, kejujuran kepada manusia, memberi kepada peminta, membalas kebaikan, menjaga amanah, silaturrahim, berkhidmah kepada sahabat, menjamu, tamu, dan rasa malu adalah penghulunya ” .
Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah ad-dien ( agama ) , dia adalah penjelas apa yang ada di dalam al-Qur’an, dan adalah akhlaq Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah Al-Qur’an sebagaimana dikatakan Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha.

PENYELAMAT DARI FITNAH DAN ADZAB YANG PEDIH

Dengan Engkau berittiba’ kepada Sunnah maka berarti Engkau telah menyelamatkan dirimu dari fitnah dan adzab yang pedih, Alloh Tabaraka wa Ta’ala berfirman :
{ لا تجعلوا دعاء الرسول بينكم كدعاء بعضكم بعضاً قد يعلم الله الذين يتسللون منكم لواذا فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم }
” Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah Telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih ” ( An-Nuur : 63 ).
Setiap orang yang menyelisih Rasul, setiap orang yang menyalahi perintah Rasul maka hendaknya dia takut akan ditimpa fitnah, sehingga masuk kekufuran di dalam hatinya, masuk kenifaqan di dalam hatinya, atau masuk ke dalam bid’ah-bid’ah sehingga ditimpa azab yang pedih dengan sebab itu semua !.
Maka di antara keutamaan ittiba’ Sunnah adalah keselamatan dari fitnah dan adzab yang pedih.
Datang seorang laki-laki kepada Imam Malik seraya berkata : ” Wahai Imam saya hendak pergi umrah “, maka Imam Malik berkata : ” Berumrahlah ! “, orang tersebut berkata : ” Saya ingin berihram untuk umrah dari Madinah dari Masjid Nabawi “, Imam Malik berkata : ” Wahai Anakku Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam berumrah dari Dzul Hulaifah dan umrahmu dari Masjid menyelisihi Sunnah, saya mengkhawatirkan fitnah menimpamu jika Engkau melakukan ini “, kemudian beliau membaca ayat :
{ فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم }
” Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih ” ( An-Nuur : 63 ).

MENDAPATKAN KEBAHAGIAN DI DUNIA DAN DI AKHIRAT SERTA SELAMAT DARI NERAKA

Alloh Ta’ala telah menjamin kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi siapa saja yang mengikuti petunjukNya dan mengancam orang yang berpaling dari petunjukNya dengan kesengsaraan di dunia dan di akhirat, Alloh Ta’ala berfirman :
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
” Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” ( Thohaa : 123-124 ).
Barangsiapa yang mengikuti Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam maka dia telah mengikuti petunjuk Alloh dan akan mendapatkan kebahagian di dunia dan di akhirat, Alloh Ta’ala berfirman :
{ ومن يطع الله ورسوله يدخله جنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها وذلك الفوز العظيم }
” barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar ” ( An-Nisa’ : 13 ).

PENUTUP

Inilah yang bisa kami paparkan di dalam bahasan ini dari sebagian keutamaan-keutamaan ittiba’ kepada Sunnah Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, dan kami akhiri bahasan ini dengan sebuah kalimat yang agung dari Al-Imam Ibnu Hibban :
إن في لزوم سنته تمام السلامة وجماع الكرامة لا تطفأ سرجها ولا تدحض حججها من لزمها عصم ومن خالفها ندم إذ هي الحصن الحصين والركن الركين الذي بان فضله ومتن حبله من تمسك به ساد ومن رام خلافه باد فالمتعلقون به أهل السعادة في الآجل والمغبوطون بين الأنام في العاجل
” Sesungguhnya di dalam menetapi Sunnah Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam terdapat kesempurnaan keselamatan dan seluruh kemuliaan yang tidak pudar cahayanya dan tidak patah hujjah-hujjahnya, barangsiapa yang berpegang dengan Sunnah maka dia akan terjaga, dan barangsiapa yang menyelisihi Sunnah maka dia adalah tercela, karena Sunnah adalah benteng yang kokoh, rukun yang teguh yang jelas keutamaannya dan kokoh talinya, barangsiapa yang berpegang teguh dengannya maka dia akan menjadi pemuka dan barangsiap yang memilih menyelisihinya maka dia akan celaka, maka orang-orang yang bergantung dengannya adalah para pemilik kebahagiaan di akhirat, yang manusia semua iri kepadanya di dunia ” ( Shahih Ibnu Hibban 1/102 ).
Akhirnya kita memohon kepada Alloh agar menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mengikuti Sunnah dan mengamalkannya dan agar menjauhkan kita semua dari jalan-jalan orang-orang yang menyelisihi Sunnah. Amin. ( Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah ).

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.