Besarnya kasih sayang Allah

💫 *Besarnya kasih sayang Allah …*

✍Jangan ragu dan bimbang dengan kasih sayang Allah kepada hambanya…!

Allah sangat sayang kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Sudah dimaklumi, bagaimana besarnya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang mungkin tidak ada tandingannya di dunia ini, sedangkan kasih sayang Allah melebihi itu semua.
Sebagaimana bisa dipahami dari kisah hadits Nabi berikut ini.
Dari Umar bin Al Khattab رضي الله عنه berkata:

ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺒﻲ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﻗﺪ ﺗﺤﻠﺐ ﺛﺪﻳﻬﺎ ﺗﺴﻘﻲ، ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺻﺒﻴﺎً ﻓﻲ
ﺍﻟﺴﺒﻲ ﺃﺧﺬﺗﻪ، ﻓﺄﻟﺼﻘﺘﻪ ﺑﺒﻄﻨﻬﺎ ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : (ﺃﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺎﺭﺣﺔ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ). ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻭﻫﻲ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻄﺮﺣﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya.
Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami,
“Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”
Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan bukankah Allah tetap menyuruh Nabi Musa عليه السلام untuk berlemah lembut kepada Fir’aun manusia kafir yang paling durhaka kepadanya…?
Allah berfirman,

فقولا له قولاً ليّناً لعلّه يتذكر أو يخشى
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.”(Thaha: 44)

Berkata Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili,
Yakni dengan lembut dan beradab, tidak membual (mengada-ada), tidak keras ucapannya dan tidak kasar sikapnya. Ucapan yang lembut dapat membuat orang lain menerima, sedangkan ucapan yang keras dapat membuat orang lain menjauh. Nabi Musa ‘alaihs salam kemudian mengikuti perintah Allah tersebut, dan ketika sampai kepada Fir’aun dengan lembut Musa berkata sesuai perintah Allah, “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri, dan engkau akan kuarahkan ke jalan Tuhanmu agar Engkau takut kepada-Nya?” (lihat surah An Naazi’at: 18-19) sepeti inilah cara yang perlu dilakukan da’i, yakni perkataannya tidak menunjukkan paksaan, tetapi menunjukkan pilihan dan penawaran seperti dengan kata-kata, “Maukah? Mungkin? Barang kali?” dsb. Karena hal ini lebih bisa diterima daripada perkataan yang terkesan memaksa atau mengajari, terlebih kepada orang yang lebih tua. Perhatikanlah kalimat tersebut, “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri…dst.” Kalimatnya tidak “Agar aku bersihkan dirimu?” tetapi “membersihkan diri?” yang menunjukkan biarlah ia memberihkan dirinya sendiri setelah mengingatkan sesuatu yang membuatnya berpikir. Kemudian Musa ‘alaihis salam mengajaknya kepada jalan Tuhannya yang telah mengaruniakan berbagai nikmat yang nampak maupun yang tersembunyi, di mana nikmat-nikmat itu sepatutnya disyukuri dengan mengikuti perintah-perintah-Nya. Namun ternyata Fir’aun tidak menerima nasehat yang lembut itu, maka semakin jelaslah, bahwa peringatan tidak bermanfaat baginya, sehingga pantas jika Allah menghukumnya.
(Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili)

Maka dari itu, jangan sampai kita ragu untuk selalu meminta kebaikan kepada Allah dalam doa-doa kita. Seperti nasihat Imam Yahya bin Mu’adz, seorang imam ahli tafsir dari kalangan tabi’in berikut ini.

قال يحي بن معاذ في قوله تعالى :
( فقولا له قولاً ليّناً لعلّه يتذكر أو يخشى )
إلهي ! هذا رفقك بمن يقول : أنا إله ،
فكيف بمن يقول : أنت الإله ؟!.

Berkata Yahya bin Muadz tentang firman Allah,

( فقولا له قولاً ليّناً لعلّه يتذكر أو يخشى )
maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.(Thaha: 44)
Ya Ilahi, begini kelembutanmu terhadap orang yang mengatakan : Akulah Tuhan, maka bagaimana lagu dengan (kelembutanmu) terhadap orang yang mengatakan : Engkaulah (Ya Allah) Tuhanku ?!.
📚Tafsir Al-Baghowy surat Thoha

Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.🥀…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.