Berhati-hatinya Ulama Salaf dalam berfatwa

?Berhati-hatinya Ulama Salaf dalam berfatwa

✍Sesungguhnya keutamaan dan kedudukan fatwa dalam syariat yang mulia ini sangatlah agung bagi ahlinya, yaitu orang yang memenuhi syarat-syarat yang telah disepakati oleh para ulama Islam untuk menjadi seorang mufti (pemberi fatwa). Fatwa yang dikeluarkan oleh orang tidak mumpuni memberikan dampak yang sangat berbahaya bagi umat, sebab seorang mufti adalah pemberi legalisasi apa yang datang dari Allah, pewaris para Nabi dan pengemban kewajiban fatwa (fardhu kifayah). Maka hendaklah orang yang memikul amanat ini berhati-hati serta berfikir seribu kali sebelum ia mengeluarkan hukum atau berfatwa.

Karena demikian beratnya amanat fatwa ini, maka banyak dari kalangan ulama terdahulu lebih memilih tawaqquf (diam) ketika ditanya dan tidak memberikan jawaban apapun. Karena khawatir mengakibatkan dampak buruk yang akan menimpanya, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang memberikan jawaban “laa adri (Aku tidak tau)” dalam semua hukum atau yang tidak mereka miliki ilmunya.

Para ahli ilmi ar-rabbani merekalah yang harus dijadikan rujukan dalam-masalah-masalah yang penting lebih-lebih yang berkaitan dengan kemashlahatan umat islam, jika kamu melihat keadaan orang-orang terdahulu dari kalangan salafush sholeh kamu akan mendapatkan mereka sangat bersemangat untuk rujuk kepada para pembesar ahli ilmi yang ada dizaman mereka terutama dalam hukum-hukum yang bersangkutan dengan tabdi’ (pembid’ahan) dan takfir (pengkafiran).

?Dari Uqbah bin Muslim berkata: “Aku mendampingi Ibnu Umar selama tiga puluh empat bulan, kebanyakan ketika ditanya ia menjawab: “Aku tidak tahu”, kemudian ia menoleh kepadaku sambil berkata: tahukah kamu apa yang mereka inginkan? mereka hendak menjadikan punggung-punggung kita sebagai jembatan mereka kepada neraka jahannam”. (Jami Bayan Ilmi : 2/841).

?Perhatikanlah Yahya bin Ya’mar Al-Bashri dan Humaid bin Abdirrahman Al-Himyari Al-Bashri ketika muncul kelompok Qadariyah pada zaman mereka, mereka kelompok (Qadariyah) memiliki penyimpangan-penyimpangan terhadap pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mengharuskan pengkafiran atau pentabdi’an atau pengeluaran mereka dari lingkaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tapi kedua orang itu tidak tergesa-gesa menghukumi mereka bahkan keduanya pergi kepada ahli ilmi dan fatwa yang merupakan rujukan yaitu Abdullah bin Umar رضي الله عنهما  kemudian keduanya menceritakan kepada beliau tentang apa yang terjadi lalu beliau berfatwa akan kesesatan Qadariyah dan penyimpangan mereka.
Yahya bin Ya’mar berkata : Orang pertama yang berbicara (menyimpang) tentang qadar di Bashroh adalah Ma’bad Al-Juhani, aku dan Humaid bin Abdirrahman Al-Himyari pergi haji atau Umroh dan kami berkata : Apabila kami bertemu dengan salah seorang dari shahabat Rasulillah kami akan bertanya tentang apa yang dikatakan oleh kelompok (Qadariyah) tentang takdir, lalu kami bertemu dengan Abdullah bin Umar saat beliau masuk masjid maka kami mengiringi beliau salah satu dari kami berjalan disamping kanan beliau dan yang lain disamping kiri, aku kira temanku akan menyerahkan perkara ini kepadaku maka akupun berkata : “Wahai Abu Abdirrahman, sesungguhnya telah muncul ditempat kami orang-orang yang membaca Al-Qur’an, mempelajari ilmu, mereka mengingkari takdir dan mereka beranggapan bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak ditakdirkan Allah dan tidak diketahui-Nya kecuali setelah terjadi”
Abdullah bin Umar berkata : Jika kamu bertemu dengan mereka maka beritahu bahwa aku berlepas diri dari mereka dan merekapun berlepas diri dariku dan demi Allah, seandainya salah seorang dari mereka menginfakkan emas sebanyak gunung Uhud tidaklah Allah akan menerimanya sampai mereka beriman dengan takdir.[HR MUSLIM, 93]

?Lihatlah Zubeid bin Harits Al-Yami pada saat muncul Murji’ah pada waktunya, dia melihat bahwa penyimpangan mereka terhadap pokok-pokok Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengharuskan mereka keluar dari golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tapi beliau tidak cepat-cepat menghukuminya tapi dia pergi kepada ahli ilmu dan fatwa yang merupakan tempat rujukan yang pernah menimba ilmu dari pembesar shahabat yaitu Abu Wail Syaqiq bin Salamah Al-Asadi Al-Kufi رضي الله عنه, maka beliaupun menceritakan apa yang terjadi.
Lalu Abu Wail berfatwa dengan hadits Rasulillah  صلى الله غليه وسلم tentang kebatilan syubhat Murjiah, dan penyimpangan mereka dari jalan Ahlus Sunnah, Zubeid berkata : ketika muncul Murjiah aku mendatangi Aba Wail lalu aku ceritakan hal ini kepada beliau lalu beliau berkata : menceritakan kepadaku Abdullah bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلن- bersabda :
“Mencela orang muslim adalah kefasikan dan memerangiya adalah kekufuran”[HR Bukhari, 48, Muslim, 218.]

Akan tetapi sangat disayangkan, jika kita lihat zaman sekarang, semua orang memposisikan dirinya sebagai mufti, menganggap bahwa ini adalah pekerjaan kecil, tidak membutuhkan syarat-syarat dan keahlian, sehingga pertanyaan apapun pasti dia jawab mudah, walaupun tanpa ilmu dan dalil yang jelas. Mereka bahkan tidak segan-segan membawa dalil dari hadits yang palsu atau lemah atau riwayat-riwayat yang tidak ada asalnya. Inilah yang menyebabkan problematika umat, yaitu munculnya ruwaibidza yang mana mereka adalah orang-orang yang jahil akan tetapi berbicara mengenai umat atau maslahat umum.
Wallohu a’lam.

Rujukan:
1. al-Washayya as-Saniyyah lit-Ta`ibi as-Salafiyyah, Syaikh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi.
3. Min Akhbar As Salaf, karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam

?Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏?✒.?..?✨

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.