Berdakwah dengan ilmu

๐Ÿ”ฅ *Berdakwah dengan ilmu …*

โœJalan dakwah adalah jalan kemuliaan, jalan yang ditempuh oleh Para Nabi ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ุณู„ุงู…. Namun menempuh jalan ini tidak akan bisa melewatinya melainkan dengan ilmu.

Al-Imam Ibnul Qoyyim ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ mengungkapkan dengan begitu indahnya ungkapan ini dengan perkataannya,

“ุงู„ุฏุนูˆุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ ุฌู‡ุงุฏ ุจุงู„ู‚ู„ุจ ูˆุจุงู„ู„ุณุงู†ุŒ ูˆู‚ุฏ ูŠูƒูˆู† ุฃูุถู„ ู…ู† ุงู„ุฌู‡ุงุฏ ุจุงู„ูŠุฏ”. ([1])
[1] – ุฃุญูƒุงู… ุฃู‡ู„ ุงู„ุฐู…ุฉ 3/1254

“ู‚ุงู„ ุชุนุงู„ู‰: {ุงุฏู’ุนู ุฅูู„ูŽู‰ ุณูŽุจููŠู„ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุจูุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุนูุธูŽุฉู ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ูˆูŽุฌูŽุงุฏูู„ู’ู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ู‘ูŽุชููŠ ู‡ููŠูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู} [ุงู„ู†ุญู„: 125]ุŒ ูุฐูƒุฑ ุณุจุญุงู†ู‡ ู…ุฑุงุชุจ ุงู„ุฏุนูˆุฉ ูˆุฌุนู„ู‡ุง ุซู„ุงุซุฉ ุฃู‚ุณุงู… ุจุญุณุจ ุญุงู„ ุงู„ู…ุฏุนูˆ: ูุฅู†ู‡ ุฅู…ุง ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุทุงู„ุจุง ู„ู„ุญู‚ ุฑุงุบุจุง ููŠู‡ ู…ุญุจุง ู„ู‡ ู…ุคุซุฑุง ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุบูŠุฑู‡ ุฅุฐุง ุนุฑูู‡ุŒ ูู‡ุฐุง ูŠุฏุนู‰ ุจุงู„ุญูƒู…ุฉ ูˆู„ุง ูŠุญุชุงุฌ ุฅู„ู‰ ู…ูˆุนุธุฉ ูˆู„ุง ุฌุฏุงู„ุŒ ูˆุฅู…ุง ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู…ุนุฑุถุง ู…ุดุชุบู„ุง ุจุถุฏ ุงู„ุญู‚ ูˆู„ูƒู† ู„ูˆ ุนุฑูู‡ ูˆุขุซุฑู‡ ูˆุงุชุจุนู‡ ูู‡ุฐุง ูŠุญุชุงุฌ ู…ุน ุงู„ุญูƒู…ุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ูˆุนุธุฉ ุจุงู„ุชุฑุบูŠุจ ูˆุงู„ุชุฑู‡ูŠุจุŒ ูˆุฅู…ุง ุฃู† ูŠูƒูˆู† ู…ุนุงู†ุฏุง ู…ุนุงุฑุถุง ูู‡ุฐุง ูŠุฌุงุฏู„ ุจุงู„ุชูŠ ู‡ูŠ ุฃุญุณู† ูุฅู† ุฑุฌุน ุฅู„ู‰ ุงู„ุญู‚ ูˆุฅู„ุง ุงู†ุชู‚ู„ ู…ุนู‡ ู…ู† ุงู„ุฌุฏุงู„ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฌู„ุงุฏ ุฅู† ุฃู…ูƒู†”. ([2])
2] – ุงู„ุตูˆุงุนู‚ ุงู„ู…ุฑุณู„ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู‡ู…ูŠุฉ ูˆุงู„ู…ุนุทู„ุฉ4/1276

Berdakwah mengajak kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jihad dengan hati dan lisan. Terkadang yang demikian itu lebih utama daripada berjihad dengan tangan (perang).
(Ahkamu Ahli Dzimmah, 3/1254)

Allah berfirman,

ุงุฏู’ุนู ุฅูู„ูŽู‰ ุณูŽุจููŠู„ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุจูุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุนูุธูŽุฉู ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ูˆูŽุฌูŽุงุฏูู„ู’ู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ู‘ูŽุชููŠ ู‡ููŠูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(An-Nahl: 125)

Allah menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah dan menjadikannya hal itu tiga macam sesuai keberadaan si mad’u (yang didakwahi).
Adakalanya dia seorang yang mencari kebenaran, senang kepadanya, mencintainya dan terkesan baginya dibanding yang lainnya tatkala dia mengenalnya,
Maka yang demikian ini didakwahi dengan hikmah (ilmu) dan tidak dibutuhkan cara nasihat ataupun debat.
Dan adakalanya dia berpaling dan tersibukkan dengan penentangan kepada kebenaran, akan tetapi jika dia mengenal (kebenaran itu), terkesan dan mengikutinya,
Maka yang ini butuh dengan hikmah disertai nasehat dengan kabar gembira (surga) dan ancaman (azab).
Dan adakalanya dia menentang dan berpaling maka yang seperti ini butuh didebat dengan jalan yang baik sehingga dia mau kembali kepada kebenaran,
Dan apabila tetap mental juga maka pindah dari tahapan debat kepada kekerasan jika memang memungkinkan.
(Ash-Showa’iqul Mursalah Ala Al-Jahmiyyah wa Al-Mu’athilah, 4/1276)

Wallahu a’lam

๐ŸƒAbu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

โœ๐Ÿ“šโœ’.๐ŸŽ—…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.