Bekal Utama dalam Jalan Dakwah…

🌹 Bekal Utama dalam Jalan Dakwah…

✍Allah berfirman,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِين
“Katakanlah (wahai Muhammad): Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah di atas bashiroh (dengan ilmu), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” [Yusuf: 108]

Berkata Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili,
Makna kata :
(هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ)
haadzihi sabiilii : dakwahku dan jalanku yang aku tempuh.
(عَلَىٰ بَصِيرَةٍ)
‘alaa bashiirah : di atas ilmu dan keyakinanku.
(وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ)
wa subhaanallaah : Maha suci Allah dari segala sekutu dalam hal kekuasaan ataupun ibadah.
Adapun ayat yang kedua (108), Allah telah memerintahkan kepada rasul-Nya untuk melanjutkan dakwahnya—dakwah menuju kebaikan—dan juga orang-orang yang beriman bersamanya, firman-Nya :
(قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ)
“Katakanlah wahai Rasul, kepada manusia:
“Inilah jalanku dalam berdakwah kepada Rabbku, dengan kalian beriman kepada-Nya, hanya menyembah kepada-Nya dan mentauhidkannya.
(أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ)
di atas ilmu yang pasti akan kepada siapa aku mengajak, dengan apa aku berdakwah, serta segala efek dan hasil dari dakwah ini,
(أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ)
dari kalangan orang-orang beriman, kami semua berdakwah kepada Allah ta’ala berdasarkan ilmu. Firman-Nya :
(وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ)
Katakanlah, “Maha Suci Allah”, pensucian atas-Nya dari segala sekutu atau anak, dan katakanlah dan umumkanlah bahwa engkau berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya:
(وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ)
dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik. Inilah makna dari ayat kedua (108).

Pelajaran dari ayat :
• Wajibnya berdakwah kepada agama Allah ta’ala bagi orang mukmin yang mengikuti Rasul shallahu ‘alaihi wa sallam.
• Wajibnya seorang da’i untuk mempunyai ilmu yang yakin akan apa yang ia dakwahkan, karena itulah bashirah yang dimaksud dalam ayat tersebut.
• Wajibnya mentauhidkan Allah ta’ala, dalam uluhiyah, rububiyyah,dan asma’ wa shifat-Nya.
(Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili)

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnul ‘Utsaimin رحمه الله menjelaskan kandungan ayat ini,

فتضمنت هذه الدعوة الإخلاص والعلم لأن أكثر ما يفسد الدعوة عدم الإخلاص أو عدم العلم وليس المقصود بالعلم في قوله على بصيرة العلم بالشرع فقط بل يشمل
•العلم بالشرع
•والعلم بحال المدعو
•والعلم بالسبيل الموصل إلى المقصود وهو الحكمة
“Dakwah ini harus mencakup ikhlas dan ilmu, karena kebanyakan yang merusak dakwah adalah tidak ikhlas dan tidak ada ilmu.
Dan bukanlah maksud ilmu dalam firman Allah, “(Dakwah) di atas bashiroh (dengan ilmu)” hanyalah ilmu tentang syari’at saja, tetapi mencakup:
• Ilmu tentang syari’at,
• Ilmu tentang keadaan orang yang didakwahi,
•Ilmu tentang metode yang dapat mengantarkan kepada tujuan dakwah, yaitu hikmah.”
(Al-Qoulul Mufid fi Syarhi Kitab At-Tauhid, 1/130)

Wallahu a’lam

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

✏📚✒.💧…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.