Baiat Sunnah dan Baiat Bid’ah

BAIAT SUNNAH DAN BAIAT BID’AH

Syaikh Abdus Salam bin Barjas berkata : Maka barangsiapa yang mengangkat dirinya pada kedudukan waliyyul amr yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk memerintah manusia, dia seru suatu jamaah untuk mendengar dan taat kepadanya, atau jamaah tersebut memberikan baiat kepadanya yang mengharuskan mendengar taat kepadanya, dalam keadaan waliyyul amr yang sesungguhnya ada dan nampak ; maka sungguh orang seperti ini telah menyelisihi Alloh dan RasulNya, dan menyeleweng dari nash-nash syari.
Tidak wajib ketaatan kepadanya, bahkan haram taat kepadanya, karena dia tidak punya wewenang dan kemampuan samasekali…
Inilah yang dilakukan oleh banyak jamaah-jamaah Islam saat ini, mereka angkat salah seorang dari kalangan mereka sebagai amir dengan sembunyi-sembunyi- mereka wajibkan atas para pengikut mereka untuk mendengar dan taat kepadanya. Baiat seperti ini adalah merupakan pembodohan kepada jiwa-jiwa manusia dan mempermainkan syariat … ( Muamalatul Hukkam hal. 30-31 ).

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata : Ketahuilah bahwasanya di dalam Islam hanya ada satu baiat saja yaitu pada imamah uzhma, yaitu baiat secara menyeluruh, yang terjadi dengan kesepakatan ahli Syaukah ( kekuatan ) wal Hill wal Aqd dalam umat.
Sama saja apakah baiat tersebut terjadi dengan cara yang diridhoi oleh Alloh dan RasulNya, seperti baiat terhadap Khulafaur Rasyidin atau dengan jalan ghalabah ( seseorang menguasai negara dengan merebut kekuasaan dan dia bisa menguasai keadaan ).
Baiat inilah yang dengannya seorang imam pemegang urusan kaum muslimin bisa melaksanakan maksud-maksud wilayah,yaitu : kemampuan, kekuasaan, kekuatan militer, dan pertahanan. Sehingga dia bisa menegakkan hukum-hukum Islam seperti hudud, pembagian kekayaan, memilih pegawai-pegawai, jihad melawan musuh, menegakkan haji , sholat ied, jumat dan jamaah, dan yang selainnya dari maksud-maksud wilayah sesuai dengan batasan syari.
Tidak henti-hentinya urusan umat berjalan seperti ini, tidak mengenal baiat bagi siapa saja yang peringkatnya di bawah imamah kubra.
Kemudian datanglah generasi berikutnya, yang kemudian terseret ke dalam bidah dan ahwa, datang bidah-bidah thariqah yang disebut dengan baiat ridhaiyyah, disebut juga dengan baiat istitsnaiyyah, atau ahdul masyayikh, atau aqdu thariq, atau mitsaqu thariq, ini semua adalah baiat-baiat yang bidah, tidak berlandaskan dalil dari Kitab dan Sunnah, maupun amalan sahabat.
Baiat ini telah diingkari oleh para ulama, mereka sangat mengingkarinya dan menjelaskan bahwa semua itu tidak ada landasannya.
Kemudian model baiat-baiat bidah ini berpindah dengan baju baru ke sebagian jamaah-jamaah Islam kontemporer, sampai terjadi banyak jamaah-jamaah di dalam satu negeri yang memiliki berbagai macam baiat yang diwajibkan atas para pengikutnya.
Masing-masing menyeru agar semua mengikuti jamaah mereka, sehingga hilanglah dari mereka perjanjian yang diwajibkan oleh Rasulullah e kepada jamaah kaum muslimin, yaitu hendaknya mereka selalu mengikuti apa yang ditempuh oleh Rasulullah e dan para sahabatnya.
Demikianlah tubuh umat Islam tercabik-cabik dengan adanya baiat-baiat kelompok-kelompok thariqah di satu sisi dan baiat-baiat hizbiyyah di sisi lain.
Jadilah para pemuda Islam dalam kebingungan ke kelompok mana dia harus bergabung, dan kepada pimpinan gerakan mana dia harus berbaiat ( Hukmul Intima ilal Firaq wal Ahzab wal Jamaah Islamiyyah hal. 161-163 ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Tidak diperbolehkan bagi seorangpun untuk mengambil suatu perjanjian atas seseorang agar dia selalu menyetujui apa yang dia kehendaki, memberikan loyalitas kepada siapa saja disukai oleh yang dia baiat, memusuhi siapa saja yang memusuhi orang yang dia baiat, bahkan orang yang berbuat seperti ini adalah seperti model Jenghis Khan yang menjadikan siapa saja yang cocok dengan mereka adalah teman yang loyal, dan siapa saja yang menyelisihinya adalah musuh yang harus dibenci ( Majmu Fatawa 28/16 ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.