Bab 5 | Ulama as-Salaf dalam Kezuhudan terhadap Dunia (6)

❁ ﷽ ❁
*KAJIAN KADANG TEMANGGUNG*
💽 Seri : _Panduan Akhlak Salaf_
📚 Kitab : _Aina Nahnu min Akhlaqis-Salaf_
🖋 Karya : _As-Syaikh Abdul Aziz bin Nashir al Jalil Baha-uddien ‘Aqiel_
📓 Materi : _Bab 5 | Ulama as-Salaf dalam Kezuhudan terhadap Dunia (6)_
🗓 Selasa, 28 Mei 2019 M / 23 Ramadhan 1440 H

🌼 •┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈• 🌼

Dari Ibrahim bin Syabib bin Syaibah diriwayatkan bahwa ia berkata :

“Suatau saat kami tengah duduk-duduk di hari jumat. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang mengenakan sehelai kain yang menyelimuti dirinya. Lelaki itu duduk di dekat kami dan mengungkapkan satu persoalan, sementara kala itu kami masih sibuk membicarakan soal fikih hingga kami bubar.

Pada jumat berikutnya, lelaki itu dating lagi, lalu kami jawab pertanyaannya. Setelahitu kami menayakan tempat tinggalnya. Lelaki itu menjawab : _”Saya tinggal di Harbiyyah.”_
Lalu kami menanyakan kunyahnya. Ia menjawab : _”Abu Abdillah.”_
Kami merasa senang berada satu majelis dengannya.
Dengan kehadirannya, majelis kami menjadi majelis fikih. Keadaan seperti itu berlangsung selama beberapa waktu.
Tiba-tiba lelaki itu tak datang lagi. Kami saling bertanya satu sama lain. _”Bagaimana kita sekarang ini? Selama ini majelis kita meriah dengan kehadiran Abu Abdillah, kini kembali menjadi lengang.”_
Maka masing-masing di antara kami saling menjanjikan untuk pergi ke Harbiyyah esok paginya dan menanyakan tentang dirinya.

Kamipun tiba di Harbiyyah. Jumlah kami ada beberapa orang. Namun tiba-tiba kami merasa malu untuk menanyakan tentang lelaki tersebut.
Saat itu kami lihat ada beberapa anak kecilyang selesai belajar. Kamipun bertanya : _”Kenal dengan Abu Abdillah?”_
Mereka balik bertanya : _”Apakah yang kalian maksud adalah Abu Abdillah si pemburu?”_
Kami menjawab : _”Betul.”_
Mereka berkata : _”Sekarang inilah waktu biasanya dia pulang.”_ Kamipun duduk menunggunya.

Tiba-tiba dia sudah datang dengan mengenakan secarik kain, di atas pundaknya juga tergantung secarik kain lainnya, sementara ia juga membawa beberapa ekor burung yang sudah disembelih, dan beberapaekor lainnya masih hidup.
Ketika ia melihat kami, ia pun tersenyum, seraya berkata : _”Ada apa gerangan tuanku sekalian datang kemari?”_
Kami menjawab : _Kami kehilangan kamu. Kamu telah memeriahkan majelis-majelis kami. Apa yang menyebabkan kamu tidak menemui kami lagi?”_
Lelaki itu menjawab : _”Kalau begitu, akan kuceritakan yang sesungguhnya. Kami di sini memiliki seorang tetangga yang setiap hari aku pinjam bajunya untuk kugunakan menemui tuan-tuan sekalian. Sementara di sini ia orang perantauan. Sekarang ia sudah kembali ke kampung halamannya, sehingga aku tidak memiliki pakaian lagi untuk kugunakan mendatangi kalian. Sudikah tuan-tuan mampir ke rumahku sebentar untuk menikmati rezeki yang diberikan Alloh ini?”_
Sebagian kami berkata kepada yang lainnya: _”Mari kita masuk kerumahnya.”_
Ia segera masuk lebih dahulu, memberi salam, menunggu sebentar, lau mempersilakan kami masuk. Kami pun masuk. Ternyata ia telah menyiapkan sepotong kain dan membentangkannya.
Kami duduk di atas kain itu. Lelaki itu menemui istrinya dan menyerahkan burung-burung yang telah disembelih, lalu ia membawa burung-burung yang masih hidup. Kemudian ia berkata : _”Tunggu sebentar , saya akan datang lagi.”_
Segera ia ke pasar dan menjual burung-burung itu lalu membeli roti, sementara istrinya memasak burung-burungnya.

Tak lama ia sudah menghidangkan kepada kami roti beserta burung-burung yang sudah dimasak itu. Kamipun makan.
Lelaki itu ke belakang, dan membawa kami garam dan air. Setiap kali ia pergi ke belakang, sebagain kamiberkata keada yang lainnya : _”Pernahkan enkau melihat yang semacam ini? Tidakkah kita berusaha merubah kondisi kehidupannya, karena kita adalah orang-orang kaya di kota Bashrah?”_
Seorang di antara kami berkata : _”Saya menanggung lima ratus dirham.”_
Yang lain menimpali : _”Saya tiga ratus,”_ yang lainnya lagi sekian dan sekian, sementara ada lagi yang menjanjikan akan mengambilkan dari orang lain sejumlah tertentu, sehingga dalam hitungan terkumpul lima ribu dirham. Mereka berkata : _”Mari sama-sama kita hantarkan uang ini dan kita minta lelaki itu untuk merubah sebagian keadaan ekonominya.”_
Kamipun bangkit dan pulang dengan membawa kesepakatan itu, sambil berkendaraan. Kami melewati Al-Mirbad (nama pasar di Bashrah). Ternyata Muhammad bin Sulaiman, gubernur Bashrah sedang duduk di beranda atas rumahnya.
Beliau berkata : _”Wahai pelayan, tolong panggilkan Ibrahim bin Syabib bun Syaibah dari orang-orang yang datang itu.”_
Maka aku (Ibrahim) pun datang menemui beliau. Beliau lantas menanyakan aku tentang kisah perjalanan kami, dari mana kami pulang. Maka akupun menyampaikan cerita perjalanan kami. Beliau segera menyela : _”Biar aku yang lebih dahulu membantunya daripada kalian.”_
Beliau lalu menitahkan : _”Wahai pelayan,tolong ambilkan sebuntal uang dirham.”_ Pelayan itu segera mengambilkannya.
Beliau berkata lagi : _”Tolong panggilkan pelayan kamar.”_ Pelayan kamar itupun datang . Maka beliau memerintahkan : _”Tolong antarkan uang ini bersama laki-laki ini untuk diberikan kepada orang yang kami perintahkan.”_

Aku begitu gembira. Aku segera bangkit dengan cepat dan mendatangi rumah Abu Abdillah. Setelah mengetuk pintu, Abu Abdillah keluar menyambut. Ketika ia melihat pelayan kamar menaburkan abu diwajahnya (membuat kecewa). Ia segera menghadap kepadaku namun tidak sebagaimana ia memandangku sebelumnya. Ia berkata :_”Ada apa antara aku dengan engkau? Kenapa ini terjadi? Apakah engkau hendak mencelakakan saya?”_
Saya berkata : _”Wahai Abu Abdillah, duduklah dahulu, biar aku ceritakan kisahnya dari awal kenapa semua ini terjadi. Sebagaimana yang engkau ketahui, yang memberimu ini adalah seorang penguasa besar, Muhammad bin Sulaiman. Seandainya ia memerintahkan aku untuk memberikan kepada siapa saja sekehendakku, niscaya aku akan kembali kepadanya. Dan ya Alloh, aku memang akan memberikannya kepadamu.”_
Bertambahlah kemarahan Abu Abdillah. Ia segera masuk rumah, dan membantingkan daun pintu di depan wajahku.

Akupun mondar-mandir ke sana ke mari,tak tahu apa yang harus kukatakan kepada sang gubernur nanti. Namun bagaimanapun juga aku harus mengatakan yang sebenarnya. Maka kusampaikan kepada beliau kejadian itu. Beliau kemudian berkata : _”Ia pasti seorang haruri. Demi Alloh wahai pelayanku, aku harus menyelesaikannya dengan pedang.”_
Pelayan itu segera datang membawa pedang. Beliau lalu berkata : _”Bawalah pelayan ini menemui lelaki itu. Kalau ia menolak juga, pancung lehernya dengan pedang ini, dan bawa kepalanya kepadaku.”_
Ibrahim berkata : _”Semoga Alloh memperbaiki anda wahai gubernur. Ya Alloh, ya Alloh. Demi Alloh,, kami telah mengenal lelaki itu. Dia bukanlah seorang penganut paham Khawarij. Tetapi saya akan pergi juga dan akan membawanya menghadapmu. Yang saya inginkan dari anda adalah agar anda memberinya kebebasan.”_ Beliau memberi jaminan kepadaku.

Akupun segera berangkat hingga sampai di depan rumahnya. Aku memberi salam. Ternyata kudengar istrinya merintih dan menangis. Kemudian ia (istrinya Abu Abdillah si Pemburu) membuka pintu, setelah wanita itu terlebih dahulu ke belakang dan mengijinkan aku untuk masuk.
Wanita itu bertanya : _”Apa yang terjadi antara kalian dengan Abu Abdillah?”_ Aku balik bertanya : _”Adaapa geranganyangterjadi dengannya?”_
_“Tadi dia masuk rumah dan langsung menuju tempat air, menggayung airnya dan berwudhu. Lalu kudengar ia berdoa : “Ya Alloh, wafatkanlah aku, dan janganlah Engkau timpakanbencana kepadaku.” Kemudian ia menengadahkan tangannya sambil terus mengucapkan doa tersebut. Setelah itu aku menemuinya. Ternyata ia sudah meninggal.”_
Aku segera berkata : _”Wahai saudariku, sungguh ini merupakan cerita yang hebat. Janganlah kalian ceritakan kejadian ini sedikitpun kepada siapa-siapa.”_

Aku langsung menemui Muhammad bin Sulaiman dan menceritakan kejadian itu. Beliau lalu berkata : _”Biar aku pergi sendiri ke sana dan menyalatkannya.”_
Ibrahim berkata : _”Maka kejadian itupun menjadi buah bibir di kota Bashrah. Sehingga gubernur beserta seluruh rakyat Bashrah turut melayat jenazahnya. Semoga Alloh merahmatinya.

📗 _*”Siyaru A’laamin Nubalaa’” IV : 105*_

🌼 •┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈• 🌼

*Kajian Kadang Temanggung*
🗳 *BRI 084201029843532* _a/n Sukaemi_ (+6281317257620)

📡 *Official Web* : http://kajiantemanggung.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.