Bab 11 | Ulama as-Salaf dalam Memahami Kesungguhan dalam Ibadah (1)

❁ ﷽ ❁
*KAJIAN KADANG TEMANGGUNG*
💽 Seri : _Panduan Akhlak Salaf_
📚 Kitab : _Aina Nahnu min Akhlaqis-Salaf_
🖋 Karya : _As-Syaikh Abdul Aziz bin Nashir al Jalil Baha-uddien ‘Aqiel_
📓 Materi : _Bab 11 | Ulama as-Salaf dalam Memahami Kesungguhan dalam Ibadah (1)_
🗓 Senin, 17 Juni 2019 M / 13 Syawal 1440 H

🌼 •┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈• 🌼

Wakie’ berkata, dari Al-A’masy, dari Sulaiman bin Maisarah dan Al-Mughirah bin Syibl, dari Thariq bin Syihab, dari Salman Al-Farisi. Diriwayatkan bahwa ia (Salman Al-Farisi) berkata :

_”Apabila datang malam, pada saat itu manusia terbagi menjadi tiga tingkatan : Ada orang yang memperoleh pahala dan tidak mendapat dosa, ada juga yang mendapat dosa dan tidak memperoleh pahala, serta ada juga yang tidak mendapat dosa dan tidak mendapat pahala.”_

Beliau ditanya : _”Kenapa bisa begitu?”_

Beliau menjawab : _”Adapun orang yang memperoleh pahala dan tidak mendapat dosa adalah orang yang memanfaatkan waktu malamnya di saat orang-orang sedang tidur pulas dan malam yang gelap untuk berwudlu kemudian mengerjakan shalat. Itulah orang yang memperoleh pahala dan tidak mendapat dosa_
_Sedangkan orang yang memanfaatkan waktu malamnya di saat orang-orang sedang tertidur pulas untuk keluar dan melakukan kemaksiatan kepada Alloh, itulah orang yang berdosa dan tidak mendapatakan pahala._
_Sementara orang yang tidur terus sampai pagi, itulah orang yang tidak berdosa tapi juga tidak memperoleh pahala.”_

Thariq berkata : “Maka aku mengatakan : _”Kalau begitu aku ingin menemani orang ini (Salman) yang pertama itu.”_

Suatu hari ada beberapa orang yang bepergian, beliaupun (Salman) ikut bersama mereka dan aku turut menemani beliau, sementara aku tidak menganggap beliau lebih baik amalannya dibanding diriku.

Apabila aku mengadon tepung, beliau yang mencetaknya menjadi roti. Apabila aku mencetaknya menjadi roti, beliau yang memasaknya.

Maka kamipun singgah di sebuah rumah dan menginap di sana. Thariq menyisakan waktu malamnya untuk shalat. Aku (Thariq) selalu menunggu-nunggu waktu itu, namun setiap kali aku lihat, beliau selalu sedang tertidur.
Akupun berkata dalam hati : _”Sahabat Rasululloh yanglebih baik dariku, tetapi mengapa tidur saja?”_ Akupun tidur lagi.

Ketika kembali terbangun, kulihat beliau juga masih tidur. Hanya saja, ketika tengah malam, aku mendengar beliau mengucapkan sambil berbaring : _”Subhanallah, walhamdulillh, wa laa ilaaha illallohu wallohu akbar. Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ala kulli syaiin qadir.”_

Sampai ketika menjelang subuh, beliau bangun, berwudu dan shalat empat raka’at. Ketika kami usai shalat shubuh, aku bertanya : _”Wahai Abu Abdillah, aku biasa bangun malam. Tadi malam ketika aku bangun, kudapati engkau dalam keadaan tertidur.”_

Beliau menanggapi : _”Wahai saudaraku, apakah engkau mendapatiku mengatakan sesuatu?”_

Akupun memberitahukannya kepada beliau. Beliau kembali menimpali : _”Wahai saudaraku, itulah shalatku. Sesungguhnya shalat lima waktu itu mengandung pengampunan dosa di antara shalat satu dengan yang lainnya, selama kita menghindari dosa besar. Wahai saudaraku, hendaknya kamu sedang-sedang saja dalam beribadah, itu lebih mengena.”_

📕 _*”Siyaru A’laamin Nubalaa’ I : 549-550*_

🌼 •┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈• 🌼

*Kajian Kadang Temanggung*
🗳 *BRI 084201029843532* _a/n Sukaemi_ (+6281317257620)
💻 https://www.facebook.com/kajiankadangtmg/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.